Takdir Menantu Terbuang

Takdir Menantu Terbuang
46. Terkena Tusukan


__ADS_3

Bela terus menembaki mobil di samping mobil Yoga itu, dua pengawal membantunya. Awalnya Bela merasa takut, dan tembakannya tidak akuray. Tapi lama kelamaan dia merasa bisa menguasai keadaan, di mana ada laki-laki yang keluar dari jendela mobil. Maka dia tembaki dengan cepat.


Yoga tersenyum miring, ternyata istrinya itu bisa juga di ajari menembak dengan cepat. Pada dasarnya Bela cepat menangkap apa yang di berikan penjelasan dan cerdas.


Hanya saja dia terkadang malas karena dulu dia di manja oleh Belinda, meski perempuan itu terkadang seenaknya saja.


"Waah, aku bisa menembak juga ternyata." kata Bela dengan cerianya.


"Kamu harus mahir menembak Bela, suatu saat musuhmu adalah orang-orang yang dulu dekat denganmu. Contohnya Arman dan Belinda, kamu tahu sekarang dia seperti apa?" ucap Yoga.


"Ya, aku akan belajar. Kupikir memang seharusnya aku tidak banyak bergantung pada siapa pun." kata Bela.


"Baguslah, sekarang ayo kita pulang ke hotel. Mereka sudah pergi, ternyata mereka hanya menggertak saja." ucap Yoga.


"Tuan, bagaimana dengan tuan Jeffry?" tanya pengawal di depan.


"Batalkan saja, kita sebentar lagi sampai di hotel. Dan kalian jangan sampai lengah, pantau terus suasana hotel itu." kata Yoga.


"Baik tuan."


Mobil melaju kencang menuju hotel di mana Yoga dan Bela menginap. Mereka sangat lelah setelah perjalanan jauh di tambah dengan aksi tembak menembak tadi.


Mobil memasuki area parkiran hotel dan berhenti. Yoga dan Bela pun keluar dari mobil, mereka bergandengan tangan menuju lift terdekat.


Dua pengawal mengikuti dari belakang, mereka waspada di setiap sudut tempat. Mata kedua pengawal itu menajam dan menatap setiap orang yang berpapasan dan orang yang mencurigakan akan selalu di awasi.


Yoga menoleh pada istrinya, mereka memasuki lift dan menuju lantai lima. Dalam lift hanya ada dua pengawal, Bela dan Yoga serta dua orang pengunjung hotel juga.


Tampak dari kedua pengunjung hotel itu tidak mencurigakan. Keduanya berdiri santai sambil menatap ke depan. Entah kenapa Yoga gelisah, dia pun berganti posisi menutupi Bela dari lirikan salah satu pengunjung hotel itu.


Terlihat memang bukan warga lokal, seperti orang Melayu. Dua pengawal juga siaga jika dua orang pengunjung itu musuh yang menyamar.


Yoga menoleh pada dua pengawalnya dan bicara dengan bahasa Italia.


"Tieni d'occhio quei due." ucap Yoga pada kedua pengawalnya.


"Og signore, siamo sempre in allerta." jawab pengawal itu.

__ADS_1


"Hmm."


Yoga pun kembali menatap kedepan, dia selalu waspada. Meski dua pengunjung hotel itu tidak mencurigakan, bahkan terlihat santai. Bahkan satunya sedang menikmati musik di earphonenya.


Lift pun berhenti di lantai lima, Yoga langsung menarik pinggang Bela agar cepat keluar dari lift. Di depan ada dua orang juga menunggu Yoga dan Bela keluar, di kawal dua pengawal satu di depan dan satu di belakang.


Satu orang minggir kesamping, tapi tiba-tiba satu dari mereka pun mengeluarkan belati lalu hendak menusukkannya ke arah Bela.


Yoga menyadari itu dan dengan cepat dia menutupinya. Tak terelakan lagi belati itu mengenai pinggangnya, menusuk sedalam tiga centi dari kulitnya. Darah mengalir, Yoga sempat menendang orang yang tadi menusuknya dan Bela pun di dorong ke depan.


Dua pengawal itu pun menyerang dua orang yang tadi menusuk Yoga. Tapi dua orang dalam lift tadi justru menyerang pengawal.


Maka terjadi perkelahian di depan lift, Yoga pun mencoba melawan dan dia menghajar kedua orang yang tadi menusuknya.


Keadaannya sangat panik, Bela menjerit karena perkelahian di depan lift. Dia meminta bantuan pada sekurity di lantai lima itu.


Tiga orang lawan empat orang berkelahi di depan lift. Ternyata, keempat orang itu sangat lihai. Yoga semakin banyak bergerak, darah semakin keluar deras. Dan semakin tenaganya berkurang, dia hampir saja terkena tusukan lagi.


