Takdir Menantu Terbuang

Takdir Menantu Terbuang
20. Yoga Kembali Ke Rumah Belinda


__ADS_3

Arman sudah berada di Italia untuk mencari mafia yang telah menghancurkan perusahaan Alvin. Yoga mengetahui apa yang di lakukan oleh mertuanya itu, dia tertawa kecil ketika anak buahnya memberitahu kalau Arman pergi ke Italia untuk mencari mafia yang dia maksud adalah dirinya.


"Hahah, biarkan saja. Dia tidak akan menemui siapa pun mafia itu, yang dia cari ada di negaranya sendiri. Dia pikir akan mencari dukungan dari mafia yang menghancurkan laki-laki sombong itu." kata Yoga.


"Tapi, saya dengar tuan Arman itu akan menjual anaknya pada mafia yang dia cari. Istri anda tuan, untuk mencari dukungan." kata Steve.


"Hemm, biarkan saja. Aku akan kembali ke rumah mertuaku. Hampir setengah bulan dia mengusirku, aku akan kembali membawa uang banyak. Bagaimana reaksinya ketika aku pulang bawa uang satu tas besar dalam nilai dolar." kata Yoga.


"Keluarga mertua anda itu sangat mata duitan tuan. Tentu di beri uang banyak anda akan di terima dengan baik dan penuh wajah penjilat." kata Steve.


"Benar itu. Baiklah, siapkan uang dolar dalam tas besar Steve. Besok aku akan pulang ke rumah istri dan mertuaku." kata Yoga.


"Baik tuan." ucap Steve.


"Malam ini aku akan tidur di hotel saja, kalau tidur di restoran akan terganggu. Aku ingin tidur dan istrirahat dengan tenang." kata Yoga.


"Ya tuan, saya akan reservasi kamar hotel seperti biasa."


"Hemm, ya."


Yoga menatap laptopnya. Sedangkan Steve keluar dari ruangannya, tampak ada beberapa pelayan yang menggunjingkan Yoga yang sangat di sayang oleh majikan bule mereka, Steve.


Steve tahu para pelayan di restoran itu banyak yang membicarakan Yoga dan iri pada bos sebenarnya itu. Tapi selama tidak ada yang berani mencelakai Yoga di restoran itu, meski ada yang tahu kalau Yogalah pemilik asli restoran itu. Jadi Steve membiarkan mereka bekerja, hanya di beri peringatan saja.


_


Sore hari, Yoga pulang dengan membawa tas besar berisi uang dolar. Dia menggunakan taksi dan berpakaian baju pelayan di restoran, dia membayar taksi dengan uang cukup banyak. Supir taksi itu pun kaget ketika Yoga memberinya uang banyak, tapi kemudian Yoga mengatakan untuk sang supir saja.


Yoga pun masuk dalam gerbang rumah mewah san besar. Dia yakin istrinya ada di rumah, karena sekarang Alvin sudah tidak memiliki apa pun lagi. Bela pasti meninggalkan laki-laki itu karena sudah miskin.


Dia terus masuk ke dalam, mencari istrinya. Tapi tentu saja istrinya itu ada di dalam kamarnya. Dia berpapasan dengan Belinda, perempuan paruh baya itu kaget dengan menantu yang telah dia usir setengah bulan lalu datang lagi.


"Kenapa kamu datang lagi ke rumah ini, hah?!" tanya Belinda dengan kesal.


"Aku mau menemui istriku." jawab Yoga dengan santai.


"Heh, sebaiknya kamu pergi saja. Jangan lagi datang kemari, apa lagi menemui anakku!" ucap Belinda dengan ketus dan tatapan tajam.


"Emm, mama yakin mau mengusirku lagi? Padahal aku mau memberikan uang pada istriku." kata Yoga.


"Uang? Berapa uang yang kamu punya? Aku sudah bilang sama kamu, jangan datang lagi kemari jika tidak bawa uang banyak. Bahkan miliaran rupiah buat anakku!!" Belinda berteriak.

__ADS_1


"Ish, kenapa mama berteriak. Mama jangan khawatir, dalam tas ini ada uang banyak. Mama bisa hitung saja uangnya." kata Yoga menyodorkan tas di tangannya.


Belinda menatap tajam pada Yoga, matanya beralih pada tas besar yang di katakan Yoga itu berisi uang. Senyumnya sinis, dia berjalan mendekat pada menantunya itu.


Hendak mengambil tas di tangan Yoga, tapi kemudian Yoga menarik kembali tas berisi uang tersebut. Yoga tersenyum sinis, dia pun berbalik berjalan melangkah menuju tangga sambil berucap.


