Takdir Menantu Terbuang

Takdir Menantu Terbuang
54. Kejutan


__ADS_3

Perusahaan Arman sudah bangkrut, ternyata para pegawainya juga banyak yang korupsi. Terutama di bagian gudang, mereka melakukan kecurangan. Dan juga di bagian keuangan, jadi Jeffry tidak membutuhkan waktu lama untuk mengakuisisi perusahaan Arman yang tidak bisa memenuhi kewajibannya sebagai penyedia barang atau suplier barang mentah.


Dalam kontrak sewaktu di Italia dulu, Arman gegabah tidak memperhatikan betul apa yang tertera dalam surat kontrak dengan perusahaan Yoga. Yang dia pikirkan adalah tawaran yang begitu menarik jumlah uangnya, di tambah lagi bonus dari menjual Bela pada Yoga begitu besar.


Kini Belinda jadi kebingungan, semua temannya menjauh karena perusahaan suaminya bangkrut dan Arman sendiri di penjara dengan tuduhan perencanaan pembunuhan. Seharusnya vonisnya hukuman mati, tapi Bela tidak menginginkannya.


"Apa sebaiknya aku jual saja rumah ini?" ucap Belinda.


Dia duduk di ruang tamu, bahkan para pembantunya juga sudah pergi. Hanya satu saja yang tersisa menemaninya, dan mungkin akan pergi juga jika Belinda tidak memberi gajinya bulan ini.


Belinda pun menghubungi pihak properti untuk menjual rumahnya. Dia menggunakan jasa properti untuk menjual rumahnya agar lebih cepat terjual, meski memang harganya tidak sesuai keinginannya karena pengambilan untung dari pihak properti yang besar.


Dia menelepon petugas properti itu dan mengutarakan keinginannya menjual rumahnya. Tidak perlu memikirkan Arman lagi, dia bahkan akan pergi jauh setelah rumah terjual.


Meski jaminannya penjualan rumah lebih cepat. Itu yang di inginkan Belinda. Dia menarik napas panjang, kembali pikirannya tertuju pada Bela. Gadis yang dulu dia manja, selalu di berikan apa pun asal gadis itu lebih di sukai oleh pengusaha-pengusaha mapan.


Tapi nyatanya, mertuanya kakek Bela yaitu Gunawan menikahkan Bela dengan laki-laki miskin bahkan tidak memiliki kedua orang tua. Tapi sekarang berbalik, laki-laki yang selama ini di hina di depan umum sewaktu pesta ulang tahunnya dulu.


"Nyonya, apakah kita akan tinggal di rumah ini selamanya?" tanya pembantunya yang masih tersisa.


"Tidak, tunggu rumah ini terjual. Aku sudah menghubungi pihak properti untuk menjual rumah ini. Setelah rumah terjual, aku akan bayar gajimu dan kamu boleh pergi dari rumah ini. Sekarang kamu beresi barang-barangku di kamar." kata Belinda.


"Baik nyonya."


Pembantu itu pun pergi, dia menuju ke kamar Belinda untuk membereskan baju-baju dan barang yang di perlukan saja, sedangkan Belinda sendiri menunggu kabar dari petugas properti mengenai penjualan rumahnya yang dia tawarkan pada perusahaan itu.


_


Satu bulan, Yoga tak memberi kabar pada Bela, gadis itu merasa cemas dengan keadaan suaminya. Selama dia berada di Indonesia mengurus persidangan, Yoga tidak menghubunginya. Hanya asistennya saja yang menjawab ketika dia menelepon.


"Apa dia baik-baik saja?" ucap Bela dalam kamarnya.


Setiap menjelang malam, dia selalu menghubungi Yoga. Tapi selalu saja yang menerima Mark, dia kesal juga kenapa suaminya tidak mau menerima teleponnya.


Seperti kali ini, yang menjawab pasti Mark. Meski dia tahu pasti asisten suaminya yang menjawab, tapi dia akan marah jika benar asistennya lagi yang menjawabnya.


Tuuut.


Sambungan telepon terhubung, dan langsung di jawab.


"Halo nona, ada yang bisa saya bantu?"


"Mark, mana suamiku?!"

__ADS_1


"Maaf nona, tuan lagi di kamar mandi." jawab Mark.


"Kenapa kamu selalu mencegahku untuk bicara dengan suamiku? Apa dia baik-baik saja? Atau dia sudah melupakan aku?!" tanya Bela kesal.


"Saya tidak tahu nona, tadi tuan bilang kalau nona menelepon jawab saja tuan ada di kamar mandi." jawab Mark.


"Mark!"


"Iya nona?"


"Kapan suamiku menjemputku kesini?" tanya Bela masih kesal sekali.


"Katanya minggu depan, masih ada urusan di sini nona. Jadi anda bersabar saja." kata Mark lagi.


"Apa dia sudah lupa padaku?"


