Takdir Menantu Terbuang

Takdir Menantu Terbuang
10. Bertemu Bela


__ADS_3

Di penginapan itu Yoga sudah bersiap untuk pulang ke negaranya. Dia sudah menyiapkan uang untuk istrinya dengan jumlah lumayan banyak dalam bentuk cash. Dia juga membeli baju biasa untuk hidupnya di rumah mertuanya, dan juga baju yang dulu dia bawa beberapa helai masih dia simpan dengan baik.


Sengaja dia simpan untuk kepulangannya ke Indonesia dengan penampilan yang sama seperti dulu dia di buang ke tengah lautan oleh Arman.


"Anda akan memakai baju seperti itu tuan?" tanya Mark.


"Ya, karena dulu saya di buang berpakaian seperti ini." jawab Yoga.


"Ooh, anda mau mengingatkan mertua anda akan kejadian waktu itu?"


"Ya, dia tentu saja akan terkejut. Kalau menantunya ini masih hidup dan dalam keadaan baik-baik saja." kata Yoga dengan senangnya membayangkan keterkejutan Arman dan Belinda.


Anak buah Yoga mengambil tas yang di bawanya, mengantarnya sampai di bandara internasional. Dengan mengendarai jet pribadi yang biasa di gunakan untuk pergi antar negara.


Perjalanan dari Tiongkok ke Indonesia hanya membutuhkan waktu empat jam lebih tiga puluh menit dengan kecepatan sembilan ratus kilo meter perjam. Dengan menggunakan pesawat pribadi akan lebih cepat sampai di badara soetta.


Yoga tidak sabar ingin bertemu Bela, istrinya. Membayangkan perempuan itu akan sangat senang bertemu dengannya.


Yoga tidur di dalam pesawat yang mengantarnya, hingga empat jam lebih akhirnya sampai di bandara soetta. Pesawatnya mendarat dengan baik, hingga petugas di sana yang khusus bagian pesawat pribadi mengarahkan penumpangnya melalui jalur khusus.


Tiga anak buah Yoga mendampingi di belakangnya, mereka sudah memasuki area terminal. Dia berjalan dengan cepat untuk memesan taksi di depan.


"Kalian cari saja hotel atau penginapan untuk menginap. Nanti jika aku membutuhkan kalian, aku akan hubungi dan menemui kalian." kata Yoga.


"Ya tuan. Kami akan cari hotel dan nanti menghubungi anda di mana kami menginap." kata salah satu anak buah Yoga yang mengawalnya selama di Indonesia.


"Oh ya, jika di hotel saja akan di curigai. Carilah kontrakan untuk pertemuan kita nanti selanjutnya. Saat ini saja cari hotel, selanjutnya cari rumah kontrakan atau apartemen saja." kata Yoga lagi.


"Baik tuan."


Mereka terus berjalaj menyusuri terminal dan akan ke pintu keluar. Tapi Yoga seperti melihat Bela di terminal bandara tersebut, dia pun berhenti. Lalu mendekat pada Bela yang sedang menelepon seseorang.


"Bela!"


Yoga memanggil istrinya dengan bersemangat. Bela masih belum sadar, dia terus menelepon. Hingga Yoga menarin lengannya menghadap ke arahnya.


Gadis itu menoleh dan menatap Yoga dengan terkejut, matanya melotot. Dia tidak percaya melihat laki-laki di depannya adalah suaminya yang telah lama menghilang. Atau bahkan di buang, dia berkedip beberapa kali untuk memastikan kalau apa yang dia lihat itu salah.


Tapi nyatanya benar adanya, laki-laki di depannya itu adalah Yoga suaminya yang tidak lama bertemu.


"Bela sayang, kamu masih mengingatku?" tanya Yoga dengan senang hati.


"Heh, bagaimana bisa kamu masih hidup?" ucap Bela masih tidak percaya dengan suaminya itu.


"Aku selamat sayang. Ada orang baik menolongku dan mempekerjakanku, jadi aku bertekad untuk pulang menemuimu sayang." kata Yoga.

__ADS_1


"Hah, aku tidak peduli kamu itu mati di makan ikan hiu atau mengapung di lautan. Tapi kenapa sekarang pulang?!" kata Bela dengan kesal.


Bukannya dia senang dengan kedatangan Yoga suaminya. Tapi justru dia kesal sekali. Yoga diam saja, dia tahu pasti akan di abaikan oleh istrinya itu. Tapi Yoga tidak peduli, dia mengikuti Bela kemana dia pergi.


Bela terus menghindari Yoga, tetapi Yoga terus saja mengikutinya sampai di depan di mana mobil taksi menunggu penumpang menggunakan jasanya.


"Bela, tunggu. Kita pulang sama-sama." kata Yoga.


"Aku tidak mau! Aku malu jalan bersua denganmu!" ucap Bela menghardik suaminya.


