Takdir Menantu Terbuang

Takdir Menantu Terbuang
12. Kesabaran Hati Yoga


__ADS_3

Yoga bangun dari tidurnya, tak lupa setiap hari selalu membersihkan kamarnya sebelum Bela bangun dari tidurnya. Bagaikan dunia terbalik di rumah mertuanya saat ini. Tapi demi menjaga rahasia dirinya yang sesungguhnya, Yoga rela melakukan itu semua.


Di balik semua itu, dia juga ingin membalas semua apa yang telah di lakukan keluarga istrinya padanya dengan cara yang lain.


Anak buahnya sudah dia suruh cari tahu apa saja yang di miliki oleh Arman dan Belinda, sehingga dia bisa memutar balik keadaan suatu hari nanti.


"Sayang, ini sudah pagi. Bangunlah." kata Yoga membangunkan istrinya Bela.


"Ish, aku masih mengantuk. Jangan ganggu aku!" ucap Bela dengan kasar pada suaminya.


"Tapi ini sudah pagi, sudah jam tujuh lebih." kata Yoga lagi.


Bela pun bangkit dari tidurnya, dia menatap tajam pada Yoga dan mendengus kasar.


"Sebelum kamu datang lagi ke rumah ini, aku bangun pagi atau tidak itu terserah aku! Aku muak melihatmu, mengganggu tidurku saja!" kata Bela kembali membaringkan tubuhnya.


Yoga diam, dia masih sabar menghadapi istrinya.


Semalam Bela pulang jam dua belas malam dalam keadaan mabuk ketika Yoga sedang menelepon Mark asistennya di Italia.


Dia membantu Bela untuk membuang muntahan ketika sudah sampai di kamar Bela muntah. Dia juga yang menggantikan baju Bela serta membersihkan tubuhnya.


"Semalam kamu pulang dalam keadaan mabuk sayang, kenapa kamu mabuk?" tanya Yoga.


Bela membalikkan tubuhnya menghadap Yoga dengan tatapan kesal.


"Sudah tentu karena aku kesal ada dirimu di rumahku. Apa lagi di kamarku sekarang, tentu saja aku bosan, marah, muak dan menjijikan kamu pulang ke rumah ini. Apa kamu tidak bisa membedakan mana orang yang menyukai dan mana orang yang menghinamu? Kamu bahkan tidak punya otak untuk berpikir seperti itu." kata Bela.


Yoga menatap istrinya dengan datar, dia diam saja. Ada senyum tipis di bibirnya. Tapi kemudian dia berjalan mendekat ke ranjang dan duduk di belakang punggung Bela.


"Aku tidak peduli dengan hinaan kamu dan mamamu. Bagiku, kamu adalah sesuatu yang sangat berharga sayang. Kamu pasti akan terkejut nanti jika tahu aku adalah orang yang sangat kaya." kata Yoga.


Tiba-tiba Bela duduk dengan cepat, dia menatap Yoga tidak percaya. Ada tatapan ejekan dan juga senyuman sinis padanya. Kemudian perempuan cantik itu pun tertawa keras dengan apa yang di katakan oleh suaminya itu.


"Hahahaha! Kamu kaya? Kaya dari mana? Kamu sendiri tidak bekerja, uang dari mana kamu dapatkan dan di kumpulkan. Hahahaha!"

__ADS_1


"Aku akan bekerja lagi di restoran, kemarin aku cari di internet ada restoran yang membutuhkan karyawan. Jadi sekarang aku akan ke sana untuk melamar jadi pelayan restoran." kata Yoga.


"Oh ya Tuhan, kenapa kamu selalu saja ingin menjadi pelayan restoran? Apa tidak ada pekerjaan yang lebih baik dan lebih menjanjikan selain jadi pelayan restoran?" tanya Bela meremehkan.


"Ada, tapi itu bukan keahlianku. Jadi lebih baik aku jadi pelayan restoran."


"Apa itu?"


"Tukang cuci di salah satu binatu di kota ini, binatu itu besar. Gajinya juga besar, tapi aku tidak ahli di sana. Jadi aku tidak melamar pekerjaan di binatu itu."


"Itu sama saja pekerjaan hina dan memalukan Yoga! Otakmu selalu saja berpikir bahwa pekerjaan itu bagus, padahal itu pekerjaan yang sangat hina dan menjijikan bagiku!" kata Bela penuh kekesalan.


"Jangan seperti itu sayang, pekerjaan sebagai seorang pelayan, pencuci baju di binatu atau loundry itu pekerjaan yang halal."


