
Belinda akan membeitahu pada suaminya melalui telepon kalau menantunya yang dia buang telah kembali lagi ke rumahnya tanpa menaruh curiga apa pun dan masih seperti yang dulu.
Tuut.
Belinda menelepon suaminya, dia melihat ke lantai atas di mana kamar Bela berada.
"Halo, suamiku."
"Halo sayang, ada apa kamu meneleponku?" tanya Arman di seberang sana.
"Suamiku, sebaiknya kamu pulang ke rumahnya." kata Belinda.
"Ada apa? Apa ada yang penting?"
" Ya Arman. kamu cepat pulang."
"Hei katakan saja, kenapa kamu begitu panik kedengarannya?"
" Kamu tahu, menantunya. Yoga, dia ada di Rumah."
"Apa? Jangan bicara ngaco kamu Belinda!"
"Benar, makanya kamu pulang sekarang!"
"Oke, aku pulang sekarang."
Klik.
Belinda pun menutup sambungan teleponnya dengan Arman. Dia berjalan mondar mandir karena kesal bercampur cemas jadi satu. takut karena sekarang Bela sudah tidak seperti dulu.
Dia melihat Bela turun dari tangga dengan wajah kesal. Belinda pun mendekati anaknya itu yang terlihat muram.
"Sayang, apa yang si gembel itu lakukan di kamarmu?" tanya Belinda.
"Huh, dia tidur ma. Aku ingin pergi dari rumah, menemui Alvin." kata Bela.
"Tunggu papamu pulang sayang, Mama sudah bertahu papamu dan dia akan pulang." kata Belinda.
Bela mendengus kasar, dia pun duduk di kursi meja makan dan mengambil anggur yang ada di atas meja. Belinda sendiri masih bertanya-tanya tentang uang yang di bawa oleh Yoga, apakah anaknya itu di beri oleh menantu yang dia anggap sampah itu.
"Bela, apa lak-laki gembel itu memberikan uangnya sama kamu?" tanya Belinda.
"Belum ma."
"Apa kamu tidak curiga dari mana uangnya itu?"
"Tadi kan dia sudah bilang."
"Apa kamu percaya?"
__ADS_1
"Entahlah ma."
Keduanya pun diam Bela masih mengunyah buah anggur di mulutnya. Tak lama terdengar suara deru mobil di halaman Rumah. Belinda pun segera menyongsong suaminya di depan, dia berjalan cepat di susul oleh Bela.
Di ruang tamu Belinda dan Arman bertemu, suaminya itu melihat sekeliling ruangan. Tidak ada laki-laki yang dia cari.
"Mana dia ma?" tanya Arman.
"Ada di kamarku pa." jawab Bela.
"Huh, suruh dia turun!" ucap Arman semakin kesal mendengar jawaban anaknya itu.
"Baik pa."
Bela pun segera berbalik dan dia menuju tangga untuk menuju kamarnya. Dia akan memanggil suaminya yang tertidur karena lelah selama perjalanan dari Tiongkok menuju rumah mertuanya.
Brak!
Bela membuka pintu kamarnya dengan kasar, dia melihat Yoga masih tertidur di ranjangnya dengan sangat nyaman dan terlelap. Bela mendekati dan berdiri di depan Yoga.
"Hei! Bangun!" teriak Bela dengan kencang.
Yoga tak bergeming, dia masih lelap tidurnya. Bela berdecak kesal, kemudian dia pun memukul punggung suaminya dengan keras. Membuat Yoga pun terkejut dan membuka matanya.
"Sayang, ada apa kamu memukulku?" tanya Yoga berubah posisi jadi duduk.
"Jangan memanggilku seperti itu! Aku muak mendengarnya." kata Bela jengah.
"Oh ya? Papa sudah pulang, waah senang sekali rasanya bisa bertemu papa lagi. Aku akan ceritakan pengalamanku pada papa selama di tinggalkan di laut." kata Yoga dengan wajah senangnya.
Bela memutar bola, dia tidak habis pikir dengan pikiran suaminya itu. Kenapa tidak ada dendam sekalipun di hatinya, tapi Bela mencibir Yoga yang masih saja terlihat polos di matanya.
Bela berjalan meninggalkan Yoga, lalu Yoga pun mengikuti langkah Bela dari belakang. Dia menarik tangan istrinya agar bergandengan tangan, tapi Bela menepisnya dengan cepat dengan wajah kesal.
