System Super Kultivasi

System Super Kultivasi
BAB 22


__ADS_3

"Terima kasih jika begitu," ucap ibu senang.


"Semunya 2 keping koin emas 40 keping koin perak," ucap pembeli itu yang bernama Tai Long menyerahkan uangnya kepada Ibu.


"Tapi ini sangat banyak," ucap Ibu.


"Tidak apa-apa, ambillah," ucap Tai Long.


"Terima kasih," ucap Ibu lagi dengan senang hati menerimanya.


"Sama-sama," jawab Tai Long.


"Ayo kita pergi," ajak Ibu kepada Feng Lias.


"Tunggu sebentar Feng Xia!" panggil Tai Long.


"Ada apa?" tanya Ibu memberhentikan langkahnya sambil mengangkat alisnya.


"Apa kamu punya waktu?" tanya Tai Long.


Feng Lias melihat ke arah Tai Long lalu melihat ibunya.


"Waktu? Untuk apa?" tanya ibu tersenyum.


"Waktu kamu sedikit saja, untuk mengajak makan malam bersama anakmu juga," ucap Tai Long.


Ibu melihat ke arah Feng Lias.


Feng Lias diam menjadi patung lalu ia memutar bola matanya.


"Malam besok kita pergi," jawab Feng Lias.


Tai Long tersenyum.


Ibu merangkul tangan Feng Lias dan membawanya menjauh dari sana.


"Kenapa dengan wajah Ibu?" tanya Feng Lias mengangkat alisnya.


"Memangnya kenapa dengan wajah ibu?" ibunya malah balik bertanya sambil memegang kedua pipinya.

__ADS_1


"Yah... itu sangat Jelas jika ibu sedang jatuh cinta," ucap Feng Lias pelan.


"Apa kau bilang?" tanya Ibu.


"Eh bukan apa-apa, ibu harus beli baju baru yang cantik untuk nanti malam," ucap Feng Lias.


"Tidak, baju yang waktu itu masih ada," jawab Ibu.


"Beli saja lagi, hari ini ibu dapat uang banyakkan, aku tebak pasti dia memberikan uang yang lebih agar ibu busa beli baju baru," tebak Feng Lias sambil mengosok dagunya.


"Benarkah? Lalu ibu harus pilih baju yang seperti apa?" tanya Ibu.


"Mari aku bantu ibu carikan," ajak Feng Lias menarik ibunya ke dalam toko baju.


"Haishhhhh... di saat ibuku jatuh cinta kenapa dia malah seperti adikku?" gerutu Frmg Lias dalam hati. "Tapi bagus juga ada yang ingin menyukai ibu, saat aku masuk akademi aku bisa meniggalkan ibu dengan tenang karena sudah ada menjaganya dan punya Ayah bisa meracik obat juga tidak buruk," ucap dalam hati Feng Lias sambil menyeringai.


"Kenapa aku malah melihat anakku seperti penjahat yang akan melemparkanku ke pria hidung belang?" tanya Ibu dalam hati sambil melihat wajah anaknya yang menyengir.


Mereka pun masuk ke dalam toko dan Feng Lias pun memilih baju yang cocok untuk ibunya.


Momo keluar dari bakul dan berlari keluar.


Momo mengigit baju dan menarik-nariknya.


"Momo, lakukan itu," ucap berusaha melepaskan baju dari gigitannya.


"Nyonya, jika begini baju jualan saya bisa rusak dan tidak ada yang membelinya," ucap penjual baju itu marah.


Ibu menarik nafas panjang. "Ya sudahlah ibu pilih yang di tarik Momo saja," ucap ibu pasrah.


"Baiklah, ambil yang ini saja," ucap ibu. Dan saat di keluarkan baju itu sangat cantik.


"Wahhh... baju pilihan Momo sangat cantik," ucap Ibu tersenyum.


"Harganya 5 koin perunggu," ucap penjual baju.


Ibu memberikan 1 koin emas dan penjual baju mengembalikan 95 keping koin perunggu kepada ibunya.


*Note: 1 keping koin Emas\=100 keping koin perunggu.

__ADS_1


1 keping perunggu\=50 keping koin perak*.


"Berhubungan uang masih ada, ibu ingin membeli selimut untukmu," ucap Ibu.


"Terserah ibu saja, tapi jangan lupa belikan untuk ibu juga," ucap Feng Lias.


"Ini uangnya kita bagi dua saja," ucap Ibu.


"Tidak ibu, aku masih ada uang yang ku simpan, ibu belilah untuk keperluan ibu," ucap Feng Lias.


"Oh iya, bagaimana jika kita beli genteng rumah saja," saran ibu.


"Wah... ide bagus," ucap Feng Lias senang.


Mereka berdua pun pergi ke tempat penjual genteng.


Feng Ling, Feng Miao dan Feng Xio datang ke arah mereka.


"Bibi," sapa Feng Miao.


"Miao," ucap ibu terkejut.


Feng Lias hanya terdiam, karena sama sekali tidak mengenalnya gadis cantik itu.


"Kak Feng Lias apa kabar?" tanya Feng Miao tersenyum.


"Baik," angguk Feng Lias datar.


"Miao, tidak perlu kamu berbasa-basi dengan mereka, mereka bukan lagi keluarga kerajaan kita, ya sudah mari kita pergi," ajak Feng Xio.


"Hehehe... bagaimana jika kita berlatih lagi, sepertinya latihan kemaren belum cukup," ucap Feng Lias mematahkan ruas jari-jarinya sambil menyengir.


"Dasar menyebalkan, tinggalkan saja mereka," ajak Feng Xio menarik tangan Feng Miao.


"Kak Lias, jika kakak ingin masuk akademi dengan mudah kakak hubungi aku saja," ucap Feng Miao dan ia pun pergi menjauh.


"Aku masuk dengan kekuatanku sendiri," ucap Feng Lias.


"Jika kau masuk akademi, ibu antara sedih dan bahagia," ucap Ibu.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2