Takdir Menantu Terbuang

Takdir Menantu Terbuang
30. Sebuah Fakta


__ADS_3

Bela tampak ragu mendekati suaminya, sesekali melirik pada laki-laki yang sedang menatapnya dingin dengan senyum sinis mengembang. Entah apa yang di lakukan, Yoga terus menatapnya saja. Membuat Bela semakin ketakutan.


"Cepatlah sayang, aku sudah tidak sabar." kata Yoga.


Bela duduk perlahan, dia masih ragu tidak mau melihat wajah Yoga. Tapi kemudian Yoga malah menariknya kasar hingga Bela pun menjadi bertumpu di tubuhnya.


Dia mencium Bela secara pelan, tangannya memegangi tangan Bela yang bergerak-gerak agar lepas dari dekapannya.


"Diamlah, jangan bergerak. Atau aku akan melakukannya secara paksa." kata Yoga.


Bela pun diam, dia menurut. Membiarkan suaminya terus menelurusi wajahnya, hingga kini bibir Yoga mendarat di bibirnya. Tatapan Yoga menembus retina mata istrinya, keduanya saling tatap. Ada hawa aneh masuk dalam diri Bela, dia seperti terhipnotis dengan tatapan suaminya itu.


Yoga pun kini mulai menelusuri setiap inci kulit di wajah Bela. Menghirupnya lalu menyentuhkan bibirnya di setiap sentuhannya, Bela memejamkan matanya.


Dia tidak pernah merasakan sentuhan yang begitu lembut. Bulu kuduknya meremang, membuat tubuhnya menggeliat dan bergerak tidak karuan. Yoga tersenyum, dia kembali menatap wajah istrinya. Mata Bela terpejam seakan menikmati apa yang di lakuka olehnya.


"Kamu menikmatinya?" tanya Yoga.


Mata Bela terbuka, tatapannya beradu. Pipinya memerah, dia membuang wajahnya ke samping karena malu. Kini Yoga tahu, kalau istrinya itu seakan memasrahkan dirinya.


Tanpa menunggu lagi, Yoga pun mulai beraksi. Dengan perlahan dia membuka pakaian pembungkus kulit mulus istrinya. Bela terdiam kaku, menoleh ke samping karena malu dan takut dengan apa yang di lakukan oleh suaminya.


Yoga tersenyum miring, dia terus beraksi. Hingga hampir semua baju Bela di tanggal di sampingnya, Yoga menelan ludahnya. Ternyata dia baru melihat tubuh polos Bela, yang sudah bertahun-tahun baru melihatnya.


Selama jadi istrinya, Bela belum pernah melayaninya meskipun sekali. Dia benar-benar takut dengan Yoga yang akan melakukannya dengan kasar.


Wajah Yoga pun mendarat di wajah Bela, meraup bibirnya karena kini gairahnya bangkit melihat tubuh Bela. Awalnya Bela menolaknya, tapi Yoga terus memaksanya. Hingga kini mereka pun berciuman dengan penuh gairah.


Hingga malam terus beranjak, keduanya masih menahan rasa gejolak. Tapi kemudian Yoga yang sudah tidak bisa menahannya memaksa pelan Bela agar mereka melakukannya malam ini. Tidak bisa di tahan lagi, Yoga pun kini menggauli Bela.


Dia terkejut ketika awal bercinta, bagian tubuh Bela terasa susah dia tembus. Dia menatap pada istrinya, merasa terkejut dan terasa luar biasa. Dia tidak akan meminta persetujuan istrinya, meski kemungkinan itu adalah pertama bagi Bela.


Yoga harus mendapatkannya, karena setelah malam ini. Istrinya itu tidak akan dia lepas lagi.


Satu kali percobaan, dan beberapa kali akhirnya Yoga mendapatkannya. Dia merasa takjub kenapa Bela masih menjaganya selama ini, tapi dia tidak akan bertanya saat ini. Dia sedang menikmati rasa yang lain pada istrinya.


Bela, dia merasa malu awalnya. Tapi kemudian dia berpikir apakah mungkin miliknya benar-benar untuk suaminya.


Lama adegan penuh gairah itu berlangsung, hingga Yoga pun menyelesaikannya. Dia pun terkulai, sama halnya Bela. Keduanya memejamkan matanya, Yoga melihat Bela memiringkan tubuhnya. Menghindar dari tatapan suaminya.


"Ternyata kamu belum melakukan apa pun dengan pacar gelapmu?" tanya Yoga dengan sinis.

__ADS_1


"Diamlah, kamu memaksaku untuk menyerahkan milikku padamu sialan." kata Bela mengumpat.


"Hahah! Kupikir wajah dan mulutmu sama halnya dengan kelakuanmu. Menyerahkan begitu saja pada laki-laki brengsek dan memanfaatkan keadaan." kata Yoga.


Bela diam saja, dia masih menahan rasa sakit di bagian bawahnya. Ternyata Yoga begitu kuat dan bersemangat, meski dia tadi menikmatinya juga. Tapi rasa kesalnya kembali muncul, dia ingin sekali membenci Yoga.


"Aku benci kamu!" ucap Bela.


