
Bela menunggu sangat lama laki-laki yang akan mengajaknya berkenalan dan kencan itu. Merasa bosan sekali karena sejak tadi dia masih berada di dalan ruangan itu.
Pukul enam sore, Bela di panggil untuk makan malam. Dia pun menurut, sejak tadi memang dia sangat lapar. Tapi tidak ada yang masuk ke dalam ruangan itu, apa lagi dia tidak biasa berkeliaran di tempat orang yang tidak di kenalnya.
Meski dia gadis yang selalu di manja oleh Arman dan Belinda, tapi dia tidak bisa bebas di tempat orang yang tak di kenalnya.
Pelayan menyiapkan makanan ala hotel mewah, Bela lagi-lagi takjub dengan penyajian yang begitu sempurna makanan di depannya itu.
"Apa ini makanan sekelas hotel berbintang?" gumam Bela, yang di dengar oleh pelayan.
"Iya nona, koki yang memasak itu juga dari hotel berbintang." kata pelayan.
"Eh, iyakah?"
"Ya,anda pasti merasa senang dengan makanan mewah ini. Silakan di makan nona Bela." kata pelayan tersebut.
"Tunggu, saya mau bertanya. Di mana tuanmu? Kenapa sejak tadi tidak terlihat?" tanya Bela.
"Biasanya tuan akan datang malam hari nona, nanti jika tuan pulang malam hari. Anda akan di antar ke kamar yang sudah kami siapkan." kata pelayan.
"Tapi, kenapa saya harus menginap?" tanya Bela heran.
"Karena malam ini tuan akan datang nona, biasanya jarang sekali datang." kata pelayan lagi.
"Oh ya, seperti apa tuanmu itu?"
"Dia sangat baik."
"Waah, begitukah?"
"Ya, nona jangan bicara terus. Makanlah, jika makanan dingin nanti bisa di ganti lagi dengan menu lain."
"Waah, tidak usah. Aku akan makan." kata Bela.
Dia lalu menyantap makanan di depannya dengan lahap. Beberapa pelayan melihat Bela makan sangat lahap itu jadi tersenyum, tapi kemudian mereka diam kembali setelah Javier memasuki ruang makan tersebut.
Dia menatap Bela, penampilannya sangat cantik. Dia duduk di depan Bela, menatap gadis itu dengan lekat.
"Hemm, memang cantik gadis ini. Kenapa ayahnya begitu tega gadis itu di jadikan alat bisnisnya, apa dia tidak terlalu sayang?" gumam Javier.
Tatapannya terus menembus Bela yang sedang asyik makan, hingga dia pun menyadari kalau ada seorang laki-laki yang sedang memperhatikannya.
"Oh, ada orang rupanya?"
"Anda lapar nona?" tanya Javier.
"Maaf, saya tidak melihat anda." kata Bela mengelap mulutnya dengan lap.
"Emm, tidak masalah."
"Emm, apakah tuan pemilik mansion ini?" tanya Bela.
"Bukan, ada tuan saya. Kenapa?" tanya Javier lagi.
"Ooh. Ada lagi, jadi bukan anda yang menyuruh saya datang kemari?" tanya Bela ragu.
"Bukan, tuan saya. Dan sebentar lagi tuan saya akan datang, bersabarlah nona." kata Javier lagi.
__ADS_1
"Oh ya, baiklah."
Bela pun sedikit kecewa, karena bukan Javier bos yang datang itu. Tapi kemudian dia pun menyelesaikan makanannya, sedangkan Javier pergi dari ruangan itu karena mendapat telepon dari Yoga.
_
Dalam kamar, Bela masih menunggu siapa laki-laki yang akan menemuinya. Sungguh misteri bagi Bela, sudah jam sembilan malam dia menunggu, tapi belum juga ada yang mengetuk pintu dan menyuruhnya menemui laki-laki yang di maksud.
Tapi kemudian pintu di ketuk juga, dia pun bergegas membuka pintunya. Ternyata benar, satu pelayan berdiri dan memberi hormat padanya.
