
Arman menodongkan senjatanya pada Yoga, dia tangannya menarik pelatuknya. Bela kaget, dia panik karena Arman menodongkan senjatanya ke arah suaminya, dia pun marah.
"Hentikan! Apa yang papa lakukan hah?!" teriak Bela menatap tajam pada Arman.
Arman pun menatap tajam pada Bela, dia mendengus kasar. Mengurungkan niatnya untuk menembak Yoga.
"Apa kamu sudah terpengaruh sama dia? Dia laki-laki pecundang Bela! Sejak kapan kamu membelanya hah?!" teriak Belinda kali ini.
"Kalian semua yang pecundang! Kalian semua menipuku. Keluar dari kamarku!" teriak Bela dengan marah.
Kali ini sikap kedua orang tuanya itu benar-benar keterlaluan. Meski dulu dia juga sering menganggap remeh Yoga, tapi kali ini dia benar-benar marah pada Arman dan Belinda yang sudah semena-mena suaminya.
Yoga tersenyum sinis, dia pun turun dari ranjangnya. Mendekat pada Arman yang memegang senjata api itu, matanya menatap dingin dan jiwa pembunuhnya keluar. Hawa di sekitarnya seperti hawa kematian bagi Arman yang sejak tadi menatap Yoga.
"Kamu sudah membuatku marah, aku sudah membantumu Arman. Tapi kamu bertingkah, meski kamu pembunuh tapi sikapmu itu sudah keterlaluan! Masuk ke dalam kamar istriku dengan membawa pasukan bodohmu!" ucap Yoga.
Sejenak Arman tertegun menatap Yoga, tangannha bergetar. Entah punya hipnotis apa sehingga dia jadi diam membisu dan tatapannya tak lepas meski dia ketakutan.
Semua menatap Yoga yang berbeda, Alvin sendiri merasa ngeri melihat kemarahan Yoga tersebut. Dia mendengus kasar, lalu menunduk. Mencoba melepas hipnotis tatapan Yoga yang menyeluruh pada Arman, dirinya dan juga Belinda.
"Ayo kita pergi." kata Alvin.
Arman pun tersadar, dia menunduk lalu menarik napas kasar. Menoleh pada istrinya yang masih bergetar tubuhnya, dia pun memegang tangannya. Baru Belinda tersadar.
Mereka pun berbalik dan melangkah pergi meninggalkan Yoga dan Bela tanpa sepatah katapun. Bela menarik napas panjang, Yoga mendekatinya. Dan Bela memeluknya erat.
Baru kali ini dia sadar bahwa keluarganya benar-benar keterlaluan. Yoga mengelus kepalanya pelan lalu mengecupnya.
"Kamu mau tidur di sini atau ikut denganku?" tanya Yoga.
Bela mendongak, dia melihat wajah suaminya begitu tampan. Dia pun tersenyum sendiri karena malu, baru menyadari kalau suaminya itu tampan.
"Ikut kemana?" tanya Bela.
"Ke hotel, kita beritirahat di hotel tempatku menginap." kata Yoga.
"Iya, aku ikut denganmu. Kurasa di sini sangat berbahaya." kata Bela.
"Bagus. Ayo kita pergi." kata Yoga.
__ADS_1
"Tunggu dulu, aku mau ganti baju. Aku tidak mau di hotel memakai ini, apa kata mereka." kata Bela melihat bajunya kaos pendek san juga celana pendek.
Yoga tersenyum miring, dia melepas jasnya lalu mengenakannya di tubuh Bela. Kemudian dia pun menarik tangan istrinya.
"Jangan pikirkan bajumu, aku sudah menutupi tubuhmu. Ayo kita cepat pergi dari sini, semuanya tidak ada yang berarti di kamarmu."
"Tas dan ponselku." kata Bela melepas pegangan tangan suaminya.
Dia berlari menuju meja di mana tas dan ponselnya berada. Yoga hanya menatap istrinya berlari kecil mengambil tas dan ponselnya, mengenakan sandalnya.
"Jangan pikirkan apa yang kamu bawa, ikhlaskan saja semua buat mamamu yang matre itu." kata Yoga.
"Ya, aku masih punya banyak di mansionkan?" tanya Bela dengan senyum manisnya.
Baru kali ini Yoga melihat senyum manis istrinya, apa lagi di tunjukkan padanya. Dia benar-benar terpesona dengan senyuman Bela itu.
Yoga membalas senyumannya, lalu menarik tangannya. Mereka pun keluar dari kamar Bela, Yoga mendapat telepon dari anak buahnya yang sedang menunggu di depan rumah Arman.
"Aku segera keluar dengan istriku."
"Baik tuan."
_
Bela sudah tertidur di ranjang hotel di mana dia menginap dengan Yoga. Sedangkan Yoga sendiri sudah berada di lobi hotel menemui Stave dan juga Jeffry.
