Takdir Menantu Terbuang

Takdir Menantu Terbuang
56. Bunuh Diri


__ADS_3

Arman terkapar dalam kamar tahanannya, mulutnya sedikit berbusa. Matanya melebar ketika napas terakhirnya berhembus, dan kedua tangannya memegangi lehernya seperti mecekik.


Polisi baru menemukan jasad Arman dalam kamar tahanan setelah pagi hari petugas polisi itu membuka pintu sel. Petugas itu hendak menyuruh Arman untuk keluar dari kamar tahanan yang memang khusus untuknya.


Polisi itu melihat Arman tergeletak dengan kedua tangan di leher. Dia memeriksa tubuh Arman sudah dalam keadaan dingin dan kaku, dia pun bergegas meminta bantuan pada polisi yang lain.


Tak lama, bantuan pun datang dan segera memabwa jasad Arman keluar dari kamar tahanan itu.


"Kenapa dengan tahanan ini? Dia mati?" tanya teman polisi yang menemukan Arman tewas.


"Ya, saya baru masuk ke sel tahanannya. Dan melihat dia sudah terkapar dengan tangan di leher itu, apa dia mati bunuh diri dengan mencekik lehernya sendiri?" katanya bertanya pada temannya.


"Mungkin saja, melihat dari kematiannya itu sepertinya begitu. Kita harus memberitahu ketua lapas, kalau tahanan yang baru satu bulan itu telah tewas bunuh diri." kata temannya lagi.


"Ya, saya akan bawa ke rumah sakit untuk di autopsi sekalian."


"Saya akan melapor pada kalapas di kantor."


"Cepatlah, dan cari bantuan untuk membawa jasadnya ini ke kamar jenazah di rumah sakit."


Kedua polisi itu menjalankan tugasnya sesuai dengan tugas masing-masing. Jasad Arman di bawa ke rumah sakit, banyak yang melihat heran kenapa laki-laki yang baru masuk ke dalam penjara satu bulan lalu kini harus mati bunuh diri.


Banyak juga yang berasumsi kalau tahanannya itu mati bunuh diri dengan cara mencekik lehernya sendiri, dan juga karena lelah harus hidup di penjara selama hidupnya. Jadi Arman memutuskan untuk bunuh diri dengan cara mencekik lehernya.


Sampai di rumah jasad Arman di terima oleh petugas rumah sakit. Jasad itu di bawa ke ruang mayat untuk di autopsi, apakah benar jasad itu mati bunuh diri.


_


Yoga duduk di kursi dengan santai, menatap datar pada mertuanya itu. Sedangkan Arman malas sekali bicara dengan menantunya itu, tapi dia pun akhirnya duduk juga di depan Yoga.


Dia melihat di meja ada bungkusan kantong kresek. Yoga menyodorkannya di hadapan Arman.


"Itu oleh-oleh dari istriku. Katanya jika papa mertua kedinginan bisa di pakai kain itu, dan dia juga memberikan makanan kesukaan papa mertua." kata Yoga.


"Jangan basa basi! Mau apa kamu datang kemari?!" tanya Arman.

__ADS_1


"Ooh papa mertua, aku hanya ingin menjengukmu. Dan menyampaikan pesan dari istriku ini." kata Yoga.


Arman menatap tajam pada laki-laki yang sangat dia benci itu. Gara-gara Yoga, semuanya hancur. Baik perusahaan, reputasi dan juga keluarganya.


"Kamu sudah puas memenjarakan aku hah?!" tanya Arman dengan lantang.


"Siapa? Aku tidak memenjarakannya, beruntung sekali aku tidak menjadi saksi utama dalam persidanganmu itu. Kalau aku jadi saksi utama istriku, kupastikan kamu di hukum mati sekaligus." kata Yoga lagi.


"Huh, di hukum seumur hidup tentu saja membunuhku secara perlahan. Kamu memperdaya putriku, dengan membohongiku." kata Arman lagi.


"Bukan memperdaya, aku menyadarkan istriku yang dulu tersesat olehmu. Dan dia sudah sadar, siapa yang jahat sebenarnya. Aku hanya membunuh orang yang hidupnya selalu mengganggu." kata Yoga lagi.


Arman diam saja, dia tetap menatap Yoga dengan tajam. Meski dia ingat dulu ketika menatap laki-laki di depannya tiba-tiba sangat menyeramkan dan menusuk tajam, lalu melihat ke kantong kresek yang di bawa Yoga.