Jika tidak segera mengambil senjata apinya di balik bajunya dan menembakkanya ke arah satu laki-laki tadi. Tapi sialnya laki-laki itu bisa menghindar, dia pun tersenyum sinis.


Pandangan Yoga mulai kabur karena darah terus mengalir. Ternyata empat orang itu adalah jago berkelahi dan terlatih.


Beberapa menit bantuan dari sekurity datang, dan menyerang keempat orang itu. Tapi karena meraka itu lihai dalam berkelahi, bahkan dua orang pengawal Yoga kewalahan.


Bela ketakutan, dia melihat suaminya sudah terkapar lemas meski matanya menatap sayu pada satu laki-laki yang mendekat padanya.


Dengan cepat Bela mengambil senjata yang terlempar milik Yoga. Dia menarik pelatuknya dan mengarahkannya ke arah laki-laki yang mendekat pada suaminya.


Dor! Dor!


Dua tembakan Bela arahkan pada lengan laki-laku itu. Dia menatap tajam, entah datang dari mana nyalinya itu. Hingga dia pun mendekat dan terus menembaki laki-laki tadi hingga jatuh. Lalu beralih ke tiga orang yang menyerang dua pengawal.


Dia menembaki secara cepat meski tidak terarah, tapi kemudian datanglah bantuan dari anak buah Jeffry. Mereka menembaki ketiga orang itu, mendekat dan segera memukul hingga ketiganya juga terkapar. Keempatnya langsung lumpuh.


Salah satu masih sadar, dan hendak kabur. Bela segera nenembak kakinya cepat, Jeffry kaget dengan istri bosnya yang bisa menembak itu.


Segera Jeffry mengurus Yoga yang terkapar lemas itu, membawanya keluar dengan di ikuti oleh Bela. Dia sangat cemas sekali dengan keadaan suaminya.

__ADS_1


Tangisnya pecah, dia memanggil-manggil Yoga yang sudah tidak sadarkan diri itu. Jeffry merasa kasihan, tapi dia hanya bisa menenanggkan saja.


"Nona, anda jangan khawatir. Tuan Yoga sangat kuat." kata Jeffry.


"Bagaimana tidak khawatir, dia tidak sadar. Kalian harus selamatkan suamiku!" teriak Bela pada Jeffry.


"Iya nona, kami akan bawa tuan Yoga ke dokter yang terbaik. Anda jangan khawatir, bagi tuan Yoga ini tidak seberapa. Tuan pernah lebih parah dari ini, tapi kenyataannya tuan baik-baik saja. Jadi, anda jangan khawatir nona Bela." kata Jeffry lagi.


Bela diam, akhirnya dia pun kini menghapus air matanya. Menatap wajah pucat suaminya, dia memeriksa denyut nadi di pergelangan tangannya. Masih ada tapi sangat lemah.


Tak lama lift berhenti di lantai dasar, Jeffry sudah memberikan pertolongan pertama pada Yoga dengan menghentikan darah yang mengalir itu dengan obat khusus buatannya.


Jeffry adalah ahli bedah dan obat-obatan sebenarnya, dia di rekrut oleh Yoga untuk menangani hal darurat saja. Sedangkan dokter khusus ada sendiri.


Saat ini dokter Yoga berada di Italia, jadi mau tidak mau Jeffry yang menanganinya langsung. Dia sudah menyuruh anak buahnya mengambil peralatan yang selalu dia bawa kemana-mana jika bersama dengan Yoga.


Yoga di bawa masuk ke dalam kamar hotelnya, Bela selalu mendampingi sampai Jeffry menyelesaikan tugasnya itu. Tak berapa lama, anak buahnya datang membawa peralatan yang di minta oleh Jeffry.


"Anda mau melihat tuan di bedah nona?" tanya Jeffry.


"Kenapa harus bedah? Bukankah tadi tertuduk belati saja?" tanya Bela heran.


"Ya, karena belati itu saya lihat tumpul. Kemungkinan ada yang tersangkut patahannya di tubuh tuan." kata Jeffry.


Bela diam, dia pun pergi menjauh. Duduk di sofa sambil menatap apa yang di lakukan oleh Jeffry pada suaminya.


Sedangkan anak buah Yoga membantu Jeffry memasangkan selang infus dan juga oksigen. Lalu Jeffry pun memulai membedah pinggang Yoga yang terkena tusukan belati itu. Tak lupa kuga alat denyut jantung di pasang.


Kamar hotel itu berubah mendadak jadi ruang operasi. Bela masih sangat khawatir dengan keadaan suaminya.


Pintu terbuka, tampak dua orang masuk dengan tergesa. Mereka mendekat pada Jeffry yang melakukan operasi pada bosnya. Salah satunya bertanya pada dokter yang sedang mengoperasi mendadak itu.


"Bagaimana keadaannya?"


_


_

__ADS_1


***********


__ADS_2