Beberapa anak buah sudah berada di sekitar hotel di mana Yoga menginap, menjaga agar hotel tersebut tidak di intai oleh Alvin yang sejak pulang dari rumah Arman mengintai di mana Yoga tinggal.
"Tuan, sepertinya Alvin sedang mengintai anda. Dia tahu di mana anda menginap, tapi sesuai pengintaian pengawal belum ada yang datang untuk pengintaian anak buahnya Alvin." kata Jeffry.
"Tetap waspada semuanya, besok istriku mau ke tempat ibunya Anto. Dia ingin bertemu dengan pembantu mamanya dulu." kata Yoga.
"Jadi, anda akan tinggal di sini berapa hari lagi tuan?" tanya Stave.
"Mungkin tiga hari lagi, setelah semuanya beres. Dan jangan lupa nanti bereskan Arman, buat perusahaannha bangkrut." kata Yoga lagi.
"Baik tuan, setelah anda kembali ke Italia. Kami akan mengeksekusi Arman." kata Jeffry lagi.
"Bagus, sekarang aku ingin istirahat. Kalian juga boleh istirahat. Tetap waspada dengan sekitar, karena mungkin mereka sengaja membuat kita lengah dulu. Baru bergerak." kata Yoga.
__ADS_1
"Iya tuan."
Stave dan Jeffry pun pergi setelah Yoga pergi meninggalkan mereka, Yoga masuk ke dalam lift untuk naik ke lantai lima. Di mana kamar hotelnya berada.
Dalam lift, Yoga bersama dua orang staf hotel. Salah satunya cleaning servis. Keduanya awalnya diam di belakang Yoga ketika dia masuk. Dia berdiri di depan pintu lift.
Tapi kedua staf hotel dan cleaning servis saling pandang. Laki-laki claening servis itu memegang sapu dan lap di pundaknya, dan staf itu membawa tas panjang.
Awalnya Yoga tidak curiga dengan kedua staf dan cleaning servis itu. Dia mengerutkan dahinya, meneliti keduanya melalui pantulan pintu lift kalau keduanya mencurigakan.
Tangan Yoga di masukkan ke dalam kantong celana satu dan satunya berkacak pinggang. Dia tahu keduanya itu sedang mengawasinya, atau bahkan akan menyerangnya.
Begitu lift terbuka, laki-laki cleaning servis itu mengibaskan lap di pundaknya mengarah ke kepala Yoga. Berniat akan menarik leher Yoga dan staf itu akan menusukkan belati yang sejak tadi dia siapkan.
Tapi kemudian Yoga menghindar ke samping. Ketiganya belum sempat keluar dari lift, tapi lift itu menutup kembali dan berjalan ke atas.
Ketiganya berkelahi di dalam lift. Yoga terus menghindar dari serangan dua staf hotel yang sedang menyamar. Dengan gesit dan gerakan cepat, Yoga menarik tubuh cleaning servis dan mendorongnya beberapa kali ke dinding lift.
Staf menyerang Yoga, tapi dia menghindar ke kanan dan kakinya menendang perut staf tersebut. Keduanya tak berdaya, kaki Yoga menginjak perut staf tersebut sedangkan tangannya masih menekan leher cleaning servis.
Staf itu tidak tinggal diam, kakinya pun di angkat dan menendang kaki Yoga. Tanpa buang waktu, belati di tangannya itu di sabetkan ie lengan kiri Yoga. Darah mengucur di lengannya, Yoga pun geram.
Dia menyerang beberapa kali staf itu, menendang dan memukulnya. Sedangkan cleaning servis itu pun kembali menyerang juga.
Tampak ketiganya saling serang dan berkelahi, Yoga dengan sigap menangkis. Dia pun memukul bagian leher staf dengan keras, sehingga staf itu pun lumpuh. Sedangkan cleaning servis menatap tajam pada Yoga.
Dia membalas lagi, menyerang dengan lap tadi di kibaskan ke arah wajah Yoga. Lift naik turun tiada henti, dan akhirnya Yoga melumpuhkan lagi cleaning servis itu. Memukul punggungnya dengan keras.
"Aaargh!"
Teriakan kesakitan cleaning servis itu pun keluar, Yoga menarik bajunya dan mendorong tubuh cleaning servis itu ke dinding lift. Jatuh juga cleaning servis itu dan tidak sadarkan diri sama halnya dengan staf itu.
"Huh, brengsek. Mereka benar-benar mengincarku ternyaya." ucap Yoga.
Dia keluar dari lift tersebut, lalu mengambil ponselnya. Menghubungi Jeffry agar menyisir di sekitar hotel dan mencari tahu siapa yang menyerangnya di dalam lift itu.
_
_
__ADS_1
*************