
Kembali ke negara Italia.
Arman sudah membawa Bela dan Belinda ke Italia. Dia membawa keduanya sekalian liburan, Bela dan Belinda sangat senang mereka akhirnya bisa liburan ke Italia. Meski tujuannya adalah pekerjaan.
"Pa, apa kita akan bertemu dengan tuan Mark?" tanya Belinda.
"Ya, tapi papa saja yang bertemu." jawab Arman.
"Lho, katanya Bela juga harus bertemu dia juga?" tanya Belinda lagi.
"Nanti jika bosnya tuan Mark meminta bertemu Bela, maka Bela akan ikut dengan papa. Sekarang mama dan Bela bersenang-senang saja, jalan-jalan kemana yang kalian mau." kata Arman.
"Waah, benarkah pa?!" tanya Belinda tidak percaya.
"Ya, kalian bersenang-senanglah. Besok papa akan bertemu dengan tuan Mark untuk membuat kesepakatan." kata Arman lagi.
Dia sudah membayangkan kerja sama dan kesepakatan akan berhasil. Dan dia akan semakin kuat karena dia bekerja sama dengan pengusaha dan juga mafia.
Arman mencari tahu tentang pemilik perusahaan terbesar itu, Mark Chris. Laki-laki itu adalah kelompok mafia yang di takuti juga di negara Italia. Dia juga mengetahui ada satu ketua mafia, tapi tidak tahu siapa dia yang membawahi Mark itu.
Pengetahuan dan pencarian informasi tentang Mark ternyata berhasil, atau jangan-jangan memang sengaja di buat berhasil. Agar Arman begitu membanggakan bahwa dirinya bisa di ajak kerja sama dengan seorang mafia di Italia.
"Tapi aku bingung, siapa ketua mafia itu. Apakah bos mereka itu adalah pemilik perusahaan Mark juga? Siapa dia? Dia bukan berasal dari Italia, tapi siapa?" gumam Arman masih penasaran siapa bos mafia itu.
Belinda mendekati suaminya, dia ingin meminta uang saku untuk jalan-jalannya besoj dengan Bela anaknya.
"Pa, uang untuk belanja dan jalan-jalan mama dan Bela udah di transfer belum?" tanya Belinda.
"Ya, nanti papa transfer."
"Cepat lho pa, nanti kalau sudah rapat dengan tuan Mark. Papa jadi lupa, kan ngga enak jalan-jalan tapi ngga ada uangnya." kata Belinda lagi.
"Bela kan juga banyak uang, dia di kasih sama laki-laki sampah itu. Gunakan saja uangnya itu, menurut papa itu cukup untuk jalan-jalan kalian berdua." kata Arman.
"Waah, benar juga. Tapi papa tetap transfer uang ke rekening mama, ya."
"Iya nanti."
Mereka pun tidur untuk mempersiapkan hari esok. Sedangkan Bela masih berada di kamarnya, dia membayangkan jika jalan-jalan itu bersama dengan pacarnya Alvin. Itu sangat menyenangkan baginya.
"Kenapa juga dia harus pergi sih, kenapa dia harus bangkrut perusahaannya." ucap Bela dalam diamnya di kamar hotelnya.
Tiba-tiba sambungan telepon hotel berbunyi, dia heran siapa yang menelepon malam-malam ke kamar hotelnya. Seingatnya tidak pernah memesan layanan kamar atau pun makanan.
__ADS_1
Tapi dia pun mengambil gagang telepon dari line resepesionis.
"Halo, benar ini kamar nona Bela Salsabila?" tanya petugas hotel di seberang sana.
"Ya benar, ada apa ya?"
"Oh, ya nona. Anda di tunggu di seseorang di restoran hotel. Anda di ajak makan malam di restoran hotel kami nona."
"Apa? Di undang makan malam?"
"Iya nona. Kalau anda bersedia, petugas hotel akan menjemput anda di kamar anda nona."
"Waah, benarkah? Kalau begitu, aku mau."
"Baiklah nona, kami akan suruh petugas hotel untuk menjemput anda di kamar."
"Ya, baiklah."
Klik!
Bela sangat gembira sekali, dia akan makan malam di restoran hote dengan seseorang entah siapa. Yang jelas, dia membayangkan laki-laki itu adalah seorang yang tampan dan banyak uang. Dia pun bersiap, berganti baju dengan baju yang dia bawa dar rumah.
Berdandan seadanya, tapi cukup menarik. Setelah selesai, Bela bergegas mengambil tasnya. Tak lama, pintu kamar di ketuk dari luar.
"Mari nona, saya antar anda ke restoran hotel kami." kata petugas hotel itu.
