
Bela menaiki tangga, dia menoleh ke belakang menatap Yoga. Yoga pun sama, sejak Bela pergi dia menatap istrinya. Keduanya saling pandang, tapi kemudian Yoga tersenyum miring.
Arman mendengus kasar, dia nenatap tajam pada Yoga. Dalam benaknya dia berpikir apakah laki-laki yang dulu meeting zoom dengannya itu adalah menantunya itu?
Yoga tahu Arman sedang berpikir tentang dirinya, kalau dia sebenarnya adalah laki-laki yang dulu meeting zoom. Dia tersenyum sinis, lalu duduk di ruang tengah itu. Menatap datar pada Alvin yang masih kesal sekali padanya.
"Apa kamu kecewa aku datang, Alvin?" tanya Yoga dengan tenangnya.
Duduk dengan kaki bertumpang di salah satunya, Arman meraup wajahnya kasar. Dia pun ikut duduk, tetapi masih diam. Bingung mau bicara apa pada laki-laki yang kini terlihat angkuh.
"Heh, laki-laki sepertimu tidak pantas untuk Bela!" ucap Alvin.
"Oh ya? Tapi dia sudah jadi milikku seutuhnya, bahkan mertuaku menjualnya padaku." kata Yoga dengan santainya.
"Brengsek kamu!" teriak Alvin.
"Jangan berteriak Alvin, aku tahu maksud kedatanganmu setiap hari ke rumah ini." kata Yoga, tangannya bersedekap menatap datar pada laki-laki yang kini sedang marah dan mengumpat dalam hati.
"Yoga, dari mana kekayaan yang kamu dapatkan itu?!" tanya Arman.
"Waah, papa mertua ternyata penasaran juga ya. Hahah!" ucap Yoga tertawa lepas dan keras.
"Om, apa dia sudah gila?" tanya Alvin pada Arman.
"Entahlah, aku bingung. Apa benar laki-laki itu adalah orang itu sewaktu di Italia." kata Arman.
Yoga memperhatikan pembicaraan bisik-bisik antara Alvin dan Arman. Dia mendongak ke atas, di lantai atas pintu kamar Bela sudah tertutup. Di liriknya jam tangannya, rasanya dia ingin masuk ke dalam kamar istrinya. Tapi urusan dengan Alvin dan Arman belum selesai.
"Oh ya, bagaimana kabar teman Jepangmu itu Alvin?" tanya Yoga.
Alvin diam, dia mengepalkan tangannya kembali. Mendengus kasar, sepertinya Yoga tahu banyak tentangnya selama ini.
"Kamu tahu banyak tentang diriku ternyata. Apa kamu begitu tertarik denganku?" tanya Alvin sinis.
"Waah, sejak dulu aku penasaran sama kamu dan pergaulanmu Alvin. Aku selalu memantau gerakanmu sejak bisnismu hancur." kata Yoga masih dengan tenangnya.
"Ooh, jadi kamu tahu aku sesungguhnya?" tanya Alvin kini mulai berani bicara sinis dan tenang.
__ADS_1
"Ya, karena tujuanku itu adalah kamu. Seperti halnya targetmu sekarang adalah istriku." kata Yoga.
Alvin diam, wajahnya tegang. Dia melirik ke arah Arman, dia takut juga jika Arman tahu tentang kebenaran Bela. Maka dia akan bertindak sendiri, tanpa harus meminta bantuannya.
Arman lebih keras lagi jika tahu anaknya itu mempunyai harta karun yang lebih banyak.
"Tentu saja Bela akan di pilih oleh Alvin, meski pun sekarang aku tahu kamu adalah laki-laki yang membeli anakku. Tapi aku yakin, kamu adalah pecundang yang sedang menyamar jadi orang kaya. Bahkan mungkin saja kamu jadi penjilat pasa tuan Mark agar kamu bisa mendapatkan Bela." kata Arman.
"Oh ya? Hahah! Tanyakan saja pada laki-laki pecundang itu, bukankah dia tahu segalanya tentangku. Apa lagi istriku, dia tahu kalau istriku itu sangat berharga. Kamu tahu, Alvin tahu banyak tentang Bela." kata Yoga dengan tersenyum sinis.
Arman diam, dia beralih menatap Alvin. Tapi kemudian dia mendengus kasar.
"Silakan diskusikan tentang rencana kalian, aku ingin beristirahat dengan istriku. Rasanya sudah sangat lama sekali aku tidak bercinta dengannya, aaah. Melelahkan sekali." ucap Yoga berdiri lalu melangkah pergi meninggalkan kedua orang yang masih diam terpaku.
