Takdir Menantu Terbuang

Takdir Menantu Terbuang
53. Sidang Vonis Arman


__ADS_3

Dor! Dor! Dor!


Kazao mengacungkan pedangnya ke atas untuk menyerang Yoga. Saat dia di tembaki oleh anak buah Yoga, dia pun jatuh tersungkur. Berbarengan dengan jatuhnya Yoga dengan kedua tangannya bersimbah darah.


Mark langsung menghampiri Yoga, mengambil tubuhnya agar tidak jatuh. Meski dia juga jalan sempoyongan, tapi keselamatan bosnya itu harus di utamakan.


Dua anak buah Yoga masih menodongkan senjata ke arah Kazao. Laki-laki itu masih bertahan dengan tatapan mata melebar, tangannya memegangi dadanya.


"Kukuuraaang aajaar kkaliaan!" ucap Kazao.


Tak lama dia pun jatuh dan akhirnya tewas sama halnya dengan ketuanya Shinesuke.


Mark menghubungi anak buahnya yang memang di tugaskan untuk menjemput mereka jika di hubungi. Hanya butuh waktu sepuluh menit, anak buah yang di minta datang segera itu datang dengan membawa helikopter.


Helikopter itu akan mengangkut mereka, hanya empat orang yang selamat. Beberapa anak buah Shinesuke ada yang selamat, itu di biarkan oleh Mark. Setidaknya kelompok Yakuza di Jepang tidak sepenuhnya habis dalam keturunannya.


Helikopter pun mendarat tak jauh dari Mark yang sedang melilitkan dasinya dan dasi Yoga untuk menghentikan aliran darah di tangan Yoga. Dan Yoga sendiri sudah tidak sadarkan diri karena terlalu banyak darah yang mengalir keluar.


"Ayo, bantu aku membawa tuan Yoga pulang." kata Mark.


"Baik tuan." ucap anak buahnya.


Mereka pun menggotong Yoga menuju helikopter. Mereka memasukkan Yoga, dan sudah menunggu dokter di dalam heli tersebut. Karena Mark menyuruh anak buahnya sekalian membawa dokter untuk menangani Yoga dengan cepat.


Dokter pun segera menangani Yoga, dia mengambil alkohol lebih dulu untuk menghentikan darah yang masih mengalir itu. Semuanya di bersihkan, dari tangan dan juga semua tubuh Yoga.


"Apakah bisa di selamatkan dokter?" tanya Mark.


"Ini darahnya terlalu banyak yang keluar, dan luka sayatan pedangnya juga dalam sekali. Saya usahakan bisa terselamatkan tuan Yoga." kata dokter itu.


"Harus selamat dokter, tuan Yoga harus di selamatkan." kata Mark.

__ADS_1


"Saya usahakan tuan, tapi sepertinya tuan Yoga kuat sekali. Dia terus bertahan, mungkin ada yang di pikirkannya tuan." kata dokter.


"Ya, istrinya yang dia pikirkan. Tuan Yoga ingin bertemu istrinya setelah ini." ucap Mark.


Dia menatap bosnya yang terlihat lemah tapi tidak mengurangi aura kekejamannya yang belum sempat menghilang ketika membunuh Shinesuke itu. Dokter pun memasangkan selang infus lebih dulu.


Lalu memberikan obat untuk menghentikan darah yang mengalir. Setelah selesai, dokter menyuntikkan obat pada lengan tangan Yoga. Semua di lakukan dengan cepat agar bisa tertolong.


_


Persidangan Arman kali ini sangat cepat, karena pengacara Bela yaitu Hosman Pais gencar untuk menunjukkan berbagai bukti. Kini tinggal pembacaan vonis untuk Arman.


Belinda menatap Bela dengan tatapan kebencian, dia benar-benar sangat marah pada gadis itu karena telah melaporkan suaminya. Gadis yang sejak bayi di asuhnya, kini telah membuatnya harus berurusan dengan polisi.


"Aku tidak akan memaafkanmu Bela, begini caramu membalas semua kebaikanku?!" kata Belinda ketika dia bertemu di depan gedung persidangan.


Bela hanya menatap ibu asuhnya itu, dia lalu tersenyum sinis pada Belinda.


"Kamu!"


Belinda maju ke depan dan ingin menampar wajah Bela, dia sangat geram dengan anak yang dia asuh itu. Tapi Bela segera menepisnya dengan kasar tangan Belinda, tatapannya tajam menusuk mata Belinda yang terkejut akan perlawanan Bela.


