System Super Kultivasi

System Super Kultivasi
BAB 21


__ADS_3

"Aku rasa tadi aku memang tidak salah lihat jika mata kelinci itu menyerupai mata manusia, apa karena memang hewan di sini memang aneh ya, ah ya sudahlah, di sini hewanya memang aneh, lebih baik aku istirahat saja," ucap Feng Lias.


Ia pun berbaring di lantai yang yang hanya di alas dengan rerumputan dan berselimut dengan kain terbuat dari serabut pohon.


Kelinci kecil itu bangun dan mendekati Feng Lias dan mengamati tubuh Feng Lias tiba-tiba saja Feng Lias terbangun karena haus dan mengangkat kepalanya dan malah tercium muncung kelinci itu.


"Auauauaua," celoteh kelinci itu.


"Hey kau yang datang ke tempat tidurku, kenapa kamu yang marah! lagian ngapain kamu di sini," ucap Feng Lias.


"Auauauaua," celotehnya lagi.


"Jangan berisik, jika ibu terbangun akan ku patahkan lehermu," ancam Feng Lias menunjuk ke arah kelinci itu.


"Auauauauaua," celotehnya tak mau kalah.


Feng Lias menangkap kelici itu dan menutup mulutnya dan Kelinci kecil itu juga tak mau kalah, ia juga berusaha melepaskan diri melawan dan meronta-ronta.


"Kalian kenapa?" tanya Ibu terbangun dan membalikkan badannya melihat ke arah Feng Lias dan Momo.


"Eh ibu, sudah bangun ya, ibu tidur lagi sana," ucap Feng Lias tersenyum mengembang.


"Lalu kenapa Momo ada sama kamu?" tanya ibu melihat Momo yang muncungnya di tutup dengan tangan Feng Lias.


"Oh, dia katanya mau tidur denganku," ucap Feng Lias mengelus kepala Momo.


Momo menatap tajam ke arah Feng Lias. Feng Lias mebulatkan bola matanya.


"Ibu kembalilah tidur," ucap Feng Lias.


"Iya, ibu juga masih mengantuk," ucap Ibu ia kembali menutup matanya.


"Lihat ibuku terbangun karena suara cemprengmu itu, sekali lagi kamu berisik, akan ku cabut telinga jelekmu itu," ancam Feng Lias.

__ADS_1


Kelinci itu kembali melompat-lompat masuk ke dalam selimut ibu.


Feng Lias pun bangun lalu meludah keluar karena liur kelinci itu menempel di mulutnya dan ia pun minum dan kembali tidur.


xxx


Ke esokan paginya ibu sudah bangun dan menyiapkan sarapan.


"Feng Lias, ayo sarapan!" panggil ibu.


"Iya Ibu," ucap Feng Lias duduk di dekat ibunya.


Kelinci itu menatap Feng Lias dengan kesal.


"Kenapa kamu! Tidak senang ayo kita adu kekuatan," ucap Feng Lias.


"Bukannya tadi malam kalian akur, kenapa bertengkar lagi?" tanya Ibu.


Kelinci itu juga tak mau kalah, ia melahap dengan cepat makanannya.


"Hahaha... Momo pelan-pelan makannya nanti kamu tersedak, tidak ada yang merebut makananmu," ucap ibu tertawa.


"Ibu sepertinya sangat bahagia sejak ada Momo, aku juga ikut senang melihat ibu tersenyum terus," ucap Feng Lias tersenyum lega melihat ibunya yang sedang mengusap kepala Momo.


"Auauauaua," celoteh Momo melihat ke arah Feng Lias yang dengan terpaksa Wajah Feng Lias kembali seperti semula.


"Hewan ini sungguh bisa membuat moodku hilang," ucap Feng Lias kecut kembali menyantap makanannya.


"Ibu ke pasar menjual tanaman obat ini, apa kamu ikut?" tanya Ibu.


"Hm iya, tapi hewan kecil itu tinggalkan saja, untuk jaga rumah," ucap Feng Lias.


"Auauauaua..." celotehnya lagi.

__ADS_1


"Udah nggak apa-apa di bawa saja, tapi ingat ya Momo nggak boleh nakal di pasar dan jangan menghilang, Momo terus di dekat ibu," pesan Ibu.


"Auauauaua..." celotehnya.


"Baiklah, mari berangkat, Momo di pelukan ibu saja," ucap ibu.


Femg Lias pun menyandang bakul di pundaknya dan mereka pun pergi kepasar.


"Ibu, batu permata ini juga ingin ibu jual?" tanya Feng Lias.


"Hm... sangat sayang jika di jual, tapi sebenarnya ibu juga membutuhkannya, keperluan kita sehari-hari juga harus di penuhi," ucap Ibu.


"Yang ini jual saja, bagaimana jika aku akan mencari batu permata hewan level 7 untuk ibu," saran Feng Lias.


"Apa kamu sanggup melawan hewan level 7?" tanya Ibu khawatir.


"Hehehe... anakmu ini tambah kuat, ibu tenang saja, aku akan mencari batu permata yang terbaik untuk Ibu," ucap Feng Lias.


Ibu tersenyum dan mengelus punggung anaknya itu. "Iya, ibu percaya denganmu, tapi tetap jaga keselamatanmu, di dunia ini yang kuat menindas yang lemah, jika tak ingin di tindas, jadilah yang terkuat," pesan Ibu.


"Iya ibu," angguk Feng Lias menurut.


Akhirnya mereka sampai di pasar dan Ibu pun pergi ke tempat langganan ia berjualan.


Feng Lias menurunkan bakul dari punggungnya.


"Ini tanaman obat saya," ucap ibu meletakkan di depan pembel bahan obat itu.


Pembeli itu pun memeriksa bahan obatnya.


"Wah... ini ada tanaman obat yang baru lagi, tanaman obat Anda emang yang terbaik," ucap pembeli itu senang.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2