
Shinesuke mengayunkan pedang ke arah Yoga, tentu saja Yoga tidak mau tinggal diam. Dia menghindar dan dengan cepat mengambil pistolnya lalu mengarahkan pada Shinesuke, menarik pelatuknya dan ...
Dor! Dor! Dor!
Tiga kali Yoga menembakkan pistolnya ke arah Shinesuke. Shinesuke menghindar cepat, kini bergantian Kazao yang menyerang Yoga. Dua lawan satu, lawan yang tangguh itu kini harus di hadapi oleh Yoga sendirian.
Dia pun berdiri tegak, menatap satu persatu wajah Kazao dan Shinesuke. Shinesuke menoleh ke arah Kazao agar dia tidak ikut campur dengan urusannya melawan Yoga.
"Minggirlah, biar aku saja yang menghadapi laki-laki itu. Aku tahu dia bukanlah keturunan langsung dari Antonio, jadi harus di musnahkan dari mafia Italia. Bukan tandinganku juga ternyata, tapi aku puas jika harus membunuhnya secara langsung." kata Shinesuke dengan tatapan sinis pada Yoga.
Yoga menatap dingin pada Shinesuke, dia tahu laki-laki itu tahu semua tentangnya. Tapi dia tidak akan membiarkan semuanya di bongkar dan bagaimana nanti dengan semuanya. Bahkan dia sendiri belum memiliki orang terpercaya untuk menyerahkan semuanya.
Menunggu istrinya hamil, adalah satu-satunya untuk meneruskan bisnisnya yang sudah menggurita. Meski itu adalah warisan dari Antonio yang tidak ragu memberikan semua padanya.
"Shinesuke, kamu keturunan jauh dari Yakuza Yamaguci Gumi. Apakah kamu bangga dengan nama kerabatmu itu?" tanya Yoga.
"Hahah! Ternyata kamu juga mengenal leluhurku. Bagus, itu artinya leluhurku sangat di takuti oleh bangsa manapun! Termasuk kamu! Dan tentunya kamu akan mati di tangan keturunan dari Yamaguci Gumi." kata Shinesuke dengan lantang dan pongahnya.
Yoga mencibir, dia mencari celah agar Shinesuke itu lengah karena kesenangannya di puji olehnya. Tapi sepertinya Shinesuke langsung sadar, dia justru menyerang Yoga secara membabi buta.
Yoga pun dengan gesit langsung menghindar dan terus menghindar lebih dulu. Dia mencoba mencari peluang agar bisa mengalahkan bahkan membunuh Shinesuke.
Kazao hanya melihat saja pertarungan antara ketuanya dan bos mafia Italia itu. Dia gregetan juga, tapi itu demi kehormatan ketuanya Shinesuke. Jadi dia pun hanya diam saja.
Sementara itu, Mark yang tadi di kalahkan oleh Kazao masih terkapar dengan darah di bagian lengannya. Dia tadi sempat pingsan karena kelelahan, Kazao mengira kalau Mark telah tewas.
Tetapi dia kini sadar dan melihat sekitarnya, banyak mayat bergelimpangan antara anak buahnya dan juga kelompok Shinesuke.
"Tuan Yoga di mana, apakah dia masih hidup?" gumam Mark berusaha bangkit.
__ADS_1
Ada beberapa kelompok Shinesuke yang masih tersisa, itu pun mereka sudah hampir sekarat. Begitu juga anak buahnya, beruntung masih ada dua orang yang bisa menolongnya. Membantu berdiri dan mengikatkan lengan Mark yang terluka.
"Apa semuanya sudah tewas?" tanya Mark pada anak buahnya.
"Hampir semuanya tewas tuan, mereka benar-benar brutal dengan menggunakan banyak senjata. Bahkan menyerang membabi buta, jadi banyak juga yang tewas teman-teman kami. Beruntung kami masih selamat karena pistol di tangan kami, tuan." kata anak buahnya.
Mark pun meminta pada mereka untuk mencari di mana Yoga berada. Suaranya seperti masih bertarung, dia melihat Yoga lebih banyak menghindar.
