
Yoga benar-bebar kesal pada Chen Xio, ternyata dia juga menyerang kasino milik Antonio. Dia pun membalas kembali tanpa memberikan ampun pada mafia itu, saat ini dia bersiap untuk menyerang Chen Xio ke markasnya.
Dia bersiap untuk pergi ke Tiongkok, dengan mengendarai jet pribadi Yoga dan Mark sang asisten turut serta.
Dia mengerahkan anak buah ikut juga lengkap dengan persenjataannya menyerang markas Chen Xio.
"Persiapan kita sudah semua Mark?" tanya Yoga.
"Sudah tuan, mungkin tinggal menghubungi anak buah kita di Tiongkok itu." jawab Mark.
"Bagus, kita langsung serang dia. Aku tidak peduli dia mati atau masih hidup. Dia sudah membunuh tuan Antonio secara brutal." kata Yoga.
"Ya tuan."
Kapal jet pribadi yang di tumpangi Yoga langsung menuju Tiongkok. Dia tidak sabar ingin membalas dendam pada pada Chen Xio.
Jarak dari Italia ke Tiongkok membutuhkan sepuluh jam lebih dengan pesawat pribadi. Jadi, ada banyak waktu untuk istirahat Yoga mempersiapkan tenaganya untuk membalas dendam pada Chen Xio. Juga strategi penyerangan pada Chen Xio.
Perjalanan jauh sudah berakhir, kini Yoga dan anak buahnya berada di penginapan khusus untuk di jadikan markas tersembunyi. Mereka akan menyusun kembali strategi penyerangan pada kelompok mafia Chen Xio.
"Jadi, kapan kita menyerang mereka tuan?" tanya anak buah Yoga.
"Sekarang jam berapa?"
"Ini masih jam sepuluh pagi waktu setempat tuan. Anda bisa istirahat lebih dulu di penginapan." kata Mark menjawabnya.
"Ck, aku terlalu lama istirahat di pesawat. Apa tidak bisa kita intimidasi saja bisnis Chen Xio. Kita kirimi dia paket untuk peringatan padanya, dia pikir aku akan takut setelah membunuh tuan Antonio." kata Yoga.
"Paket semacam apa tuan?"
"Apa saja, agar dia tahu kalau kita sudah ada di negaranya dan bersiap untuk membalas dendam padanya. Tapi jangan kasih dia kesempatan untuk kabur dari negaranya sendiri." kata Yoga.
"Baik tuan, kalau begitu kita akan melakukan penyerangan malam ini?"
"Tentu saja, aku tidak sabar ingin membuatnya terkapar di hadapanku." kata Yoga dengan tatapan dingin.
Semua merasa takut, Yoga yang awalnya adalah laki-laki lemah. Kini dia semakin menakutkan, ada beberapa anak buahnya membangkang. Dia justru di bunuh, dengan alasan dia akan selalu membangkang dengan perintahnya.
Jadi sekarang, bagi Yoga siapa saja yang berhianat. Maka hukumannya adalah di bunuh.
_
Malam hari, penyerangan pun di lancarkan ke markas Chen Xio. Seperti dugaan Yoga, Chen Xio tidak bisa mengelak, bahkan dia pun tidak bisa lari dari kepungan anak buah Yoga.
__ADS_1
Semua anak buah Yoga sudah datang ke markas Chen Xio untuk menangkapnya. Karena sejak kemarin, anak buah Chen Xio itu sudah di lumpuhkan lebih dulu tanpa menimbulkan kecurigaan kalau anak buahnya telah di lumpuhkan.
Kini Chen Xio berhadapan dengan Yoga. Mereka siap bertarung satu lawan satu. Chen Xio geram kenapa tidak bisa menebak kedatangan Yoga ke markasnya.
"Menyerahlah Chen Xio! Markasmu telah kami kepung!" ucap Yoga dengan pedang di tangannya.
"Heh! Apa kamu pikir semuanya sudah di menangkan olehmu?!"
"Tentu saja, jika masih saja ada. Akan aku hancurkan!" kata Yoga dengan tatapan dinginnya menghujam pada Chen Xio.
Tidak ada pertarungan yang sengit, Yoga sudah bisa menangkap Chen Xio. Dan laki-laki pendek dan bermata sipit itu menajam pandangannya, dia mengakui kalau Yoga lebih lihai dari pada Antonio.
"Menyerahlah kamu Chen Xio!" ucap Yoga dengan nada menggeegar.
