Takdir Menantu Terbuang

Takdir Menantu Terbuang
48. Mengungkap Kebenaran


__ADS_3

Mark, Jeffry dan Stave sudah keluar lebih dulu. Bela dan Yoga masih diam, mereka mrmikirkan atas apa yang sudah di rencanakan selanjutnya.


"Apa rencanamu? Kenapa Mark mau membawamu ke Italia?" tanya Bela.


"Kamu tahu, aku harus di rawat oleh dokterku di sana. Mungkin butuh satu bulan." kata Yoga.


"Satu bulan?!"


"Ya, kenapa?" tanya Yoga.


"Tapi itu lama sekali, kenapa harus satu bulan." kata Bela merajuk.


Yoga diam, dia menatap istrinya dan tersenyum miring. Tangannya memegang tangan istrinya lalu menciumnya.


"Kamu keberatan?" tanya Yoga.


"Tentu saja, kamu tidak khawatir aku akan di incar terus oleh papaku dan Alvin?" tanya Bela.


"Tentu saja aku khawatir, tapi aku percaya sama Jeffry dan Stave akan selalu menjagamu dan melindungimu. Aku dan Mark ada urusan juga di sana, kamu tidak apa-apa kan?" tanya Yoga.


Bela diam, dia menunduk. Berat juga harus berpisah dengan suaminya. Yoga mendekat, dia mengangkat dagu istrinya lalu mencium bibirnya. Menatap lama, mencari kebenaran hati Bela kalau istrinya itu kini sudah mulai nyaman dengannya.


"Dengar sayang, setelah semuanya selesai. Kamu bisa kembali lagi ke Italia, aku akan menjemputmu jika semua urusanmu dengan Arman dan Belinda selesai. Kamu sendiri mau melaporkan mereka, jika aku sudah aku bunuh. Tapi aku masih menghormatimu, makanya semuanya aku serahkan padamu." kata Yoga.


Bela diam, mungkin bagi suaminya Arman itu sudah keterlaluan. Membunuh kakeknya dan mengambil alih perusahaannya, membunuh kedua orang tuanya juga dan mengambil juga bagian warisannya. Dan kini, dirinya juga di incar.


Dia tidak akan membiarkan Arman melakukan lebih jauh. Maka dari itu, dia akan bergerak cepat, melaporkan pada polisi sebelum dia sendiri yang di bawa.


_


Yoga sudah berangkat ke Italia dengan Mark, dia berpesan pada kedua orang kepercayaannya. Jeffry dan Stave untuk selalu menjaga dan melindungi istrinya. Serta membantu menyelesaikan masalahnya mengenai laporan kasus pembunuhan kakeknya.


"Kapan nona akan ke kantor polisi?" tanya Stave.


"Siang nanti, apa kamu akan ikut denganku?" tanya Bela.


"Tentu nona, saya memang di tugaskan untuk menjaga anda. Dan saat ini Jeffry sedang mengurus perusahaan Arman." kata Stave.


"Ah ya, apa sebaiknya menunggu tugas Jeff selesai?" tanya Bela.


"Buat laporan saja dulu nona, nanti saya antar anda ke kantor polisi. Berkas laporan sudah di sipakan, bukti-bukti juga sudah ada. Anda tinggal melaporkan saja pada polisi." kata Stave.


"Ya baiklah. Tapi, bagaimana dengan suamiku? Keadaannya?" tanya Bela.


"Tuan Yoga sedang di tangani di sana, nona jangan khawatir." kata Stave lagi.

__ADS_1


"Ya, aku hanya merasa rindu saja pada suamiku." ucap Bela pelan hampir tak terdengar.


Stave tersenyum, dia tahu istri dari bosnya itu sedang merindukan suaminya. Memang sejak pergi ke Italia, Yoga belum memberi kabar pada istrinya. Hanya saja dia sempat bicara dengan Mark, kalau Yoga sekarang sudah lebih baik. Dan besok akan pergi ke Jepang mengurus mereka yang mengincarnya dulu.


Ternyata, ada kaitannya kelompok Kazao dengan lahan konflik di bagian pasifik yang sedang di perebutkan. Kelompok Kazao ingin mengincar Bela karena uang di bank Swiss itu sudah mencapai miliaran dollar karena di deposito.


_


Bela bersiap untuk pergi ke kantor polisi, hotel yang dulu di tempati Yoga kini sudah di tinggalkan. Dia berpindah hotel di mana tidak ada yang tahu, karena memang untuk keselamatan Bela.


Bela menunggu Stave mengantarnya ke kepolisian memberikan berkas pelaporan tentang pembunuhan kakek Gunawan oleh Arman. Tapi sebelumnya kemarin Bela datang ke rumah Belinda, bertemu dengannya dan mengatakan sebagian apa yang telah dia ketahui.


"Apa yang kamu katakan Bela? Kamu kurang ajar sekali menuduh papamu membunuh kakekmu?!" tanya Belinda meradang ketika Bela mengatakannya.


"Aku punya buktinya ma, dan juga mama juga membantu papa kan dalam mencelakai seorang ibu muda dalam kecelakaan dua puluh empat tahun lalu?" tanya Bela dengan begitu tenangnya meski dia benar-benar geram sekali dalam hatinya.


