Takdir Menantu Terbuang

Takdir Menantu Terbuang
28. Di Mansion Yoga


__ADS_3

Arman pun pergi dengan perasaan senang, karena Yoga telah memberinya harga tinggi di luar perkiraannya. Bahkan dia juga menghargai anaknya dengan harga yang sangat fantastis. Cukup untuk modal membuat perusahaan baru lagi, begitu pikir Arman.


Kini harus mengantarkan Bela untuk bertemu dengan Yoga ke hotel yang di tunjuk oleh Mark.


Arman sampai di hotel tempatnya menginap, dalam kamarnya Belinda menunggu suaminya dan ingin bertanya padanya tentang kesepakatan itu.


"Pa, bagaimana. Apa kesepakatannya itu berhasil?" tanya Belinda.


"Berhasil ma, papa bisa bekerja sama dengan tuan Mark. Ah, bosnya tuan Mark." jawab Arman melepas dasinya.


"Bosnya tuan Mark? Siapa?" tanya Belinda.


"Papa tidak tanya siapa dia, dan tuan Mark tidak memberitahu papa. Saat itu papa hanya berpikir harus berhasil memikat bos tuan Mark yang katanya susah sekali untuk kerja sama dengan perusahaan kecil seperti punya papa." kata Arman lagi.


"Tapi, perusahaan papa itu besar. Itukan warisan dari ayahmu, berarti besar kan pa." kata Belinda yang tidak mengerti bagaimana besar kecilnya sebuah perusahaan.


"Perusahaan papa kecil sekali ma, di banding punya tuan Mark itu. Kerja samanya itu tidak main-main, mereka bekerja sama dengan perusahaan tambang yang lebih besar lagi. Beruntung papa bisa bekerja sama, dan tahu tidak. Bos tuan Mark itu memberi harga yang lebih fantastis ma, papa bisa membuat perusahaan baru nilainya." kata Arman dengan senangnya.


"Waah, kita akan kaya raya ya pa." kata Belinda ikut bersemangat.


"Ya, tapi Bela sebagai jaminannya." kata Arman.


"Jaminan? Dia akan jadi jaminan bagaimana?"


"Papa menawarkan Bela untuknya, dan dia setuju. Besok Bela harus bertemu dengan bos tuan Mark do hotel mewah tak jauh dari hotel tempat kita menginap ini." ucap Arman.


"Hotel yang di ujung itu?"


"Iya."


"Waaah, hotel itu hanya tamu penting kenegaraab saja pa yang bisa menginap di sana. Kalangan bangsawan yang bisa memesan kamar di hotel itu."


"Ya, dan tahu tidak ma. Papa dapat bocoran dari sekretaris tuan Mark, bahwa hotel itu adalah milik bosnya tuan Mark. Ck ck ck, papa takjub dengan apa yang di milikinya. Makanya papa menawarkan lagi harga tinggi karena dia meminta Bela untuk jadi teman kencan bos tuan Mark itu." kata Arman dengan senyum mengembangnya.


"Hemm, jadi kita akan kaya dari Bela?" tanya Belinda.


"Ya, begitulah. Kita bisa manfaatkan Bela untuk meraup untung dari bos mafia itu." kata Arman lagi.

__ADS_1


"Ya, pa. Mama ngga sabar ingin keliling dunia, apa lagi ke Amerika." kata Belinda lagi.


Kedua suami istri itu sangat senang dengan apa yang akan di dapatkan Bela nantinya.


_


Siang hari, Bela di suruh berdandan cantik oleh Belinda. Dia memilihkan baju cantik untuk anaknya itu, agar bisa memikat bos mafia yang akan di temui Bela.


Bela sendiri juga senang, dia akan bertemu dengan laki-laki kaya dan tampan tentunya. Dan dia akan berkencam dengannya, begitu yang di katakan Arman padanya.


"Jadi papa menyuruhku datang ke hotel di ujung sana ma?" tanya Bela memakai anting berlian yang dia beli dari uang Yoga dulu di berikan padanya.


"Iya, kamu harus tampil cantik. Pikat dia ya agar lebih menyukaimu dan mengajakku kencan." kata Belinda.


"Hanya kencan kan ma?" tanya Bela.


"Ya, kalau dia tertarik sih tidak masalah." kata Belinda lagi.


"Tapi, apa laki-laki itu bukan orang yang sudah tua?"