"Terserah kamu, tapi aku sangat beruntung telah mendapatkan yang pertama. Kamu masih menjaganya untukku, aku tidak rugi memberikan uang banyak pada Arman. Karena putrinya telah memuaskanku malam ini." kata Yoga tidur miring menghadap Bela.


Bela yang membelakangi Yoga pun berbalik. Dia kaget karena posisi Yoga menghadapnya, Bela pun hendak berbalik kembali tapi di tahan oleh tangan suaminya.


"Kenapa harus berbalik lagi? Apa kamu mau lagi?" tanya Yoga.


"Kamu brengsek!" ucap Bela dengan berteriak.


"Hahah! Sabarlah sayang, kita beristirahat. Nanti kita lanjutkan." kata Yoga.


Bela mencoba melepas tangan Yoga pada pinggangnya. Tapi cengkeraman Yoga terlalu kuat, hingga matanya saja yang melotot pada Yoga. Yoga sendiri hanya tersenyum tipis, kemudian dia pun mulai beraksi kembali.


"Yogaaa brengsek!"


_


"Hemm, dia kelelahan ternyata. Baiklah, aku tunggu lima menit lagi. Jika dia belum juga bangun, aku tinggal saja." kata Yoga bicara sendiri.


Dua menit Yoga menunggu, dan akhirnya kelopak mata Bela bergerak-gerak. Dia membukanya perlahan, melihat di depannya Yoga sedang menyeruput kopi di cangkirnya dengan senyuman manis menatapnya.


"Selamat pagi sayang." sapa Yoga dengan santai.


Bela melebarkan matanya melihat penampilan Yoga yang berbeda. Memakai jas lengkap dengan rapi, tangannya melingkar manis jam tangan buatan Swiss, serta sepatu pantovel hitam mengkilap. Dasi yang sangat serasi melingkar di lehernya, Bela tidak percaya dengan penampilan Yoga yang bak eksekutif muda itu.


Tanpa sadar dia duduk, selimut yang menutupi bagian tubuhnya yang polosnya itu turun kebawah. Membuat Yoga menelan kopinya terasa susah karena tercekat melihat pemandangan yang menakjubkan.


Tapi kemudian dia tersenyum melihat di beberapa bagian tubuh Bela banyak sekali tanda merah karena ulahnya.


"Apa ini kamu?" tanya Bela membuka suaranya.


"Iya sayang, ini aku yang sekarang. Kamu terkejut?" tanya Yoga.


Dia menikmati tubuh polos Bela yang masih terlihat di depannya dengan menelan ludahnya.

__ADS_1


"Tidak mungkin!" ucap Bela masih tidak percaya.


Yoga mendekat, dia duduk di samping istrinya yang belum sadar akan keadaannya itu. Yoga menyentuh lengan Bela dengan telunjuknya lalu mencium pundaknya. Dengan berbisik pelan.


"Apa kamu sedang menggodaku?" bisik Yoga.


Bela memundurkan tubuhnya, dia menunduk. Baru menyadari keadaannya yang polos itu, dengan cepat dia menutupinya dengan selimut lalu mundur ke belakang.


"Jangan coba-coba melakukannya lagi!" ucap Bela menatap tajam pada Bela.


"Tidak sayang, untuk hari ini aku tidak akan melakukannya. Aku tahu kamu masih sakit bagian itunya, tapi aku suka. Dan fakta baru yang membuatku terkejut adalah ...." ucap Yoga menggantung.


Bela mendengus kasar, kesal sekali kenapa suaminya itu mengejeknya. Dia melengos, merasa malu sendiri.


"Memang kenapa denganku?!" tanya Bela kesal.


"Denganmu? Aku menyukai percintaan tadi malam, faktanya kamu masih perawan dan kamu adalah milikku seutuhnya. Aku tidak akan melepaskanmu sayang." kata Yoga.


"Pulangkan aku, brengsek!" umpat Bela.


"Emm, nanti. Aku masih ingin berpuas-puas denganmu sayang, lagi pula kamu sudah aku beli." kata Yoga lagi.


"Brengsek kamu! Kamu menganggapku pel*cur?!"


"Terserah apa katamu, kamu hanya perlu berkata lembut padaku. Aku akan memberikan apa yang kamu inginkan." kata Yoga lagi.


"Laki-laki bejat sepertimu sebaiknya pergi saja kelaut, biar kamu di makan ikan hiu sekalian!"


"Hahah! Aku bahkan hampir di lalap ikan paus, ikan paling besar di lautan jadi, ikan hiu tidak akan mampu menelanku sayang. Hahah! Sangat lucu sekali leluconmu itu." kata Yoga lagi dengan tawanya karena merasa lucu dengan istrinya.


Bela menatap tajam pada Yoga, dia benar-benar kesal pada suaminya. Tak lama. Pintu di ketuk oleh seseorang dari luar.


"Baiklah, aku di tunggu oleh pak Menteri pagi ini. Kami ada perjanjian khusus untuk penjualan senjata api padanya." kata Yoga lagi.


Dia mendekat lagi pada Bela, mencium bibirnya dan tersenyum. Sedangkan Bela sendiri terasa kaku tak bergerak, karena aroma maskulin keluar dari tubuh Yoga membuatnya terasa terkunci gerakannya.


_


_


**************

__ADS_1


__ADS_2