Dia lalu masuk ke dalam mobil taksi dan meminta supir untuk jalan saja tanpa menunggu Yoga. Mobil yang membawa Bela pun pergi, sedangkan Yoga menghentikan mobil taksi lain, dia akan pulang ke rumah mertuanya.


Tapi ponselnya berdering, Yoga melihat nama Stave bodyguardbya menghububginya.


"Halo Stave, ada apa?" tanya Yoga.


"Anda pulang sendirian?"


"Ya, tidak masalah Stave. Aku pulang ke runah mertuaku." kata Yoga yang tahu akan kekhawatiran bodyguardnya.


"Apa perlu saya ikuti anda sampai rumah mertua anda?"


"Boleh, tapi setelah aku sampai kamu langsung menginap di hotel saja." kata Yoga.


"Baik tuan."


Yoga menutup sambungan teleponnya. Di belakang ada mobil taksi juga yang mengikuti mobil di tumpangi oleh Yoga.


Sang supir taksi memperhatikan Yoga dengan heran karena penunpangnya bucara di telepon dengan bahasa Italia.


"Apa anda tinggal di Italia tuan?" tanya sang supir.


"Ya. Cukup lama." jawab Yoga datar saja.


"Ooh."


Mobil taksi melaju dengan tenang membelah jalanan menuju rumah Belinda. Satu jam akhirnya mobil berhenti di depan rumah besar yang sama tiga tahun lalu.


Yoga menatap rumah besar itu sebelum dia turun dan masuk ke dalam rumah yang menjadi neraka baginya tiga tahun lalu. Wajah dinginnya masih nampak jelas ada dendam dalam hatinya. Dia ingin membalas dendam pada keluarga mertuanya, tapi dengan cara tersembunyi.


"Tuan, sudah sampai. Apa benar rumahnya ini?" tanya sang supir pada Yoga.


"Ya." ucap Yoga memberikan tiga lembar uang berwarna merah pada sang supir.


Dia lalu turun dan secara drastis wajah Yoga berubah jadi biasa. Sebelum dia menghilang tiga tahun lalu, wajah penuh kepolosan dan rasa gembira. Dia masuk pintu pagar dan langsung masuk menuju rumah besar itu.

__ADS_1


Dia yakin Belinda tahu kalau dirinya kembali lagi ke rumahnya dari Bela istrinya. Begitu pintu terbuka, Yoga masuk ke dalamnya dan nampak di sana berdiri dengan wajah terkejut Belinda.


Yoga berdiri menatap Belinda, lalu dia mendekat dengan penuh senyum bahagia.


"Mama, aku pulang." kata Yoga pada mertuanya.


"Heh?! Kamu bisa pulang juga kemari?" tanya Belinda dengan sinis dan penuh keterkejutan.


"Iya mama, aku rindu pada kalian. Terutama istriku Bela." kata Yoga.


Dia melirik istrinya yang berdiri di belakang mertuanya. Belinda berdiri dengan tangan bersedekap, lalu dia mendekat pada Yoga. Memandanginya dari atas sampai bawah terus nengelilinginya dengan mata sinis menatap.


"Kamu tetap menantu sampah dan tak berguna. Buat apa kamu datang lagi hah?!" tanya Belinda pada Yoga dengan sombongnya.


"Ini rumah istriku juga, jadi aku berhak kembali ke rumah ini dan menemui istriku." kata Yoga dengan wajah polosnya.


"Ck, kalau kamu kembali harus bawa uang yang banyak. Kebutuhan anakku itu lebih banyak di banding biaya hidupmu! Apa kamu masih belum sadar kalau aku dan suamiku tidak menyukaimu!" ucap Belinda dnegan suara keras.


"Oh mama, jangan seperti itu. Aku membawa apa yang mama inginkan." kata Yoga.


"Bawa uang?"


"Tentu saja ma. Aku akan memberikannya pada Bela, nanti Bela akan membaginya dengan mama." kata Yoga.


"Paling tidak seberapa. Sudahlah, lebih baik kamu pergi saja sana!" ucap Belinda mengusir Yoga.


"Mama tidak percaya padaku?"


"Aku tidak percaya!"


Yoga lalu mengambil tasnya, dia lalu mengambil uang dolar dari dalam tasnya dengan jumlah cukup banyak. Belinda dan Bela terkejut dengan uang Yoga yang begitu banyak.


"Dari mana uangmu?"


"Mama tidak perlu tahu, yang penting uang ini aku berikan pada Bela. Jika mama ingin juga nanti minta sama istriku saja. Sekarang aku ingin istirahat, apa kamu sudah menyiapkan ranjang untukku sayang?" tanya Yoga.


Bela membola, tapi dia kini akhirnya menuju kamarnya dan di ikuti oleh Yoga. Sedangkan Belinda sejak tadi terpaku dengan uang yang di miliki Yoga.


"Dari mana dia dapatkan uangnya?"


_


_


*****************

__ADS_1


__ADS_2