
"Saya juga tidak tahu kepala akademi," ucap Xier Ming.
"Bagaimana jika di ulang sekali lagi, kita lihat apa yang terjadi padanya," ucap wakil akademi.
"Baik wakil akademi," angguk Xier Ming.
Feng Lias kembali di bawa ke ruang tekanan yang di damping langsung oleh wakil akademi dan bersama Xier Ming.
"Mari masuk bersamaku," ucap Wakil akademi.
Feng Lias mengangguk dan ia berjalan dari belakang wakil akademi tersebut.
"Kamu berjalanlah di depanku," ucap wakil akademi itu.
"Apa tidak apa-apa?" tanya Feng Lias.
"Tidak apa-apa, aku ingin melihatmu dari belakang," ucap wakil akademi tesebut.
Feng Lias pun berjalan terlebih dahulu dan melihat perubah tubuh Feng Lias saat terkena tekanan.
Feng Lias berjalan dengan semestinya tanpa ada perubahan pada tubuhnya seperti lelah atau mengeluarkan keringat meski tempatnya dingin.
Feng Lias terus berjalan tanpa ada tekanan dan ia pun akhirnya sampai di penghujung jalan.
"Apa kamu tidak merasakan tekanan apa pun?" tanya Wakil akademi itu heran.
"Tidak," jawab Feng Lias mengeleng.
"Pantas saja jika kamu ada di nama teratas," ucap Wakil ketua itu. "Ya sudah mari kita kembali ke hadapan kepala akademi," ajak wakil akademi itu.
"Baik Waki akademi," angguk Feng Lias.
__ADS_1
Mereka pun kembali ke hadapan Kepala akademi.
"Bagaimana? Apa ada perubahan?" tanya Kepala akademi saat wakilnya mendekat.
"Ruang itu tidak bisa menekannya, sepertinya tekanan itu tidak berpengaruh pada tubuhnya, tubuhnya sungguh tak biasa, aku saja masih ada rasa menekan tubuhku saat masuk ke sana meskipun aku bisa mengatasinya," ucap Wakil akademi.
"Sejarah ini tidak pernah terjadi, dia adalah satu-satunya murid yang berpontensi tinggi yang tidak merasakan tekanan, ini sangat tak biasa, kita harus memperhatikan perkembanganya. Baiklah, jika begitu biarkan dia masuk ke dalam jalur murid khusus," ucap Kepala akademi.
"Terima kasih kepala akademi, tapi bolehkah aku meminta satu hal," pinta Feng Lias.
"Katakan," ucap Kepala akademi.
"Bolehkah temanku bersamaku masuk ke dalam jalur murid khusus, karena kami bersama-sama bisa melewati ruang tekanan itu," pinta Feng Lias.
Mereka saling berpandangan, sepertinya permintaan Feng Lias sangat sulit, nanti apa kata murid yang lain jika memasukkan murid biasa menjadi murid Khusus.
"Hm... untuk temanmu, sepertinya permintaanmu tidak bisa kami setujui, karena kami juga harus menjaga perasaan murid yang lain karena masih ada yang murid yang lebih berbakat lagi tapi belum bisa masuk di jalur khusus," ucap kepala akademi.
"Mau kemana kamu? Apa aku sudah setuju untuk kamu pergi?" tanya kepala akademi.
Feng Lias dan Song Chen berhenti mendadak. Mereka berbalik badan dan kembali memberi hormat.
"Maafkan atas kelancangan kami," ucap Feng Lias.
"Bukannya aku bilang masuk di jalur murid khusus, kenapa kau malah pergi kejalur murid biasa?" tanya Kepala akademi.
"Maafkan atas kelancangan saya, tapi jika teman saya tidak bisa masuk ke jalur murid khusus, maka apa gunanya saya masuk kesana," ucap Feng Lias.
Mereka oun saling berpandangan.
Kepala akademi menghela nafas panjang dan menghempasnya dengan kuat.
__ADS_1
"Baiklah jika begitu, kau dan temanmu masuk ke jalur murid khusus tapi dengan persyaratan, temanmu harus bisa naik level dan bisa mencapai tinju level 10, jika tidak bisa maka ia akan kembali ke jalur murid biasa," ucap Kepala akademi.
"Terima kasih kepala akademi," ucap Feng Lias.
"Terima kasih kepala akademi," ucap Song Chen memberi hormat.
"Baiklah, antarkan mereka Xier Ming," ucap kepala akademi.
"Baik Kepala akademi," angguk Xier Ming.
"Ayo ikut aku," ajak Xier Ming mengantarkan mereka ke tempat jalur murid khusus.
"Kenapa kau lakukan itu?" yanga wakil akademi.
"Kau lihat sendiri jika ia bisa melawan tekanan itu, aku melakukan agar bakatnya bisa di gali, aku sangat penasaran bagaimana jika dia bisa berkembang nanti," ucap Kepala akademi.
"Jika itu mau mu ya terserah padamu," ucap Wakil akademi.
Di saat perjalanan ke tempat pengembangan diri.
"Untuk kamu Feng Lias, aku sendiri yang akan mengajarimu," ucap Xier Ming tiba-tiba.
"Ha? Hm... jadi saya harus panggil apa?" tanya Feng Lias berbicara apa yang terlintas di kepalanya.
"Panggil aku guru," ucap Xier Ming.
"Apa aku juga boleh ikut?" tanya Shong Chen.
"Ya kamu juga boleh ikut," angguk Xier Ming. "Tapi ingat siapa pun yang membawamu, tetaplah bersamaku," ucap Xier Ming.
"Baik Guru," angguk Feng Lias dan di ikuti Song Chen.
__ADS_1
Bersambung.