"Jangan mimpi kamu, akan aku lawan kamu Yogaa. Hiaaaat!"
Chen Xio menyerang Yoga dengan mendadak. Tapi Yoga lebih gesit, dengan dua kali serangan Chen Xio ternyata sudah terhuyung. Dia sudah kehilangan kekuatannya karena sudah di lumpuhkan terlebih dahulu.
Set! Set!
"Aaargh!"
"Jangan lagi kamu menggangguku atau kelompokku Chen Xio. Kali ini aku melepaskanmu, tapi dengan melumpuhkan semua kekuatanmu." kata Yoga.
"Kamu licik, Yoga!"
"Seorang mafia, harus menggunakan berbagai cara untuk melumpuhkan lawannya Chen Xio. Jika kamu lumpuh seperti itu, itu artinya kamu bodoh!" ucap Yoga kemudian dia berlalu.
Semua kekuatan, kekuasaan pada kelompoknya sudah di lumpuhkan oleh Yoga dengan cepat. Ternyata pergerakan anak buah Yoga sangat cepat dan lihai. Mereka mengerti apa yang di perintahkan bosnya itu.
Kini Yoga pun kembali ke penginapan. Jauh sebelum dia datang ke Tiongkok, Yoga sudah berencana ingin kembali ke Indonesia setelah mengalahkan Chen Xio.
Dia ingin kembali menemui istrinya yang di anggap masih setia padanya. Meski Bela, istrinya sering sekali mencibirnya. Tapi Yoga yakin kalau istrinya itu masih setia.
"Tuan, apakah anda akan kembali ke negara anda?" tanya Mark.
"Ya. Aku rindu dengan istriku." kata Yoga.
"Tapi, anda sudah hampir tiga tahun tidak bertemu. Dan maaf, mungkin saja istri anda menganggap anda hilang atau mati." kata Mark.
"Mungkin, aku di buang oleh mertuaku sendiri karena di anggap menantu sampah di keluarganya." kata Yoga mengingat sewaktu dia di tinggal oleh Arman dan di temukan oleh Antonio.
"Lalu, apa anda akan pulang dengan identitas saat ini?" tanya Mark.
__ADS_1
"Tidak. Kupikir aku akan pulang dengan identitasku yang dulu. Aku juga ingin tahu seberapa besar cinta Bela padaku. Kudengar dia punya seorang kekasih." kata Yoga.
"Anda sudah tahu tuan?"
"Ya, aku menyuruh orangmu untuk menyelidiki Bela sebelum aku pulang ke Indonesia."
"Ya tuan, kalau begitu bagaimana denganku? Apa aku harus tetap di Italia atau ikut dengan anda?" tanya Mark.
"Tetaplah di Italia, Mark. Nanti jika aku butuhkan kamu, datang saja. Kurasa suatu saat aku akan butuh bantuanmu." kata Yoga.
"Baiklah tuan. Anda harus membawa anak buah untuk mengawal anda tuan." kata Mark.
"Tentu, tapi dia harus jauh dariku ketika aku berada di rumah mertuaku." kata Yoga.
"Ya tuan, apakah ada lagi yang harus saya lakukan?" tanya Mark.
"Oh ya, beli sebuah restoran yang hampir pailit. Nanti aku akan bekerja di sana sebagai pelayan."
"Pelayan? Bukankal lebih baik anda jadi pemilik restoran itu saja tuan?"
"Tidak, karena mereka akan curiga padaku. Aku hanya ingin tahu reaksi mereka jika aku kembali ke rumah mertuaku itu." kata Yoga.
"Baiklah tuan. Nanti aku perintahkan satu orang untuk ikut menjaga anda di restoran di mana anda bekerja itu." kata Mark.
"Siapkan semuanya Mark, dan tolong selama aku ada di Indonesia awasi semuanya dengan baik perusahaan tuan Antonio." kata Yoga.
"Baik tuan. Kapan anda akan kembali ke Indonesia?" tanya Mark.
"Minggu depan, atau jika semua beres di sana. Tiga hari lagi aku berangkat." kata Yoga.
"Baik tuan."
"Sebaiknya kamu siapkan semuanya dengan rapi Mark. Aku tidak sabar ingin bertemu dengan istriku." kata Yoga.
"Ya tuan, anda jangan khawatir." kata Mark.
Kini Yoga sedang beristirahat di penginapannya di Shanghai. Tempat yang padat penduduk tapi Yoga suka sekali di tempat itu.
_
_
****************
__ADS_1