Takdir Menantu Terbuang

Takdir Menantu Terbuang
37. Pulang Ke Rumah


__ADS_3

Bela sudah bersiap untuk pulang ke Indonesia, dia sangat senang sekali malam ini akan pulang juga. Tapi dia bingung, kenapa pulang malam hari. Bukankah perjalanan dengan pesawat komersil harus siang atau sore hari.


Tapi dia tidak peduli dengan waktunya, yang penting pulang ke Indonesia. Meski cuma satu minggu saja, dia harus pulang dan mencari tahu semua yang di katakan Yoga itu.


Pelayan masuk ke dalam kamarnya, dia bertanya pada Bela apakah sudah siap atau belum. Karena malam ini Yoga tidak ikut dengannya pulang, entah pulang lebih dulu atau menyusul esok harinya.


"Nona sudah siap?" tanya pelayan itu.


"Ya, semuanya sudah siap." kata Bela.


"Mari saya antar, mobil yang mengantar anda sudah di depan." kata pelayan itu.


"Apa tuanmu tidak ikut? Maksudku, dia tidak pulang ya?" tanya Bela.


"Tuan sedang pergi nona." jawab pelayan.


"Kemana?" tanya Bela lagi.


"Saya tidak tahu nona, kami para pelayan tidak di perbolehkan mencari tahu kemana tuan pergi." ucap pelayan lagi.


"Ooh, begitu. Baiklah, ayo kita keluar."


Pelayan menunduk hormat, dia membawakan koper Bela. Barang yang dia bawa tidak banyak, hanya beberapa setel baju dan make up. Juga sepatu yang dia suka yang di belikan Yoga untuknya.


Keluar dari kamar, turun tangga dan segera menuju depan. Mobil untuk mengantarnya pergi menaiki pesawat sudah menunggu, ada beberapa mobil di depan. Bela heran, ada tiga mobil di sana.


"Silakan masuk nona." kata pengawal yang tadi berdiri di depan mobil dan membukakan pintu untuknya.


"Ya, terima kasih."


Bela masuk dalam mobil, pengawal tadi pun ikut masuk ke dalam mobil tapi di depan dengan sang supir. Bela menoleh ke belakang, mobil pun melaju pelan mengikuti mobil di depannya.


"Kok ada tiga mobil? Siapa mereka?" tanya Bela.


"Mereka pengawal anda nona, tuan Yoga menyuruh kami untuk mengawal anda." kata pengawal itu.


"Apa sebanyak itu saya di kawal?" tanya Bela lagi.


"Ya nona, karena anda adalah istri tuan kami. Jadi kami harus menjaga anda dan memastikan anda sampai di dalam pesawat. Serta sampai di negara anda juga." jawab pengawal itu lagi.


"Lalu, di mana tuanmu?" tanya Bela.

__ADS_1


"Tuan ada urusan penting nona."


Bela menarik napas panjang, semua jawaban sama dengan pelayan tadi. Dia pun menyandarkan punggungnya di jok, malam ini sebenarnya dia lelah karena siang tadi suaminya pulang dan meminta jatahnya. Tapi dia akan tidur di pesawat saja, karena perjalanannya juga tidak lama menuju bandara.


Mobil melaju kencang, tiga iringan mobil itu melaju tanpa ada hambatan. Hanya butuh waktu setengah jam mobil sampai di bandara yang khusus pesawat pribadi.


Bela keluar, dia heran kenapa mobil tidak berhenti di depan halaman bandara. Tetapi di bagian khusus, tapi dia mengikuti kemana pengawalnya pergi.


Mereka pun menuju pesawat pribadi yang di miliki Yoga untuk mengantarnya kemana pun dia pergi. Bela heran menaiki pesawat pribadi itu, tapi kemudian dia masuk.


Kabin pesawat itu sangat luas, karena memang khusus untuk dua orang dan juga ada kamar khusus untuk beristirahat.


"Maaf nona, anda bisa beristirahat jika merasa lelah." kata pramugari yang bertugas di pesawat itu.


"Oh ya? Apa ada kamarnya?"


"Ya nona, silakan ikuti saya." kata pramugari itu.


Bela mengikuti pramugari, dia melihat pramugari mengetuk pintu dan membuka kamar kabin khusus untuk sang bos dan istrinya.


