Takdir Menantu Terbuang

Takdir Menantu Terbuang
49. Di Kejar


__ADS_3

Bela di bawa dua pengawal Yoga yang memang bertugas selalu menjaga dan mengikuti kemana dia pergi. Dan saat ini dia datang ke rumah Arman, bertemu dengan Belinda dan suaminya. Mereka bertengkar dengan niat Bela melaporkan papanya.


Dia langsung keluar dari rumah Arman setelah mengambil tasnya. Sedangkan Arman hanya menatap tajam kepergian Bela, anak yang selama ini dia asuh.


"Kurang ajar! Sejak bayi aku gendong dan mengasuhnya, dia bahkan berani melawanku!" ucap Belinda dengan geram sekali.


"Sudahlah ma, papa akan lawan dia. Papa tidak takut dia akan melaporkan papa ke kantor polisi. Papa akan sewa pengacara handal, dia pikir akan bisa menghadapiku dan memasukkanku ke dalam penjara?" ucap Arman.


"Bagaimana bisa dia tahu semuanya pa? Apakah dia cari tahu semua?" tanya Belinda.


"Mama tahu? Laki-laki itu punya banyak mata-mata dan anak buah, semuanya bisa dia selidiki dan dia dapatkan. Tapi aku tidak akan takut, lagi pula dalam rumah sakit itu tidak ada yang tahu." kata Arman.


"Bagaimana dengan perusahaan papa? Apakah dia juga mau menghancurkannya?" tanya Belinda semakin ketakutan


Jika perusahaan suaminya bangkrut, bagaimana arisan berlian yang kini sedang dia ikuti dengan teman sosialitanya.


"Papa lagi mempertahankannya, memang sedang ada yang menggoyangkan perusahaan papa. Tapi papa akan cari cara lain untuk investor kerja sama dengan papa." kata Arman.


Belinda diam, dia tidak mengerti apa itu investor. Yang dia tahu kerja sama dengan pengusaha waktu di Italia itu, sangat menggiurkan penawaran uangnya. Membuat Belinda pun bisa keliling Eropa saat itu.


_


Bela dan Stave sudah berada di kantor polisi, tak lupa juga pengacara Hosman Pais yang handal dan di takuti oleh lawan-lawannya itu ikut mengantar Bela ke kantor polisi menyerahkan laporan dan bukti-bukti atas pembunuhan kakeknya Gunawan.


"Pak Hosman, apakah kepolisian akan langsung menangai kasus ini?" tanya Bela sedikit ragu.


"Iya nona, anda tenang saja. Jika tidak langsung di tindak lanjut, saya akan menuntut segera di usut. Tapi, bagaimana dengan saksi nona?" tanya Hosman Pais.


"Suamiku dan ada dua perawat pak Hosman, nanti suamiku datang untuk jadi saksiku. Dia yang tahu semuanya." kata Bela.


"Baiklah, waah itu ada wartawan. Mereka akan mengeksposku." kata pengacara Hosman.


"Anda itu terkenal pak Hosman, anda pengacara artis-artis ternama dan pengusaha kaya yang ingin memakai jasa anda. Makanya aku meminta jasa anda untuk mendampingiku melaporkan papaku." kata Bela.


"Dari BAP yang saya baca nona, kenapa bisa papa anda membunuh kakek anda, itukan ayahnya pak Arman?" tanya pengacara Hosman.


"Keserakahan pak pengacara, papaku serakah. Dia juga sebenarnya membunuh kedua orang tuaku, tapi buktinya kurang lengkap. Dan sudah puluhan tahun sejak aku usia dua bulan." kata Bela.

__ADS_1


"Waah, benar-benar sadis ya. Hanya karena harta dan kedudukan." kata pengacara Hosman lagi.


"Ya, makanya aku tidak mau dia berbuat lebih buruk lagi. Suamiku tidak setuju jika aku hanya melaporkannya ke polisi saja, tapi ini bentuk protes dan kemarahanku padanya. Meski dia jahat, tapi dia mengasuhku selama dua puluh dua tahun lebih." kata Bela.


"Ooh, begitu."


