
Yoga dan Bela melepas rindu dengan bercinta malam itu, hingga keduanya pun lelah dan tidur saling memeluk. Berbeda dengan seperti sebelumnya, Bela kini lebih menikmati dan sangat senang dengan perlakuan suaminya pada tubuhnya.
Yoga memejamkan matanya, Bela pun sama. Tapi karena dia tadi tidur lebih dulu, dia justru tidak bisa tidur. Berusaha memejamkan matanya, tapi tetap saja tidak bisa tidur.
Akhirnya dia membuka matanya, hembusan napas dari suaminya tepat mengenai kelopak matanya. Dia pun tersenyum, tangannya meraba wajah tampan suaminya.
"Aku baru menyadari kalau wajahnya itu sangat tampan." gumam Bela memandangi wajah di depannya itu.
"Sejak lahir aku sudah tampan, hanya kamu saja yang buta melihatku waktu menikah dulu." ucap Yoga tanpa membuka matanya.
Pipi Bela memerah karena malu ucapannya di dengar suaminya, dia menyembunyikan wajahnya di dada Yoga. Dia terus menduselkan kepalanya membuat Yoga meremang kembali.
"Sayang, diamlah. Apa kamu mau aku mengeksekusimu lagi?" tanya Yoga menahan kepala istrinya.
Bela pun diam, dia menahan agar suaminya tidak meminta kembali bercinta dengannya. Tapi di bagian bawah dia merasakan desakan sesuatu yang keras, tubuh Bela berbalik cepat menghindar akan serangan suaminya nanti.
Menyesal telah membangunkan sesuatu yang sudah hampir tidur itu. Tapi sia-sia saja Bela menghindar, Yoga pun menarik tubuhnya dan membalikkanya. Menatapnya penuh gairah dan napas yang tertahan.
"Kamu tahu, sekali gerakan tubuhmu itu akan mengundang syaraf motorik kasarku untuk berolah raga kembali denganmu. Hormon endorfinku naik ketika tubuhmu menyentuh kulitku, maka jangan mengelak lagi jika aku menginginkanmu kembali." ucap Yoga penuh penekanan.
Bela hanya diam, tapi kemudian dia tersenyum. Dia mengecup bibir suaminya cepat, membuat Yoga terpaku. Tapi dengan cepat dia membalasnya kembali raupan bibirnya pada benda mungil yang sedang menyungging senyuman manis nan menggoda itu.
Kepasrahan Bela pada suaminya untuk di sentuh kembali, membuat Yoga semakin bersemangat. Padahal enam belas jam perjalanan di pesawat itu sangat melelahkan, tetapi bertemu dengan istrinya bahkan bercinta dengannya membuatnya bersemangat dan rasa lelahnya hilang seketika.
"Aku mencintaimu Arabela Salsabila Alfiansyah."
_
Tiga hari Yoga berada di Indonesia dan berniat kembali ke Italia esok harinya dengan istrinya. Dia berniat menjenguk Arman di lapas di mana dia di penjara.
Bela ingin ikut dengannya menjenguk Arman, tapi di larang oleh suaminya itu.
"Kenapa tidak boleh?" tanya Bela sewaktu dia sedang sarapan pagi bersama.
"Tidak sayang, aku ingin bicara berdua dengannya." kata Yoga.
"Tapi aku juga ingin tahu keadaannya." kata Bela mencoba membujuk suaminya.
__ADS_1
"Tidak, aku ingin bicara dengannya saja. Kamu di hotel atau kamu mau jalan-jalan membeli sesuatu sebelum besok berangkat ke Italia." kata Yoga lagi.
Bela menarik napas panjang, sepertinya suaminya tidak bisa di bantah atau pun di bujuk. Dia pun akhirnya mengangguk.
"Baiklah, oh ya. Aku mau satu permintaan, apa kamu mau mengabulkannya?" tanya Bela.
"Apa itu?" tanya Yoga.
"Izinkan ibu Almida ikut ke Italia, biar dia menemaniku di sana. Agar aku ada teman bicara dan mengobrol." kata Bela.
Yoga berhenti mengunyah roti sandwichnya, dia menatap istrinya yang sedang memohon padanya.
"Aku pikirkan nanti." jawab Yoga.