Yoga pun mengurungkan niatnya, dia hanya berjalan sejajar dengan Bela. Menuruni anak tangga satu persatu dengan pandangan beredar ke bawah.
Tampak di ruang tengah ada Belinda dan Arman sedang menatapnya tajam. Tatapan Arman justru mengandung kekagetan luar biasa, bagaimana mungkin Yoga masih hidup dan dalam keadaan baik-baik saja.
Yoga tersenyum pada Arman, senyum penuh misteri di mata Arman. Tapi kemudian dia mendekati Arman dan Belinda dengan cepat setelah kakinya menginjak lantai keramik.
"Selamat bertemu lagi papa." kata Yoga dengan merentangkan tangannya.
Tapi justru Arman malah mundur dan menepis tangan Yoga itu.
"Bagaimana bisa kamu selamat?" tanya Arman tidak percaya dengan Yoga.
"Ya papa, aku di selamatkan oleh seorang nelayan. Dan aku di ajak ke rumahnya." kata Yoga bercerita.
"Huh, lebih baik kamu mati saja Yoga. Buat apa kamu datang lagi ke rumah ini." kata Belinda dengan kasarnya.
__ADS_1
"Aku rindu dengan istriku, ma. Dia pasti kehilangan aku, setelah tiga tahun aku menghilang." kata Yoga dengan polosnya.
"Hah, apa? Kehilangan? Bela itu sudah punya ....."
"Ma!"
Arman mencegah ucapan Belinda agar jangan memberitahu Yoga tentang Bela Sekarang. Tatapan penuh isyarat itu membuat Belinda hanya mengendus kesal.
"Sekarang, kamu mau apa datang lagi kemari Yoga?" tanya Arman.
"Tentu saja tinggal di sini lagi pa. Bela istriku pasti senang dengan kedatangan kembali ke rumah ini." kata Yoga dengan penuh semangat.
"Ck, seharusnya kamu memberi dia uang. Selama kamu pergi tiga tahun, kamu tidak memberinya uang." kata Belinda sinis.
"Mama tenang saja, aku akan berikan yang pada istriku yang banyak. Nanti aku berikan semua uangku pada Bela." kata Yoga lagi.
"Berapa uangmu? Kamu pikir memberikan Bela uang sepuluh juta itu menurutmu banyak?" tanya Belinda lagi.
"Jangan khawatir ma, uangku akan kuberikan pada Bela lebih dari itu." kata Yoga lagi.
"Sudahlah, papa mau ke kantor lagi. Muak rasanya berlama-lama berhadapan dengan pecundang itu." kata Arman menatap sinis pada menantunya itu.
Bela melirik suaminya, dia lalu pergi keluar dari rumah. Tapi di cegah oleh Yoga.
"Sayang, kamu mau kemana?" tanya Yoga.
"Aku mau pergi, jangan halangi aku!" ucap Bela menatap tajam pada suaminya.
"Tapi kamu balik lagi kan? Aku baru datang, kenapa kamu malah pergi lagi?" tanya Yoga.
"Jangan ikut campur urusanku! Aku tidak peduli kamu mau apa di sini, semakin kamu lama di rumah ini. Semakin muak aku sama kamu!" ucap Bela.
Dia lalu melangkah pergi meninggalkan Yoga yang terpaku di tempatnya. Belinda pun mendekat pada Yoga dengan bersedekap dan tatapan nyinyir pada menantu yang di anggapnya sampah itu.
"Istrimu saja tidak peduli padamu, kenapa masih bersikukuh ingin tinggal di rumah ini." kata Belinda mencibir Yoga.
"Kenapa memangnya ma? Bukankah sejak dulu Bela selalu begitu. Aku tidak masalah, yang terpenting aku suaminya dan akan tetap menjadi suaminya." kata Yoga.
"Hah, suami? Suami sampah sepertimu harusnya memang hidup di tempat kumuh dan hina. Bukan di rumah ini!" ucap Belinda.
"Kalau Mama membenciku, benci ngga apa-apa ma. Jangan pengaruhi Bela." kata Yoga.
"Bela itu anakku! Bisa-bisanya kamu menyuruhku tidak mempengaruhinya? Mimpi saja kamu! Aku tidak mau anakku hidup sengsara denganmu!" ucap Belinda.
Dia lalu pergi dari hadapan Yoga, sedangkan laki-laki itu mendengus kasar. Dia pun melangkah menuju anak tangga, dia akan istirahat di kamar sekalian menghubungi asistennya Mark di Italia.
_
_
__ADS_1
**************