Takdir Menantu Terbuang

Takdir Menantu Terbuang
57. Berita Kematian Arman


__ADS_3

Dua hari Arman di buat kesusahan bernapas dan selalu berkeringat. Dia juga terbatuk dan perutnya mual dan muntah, terkadang dia juga merasa gatal di sekujur tubuhnya.


"Ssshh, kenapa denganku. Bukahkah aku tidak makan makanan yang di bawa dia waktu itu? Jika makanan itu beracun, seharusnya dari kemarin aku sudah mati." kata Arman lagi.


Dia kembali mengambil tisu yang sudah hampir habis untuk mengelap keringat yang terus. Arman semakin menggigil, tubuhnya mulai kejang. Tangannya memegangi lehernya karena tercekat di tenggorokan napasnya.


Wajahnya mulai membiru, kemudian secara perlahan mulutnya berbusa. Dia berusaha berdiri dan hendak menuju pintu sel dengan masih memegangi lehernya.


Beberapa detik kemudian, Arman tergeletak dengan mata melebar. Tak lama dia pun terjatuh masih memegangi lehernya seperti mencekiknya. Hembusan napas terakhir Arman, dan akhirnya dia pun sudah tak bernyawa lagi.


Tidak ada yang tahu, selama dua jam lebih Arman tergeletak di lantai kamar tahanan itu sendirian. Hingga petugas kebersihan datang dan melihat dia tergeletak di lantai.


Awalnya tidak peduli, karena petugas di sana lebih takut pada tahanan dengan tuduhan pembunuhan. Arman tahanan pembunuhan. Petugas itu mengambil sampah-sampah yang berserakan dan memasukkannya ke dalam kantong kresek khusus sampah.


Setelah empat jam, baru ada petugas yang hendak memberitahu para tahanan. Tapi Arman tidak ada, dia pun di duga di temukN bunuh diri di dalam kamar tahanan.


_


Zat yang meracuni pada tubuh Arman ternyata di duga adalah racun. Semua kepolisian menyelidiki siapa yang pernah mengunjungi Arman selama dua hari itu, tapi tidak ada yang berkunjung.


Hanya Yoga saat itu, dan itu sudah di selidiki ketika petugas yang di beri makanan oleh Arman ternyata baik-baik saja.


Tapi Arman di beritakan di media internet kalau dia mati hunuh diri dengan meminum racun arsenik. Banyak kejanggalan di sana, karena tidak di temukan racun di kamar tahanan Arman. Semua menduga ada orang yang sengaja masuk atau memberikan racun itu dengan kata lain, Arman memesan racun arsenik untuk bunuh diri.


Bela meletakkan ponselnya, sudah dua hari ini dia melihat berita heboh di negerinya sendiri tentang kematian tahanan pembunuhan. Yaitu Arman, papanya yang mengasuhnya sejak kecil.

__ADS_1


Dia merasa kasihan dengan berita itu, apakah sampai bunuh diri karena di penjara?


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Yoga menghampiri istrinya yang sedang melamun setelah membaca berita di internet tentang kematian Arman.


"Papa di beritakan meninggal dengan cara bunuh diri." jawab Bela.


"Kamu tahu dari mana?" tanya Yoga.


Bela mengambil ponselnya, dia menyerahkannya pada Yoga. Situs berita masih di halaman depan, Yoga pun membacanya. Dia tersenyum tipis, lalu menyerahkan kembali ponsel istrinya itu.


"Mungkin dia tidak tahan hidup di dalam penjara, jadi lebih memilih bunuh diri." kata Yoga.


"Tapi, itu terdengar janggal Yoga. Mana mungkin langsung bunuh diri, baru juga dua bulan kurang." kata Bela lagi.


"Bisa saja, dia tidak tahan karena hidup jadi tahanan itu tidak enak. Sudah jangan di pikirkan, sudah waktunya dia meninggal." kata Yoga menguatkan istrinya.


"Aku sedih aja, papa kok sampai bunuh diri begitu. Lagi pula, siapa yang mengiriminya racun arsenik ke lapas? Bukannya harus ada pemeriksaan?" kata Bela bertanya sendiri.


Yoga diam saja, dia tidak menanggapi ucapan istrinya itu. Justru kini dia ingin bermesraan dengan istrinya, mencoba membuat Bela melupakan berita itu. Sengaja dia tidak memberitahu kalau Arman keracunan itu karena dirinya.


Yoga membelai perut Bela, dia memcium leher bagian belakang. Mengendusnya beberapa kali, tapi Bela tidak merespon. Yoga menghela napas panjang, kali ini dia akan sabar dengan kesedihan istrinya itu.


"Kita pergi makan malam di luar sayang, aku tidak mau kamu terus bersedih masalah papa brengsekmu itu." kata Yoga.


"Apa salah aku sedih?" tanya Bela.

__ADS_1


"Tidak, makanya aku ajak kamu makan malam di luar. Agar kesedihanmu tidak berlarut-larut, aku tidak suka melihat wajah sedihmu itu." kata Yoga.


"Kamu tidak ada simpatinya sama sekali padaku. Apa kamu tidak mencintaiku?" tanya Bela.


"Mencintaimu?"


"Ya, kamu bahkan tidak simpati padaku dengan kematian papaku." kata Bela sedikit kesal pada suaminya.


"Huh, aku tadinya mau memghiburmu agar tidak bersedih dengan mengajakmu makan malam. Tapi sepertinya kamu menantangku untuk menunjukkan rasa cintaku padamu." kata Yoga menatap tajam pada istrinya.


Wajahnya mendekat, tangannya menarik pinggangnya. Bela terkejut, dia mencoba melepas pegangan tangan suaminya di pinggangnya itu. Tapi tidak bisa, sekalipun dua tangan dia gunakan.


"Katakan, bentuk cinta seperti apa yang kamu inginkan dariku sayang?" tanya Yoga masih menatap tajam pada istrinya.


"Tidak, jangan seperti ini. Aku sedang tidak mood, Yoga." ucap Bela berusaha menolak keinginan suaminya.


Dia salah mengucapkan dengan tantangan itu, tapi nyatanya Yoga tidak bisa di ajak bercanda atau pun serius dalam hal itu.


"Aku sudah menawarkanmu makan malam, tapi kamu malah menolaknya. Jadi kamu tidak bisa menolakku lagi." kata Yoga langsung meraup bibir istrinya dengan rakus.


Dia tidak akan menyia-nyiakan kelemahan Bela dan kesalahannya. Langsung saja tanpa ada kesempatan lagi Bela menolak keinginannya mencumbunya.


"Aaah, Yogaaa!"


_

__ADS_1


_


***********


__ADS_2