"21 sudah mengampuni kalian, mama masih bebas berkeliaran. Jika semu aku serahkan sama suamiku, sudah pasti kalian akan terbunuh tanpa ampun. Tapi aku masih punya hati, makanya hanya melaporkan saja pada polisi, agar maka masih bisa bertemu dengan papa meski di balik jeruji nantinya." kata Bela lagi dengan tegas.


Belinda hanya menarik napas kasar, dia benar-benar geram sekali dengan Bela yang kini sudah berubah jadi lebih berani bahkan melawannya.


Bela pun berlalu meninggalkan Belinda yang masih diam di tempat. Dia benar-benar kesal pada Belinda yang masih saja mengungkit masalah mengasuh dirinya sejak kecil, jika kekayaan yang di miliki oleh kedua orang tuanya dan juga kakeknya.


Belum tentu Belinda akan mengasuhnya dengan suka rela, lagi pula tidak sepenuhnya Belinda yang mengurus dirinya sejak kecil, ada pengasuh yang menjaga dan mengurusnya. Sedangkan Belinda sendiri selalu bersenang-senang dan berfoya-foya dengan harta yang di dapat Arman.


Persidangan kedua, pembacaan dakwaan dan vonis sedang berlangsung. Arman duduk di kursi pesakitan, menatap dingin pada anak yang dia asuh yaitu keponakannya sendiri.

__ADS_1


Bela hanya menatap datar laki-laki yang dia anggap papanya itu sejak kecil. Dia menatap tanpa ekspresi, meski dia ada rasa terima kasih pada laki-laki itu. Tetapi harta yang sudah di habiskan Arman dan Belinda sudah banyak, bahkan sampai menghabisi tiga nyawa untuk mendapatkan harta kekayaan tersebut.


Setelah penangkapan paksa itu, Arman langsung di sidang. Dua minggu sidang Arman di laksanakan empat kali karena bukti semuanya ada, dan juga saksi kunci yaitu perawat yang masuk setelah Arman keluar dari ruang ICU pada waktu itu. Sekarang sidang ketiganya, sidang pembacaan vonis.


Pengacara Hosman Pais tidak membiarkan sidang terlalu lama, sehingga akan ada kecurangan atau intimidasi pada saksi yang Bela hadirkan di tempat sidang.


"Dengan banyaknya bukti-bukti yang sudah di siapkan pelapor dan juga beberapa pertanyaan jaksa pada terdakwa. Maka, kami memutuskan vonis pada saudara Arman selaku terdakwa pembunuhan saudara Gunawan. Saudara Arman, akan mendapatkan vonis hukuman seumur hidup.


Tok! Tok! Tok!


Palu pak hakim sudah di ketuk, semuanya berdiri. Belinda berteriak histeris ketika Arman di jatuhi hukuman seumur hidup dalam penjara.


"Tidak! Suamiku tidak bersalah, lepaskan dia!" teriak Belinda.


Dia berteriak dan mengejar Arman yang di giring keluar. Bela dan dua anak buah kepercayaan Yoga sudah menunggu di depan, dia menunggu Arman keluar dan menyambutnya di depan pintu.


"Semoga papa menyadari kesalahan papa ketika di dalam penjara nanti, kesalahan yang sangat besar itu akan aku ampuni jika papa berbuat baik dan menyesali perbuatan papa waktu itu." kata Bela.


Arman tersenyum miring, dia menatap datar pada anak yang dia asuh itu. Lalu bicara dengan tenang.


"Aku akan cari cara untuk menjatuhkanmu lagi, anak sialan! Tak di sangka, anak yang selama ini aku rawat ternyata menusuk dari belakang. Bahkan menjebloskanku ke penjara." kata Arman.


"Mungkin jika suamiku yang bertindak, papa pasti sudah tidak bisa bernapas lagi. Aku mengampuni papa karena papa telah merawatku sejak kecil, rasa terima kasihku karena aku juga tidak menuntut papa juga sebagai dalang pembunuhan kedua orang tuaku." kata Bela.


Arman diam, dia lalu di giring oleh polisi untuk di serahkan ke lapas khusus bagi terdakwa itu. Bela juga berlalu menuju mobilnya, ponselnya berbunyi.


"Halo?"


_


_

__ADS_1


***********


__ADS_2