Bela mengangguk, mereka sudah masuk ke dalam ruang kantor polisi di bagian pelaporan dan humas. Polisi langsung menerima laporan Bela, memberikan formulir laporan atas nama siapa. Bela langsung mengisinya.


Polisi bicara dengan pengacara Hosman Pais, sedangkan Stave sejak tadi diam saja. Hanya melihat istri bosnya mengisi formulir laporannya.


"Nona akan menuntut berapa tahun di laporan itu nanti?" tanya Stave.


"Dua puluh tahun?"


"Saya rasa seumur hidup saja, itu lebih baik nona. Tuan Yoga juga pasti setuju dengan itu." kata Stave mengusulkan.


"Begitu ya?"


"Ya, dan pengacara Hosman juga pasti setuju. Kalau bukti kuat tentang pembunuhan kedua orang tua nona, dan sekalian di laporkan. Itu bisa hukumannya mati nona." kata Stave lagi.


"Sudah selesai." kata Bela.


Dia menyerahkan formulir laporannya pada polisi, lalu bicara sebentar dengan kepolisian mengenai semua bukti dan BAP yang dia buat.


"Baiklah, nanti tunggu pemanggilan pak Arman untuk memberi keterangan tentang laporan anda. Setelah itu berkas ini akan masuk di persidangan. Jangan lupa nanti siapkan bukti-buktinya." kata polisi.


"Iya pak polisi, bukti sudah ada pada pengacara saya pak Hosman Pais. Tinggal saya tunggu hasilnya." kata Bela.


"Ya, kami akan memanggil pak Arman secepatnya ya. Ibu tenang saja." kata polisi lagi.


"Baik pak, terima kasih pak polisi."


Bela menyalami polisi lalu dia pun pergi dari kantor polisi. Di antar oleh pengacaranya.


"Saya akan menghubungi nona jika semuanya sudah ada pemanggilan." kata pengacara Hosman.


"Iya pak pengacara. Saya akan tunggu kabar dari anda." kata Bela.

__ADS_1


"Baik nona."


"Saya pergi dulu pak pengacara, ada urusan lain lagi." kata Bela.


"Iya nona, hati-hati di jalan." kata pengacara Hosman.


Bela masuk ke dalam mobilnya, Stave masuk ke dalam mobil. Dia yang menyetir mobil yang di tumpangi istri bosnya, mereka akan kembali ke hotel untuk merencanakan selanjutnya.


Baru beberapa meter keluar dari wilayah kantor polisi melewati terowongan. Sebuah mobil hitam mengejar mobil yang di tumpangi Bela, lalu menabrakkannya dengan keras. Membuat Bela dan Stave terkejut dan oleng ke samping.


Bela melihat mobil yang menabraknya itu, dia mendengus kasar lalu menatap Stave.


"Siapa mereka?" tanya Bela.


"Mungkin itu orang suruhan Arman, nona." jawab Stave.


"Papa?"


"Kemungkinan, Arman tahu anda akan melaporkan pada kepolisian. Jika dia berani membunuh kakek nona dan kedua orang tua nona juga, dia juga sudah tidak memikirkan siapa nona itu. Dia juga akan mengincar nona untuk di bunuh." kata Stave.


Bela diam, seperti dugaan suaminya. Arman akan berbuat apa saja untuk menghalangi orang yang akan menghancurkannya. Apa lagi kemarin Bela datang ke rumahnya dan mengatakan akan melaporkan pada polisi.


"Lalu kita harus bagaimana?" tanya Bela.


"Nona tenang saja, saya sudah mengantisipasi semua pergerakan Arman. Kita harus menghindar lebih dulu, sebelum anak buah yang lain datang membantu kita." kata Stave.


"Baiklah, aku percaya sama kamu Stave." kata Bela.


"Iya nona."


Mobil Stave pun melaju kencang menghindari dari tabrakan mobil yang mengejarnya di belakang. Kedua mobil itu kejar-kejaran di jalanan tol, lalu melewati jalan perkampungan. Hingga suara tembakan dari mobil Stave pun mengagetkan laki-laki itu.


_


_


***********

__ADS_1


__ADS_2