"Silakan nona masuk." kata pramugari dengan menunduk hormat.


"Terima kasih."


Dia pun berbaring perlahan agar tidak mengganggu suaminya tidur. Tapi kemudian Yoga berbalik dan menarik tubuh Bela untuk tidur dengan berpelukan. Mau tidak mau Bela pun hanya diam saja, dia juga lelah dan akhirnya tertidur.


_


Jarak yang di tempuh pesawat pribadi yang membawa Bela dan Yoga untuk pulang ke Indonesia membutuhkan dua belas jam lebih dengan kecepatan rata-rata sembilan ratus kilo meter perjam.


Mereka akhirnya sampai juga di babdara Soekarno Hatta. Bela di langsung di jemput oleh anak buah Stave yang memang bertugas di Indonesia, mengawasi semua gerak gerik Arman.


"Kamu pulang sendiri ke rumah Arman, aku akan menginap di hotel." kata Yoga setelah mereka di mobil.


"Kenapa kamu tidak mau ikut juga ke rumah papa?" tanya Bela.


"Nanti aku akan datang ke sana." jawab Yoga.


"Apa kamu tidak khawatir dengan Alvin akan mendekatiku?" tanya Bela memancing emosi Yoga.


Yoga menatap datar istrinya, lalu tersenyum tipis.

__ADS_1


"Aku yakin kamu akan menolak ajakan laki-laki pecundang itu. Dan kamu sudah di jaga ketat oleh anak buahku, pelayan di rumah Arman juga sudah aku suruh untuk mengawasi keadaanmu dan di rumah itu." kata Yoga.


Bela diam, dia menoleh ke arah suaminya. Ternyata persiapan Yoga untuk menjaganya benar-benar sempurna.


Tak lama mobil berhenti di depan pintu gerbang, Bela menatap rumah besar milik Arman itu. Tiba-tiba dia merasa takut untuk masuk ke dalam rumah itu, membayangkan Arman dan Belinda akan mencecarnya dan menahannya di dalam rumah.


"Jangan takut, masuklah. Besok aku akan datang ke rumah ini." kata Yoga berkata lembut pada Bela.


Bela menoleh padanya, baru dia mendengar ucapan suaminya yang begitu lembut. Tidak seperti waktu di mansionnya, tapi kemudian dia pun mengangguk.


"Kamu akan tidur di hotel?" tanya Bela.


"Ya, apa kamu merasa kesepian jika aku tidur di hotel?" Yoga malah balik bertanya dengan senyum sinis.


"Tidak." jawab Bela cepat.


Dia langsung keluar dari dalam mobil Yoga, tapi kemudian di tarik tangannya dan Yoga mencium bibirnya cepat. Setelah selesai, dia melepasnya. Bela kaget, tapi kemudian dia menarik napas panjang.


"Keluarlah, jaga dirimu." kata Yoga.


"Ya."


Bela pun keluar dari mobil Yoga, kopernya dia ambil dari tangan sang pengawal. Dia menundukkan kepala lalu berbalik, melangkah menuju pintu gerbang dan masuk ke dalam.


"Kita ke hotel, Jeff." kata Yoga.


"Baik tuan."


"Pantau terus rumah ini, jangan sampai istriku terluka dan mereka melukainya sedikitpun." kata Yoga lagi.


"Iya tuan, saya akan menempatkan beberapa anak buah tersembunyi juga. Saya dengar setiap hari tuan Alvin datang ke rumah tuan Arman." kata Jeff lagi.


"Maka dari itu, awasi terus. Istriku itu sedang kebingungan. Besok siang aku akan datang ke rumah ini setelah mengkordinasi anak buah agar tetap berjaga. Stave bilang ada satu orang suruhan kelompok Yakuza untuk memata-matai Alvin dan juga rumah ini. Aku tidak mau istriku jadi tawanan mereka dan di jadikan jaminan untuk bertemu denganku." kata Yoga.


"Ya tuan."


Mobil pun melaju pelan pergi meninggalkan rumah besar itu. Yoga harus istirahat lebih dulu agar besok dia bisa menghadapi Arman dan juga Alvin yang sudah berani mendekat lagi pada Arman.


_


_

__ADS_1


************


__ADS_2