"Anda di tunggu tuan di kamarnya." kata pelayan itu.
"Di kamarnya?" tanya Bela heran.
"Iya, tuan menunggu anda di kamarnya." kata pelayan lagi.
"Tapi ..., apakah harus kesana?"
"Mari nona, saya akan mengantar anda ke kamar tuan." kata pelayan agar Bela tidak terus saja bertanya.
Bela pun keluar, dia mengikuti kemana langkah pelayan itu mengarah. Dia semakin penasaran, seperti apa laki-laki yang akan dia temui itu.
Pelayan berhenti di depan pintu sebuah kamar besar, dia mengetuk pintu dan mempersilakan Bela masuk sendiri ke dalam kamar itu. Dia pun menurut, menarik handlenya dan mendorong daun pintu.
Bela melihat sebuah kamar mewah, semewah kamar-kamar layaknya orang-orang konglomerat yang pernah dia lihat. Tapi kamar itu lebih mewah, ada TV LED besar juga yang memajang menghadap ranjang.
Langkah pelan Bela melihat seluruh kamar, ada kamar mandi yang hanya di tutup kaca saja. Tapi kaca itu bisa di atur terlihat atau tidak dari luar, sehingga semuanya bisa di atur sesuai dengan keinginan pemilik kamar.
Bela mendengar seseorang sedang mandi di kamar mandi, dia duduk di sofa. Menunggu keluar orang yang sedang mandi. Sepuluh menit dia menunggu, hingga keluarlah orang yang di tunggu Bela.
Dia menoleh ke arah laki-laki yang baru keluar, wajahnya tampak di tutup dengan handuk yang sedang di gosok di kepalanya. Bela memicingkan matanya, dari postur tubuhnya dia seperti mengenal.
"Apa dia Yoga?" ucapnya pelan.
Tak berapa lama, laki-laki tadi yang memang adalah Yoga pun keluar. Dia menatap datar pada Bela, tentu saja Bela terkejut. Matanya melebar dan juga mulutnya mengaga, tapi kemudian dia menutupnya dengan tangannya.
Dia berdiri, rasa tidak percayanya semakin membuatnya jadi syok. Kenapa juga harus bertemu dengan suaminya lagi.
"Kamu?!" ucap Bela.
"Ya, aku. Aku yang membelimu dari papamu." jawab Yoga dingin.
"Apa?!"
"Kamu di jual oleh papamu, Arman. Demi sebuah bisnis."
"Tidak mungkin!" teriak Bela.
"Kamu mau tahu apa yang dia tawarkan padaku?" tanya Yoga.
Dia mengambil remot TV, lalu menyalakannya. Yoga duduk di sofa, sedangkan Bela masih berdiri menatap tajam pada Yoga lalu melihat ke arah televisi.
Yoga memperbesar volumenya, agar Bela mendengar ucapan Arman tentang dirinya yang di jadikan negosiasi bisnis.
Bela lemas, mendengar ucapan tegas dan lantang papanya di televisi itu. Yoga tersenyum miring, dia pun menarik pinggang Bela hingga gadis itu duduk dan mengenai dadanya.
Yoga menatap setiap inci wajah Bela, mengendus aroma parfum di leher gadis itu. Bela sendiri merinding ketika Yoga melakukan itu, dia mencoba mendorong dada suaminya agar terlepas dari cengkeramannya.
__ADS_1
"Lepaskan aku." kata Bela.
"Kamu sudah aku beli." kata Yoga dengan tatapan dingin.
"Aku bukan gadis murahan, jadi jangan coba-coba memaksaku sialan!" ucap Bela sedikit membentak.
Senyuman sinis mengembang di bibir Yoga, dia menatap dingin pada Bela. Tangannya memegang dagu istrinya itu lalu bibirnya menempel pada bibir lembut istrinya.
"Aku sudah memberimu dua pilihan yang akan membuatmu senang dan bahagia, Bela. Tapi kamu memilih di jual oleh papamu dan jadi pela*curku sekarang." kata Yoga dengan tatapan sinis dan tajam menembus jantung Bela.