"Halal? Tapi bagiku itu pekerjaan bagi orang rendahan sepertimu." ucap Bela.


"Yang penting menghasilkan uang, bagaimana jika dapat uang dengan hasil korupsi, menjual barang ilegal, dan juga hasil dari merampok. Meski itu uangnya banyak, tapi itu tidak baik." kata Yoga.


"Heh! Sok suci kamu. Banyak orang di luar sana mencari dengan cara menipu, merampas milik orang atau pun korupsi. Yang penting istrinya senang, bisa mendapatkan apa yang di inginkannya selalu terpenuhi. Sedangkan kamu? Hanya sebagai pelayan restoran, berapa uang gaji dari restoran itu? Untuk beli peralatan makeupku saja itu tidak cukup." ucap Bela.


"Oh ya, kemarin aku janji mau memberimu uang dari hasil kerjaku selama aku menjadi nelayan. Sebentar aku ambil dulu." kata Yoga.


Dia beranjak dari duduknya dan menuju lemari di mana uangnya dia simpan. Bela memperhatikan apa yang di lakukan oleh suaminya itu.


Yoga membuka pintu lemari dan mengambil tas yang kemarin dia bawa. Dia buka tasnya dan mengambil tumpukan uang begitu banyak. Bela membelalakkan matanya melihat tumpukan uang dollar di tangan Yoga.


Dia mendekat pada suaminya, melihat dari dekat uang begitu banyak di tangan Yoga.


"Apa benar uang hasil kerjamu sebanyak itu?" tanya Bela.


"Iya, ini uang untukmu sayang." kata Yoga menyerahkan tumpukan uang dollar yang entah berapa jumlahnya.


Bela pun menerima tumpukan uang dari tangan Yoga. Dia benar-benar tidak percaya kalau uang dollar itu Yoga berikan padanya semua.


"Kamu yakin memberikan uang begitu banyak ini padaku?" tanya Bela.

__ADS_1


"Ya, itu hasil kerja kerasku sayang. Khusus untukmu." kata Yoga.


"Oke, aku terima uang darimu. Siapa yang tidak suka uang, bahkan tuyul saja suka dengan uang." ucap Bela dengan berlalu dari hadapan Yoga.


Yoga menatap kepergian istrinya yang kini keluar dari kamarnya. Dia tersenyum miring melihat sikap istrinya yang tadinya berkata kasar dan kini keluar dari kamarnya.


Bela berjalan cepat menuju kamar Belinda dan Arman untuk menunjukkan uang yang ada di tangannya.


"Mama! Buka pintunya." teriak Bela berdiri di depan pintu mamanya.


Tak lama pintu terbuka, tampak Belinda sedang menggunakan masker di wajahnya. Dia melihat anaknya dengan wajah senang, melirik di tangan anaknya itu dan matanya melebar.


"Bela, apa yang kamu bawa itu?" tanya Belinda.


"Ini uang dollar ma, Yoga yang memberikannya padaku." kata Bela dengan wajah senangnya.


"Uang dollar?"


"Iya, dia berikan padaku semuanya." kata Bela.


"Huh, uang dollar segitu banyak, tidak akan membuat Mama luluh dan peduli padanya. Paling itu uang palsu, jangan percaya begitu saja Bela. Kamu periksa saja dulu, siapa tahu uang itu palsu." kata Belinda.


Bela pun diam, dia melihat tumpukan uang dollar itu. Merasa heran kenapa bisa Yoga mendapatkan uang dollar sebanyak itu. Mungkinkah apa yang di katakan mamanya itu benar?


"Untuk memastikan uang dollar itu asli atau palsu, sini biar mama saja yang memeriksanya sayang. Jika benar itu palsu, mama akan bakar uang itu. Sudah, kamu jangan terpengaruh dengan apa yang di lakukan suamimu itu. Mama tetap tidak menyukai laki-laki pecundang itu dan tetap menganggapnya menantu sampah." kata Belinda.


"Aku juga tidak suka dia ma, tapi untuk berpisah dengannya mana bisa." kata Bela.


"Jangan pikirkan itu, biarkan dia berbuat apa yang dia inginkan. Tetap saja di rumah ini dia adalah laki-laki sampah dan tidak berguna." kata Belinda lagi.


Bela menarik napas panjang, dia lalu pamit untuk masuk lagi ke dalam kamarnya. Meneruskan tidurnya yang sempat terganggu oleh Yoga suaminya.


_


_

__ADS_1


*****************


__ADS_2