"Aku serius meminta dia ikut denganku, Yoga." kata Bela lagi.
"Aku butuh persetujuannya dan juga butuh pembuatan paspor dan visanya. Jadi, tunggulah dulu."
"Itu artinya kamu menyetujuinya?" tanya Bela dengan bersemangat.
"Mungkin."
Yoga diam, dia menatap istrinya yang tersenyum senang. Lalu dia pun ikut tersenyum, kemudian melanjutkan kembali sarapannya.
Siang hari, Yoga bertemu dengan Jeffry dan Stave. Mereka membicarakan rencana selanjutnya, Yoga memberikan kebebasan pada kedua anak buahnya itu apakah mau tinggal di Indonesia atau kembali lagi ke Italia.
"Aku tetap di sini tuan, karena restoran ini semakin berkembang dan banyak peminatnya." kata Stave.
"Jeff?"
"Aku harus mengurus dua perusahaan di sini tuan, jadi sepertinya aku tetap tinggal di sini sementara waktu." kata Jeffry.
"Pekerjaanmu di rumah sakit bagaimana?" tanya Yoga.
"Kurasa aku pensiun saja, aku akan kembali jadi dokter jika anda membutuhkanku." kata Jeffry lagi.
"Ya, baiklah. Terserah kalian saja, besok malam aku akan kembali ke Italia dengan istriku." kata Yoga.
__ADS_1
"Semoga anda selalu bahagia tuan, nona Bela mencintai anda." kata Stave.
"Ya aku tahu itu, aku juga mencintainya." kata Yoga dengan senyum mengembang.
Tidak ada ekspresi, tapi Stave tahu kalau bosnya itu sangat mencintai istrinya. Meski ucapannya juga biasa saja dalam mengucapkan cinta.
"Apakah semua sudah selesai tuan? Shinesuke." tanya Stave.
"Sudah, dia sudah berkumpul dengan leluhurnya." jawab Yoga.
Tidak ada pertanyaan lagi, mereka tahu pasti bagaimana pertarungan kedua mafia kejam itu. Memang kemungkinan Yoga kalah dan menang itu seimbang menurut perkiraan mereka, tapi beruntungnya bos mafia yang di takuti itu bisa mengalahkan kelompok Yakuza yang di takuti juga di negaranya.
"Oh ya, aku akan menjenguk mertuaku di penjara. Siapkan apa yang aku minta Jeff." kata Yoga pada dokter bedah itu.
"Stave yang menyiapkan tuan, bukan aku. Itu kurasa aku tidak mau bertentangan dengan profesiku sebelumnya." kata Jeffry.
"Kamu sudah membunuh banyak orang Jeff dalam pertarungan di sana, kamu lupa itu?" kata Yoga.
"Hahah, kalau cara yang satu itu aku minta maaf tuan. Rasanya terlalu sadis bagiku, berbeda dengan bertarung. Karena ada keinginan untuk memenangkannya." kata Jeff tertawa kecil.
"Ya terserah kamu, nanti malam aku akan langsung berangkat." kata Yoga.
Yoga langsung pergi setelah berbincang dengan kedua. Dia akan pergi ke lapas di mana Arman di penjara dengan semua tuduhan yang di alamatkan padanua atas laporan istrinya.
"Aku tidak akan membiarkanmu, Arman." gumam Yoga ketika mobil sudah berangkat menuju lapas untuk menemui mertuanya.
Pesanan yang dia minta pada Jeff sudah ada di mobilnya. Wajah dingin itu menatap ke depan, tatapan seorang dingin yang sudah sejak tadi.
Satu jam perjalanan, mobil memasuki area parkir gedung lapas. Yoga langsung turun dari mobil dan segera menemui petugas, dia sudah mencari tahu kapan waktu menjenguk tahanan.
Setelah mendapat persetujuan dan pemeriksaan dari petugas lapas, Yoga menunggu di ruangan di mana tempat pertemuan para pengunjung dan tahanan.
Tak lama, Arman datang dengan tangan di borgol. Dia berhenti ketika melihat siapa yang menjenguknya. Membuang muka ke samping tapi kemudian dia menatap tajam pada menantunya itu.
"Apa kabar papa mertua?"
_
__ADS_1
_
**********