"Ah ya, terima kasih. Oh ya, apa kamu tahu siapa yang mengajakku makan malam?" tanya Bela.
"Saya tidak tahu nona, saya hanya di tugaskan menjemput anda di kamar." kata petugas itu.
"Oh ya, benar. Baiklah, mungkin sebuah kejutan dari Alvin atau siapa yang aku kenal di sini. Entahlah." ucap Bela.
Dia sangat antusias dengan acara makan malam mendadak itu. Sesekali dia mengecek penampilannya di kaca lift, apakah sudah rapi dan cantik wajahnya.
Lift berhenti di lantai dua, petugas itu mengarahkan Bela ke restoran yang memang di desain mewah dan megah. Bela tampak takjub dengan restoran di hotel itu.
Ternyata, ada restoran mewah juga yang khusus bagi tamu hotel penting. Bela heran, kenapa dia di bawa ke restoran mewah itu. Bukankah di hotel ini ada juga restoran yang biasa bagi tamu yang kantongnya juga tidak tebal.
"Waah, siapa yang mengajak makan malam di restoran mewah ini sih? Kok aku penasaran banget siapa dia ya." ucap Bela.
Dia pun duduk di kursi setelah kursi di geser oleh pelayan. Bela menoleh ke kanan ke kiri, tidak banyak yang makan di tempat itu.
Setelah semuanya sudah di sediakan oleh pelayan dengan rapi dan cepat. Bela mencari tahu, bertanya pada pelayan lagi tentang laki-laki yang mengajaknya makan malam itu.
__ADS_1
"Apa kamu tahu siapa yang mentraktirku makan di sini?" tanya Bela.
"Maaf nona, saya hanya melayani saja. Tidak tahu apa pun." kata pelayan itu.
Bela menarik napas panjang, kira-kira siapa laki-laki yang mengajaknya makan malam itu. Apakah dia harus menelepon Alvin?
"Tapi, dia kan sudah miskin. Tidak mungkin mengajak makan malam mewah begini." ucap Bela lagi.
Dia mulai mencicipi makanan di meja tersebut, dia tidak tahu jika ada laki-laki yang datang ke mejanya. Dengan pakaian jas lengkap dan mewah juga, memperhatikan Bela yang sedang makan itu.
Senyuman tipis mengukir di bibir laki-laki tersebut, dia pun beralih posisi. Berdiri di depan Bela dengan kedua tangan di masukkan ke dalam kantong celananya.
"Halo sayang, kamu menikmati makan malam ini?" tanya laki-laki di depan Bela.
Bela mendongak, dia terkejut dengan laki-laki yang berdiri di depannya dengan senyum mengembang. Hampir saja dia tersedak, ketika melihat laki-laki di depannya itu. Buru-buru dia mengambil minum dan menenggaknya cepat.
"Kamu?! Kenapa ada di sini?!" tanya Bela masih dalam keterkejutannya.
"Hemm, apa kamu kaget sayang?" tanya laki-laki itu yang tak lain adalah suaminya, Yoga.
"Heh, apa ini semuanya darimu?" tanya Bela tidak percaya.
"Ya, kamu suka?"
"Heh! Dari mana uangmu itu, sampai bisa reservasi restoran mahal begini. Lalu bajumu? Apa kamu menyewanya? Pasti mahal sekali ya, uangmu cukup untuk menyewa bajumu itu? Dan makanan ini? Hah?! Hahah!" ucap Bela masih tidak percaya, dia tertawa mengejek.
Yoga duduk di depan Bela, dia melihat hidangan untuknya belum ada. Yoga pun memanggil pelayan untuk memesan makanan untuknya. Bela masih mengejeknya, tangannya bersedekap.
Sejenak Bela terpesona dengan penampilan Yoga itu, tapi dengan cepat dia tepis pikiran mengagumi Yoga yang berbeda.
"Dari mana uangmu untuk makan malam ini? Kenapa bisa kamu ada di negara ini?" tanya Bela dengan sangat penasaran sekali pada suaminya itu.
"Emm, sabar ya sayang. Aku ingin makan dulu, aku lapar." jawab Yoga dengan tenang.
Bela mendengus kasar, dia memperhatikan Yoga yang sedang memesan makanan pada pelayan. Dengan bahasa Italia juga, membuat Bela jadi heran. Kenapa suaminya bisa bahasa Italia dengan fasih.
Rasa penasaran Bela belum hilang, bahkan tambah terkejut ketika ada sambungan telepon berbunyi di ponselnya. Tentu saja ponsel Yoga lebih mahal dari miliknya, membuat Bela pun kembali kesal karena sesuatu yang tak terduga itu.
"Katakan padaku, sedang apa kamu di sini!"
_
_
__ADS_1
*********************