"Tuan Yoga terdesak, apakah kami harus membantunya?" tanya anak buah Mark.
"Tidak, jangan. Kamu yang akan mati konyol, lihatlah Kazao ada di sana. Dia sudah pasti akan menghadang siapa pun yang akan membantu tuan Yoga." kata Mark.
Mereka melihat dari jauh, beristirahat lebih dulu sebelum nanti akan menyerang ketika Yoga kalah. Mereka akan bertarung mati-matian untuk melawan Kazao dan Shinesuke nantinya.
Sedangkan Yoga sendiri sudah bisa membaca bagaimana menyerang Shinesuke ketika ada peluang. Dia sengaja terus menghindar dan di kira akan kalah. Dia mengumpulkan kekuatan dan menyusun strategi bagaimana menyerang Shinesuke.
"Hap! Hap! Seet! Hiaat!"
Keduanya pun mundur cepat, saling tatam menajam dan memasang kuda-kuda juga. Shinesuke mengacungkan pedang samurainya ke depan, lalu dia pun berlari mendekati Yoga dengan cepat.
"Aaaaaaargh! Hiiiaaaat!"
Seet!
Pedang Shinesuke hampir membelah kepala Yoga, jika tidak di tangkis dengan kedua tangannya. Maka pedang samurai itu mengenai kepalanya dan sudah pasti akan terbelah sebagian.
Itu sangat mengerikan sekali, tapi tangan Yoga yang kini terluka dan berdarah. Mengalir darah dari telapak tangannya, Yoga meringis sedikit. Tapi kemudian dia bersikap datar bahkan tatapannya menajam seperti menusuk ke jantung lawan.
Shinesuke pun terpaku, dia menatap Yoga seperti menatap kematiannya. Entah hawa apa yang Yoga keluarkan, suasana di tempat itu seperti mencekam. Meski Shinesuke berhasil membuat tangan Yoga terluka, tapi sepertinya itu membuat laki-laki itu berubah jadi dingin dan penuh gejolak membunuh.
__ADS_1
Shinesuke pun tanpa membuang waktu dan juga dia tidak mau terjebak dengan tatapan kematian dari Yoga itu pun maju dengan pesang samurai di hunuskan ke depan.
Bukanya menghindar atau menangkis, Yoga justru kembali maju menyongsong musuhnya dengan tangan masih berdarah. Dia melangkah cepat, menyambut pedang samurai menghunus ke arahnya.
"Hiiaaat!"
Pedang samurai Shinesuke di hunuskan ke dada Yoga, tapi laki-laki itu kembali menangkapnya. Dengan cepat pedang samurai itu fi belokkan ke kanan dan dia mendorongnya juat ke arah tepat jantung Shinesuke. Dia mendorong kuat pedang itu terus menembus jantung Shinesuke.
Tatapan terkejut Shinesuke dengan tindakan cepat Yoga menusuk jantungnya itu. Matanya melotot tajam, lalu kepalanya menunduk mengarah di mana pedangnya sendiri menancap tepat di jantungnya.
Sedetik kemudian, Shinesuke pun terjatuh. Kesadarannya langsung melemah, masih dengan mata melotot pada Yoga. Sedangkan Yoga sendiri diam, dengan menatap dingin pada Shinesuke yang sudah dia kalahkan itu.
"Berkumpullah kamu di neraka sana dengan leluhurmu sendiri, Shinesuke!" ucap Yoga dengan mendorong terus pedang yang dia himpit di tangannya.
Tidak pedulu tangannya penuh darah dab robek. Dan akhirnya Shinesuke pun tewas di tangan Yoga. Sedangkab Kazao sendiri sejak tadi melihat kejadian di depan matanya sungguh tidak percaya.
Dia pun segera menyerang Yoga cepat.
"Kurang ajar, kamu membunuh ketuaku! Hiiiaaat!"
Dor! Dor! Dor!
Dor! Dor! Dor!
_
_
***********
__ADS_1