Dia menaiki tangga dengan cepat, ingin tahu keadaan istrinya setelah di tampar oleh Belinda. Setelah membuka pintu kamar, Yoga masuk dan mencari kemana istrinya itu.
"Bela, di mana kamu?" Yoga berteriak mencari istrinya.
Bela keluar dari kamar mandi, Yoga mendekat dan langsung memegang pipinya. Mengamati apakah pipi istrinya itu terluka atau sobek.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Yoga masih meneliti wajah Bela.
Dia melangkah menuju ranjangnya, menyibak selimutnya dan segera menaiki lalu duduk. Yoga pun menyusul, dia duduk di sisi ranjang masih menatap istrinya.
"Apa yang harus aku lakukan sama perempuan itu?" tanya Yoga.
"Biarkan saja, aku belum mau memberikan apa pun. Yang aku inginkan mencari tahu tentang mamaku yang asli. Apa kamu mau mengantarku menemuinya? Kamu bilang pelayan di tempat restoran di mana kamu kerja dulu adalah anaknya." kata Bela.
"Ya, dia juga masih bekerja di restoran itu." jawab Yoga.
"Aku ingin bertemu dengannya." kata Bela lagi.
"Hemm, aku akan mengantarmu besok. Saat ini kamu sedang di awasi oleh Alvin, makanya aku akan menjagamu. Dua hari lagi setelah semua apa yang kamu inginkan di dapat, kita harus kembali ke Italia. Sekarang tematmu di sana denganku." kata Yoga.
Bela diam, dia menunduk. Berat rasanya jika harus meninggalkan tempatnya sejak kecil itu, tetapi dia sadar kalau saat ini dia sedang dalam bahaya.
"Apa kamu akan melindungiku seterusnya?" tanya Bela menatap suaminya.
__ADS_1
"Terserah kamu." kata Yoga.
"Kok terserah?"
"Ya, kamu belum menyerahkan hatimu padaku."
Bela diam, dia bingung dengan ucapan Yoga itu. Apakah harus menyerahkan hatinya juga? Bukankah dirinya sudah menyerahkan dirinya pada suaminya, bahkan setiap kali Yoga meminta dia tidak pernah menolak.
"Apakah kurang diriku setelah semuanya aku serahkan padamu?" tanya Bela menunduk.
Yoga diam, dia tersenyum miring. Di angkatnya dagu Bela, keduanya saling menatap. Mata Yoga menelusuri setiap inci wajah cantik itu.
"Apa kamu masih ragu kalau aku akan selalu melindungimu?" tanya Yoga.
Bela diam, lalu menggeleng cepat. Wajahnya memerah karena wajah suaminya semakin mendekat. Keduanya pun terhanyut suasana temaram yang sebenarnya tadi di bawah sangat menegangkan.
Mereka hanyut dalam gairah yang membara karena sudah tiga hari tidak bertemu. Entah kenapa Bela merindukan sentuhan suaminya itu.
Sedang asyik menumpahkan gairah hatinya, tiba-tiba pintu kamar di dorong kuat. Hingga suara tembakan untuk membuka pintu itu.
Yoga menggeram kesal, dia menyudahi pagutan bibirnya dari Bela. Menatap tajam ke arah pintu kamar Bela itu, tampak pintu terbuka.
Arman dan Belinda masuk dengan wajah penuh kekesalan. Alvin pun ikut masuk ke dalam kamar Bela, dia menatap Bela yang sedang membereskan bajunya karena sedikit terbuka.
"Kalian lancang sekali masuk ke dalam kamar istriku!" ucap Yoga dengan nada tinggi menggelegar.
Mata yang melebar menatap satu persatu wajah Arman, Belinda dan juga Alvin.
"Tinggalkan anakku, brengsek!" teriak Belinda.
"Heh, anakmu? Kamu yakin istriku itu adalah anakmu?!" ucap Yoga dengan tatapan dinginnya.
Belinda diam, Arman pun ikut kesal. Seharusnya dia tidak membuang Yoga pada waktu itu, kali ini dia menyesal setelah kini menantu yang dia anggap pecundang itu berubah jadi lebih garang dan menakutkan.
Apa yang membuat laki-laki itu bisa sangat berani dan berubah seratus delapan puluh derajat dari sebelumnya?
_
__ADS_1
_
************