"Oh ya? Bagaimana rupanya?"


"Tidak jelas, dan jangan khawatir. Pokoknya dia masih muda, sudah jangan pikirkan itu. Yang penting kamu segera ke hotel itu dan bertemu dengannya." kata Belinda lagi.


Bela mengangguk, setelah di rasa cukup penampilannya menarik dan cantik. Bela segera keluar dari kamar hotelnya, dia naik lift untuk turun ke lantai dasar dan segera pergi bertemu dengan laki-laki yang sudah menunggunya di hotel mewah yang pernah dia kunjungi bersama Yoga.


Sampai di depan hotel, ternyata Bela di jemput oleh anak buah Yoga. Dia terkejut, tapi dia senang karena tidak perlu datang sendiri ke hotel tersebut. Bela masuk dalam mobil yang sudah di buka oleh sang supir, lalu mereka pun pergi.


Ternyata bukan ke hotel Bela bertemu dengan bos mafia yang di maksudnya itu. Dia pun heran, kenapa bukan di hotel itu.


"Tuan, apa bukan di hotel tempat pertemuannya?" tanya Bela.


"Tuan kami menyuruh membawa anda ke mansionnya nona." kata sang supir.


"Ke mansion?"


"Ya nona, tuan kami menunggu anda di mansionnya." kata supir lagi.

__ADS_1


"Waah, ternyata mau di bawa ke mansion?"


"Ya nona."


Bela tersenyum senang, dia merapikan rambut dan bajunya. Betapa senangnya dia akan bertemu laki-laki yang akan berkencan dengannya, dia senang akhirnya ada juga yang mau mendekatinya. Meski awalnya di kenalkan melalui bisnis.


Mobil pun memasuki halaman mansion yang cukup luas. Dinding mansion semuanya terbuat dari kaca, semuanya di lapisi kaca yang tak tembus peluru.


Bela sangat takjub dengan mansion luas dan mewah. Dia melihat ada beberapa anak buah yang berjaga di setiap sudut mansion tersebut. Ada juga beberapa pelayan yang sibuk merapika. Dan juga membersihkan beberapa perabot di sana.


Bela pun di pandu untuk segera masuk ke dalam mansion, dia melalui beberapa pelayan yang memberi hormat padanya. Dia hanya tersenyum saja, berjalan mengikuti kemana kaki laki-laki yang tadi menunggu di depan pintu.


Semakin masuk ke dalam, ternyata pemandangan mewah beberapa perabot dan juga pajangan di dinding yang banyak sekali karya seni tinggi dan mahal.


Dia di bawa menaiki tangga di lantai dua. Sepanjang jalan mengikuti laki-laki itu, dia begitu takjub dan berdecak kagum.


"Nona, silakan masuk ke dalam ruangan ini." kata laki-laki itu seperti seorang bodyguard.


"Oh ya, apa tuanmu ada di dalam?" tanya Bela.


"Masuk saja nona, jika tidak ada berarti tuan kami akan menyusul."


"Baiklah, terima kasih."


Laki-laki itu hanya menunduk, Bela pun masuk ke dalam ruangan luas seperti sebuah ruang kerja tapi begitu santai. Ada juga balkon, dia berjalan menyusuri ruangan tersebut. Sungguh, dia belum pernah melihat ruangan seperti itu.


Dia pun menuju balkon, yang mana pemandangan langsung ada kolam renang di bawahnya.


"Waah, benar-benar mewah sekali mansion ini." gumam Bela.


Dia terus mengagumi tempat di mana dia masuk, sedangka. Ada seseorang yang mengawasinya dari layar yang menyambungkan dengan cctv terpasang dalam ruangan di mana Bela berada.


"Apa anda akan masuk sekarang tuan?" tanya Javier yang menemani Yoga di ruangan lain.


"Nanti saja, awasi dia terus. Aku ada pertemuan denga. Kelompok bagian barat, aku harus membuat mereka cekcok terus dengan sesama genk mereka. Kalau bukan aku yang membuat mereka diam, semuanya jadi kacau." kata Yoga.


Kemampuan yang tidak bisa di tandingi oleh semua genk motor atau mafia-mafia di bawah komandonya. Yoga benar-benar sangat di takuti oleh mereka, jadi jika Yoga sudah turun tangan maka semuanya langsung beres dan tidak ada yang berani melawan.

__ADS_1


__ADS_2