
Kandungan Bela sudah membesar, dia memang hamil anak Yoga sejak tujuh bulan lalu. Dan kini, dua bulan lagi anaknya lahir. Yoga sangat memperhatikan dan selalu melindungi istrinya dari segala makanan dan juga pergi kemana pun. Lebih posesif dari sebelum Bela hamil.
Hingga membuat Bela jengah dengan sikap keposesifan suaminya yang berlebihan. Untungmya memang pembantu ibu dulu, Almida sudah ada sejak Bela memintanya pada Yoga.
"Aku pusing bu, kenapa suamiku selalu melarangku melakukan ini itu. Padahalkan hamil tua itu harus banyak bergerak, dokter juga mengatakan itu." kata Bela mengutarakan kekesalan hatinya pada Almida.
"Sabar saja nona, tuan Yoga mungkin sangat ingin anaknya baik-baik saja. Tapi sejauh kandungan nona baik-baik saja, itu tidak masalah kok. Ibu lihat nona santai saja dengan larangan yang di berikan oleh tuan Yoga pada nona." kata bu Almida.
"Ya, tapi aku juga kadang ingin bebas jalan sendiri." kata Bela.
"Dengan perut besar itu, nona akan kesusahan pergi sendirian. Apa lagi di negara orang." kata bu Almida.
"Aku sudah hafal di negara ini, dia sering mengenalkanku di setiap kotanya." kata Bela lagi.
"Tapi itu dengan tuan Yoga, nona sendirian jalan pasti di kira orang hilang."
"Ish, bu Almida ini."
"Hahah!"
Saat mereka berbincang, muncul Yoga dengan langkah pelan. Dia melihat istrinya begitu senang mengobrol dengan bekas pembantu mamanya dulu, dia tersenyum senang.
Bela dan ibu Almida menoleh ke arah Yoga, perempuan berusia empat puluh delapan itu bangkit dari duduknya. Membungkuk sejenak lalu dia pun pergi meninggalkan sepasang suami istri di kamar itu. Tugasnya memang menemani Bela di kala dirinya pergi bekerja.
"Dia tidak rewel di dalam sini?" tanya Yoga memegangi perut istrinya.
"Tidak, bahkan dia anteng di dalam sini. Mungkin tahu mamanya kelelahan." jawab Bela.
"Makanya kamu jangan sering jalan-jalan, dia protes. Kamu jadi kelelahan." ucap Yoga.
"Aku kelelahan karena hampir setiap malam kamu minta jatah, makanya aku lelah. Jalan-jalan di larang, tapi masih saja minta jatah. Itu sama saja membuat aku kelelahan." ucap Bela.
Yoga diam saja, dia tidak membantah. Dia kini duduk di sofa, menarik pelan tubuh Bela yang sudah membesar itu.
"Aku tidak bisa tidak bercinta sayang."
"Kalau begitu, bagaimana nanti jika aku sudah melahirkan?" tanya Bela.
"Aku akan menyewa wanita-wanita panggilan." jawab Yoga dengan santai.
"Yoga!"
Bela kesal sekali, kenapa suaminya jadi seperti itu. Dia menatap Yoga tajam, lalu hendak beranjak bangun. Tapi di hentikan oleh suaminya untuk duduk kembali.
"Duduklah."
"Apa sih?!"
"Kamu pikir juniorku akan bangun jika bercinta bukan denganmu? Aku tidak bisa." kata Yoga.
"Apa sih? Kenapa begitu?" tanya Bela heran.
__ADS_1
"Ya, jika kamu melahirkan nanti. Juniorku akan puasa, mungkin dia tahu kalau sarangnya akan pensiun sementara. Tapi aku tidak akan membiarkan berlama-lama sarang juniorku pensiun. Aku akan meminta obat yang lebih mujarab agar kamu cepat selesai." kata Yoga.
"Ooh, My God. Apakah hanya itu yang kamu pikirkan?" tanya Bela malas sekali meladeni suaminya.
Entah kenapa Yoga begitu mesum dengannya, dia berusaha melepas cengkraman tangab suaminya. Tapi Yoga tahu istrinya ingin lepas darinya, dia sendiri ingin bercumbu sebelum anaknya itu lahir nanti.
_
Hari di mana waktunya di tunggu, Bela pun melahirkan anak laki-laki. Yoga sangat bahagia ketika anaknya lahir dengan selamat, dia benar-benar terharu melihat bayi merah di depannya.
"Oh Tuhan, dia anakku. Pewarisku yang aku tunggu." ucap Yoga beberapa kali takjub dengan anak laki-laki di dalam boks bayi.
"Bayinya harus di beri asi ya tuan, anda boleh mendampingi istrinya di dalam untuk memberi asi." kata suster yang menangani anaknya.
"Ya suster." kata Yoga.
Dia mengikuti kemana suster pergi, ruang rawat inap Bela sangat mewah. Ruang VVIP khusus untuk istrinya di rumah sakit megah dan terkenal bagus perawatan serta alat medisnya.
_
Alvaro Antonio Bautista. Nama anak laki-laki pewaris tunggal Yoga, dia sangat bangga dengan anaknya yang di lahirkan oleh istrinya Bela. Nama Antonio Yoga sematkan di nama anaknya untuk mengenang laki-laki yang telah memberinya banyak sekali kekayaan dan mengajarkannya banyak kemampuan.
Anak yang di tunggu itu kini berkembang baik dan sehat. Bela dan Yoga selalu menjaga dan mengasuhnya secara bersama.
"Dia anakku." kata Yoga dengan bangganya ketika anak laki-laki berlari kecil di ruangan besar itu.
