Takdir Menantu Terbuang

Takdir Menantu Terbuang
38. Bela Kesal


__ADS_3

Bela masuk dalam rumah, dia melihat ada mobil tak di kenal di halaman rumah Arman. Dia berpikir itu adalah milik Alvin, dia mengedarkan pandangan. Tidak ada seseorang di dalam rumah, Bela pun melangkah menuju tangga.


Tapi kemudian langkahnya terhenti saat suara Belinda datang menghampirinya dengan langkah cepat dan memanggil namanya.


"Bela sayang!" ucap Belinda.


Bela pun menoleh ke arah Belinda, menatapnya datar saja. Sedangkan Belinda sangat sumringah dan senang karena anak yang dia asuh akhirnya pulang juga.


"Bela, kamu berbeda sekarang? Lebih cantik dan waah. Pakaianmu sangat mewah sekali." kata Belinda menatap Bela dari atas sampai bawah.


Dia melihat semua yang di pakai Bela, menarik pergelangan tangannya dan memegang gelang yang di pakai Bela.


"Waah, ini bagus banget sayang. Apa gelang ini di kasih laki-laki itu?" tanya Belinda memegang gelang bertahtakan berlian itu.


"Ya, ini di kasih sama dia." jawab Bela masih datar saja.


"Enak banget kamu ya, seharusnya kamu memberikan mama perhiasan. Bawa uang yang banyak dan juga baju-baju mahal buat mama." kata Belinda.


Mata Bela membola, sejak dia berada di mansion Yoga di Italia. Dia banyak berpikir tentang hidup yang selama ini dia jalani dengan Belinda dan Arman. Dia memang di manjakan oleh kedua orang tua yang mengasuhnya sejak kecil.


Tapi sekarang, setelah tahu banyak tentang fakta dirinya bukan anak Belinda dan Arman. Kini pikirannya hanya percaya dengan Yoga suaminya.


"Aku lelah ma, pengen istirahat." kata Bela.


"Hei, tunggu dulu. Kita harus merayakan kepulanganmu itu, lagi pula papamu belum bertemu denganmu, dia ada di ruang kerjanya dengan Alvin." kata Belinda.


Bela mendengus kasar, tidak tertarik lagi mendengar nama Alvin. Sekarang ini yang dia pikirkan adalah ingin mencari tahu di mana rumah pembantu mamanya dulu dan ingin bertanya banyak padanya.


"Aku mau istirahat ma, mama kan tahu perjalanan dari Italia ke Indonesia berapa jam. Aku di pesawat selama dua belas jam lebih, jadi aku lelah ma ingin istirahat." kata Bela.


"Huh, sekarang kamu sombong sekali ya. Apa laki-laki itu mengajarkanmu kurang ajar pada orang tua?!" tanya Belinda dengan nada kesal pada Bela.


Bela diam, dia menatap tajam pada mamanya. Benar sekali, jika Belinda adalah anak kandungnya tidak mungkin dia berkata kasar dan membentaknya seperti itu.


Suara Belinda terdengar sampai di ruang kerja Arman, dia pun keluar dari ruang kerja dan melihat istrinya sedang bicara dengan siapa. Di ikuti oleh Alvin, mereka mendekat ke arah tangga.


"Bela?!" teriak Arman.


"Bela sayang?!" teriak Alvin dengan wajah sumringah.


Bela menatap satu persatu Arman dan Alvin. Alvin mendekat dengan wajah yang penuh kegembiraan. Begitu juga dengan Arman, dia mendekati Bela dan menarik tangan gadis itu agar tidak naik tangga dulu.

__ADS_1


"Bela sayang, kamu pulang? Kenapa tidak menghubungi papa dulu? Kalau pulang kan papa bisa jemput kamu sayang." kata Arman bermuka manis di depan anaknya itu.


Bela hanya diam saja, tiba-tiba dia merasa muak dengan Arman itu.


"Bela, aku kangen sama kamu." kata Alvin menatap Bela.


"Sekarang kalian sudah bertemu denganku, maka dari itu. Aku ingin istirahat, di perjalanan naik pesawat itu sangat melelahkan. Jadi, tolong jangan ganggu aku dulu. Karena aku ingin istirahat karena lelah sekali." kata Bela.


Semuanya nampak diam, salah satu pelayan menghampiri Bela dengan membawa sebuah cover bed dan bicara padanya.