"Uang ini untuk Bela ma, istriku. Dulu Bela aku kasih uang dolar, tapi mama yang gunakan. Ternyata istriku polos dan mudah di bohongi oleh mama, uang ribuan dolar itu di gunakan mama sendiri. Jadi, uang ini aku akan berikan pada Bela." kata Yoga.


Belinda geram menatap Yoga yang berjalan naik tangga menuju kamarnya. Dia pun melangkah cepat naik tangga mengikuti Yoga menuju kamar anaknya.


Sampai di depan kamar, Yoga langsung membukanya dan menutup pintunya kembali. Dia tidak membolehkan mertuanya itu ikut masuk ke dalam kamarnya dan Bela.


Dia akan memberikan tas berisi uang itu pada Bela istrinya. Dia melangkah mendekat pada Bela yang sedang duduk di meja riasnya.


"Halo sayang, aku pulang lagi." kata Yoga memegangi dua pundak Bela lalu mencium pipinya.


Plak!


Yoga di pukul pipinya oleh Bela, gadis itu menatap tajam suaminya yang sedang memakai masker.


"Jangan menciumku sembarangan kamu!" kata Bela kesal.


"Kenapa? Aku suamimu." kata Yoga.


"Kenapa tasmu di simpan di sini!" tanya Bela.


"Tas itu berisi uang sayang, untukmu." kata Yoga.


Bela melebarkan matanya, matanya beralih ke tas di meja rias. Dia pun membuka tas itu, dan betapa terkejutnya dia melihat uang begitu banyak di dalam tas tersebut.


Tatapannya beralih pada suaminya, menatap tidak percaya kalau Yoga memberika uang sebanyak itu.


"Dari mana uang itu? Apa kamu mencuri?!" tanya Bela dengan nada tinggi.


"Untuk apa aku mencuri? Itu uang hasil tabunganku selama dua tahun sejak bekerja menjadi nelayan. Uangku tidak pernah aku gunakan, sebagian aku tukarkan dengan rupiah karena takut kamu tidak percaya kalau uang dolarku adalah asli." kata Yoga.


Bela menatap tajam, lalu beralih pada tas yang berisi uang banyak. Dia mengambil satu tumpuk uang dengan jumlah semuanya sepuluh juta, entah ada berapa tumpuk uang rupiah itu.


"Bela! Buka pintunya" teriak Belinda di depan pintu kamar anaknya.


Bela beranjak menuju pintu kamar untuk membukanya, dia melihat mamanya sangat geram sekali. Tatapannya mengarah pada Yoga, dia pun beralih pada tas yang ada di meja rias anaknya.

__ADS_1


Belinda langsung berjalan cepat menuju meja rias, dia melihat tas terbuka dan ada satu tumpuk rupiah berjumlah sepuluh juta.


Mata Belinda melotot melihat tas berisi uang banyak sekali. Dia menoleh pada Yoga yang menatapnya sinis.


"Ini uang siapa?" tanya Belinda.


"Tentu saja itu uangku ma. Itu untuk istriku." kata Yoga.


"Dari mana kamu mendapatkan uang sebanyak ini?!" tanya Belinda lagi.


"Dari merampok di bank." jawab Yoga santai.


"Apa?!"


"Ma, itu uang tabungannya dari hasil kerja sebagai nelayan dulu katanya." kata Bela memberi jawaban pada Belinda.


"Heh, punya banyak uang juga kamu." ucap Belinda.


Dia menarik tas itu, mengambil satu persatu tumpukan uang dan menghitungnya. Ada juga uang dolar yang sama juga banyaknya dengan tumpukan uang rupiah.


Belinda benar-benar terkejut, dia kalap sekali melihat uang sebanyak itu. Dia menduga uang itu ada lebih dua miliar.


"Setelah mendapatkan uang itu, apa mama juga akan mengusirku lagi?" tanya Yoga.


"Heh, baiklah. Kamu boleh tidur di kamar Bela, kamu juga bisa mengobrol santai dengannya. Dari pada si Alvin yang sudah bangkrut, mending laki-laki sampah yang memberikan uang padamu Bela." kata Belinda dengan sinis.


"Ma, apa yang mama katakan?"


"Ya, dia itu lelaki sampah tapi berguna juga karena uangnya banyak. Dari pada si Alvin yang sudah miskin dan jatuh pula."


"Mama tidak mau aku sama Alvin?"


"Mama mau, Bela. Tapi dia sudah miskin, apa yang harus di harapkan." kata Belinda.


Bela kesal sekali dengan ucapan mamanya, Yoga hanya tersenyum sinis. Dia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


"Perempuan sama saja, mata duitan." ucap Yoga ketika masuk dalam kamar mandi.


Bela dan Belinda menatap tajam pada Yoga yang masuk ke dalam kamar mandi, mereka pun menghitung uang yang ada dalam tas besar milik Yoga.


_

__ADS_1


_


********************


__ADS_2