"Bela! Apa yang kamu bicarakan sebenarnya?!"


"Marni Andriani." kata Bela.


Wajah Belinda tegang, dia menatap tajam pada Bela yang duduk dengan tenang dan tatapan dingin padanya.


"Dari mana kamu tahu nama itu?!"


"Lancang kamu! Apa kamu mau jadi anak durhaka?!"


"Aku bukan anak durhaka mama, aku hanya mau membeberkan kebenaran itu. Dan mama harus tahu, kalau aku tidak akan membiarkan papa berbuat lebih jauh lagi." kata Bela.


Belinda menatap tajam pada anak yang selama ini dia asuh ternyata justru melawannya. Dia pun berdiri, berjalan ke ruang tengah entah mau mengambil sesuatu.


Bela sudah bersiap untuk mencegah mamanya bertindak menyakitinya. Dan benar saja, Belinda mengambil senjata tajam dan mengarahkannya pada Bela.


"Heh, jadi benar. Ternyata papa dan mama hanya memikirkan kekayaan saja? Sehingga aku yang sejak bayi di asuh olehmu akan kamu bunuh?!"


"Diam kamu! Kamu yang lebih dulu melawanku Bela, mala hanya ingin membela diri."


"Pembunuh tetaplah pembunuh, sepasang suami istri pembunuh. Tidak akan berubah lebih baik lagi, bahkan anak yang kalian bunuh pun akan kamu bunuh lagi?!"


Belinda semakin meradang, dia maju ke depan dan menyabetkan senjata tajam itu ke arah Bela. Dia sangat kalap karena di sebut pembunuh oleh anak yang dia rawat.


"Hiiiaaa!"


Bela berlari menghindar, dia tidak di ajarkan untul mengelak dari serangan senjata tajam. Dia ingin melawan dengan menembakkan senjata api yang dia selipkan di tasnya, tetapi tasnya ada di ruang tamu.


Bela terus menghindar dengan berlari, hingga Arman pun datang dan melerai keduanya. Dia kaget istrinya memegang senjata tajam di arahkan pada Bela.

__ADS_1


"Ada apa ini? Kenapa kalian berlari-larian dan kenapa mama menyodorkan senjata tajam ke arah Bela?!" teriak Arman.


"Dia menuduh sembarangan pa! Dia menuduh papa membunuh kakeknya Gunawan dan juga perempuan yang bernama Marni Andriani." kata Belinda.


Arman terkejut, kepalanya beralih pada Bela dan menatap datar penuh selidik. Dia mencerna apa yang di katakan oleh istrinya, dan kini menatap dingin pada Bela.


"Dari mana kamu tahu semua itu?!"


Kini Arman yang berbalik tanya pada Bela. Bela diam, dia menatap tajam pada Arman dan mendengus kasar.


"Papa bertanya seperti itu berarti itu benar adanya, kalau papa membunuh kakek Gunawan. Kakekku!" ucap Bela.


"Jangan menuduh sembarangan tanpa bukti. Apakah ini yang kamu dapatkan dari kedekatanmu dengan laki-laki pecundang itu? Kamu telah di cuci otakmu Bela!" ucap Arman.


"Cuci otak? Papa yang dulu mencuci otakku, meremehkan suamiku sendiri. Nyatanya dia lebih hebat dari apa yang selama ini aku duga. Dia tahu segalanya tentang kejadian yang terjadi tujuh tahun lalu. Bahkan dia juga tahu siapa mama dan papaku sebenarnya!" ucap Bela.


"Bela! Jangan lancang kamu!" teriak Belinda lagi.


Arman masih diam, dia masih menatap Bela. Tangannya mengepal kuat, lalu tersenyum miring.


"Oh, jadi dia menceritakan semuanya padamu? Apa kamu tahu dia itu siapa sekarang ini?!" tanya Arman.


"Aku tidak peduli sekarang dia siapa, yang aku tahu dia adalah suamiku!" ucap Bela.


"Heh, suami?! Suami yang dulu kamu remehkan dan kamu hina, sekarang kamu berpihak padanya." kata Belinda.


"Ya, karena saat ini dia yang benar. Dan terima kasih papa telah menjualku padanya, jika tidak maka aku akan jadi perempuan yang bodoh sebodoh-bodohnya diriku." kata Bela lagi.


Dia pun melangkah pergi meninggalkan, tapi Belinda mengejarnya dan hendak menangkapnya. Tapi tiba-tiba pembantunya mencegah Belinda mendekati Bela, dia kaget tapi kemudian menepis tangan pembantu itu.


"Lepas! Lancang sekali kamu!" ucap Belinda.


Belinda di cegah oleh pembantu yang sedang menyamar di rumah Arman. Tapi Arman segera berjalan cepat untuk mencegah Bela keluar dari rumahnya. Dia hendak menarik tangan Bela, tapi lagi-lagi satu pembantu datang dan mencegahnya lagi.


Arman pun memukul pembantu yang lancang itu, tapi rupanya pembantu itu lebih gesit menarik tangan Arman dan memutarnya. Bela menatap Arman dengan dingin.


"Aku akan melaporkan papa ke polisi dengan tuduhan perencanaan pembunuhan."


"Bela!"


_


_


***************

__ADS_1


__ADS_2