"Nona, apa saya sekarang sudah bisa membereskan kamar anda?" tanya pelayan itu, yang ternyata adalah anak buah Yoga untuk menjaga Bela di rumah Arman.


"Ya, bersihkan kamarku. Aku ingin tidur." kata Bela.


"Baik nona."


"Bela, kamu saat ini boleh tidur dan istirahat. Tapi nanti sore papa dan mama serta Alvin mau bicara denganmu." kata Arman.


Bela hanya melambaikan tangannya saja, dia menaiki tangga dengan koper di bawa oleh pelayan untuk segera masuk ke dalam kamarnya.


Ketiga orang di bawah itu hanya menatap kepergian Bela. Mereka bingung juga, terutama Arman. Kenapa Bela bisa pulang begitu mudahnya?


"Om, ayo kita lanjutkan lagi di ruang kerja obrolannya." kata Alvin.


Alvin dan Arman pun pergi meninggalkan Belinda, sedangkan perempuan itu menuju dapur. Dia ingin menyiapkan makanan untuk Bela yang baru pulang itu.


_


Malam hari, pukul delapan malam. Setelah makan malam itu, Bela gelisah. Dia duduk di teras rumah, mengamati jalanan depan apakah ada mobil masuk ke dalam rumah Arman itu.


Belinda menghampiri Bela, dia duduk memperhatikan anaknya yang sedang mengamati jalanan sejak tadi.


"Kamu sedang apa, Bela?" tanya Belinda.


"Ngga ma." jawab Bela singkat.


"Sejak tadi kamu melihat ke depan terus, apa yang kamu tunggu?" tanya Belinda.


"Tidak ada." jawab Bela lagi.


"Kamu menunggu Alvin?" tanya Belinda.

__ADS_1


"Tidak."


"Heh, kenapa kamu selalu menjawab singkat-singkat saja. Apa kamu kesal sama mama?" tanya Belinda.


"Sudahlah ma, aku mau masuk dulu. Mau tidur." kata Bela bangkit dari duduknya dan masuk ke dalam kamarnya.


"Bela!"


Bela berhent dan memejamkan matanyai, menarik napas kasar. Belinda pun mendekat, dia sangat kesal sekali pada Bela.


"Heh, kamu sombong sekali ya setelah berkencan dengan seorang pria yang membelimu itu? Bahkan apa yang kamu gunakan itu semuanya mahal, seharusnya kamu terima kasih sama papa dan papa. Mengenalkanmu dengan laki-laki kaya raya dan juga sebentar lagi jadi menantu mama!" ucap Belinda.


Bela menoleh pada Belinda, dia menatap tajam pada perempuan berusia empat puluh delapan itu.


"Jadi benar, papa menjualku pada laki-laki dengan alasan bisnis?" tanya Bela.


"Eh, sayang. Bukan begitu maksud mama, papa itu hanya ingin kamu bahagia sayang. Sudah, jangan marah ya. Ayo katanya kamu mau istirahat, nanti mama temani ya." kata Belinda semakin kikuk dengan Bela marah padanya.


Bela diam, semua apa yang di katakan Yoga itu satu persatu akan terlihat. Belinda dan Arman seperti ular berkepala dua, pikir Bela.


"Bela, masuk kamu. Ikut papa." kata Arman tiba-tiba keluar dan menyuruh Bela masuk.


"Mau apa?"


"Papa mau bicara, dan sebentar lagi Alvin juga datang." kata Arman.


"Mau apa dengan Alvin?"


"Bukankah kamu menyukainya? Dia akan melamarmu Bela." kata Arman.


"Aku masih punya suami, bisa-bisanya papa mau menikahkan aku dengan dia? Lagi pula, papa menjualku sama pengusaha Italia, apa papa lupa?" tanya Bela sinia.


"Perjanjianmu dengan pengusaha itu sudah selesaikan? Dan suamimu? Mana dia? Bahkan untuk menafkahimu saja dia tidak bisa!" ucap Arman.


Bela diam, dia jengah lama-lama dengan Arman itu. Ingin sekali dia mengatakan kalau sesungguhnya dia tahu kalau papanya itu membunuh kakeknya. Tapi dia tidak bisa gegabah, biar nanti urusan suaminya,dia hanya ingin tahu cerita tentang mama aslinya dan kebenaran sesungguhnya dari pembantu mamanya dulu. Dan dengan cara apa Arman mengambilnya dari tangan mamanya itu.


"Malam om, tante."


_


_

__ADS_1


***********


__ADS_2