Tatapan itu mampu membuat Bela tidak bisa berkutik. Aura kekejaman seorang mafia Yoga tunjukan pada istrinya yang masih mencoba untuk membangkangnya.
"Seharusnya kamu berterima kasih padaku, karena aku yang membelimu dari papamu yang serakah itu. Jika laki-laki lain, sudah pasti kamu akan jadi pela*ur sesungguhnya dan akan di gilir oleh beberapa lelaki. Apa kamu mau seperti itu?" tanya Yoga.
"Tidak. Ini tidak benar Yoga." kata Bela ketakutan dan bergetar tubuhnya.
"Ini benar sayang, aku masih menganggapmu seorang istri meski hanya satu persen saja. Selebihnya, kamu adalah pela*urku." kata Yoga lagi dengan kasar.
Tiba-tiba Bela menangis ketakutan, dia tidak pernah tahu Yoga akan semenakutkan itu di hadapannya. Yang dulu dia hina dan di remehkan, kini berubah jadi menakutkan baginya.
"Sekarang, layani aku." kata Yoga.
"Aku tidak mau!" ucap Bela mencoba melawan.
"Oh ya? Apa kamu mau bisnis papamu aku hancurkan?" tanya Yoga.
Bela diam, dia menatap tajam pada suaminya itu.
"Jangan mengancamku!" ucap Bela keras.
"Heh, apa kamu tahu. Laki-laki bernama Alvin, kekasih gelapmu itu? Dia hancur olehku dalam sekejap saja. Aku bisa menghancurkan papamu dalam satu malam saja, sayang." kata Yoga lagi.
Tangisan Bela semakin keras, dia bingung dan ketakutan. Dia tidak bisa kabur dari suaminya, pikirannya pun buntu.
Yoga berdiri, dia membuka bajunya dan kini bertelanjang dada. Mendekat pada Bela dan menarik lengan tangan Bela dengan kasar, hingga tubuh Bela menempel pada tubuh Yoga yang setengah polos itu.
"Kamu mau melayaniku sebagai istri, atau sebagai pel*curku?" tanya Yoga.
"Apakah ini adalah bentuk balas dendammu padaku dan keluargaku?" tanya Bela menyeka air matanya.
"Hemm, ya. Tapi ada satu sisi lain yang tidak kamu tahu dari diriku." kata Yoga.
"Apa maksudmu?"
"Tidak ada, kamu akan tahu nanti. Sekarang aku masih berbaik hati padamu, Bela Salsabila. Melayaniku sebagai istriku atau melayaniku sebagai pel*curku. Tentu kamu akan memilih lebih baik sebagai istri, itu rasanya normal. Tapi kamu bilang hubungan kita itu bukan suami istri yang normal. Jadi pilihannya adalah kamu akan melayaniku sebagai pel*cu ..."
"Tidak. Baiklah, aku akan melayanimu sebagai istrimu." jawab Bela cepat.
Dia tidak mau Yoga terus menyebut kata pel*cur. Karena itu sangat hina sekali baginya, hina di hadapan siapapun. Meski dia melayani suaminya sendiri, tapi Yoga menganggapnya sebagai perempuan murahan. Dan setelah di gauli, maka akan di rendahkan dan di hina bahkan di buang. Bela tidak mau seperti itu.
Yoga menatap tajam pada istrinya, lalu dia tertawa keras. Dia senang mendengar jawaban Bela. Dia pun menarik tubuh istrinya lagi dan berbisik pelan di telinga Bela.
"Lakukanlah sekarang sayang, aku tidak sabar ingin melihatmu melayaniku dengan baik dan aku merasa terpuaskan oleh pelayananmu." ucap Yoga dengan senyum smirik.
Dia pun melepas tubuh Bela dan melangkah menuju ranjangnya. Duduk berselonjor sambil menatap istrinya yang masih diam seribu bahasa.
_
__ADS_1
_
**********************