Banyak para pelayan yang merasa senang di mansion Yoga itu. Dengan hadirnya anak laki-laki sang pewaris tunggal milik bos meraka, Yoga Pradana.
"Dady dady!" teriak anak kecil itu mendekati papanya.
"Mommy ..."
"Iya sayang."
"Sudah selesai semua sayang?" tanya Yoga.
"Sudah, ini di bantu sama bu Almida jadi cepat beres. Barang milik Alvaro banyak banget deh, jadinya lama." kata Bela.
"Seharusnya jangan banyak-banyak, nanti di pesawat juga sudah di sediakan sama pelayan di sana." kata Yoga.
"Ngga apa-apa, ini juga sudah di kurangi. Tapi tetap saja masih ada yang perlu di bawa, boneka chuky juga di bawa. Nanti dia mencari dan nangis di kapal kan repot." kata Bela lagi.
Yoga diam saja, dia melihat istrinya menarik napas panjang setelah membereskan barang yang akan di bawa besok untuk liburan.
"Aku tidak tahu kenapa dia suka sekali boneka chuky. Apakah dia akan jadi laki-laki yang jahat?" tanya Bela.
"Jangan kaitkan itu, anakku harus jadi laki-laki tangguh dan tak terkalahkan." kata Yoga.
"Tapi aku aneh aja, kenapa dia minta di belikan boneka chuky?"
"Sudahlah, jangan pikirkan itu. Itu namanya dia ingin mengeksplor dunianya sayang."
__ADS_1
"Tapi boneka chuky itu seram, aku saja tidak berani lama-lama menatap matanya. Seakan hidup, dia seperti punya dendam." kata Bela lagi.
"Kamu terbawa dengan film yang kamu tonton."
Bela diam, dia menatap boneka chuky lagi yang matanya melotot dan mulutnya tertawa menyeramkan. Boneka itu sedang di mainkan oleh anaknya dengan di angkat ke atas lalu di lempar kemudian di tendang.
Membuat Bela merinding sendiri dengan mata boneka chuky itu yang selalu menatap ke arahnya. Dia pun berbalik, tidak mau melihat lagi. Lalu pergi meninggalkan anak dan suaminya yang sedang bermain di kamar Alvaro.
_
Genap usia lima tahun, Bela kembali melahirkan anak perempuan cantik. Dia sangat senang akhirnya mempunyai anak perempuan yang bisa menemaninya dan bisa di ajak bersenang-senang. Ka
Karena Alvaro selalu menempel pada papanya, Bela pun merasa senang melahirkan kembali anak perempuan.
"Jadi pewarisnya bukan satu ya." ucap Bela.
"Kenapa kamu sayang?" tanya Yoga.
"Tidak, aku senang memiliki anak perempuan. Dia yang akan menemaniku setiap saat, Alvaro selalu kamu bawa pergi." kata Bela memberi asi pada bayi perempuannya itu.
"Hahah, jadi kamu cemburu?"
"Tentu saja, aku yang melahirkan. Tapi dia lebih dekat denganmu di banding aku." kata Bela.
"Dia anak yang baik, dia selalu ingat padamu. Meski dia ikut denganku, tapi Alvaro selalu mengingatkanku akan dirimu sayang." kata Yoga.
Bela diam, dia menatap suaminya lalu tersenyum. Memang meskipun Alvaro sering di bawa kemana pun Yoga pergi, selalu saja ingat akan dirinya. Dia lalu meletakkan anaknya yang selesai minum asi.
Dia mendekat pada suaminya, mereka melangkah menuju balkon. Menatap langit gelap di malam hari, menunggu esok.
"Beberapa tahun ini aku berpikir, apakah akan selamanya hidup bahagia denganmu." kata Bela.
"Kenapa kamu berpikir begitu?" tanya Yoga.
"Karena duniamu itu, Yoga. Aku hanya takut ketika kamu pergi keluar dan bertemu dengan musuh-musuhmu, kamu terluka parah dan entahlah apakah akan bisa bertahan hidup. Aku takut sekali, tapi kini aku percaya bahwa kamu selalu melindungiku dan menjagaku. Tidak akan pernah mati lebih dulu, terima kasih untuk semuanya." kata Bela.
Yoga memegang lengan istrinya, menatapnya lembut. Tahun berganti tahun, sikapnya berubah jadi lebih tenang bicara atau menatap istrinya. Lebih menunjukkan rasa cintanya di banding sikap posesif dan kekuasaannya.
"Jangan berkata seperti itu, selama aku masih bernapas. Aku akan menjadi pelindungmu, Alvaro dan Ghea Luciana. Kalian adalah nyawaku selamanya." kata Yoga.
Bela tersenyum, dia mencium pipi suaminya. Lalu duduk di kursi panjang, suaminya juga. Mereka duduk sambil mendekap, menatap langit gelap. Tidak segelap kehidupannya yang sekarang, kegelapan masa lalu yang telah terlewati bersama.
Masih banyak yang harus Yoga kerjakan, menghadapi banyak musuh yang bermunculan dan menyiapkan pewarisnya ke depan sebagai mafia tangguh dan tak terkalahkan. Alvaro Antonio Bautista dan Ghea Luciana Gunawan. Dua pewaris Yoga Pradana yang sudah di siapkan kelak akan menjadi pemimpin yang tangguh dan di takuti serta berwibawa.
>>>>>>>>>>>>>>>>> the end <<<<<<<<<<<<<<<<<
_
\=\=>> terima kasih yang sudah setia baca novel receh othor, semoga para pembaca budiman selalu sehat dan di beri rejeki yang melimpah. Amiin..😊😊😍
\=\=>> boleh cek novel othor lainnya ya..😉😁
__ADS_1
_
*******