"Tentu tidak nona, tuan sangat merindukan anda. Katanya nona harus bersabar, minggu depan tuan akan menjemput nona ke Indonesia." kata Mark lagi.


"Dari minggu lalu kamu mengatakan seperti itu, sekarang pun kamu juga bilang begitu. Apakah dia sudah lupa padaku? Apa dia akan mencampakkanku?! Hik hik hik."


Kali ini Bela tidak bisa membendung rasa kesalnya dan juga rindu pada suaminya itu. Sejak keberangkatannya ke Italia untuk berobat, Yoga tidak pernah menghubungi istrinya itu.


Jika Bela menelepon, pasti yang menjawab asistennya Mark. Sampai Bela kesal sekali, beberapa hari dia mencoba tidak menghubungi Yoga. Tapi tetap tidak ada telepon balik dari suaminya, dan dia sendiri yang tidak sabar lalu menghubunginya kembali.


"Kalau dia tidak mau menerima teleponku, aku tidak akan bertemu dengannya! Katakan itu padanya Mark!" ucap Bela dengan kencang.


"Baik nona, saya akan sampaikan pesan anda."


"Mark!"


Klik!


Sambungan terputus, Bela melihat ponselnya lalu membantingnya di atas ranjangnya. Di usapnya air mata yang mengalir deras, rasa kesal karena suaminya tidak mau menerima teleponnya.


"Kamu brengsek Yoga!" ucap Bela dengan berteriak.


Di baringkannya tubuhnya di atas ranjang dengan posisi tengkurap, dia menangis sejadi-jadinya di atas kasurnya. Hingga malam larut, tak sadar dia pun teridur.


Pukul satu malam, suara langkah berat kaki mendekat ke ranjang. Kaki itu berhenti tepat di bawah dekat sandal Bela, seorang laki-laki berdiri menatap perempuan yang sedang tidur.


Senyumnya mengembang, tangannya menjulur ke arah pipinya. Dia pun duduk di tepi ranjang, matanya masih menatap teduh pada wajah yang tampak sedih meski sedang tertidur itu.


"Aku juga merindukan kamu sayang." ucap laki-laki yang tak lain adalah Yoga.

__ADS_1


Tangannya mengelus pipi halus istrinya, beralih pada bibirnya dan menggosokkannya pelan. Hingga mengusik kenyamanan tidur Bela, kelopak mata Bela bergerak kemudian mata itu terbuka perlahan.


Di tatapnya wajah datar yang kini berubah hangat karena senyumannya yang khas. Bela menatap terpaku, lalu dia melebarkan matanya karena terkejut.


Sejenak kemudian tubuhnya bangkit dan matanya masih menatap tidak percaya kalau suaminya ada di hadapannya. Dia mengucek-ucek matanya beberapa kali, tapi tetap wajah suaminya tampak di depan matanya.


"Yoga?"


"Halo sayang, apa kamu rindu padaku?"


Ucapan Yoga itu membuat Bela kembali menangis, lalu dia segera memeluk suaminya itu. Isak tangisnya membuat Yoga tertawa kecil, di usap punggung mulus itu dengan lembut.


"Kamu jahat, Yoga. Kenapa kamu tidak mau menerima teleponku? Hik hik hik." ucap Bela.


Yoga melepas pelukan istrinya, dia merapikan anak rambut yang tadi berantakan. Lalu tersenyum manis, membuat Bela semakin terisak.


"Kamu jahat! Kamu jahat padaku!" ucap Bela.


"Aku ingin memberikan kejutan padamu sayang." kata Yoga.


"Aku kira kamu akam mencampakkanku, aku takut Yoga." ucap Bela kembali memeluk suaminya.


"Mana mungkin aku mencampakkanmu, aku sudah berjanji pada kakek Gunawan akan selalu menjaga dan melindungimu." jawab Yoga.


"Papa sudah masuk penjara, dan mama menjual rumahnya. Entah dia mau kemana, jika kamu mencampakkanku. Aku akan hidup dengan siapa?" ucap Bela.


"Sudah kubilang, aku pasti akan menjemputmu."


"Tapi kamu tidak memberiku kabar tentang kesehatanku. Tusukan di pinggangmu itu, apa sudah baik?" tanya bela meraba pinggan suaminya.


"Jangan sentuh, nanti aku tidak bisa menahannya." kata Yoga.


Bela terus menyentuh pinggang suaminya, dia tidak mengerti ucapannya. Tapi belum beberapa detik, Yoga menarik tangan Bela dan menarik dagu istrinya lalu mencium bibirnya dengan rakus.


Dia sangat merindukan bibir itu, selama satu bulan lebih memikirkan istrinya dan saat ini dia tidak bisa menahannya. Keduanya pun terbuai dalam kerinduan hati masing-masing, menuangkannya dalam kemersaan di malam yang panjang itu.


"Aku merindukanmu sayang."


_


_


************

__ADS_1


__ADS_2