"Kalau sudah tidak ada keperluan, lebih baik kamu pulang saja." kata Arman.


"Tentu, aku hanya sebentar kesini. Mau tahu keadaan papa mertua di tempat pesakitan ini, sangat kasihan sekali. Terhina di balik jeruji dan mungkin akan lebih hina lagi setelah kematianmu papa mertua." kata Yoga dengan sinis dan penuh intimidasi.


Matanya menatap tajam pada Arman, senyuman sinis itu membuat Arman geram. Dia pun bangkit dari duduknya, lalu badannya mencondong ke arah wajah Arman.


Dia berdiri lagi, kemudian berbalik dan meninggalkan Arman yang masih kesal padanya. Dia mendengus kasar, melihat kantong kresek. Di ambilnya kantong kresek itu lalu membawanya ke kamar sel tahanannya.


Satu bulan lebih dia susah makan makanan penjara, hingga kantong kresek yang berisi makanan dan juga roti, serta selimut dia bawa. Ada juga tisu kotak. Dia tidak mengerti kenapa Bela membawakannya tisu kotak, tapi tidak peduli.


Arman hanya merasa senang hari ini, karena mendapat makanan enak. Apa lagi makanan restoran mahal dan juga roti serta makanan ringan lainnya.


"Heh, perhatian juga dia. Meski sudah memasukkanku dalam penjara, tapi setidaknya dia tidak lupa kalau aku pernah mengurusnya." ucap Arman.


Dia mengambil kotak makanan dari restoran, langsung dia melahapnya cepat karena sejak pagi dia lapar. Tadi pagi dia makan sedikit, sehingga perutnya terasa lapar sekali.


Tanpa menyisakan sedikitpun, dia langsung melahapnya. Hanya roti dan makanan ringan lainnya saja yang dia simpan di meja kecil untuk esok harinya.


Dia mengelap mulutnya dengan tisu yang dia robek paksa, kemudian dia membuang sisa tisu bekas melap mulutnya.


Tiba-tiba dadanya terasa sesak, dia mengambil minuman mineral lalu menenggaknya cepat. Napasnya mulai normal kembali, tapi keringat dingin mengucur. Dia ambil lagi tisu untuk mengelap keringat yang keluar di tubuhnya.

__ADS_1


Jantungnya pun berdetak kencang, kepalanya terasa pusing sekali. Di rebahkan tubuhnya karena tiba-tiba terasa lemas sekali.


"Kenapa denganku? Apa makanan itu beracun?" ucap Arman.


Dia memikirkan makanan yang tadi dia makan, tapi jika beracun. Sudah pasti akan langsung muntah, tapi dia tidak muntah. Hanya pusing saja, kenapa seperti itu? Arman memikirkannya terus sepanjang dia rebahan.


"Kenapa aku menerima makanan darinya?"


Dia pun bangkit, dia berjalan menuju pintu besi dan berteriak pada petugas. Tak lama petugas datang padanya.


"Ada apa memanggil?" tanya petugas jaga.


"Ini, aku mau memberikan makanan yang tadi di kasih oleh pengunjungku. Buat bapak." kata Arman.


Petugas itu pun membuka sel dan menerima kantong kresek dari Arman, dia heran kenapa tahanannya itu memberikan makanan padanya.


"Kenapa membeikan semuanya?"


"Tidak apa, aku sudah kenyang tadi makan nasi kotak." jawab Arman.


"Oh, baiklah. Terima kasih."


"Oh ya pak, kalau enak makanannya. Nanti datang padaku lagi ya, saya mau tahu apakah anda senang atau tidak." kata Arman.


"Ya."


Petugas itu pun menutup lagi sel tahanan itu dan pergi ke tempanya. Dia membuka makanan di kantong kresek itu, memakannya dengan tenang. Arman memperhatikan dari jauh petugas itu. Dia merasa petugas makan biasa saja, lalu apa yang membuat dia pusing, agak mual dan berkeringat.


Dia pun menunggu petugas mengatakan enak makanannya. Sambil mengelap kembali wajahnya dengan tisu terus menerus. Hingga tidak sadar dia semakin berkeringat dan lemas.


"Ada apa denganku?"


_


_

__ADS_1


***********


__ADS_2