Takdir Menantu Terbuang

Takdir Menantu Terbuang
44. Tentang Bela


__ADS_3

Bela dan Yoga menaiki mobil untuk menemui pembantu Marni dan alfiansyah dulu. Pasangan suami istri yang dulu jadi pembantu mama dan papanya Bela sebenarnya.


Bela ingin datang sendiri, tapi Yoga. Melarangnya, dia di antar oleh suaminya dan kini mereka datang bersama.


Yoga menoleh pada istrinya lalu tersenyum, tangannya masih sibuk memainkan ipad untuk mengecek pekerjaan di perusahaannya di Italia.


"Kamu kenapa jadi muram begitu sayang?" tanya Yoga.


"Aku hanya bingung. Sejak bayi tidak pernah bertemu dengan orang tua kandungku, apa benar aku bukan anaknya papa Arman dan mama Belinda?" tanya Bela matanya memandang ke depan.


"Kamu tanyakan saja nanti pada pembantu papa mamamu dulu, dia banyak tahu tentang mamamu. Dia juga sebelumnya di cari oleh Arman, berniat membunuhnya. Tapi gagal karena identitasnya di palsukan dan tempatnya tersembunyi." kata Yoga.


"Kenapa kamu bisa tahu?" tanya Bela menoleh pada suaminya.


"Kenapa ya? Mungkin aku memang di takdirkan untuk tahu semua, berpikir dari sebuah penghinaan padaku. Maka aku banyak mencari tahu siapa sebenarnya kakek Gunawan itu. Ternyata banyak fakta yang tidak terungkap." kata Yoga.


Bela diam, perjalanan menuju rumah pembantu Alfian dan Marni dulu memang begitu jauh. Perjalanan mereka membutuhkan banyak waktu. Yoga mengantar istrinya di mobil sambil bekerja jarak jauh.


Karena Mark ada di Indonesia, dia menagih janji Arman. Penyediaan produksi yang di tawarkan Arman padanya, kini menagihnya. Hanya butuh dua bulan, uang sudah di berikan dengan ratusan miliar pada Arman. Bahkan satu triliun lebih Yoga gelontorkan untuk kerja sama bisnis dengan Arman.


Kini saatnya Mark menagih janjinya, makanya Yoga sedang mengamati bursa saham di Indonesia. Dia juga bekerja sama dengan salah satu pengusaha di Indonesia untuk membeli saham milik Arman.


Mobil memasuki wilayah perkampungan, Bela mengerutkan dahinya. Ternyata memang tempatnya sangat jauh dan di luar ibu kota, menaiki perbukitan di sana.


"Kenapa tempatnya jauh sekali?" tanya Bela.


"Karena untuk menghindari kejaran anak buah Arman pada saat itu. Dan mamamu juga yang memberikan alamat itu untuk persembunyian papamu sewaktu di kejar juga. Sayangnya papamu di bunuh dengan alibi kecelakaan dan mobilnya meledak." kata Yoga lagi.


Bela diam, sangat mengerikan sekali membayangkan jika dulu papa dan mamanya di bunuh oleh Arman.

__ADS_1


"Kenapa kakek tidak tahu jika papa dan mama meninggal karena di bunuh?" tanya Bela.


"Aku tidak tahu, menurut pembantu mamamu itu sebelum kakekmu kembali ke Indonesia. Arman sudah merencanakan semuanya, dari mulai membunuh kedua orang tuamu sampai mengambilmu jadi anaknya. Berharap kamulah yang akan memiliki segala warisan papamu juga." kata Yoga lagi.


"Tapi waktu itu kakek juga memberikan semua perusahaannya pada papa, termasuk yang di Swiss juga. Entah perusahaan yang di Swiss itu jadi berpindah tangan pada orang lain. Dan sekarang tinggal yang di kota itu." kata Bela.


"Itulah keserakahan Arman, termasuk Belinda juga. Kamu tahu, dulu Belinda itu pecandu judi. Mungkin uangnya buat judi Belinda." kata Yoga lagi.


"Tapi aku tidak tahu itu, memang pernah mama mengajakku ke sebuah kasino beberapa kali. Dia main juga di sana dan tempatnya juga tersembunyi. Hanya saat itu aku pergi kesana dengan mama." kata Bela mengingat dulu betapa dia di manjakan Belinda, tetapi sesungguhnya itu agar Bela tidak macam-macam dan menurut saja padanya.


"Ya, dan sejak perusahaan di Swiss di ambil alih oleh orang sana juga. Jadi kekayaan Arman pun berkurang, dia juga ada beberapa anak buah untuk menjalankan bisnis gelap." kata Yoga.


Bela diam, mobil pun memasuki perkampungan yang asri dan suasananya sepi ketika malam hari. Sinyal telepon pun terkadang masuk kadang juga tidak.


Yoga menyambung jaringan luar negeri, dia mempunyai akses tersendiri agar bisa memantau semua pergerakan perusahaannya dan bisa menghubungi Mark dan Jeffry.


_


Yoga masih di luar, dia mencari sinyal dan bicara dengan Jeffry. Sedangkan Bela menunggu penghuni rumah sederhana itu muncul lagi.


Tak berapa lama, perempuan berusia enam puluh dua tahun itu keluar dengan membawa nampan berisi dua gelas. Dia meletakkan gelas tersebut, senyumnya mengembang menatap Bela dengan sangat teduh.


"Silakan di minum nona, adanya air putih saja." kata perempuan itu.


"Terima kasih bu." ucap Bela.


Dia mengambil gelas tersebut, menenggaknya karena memang dia sangat haus. Perempuan tua itu menatap keluar di mana Yoga sedang menghubungi seseorang, lalu menatap Bela lagi.


"Nona sangat cantik, persis dengan mama nona." kata perempuan itu.

__ADS_1


Tentu saja membuat Bela kaget, dia menatap perempuan tua itu dan mendekat padanya.


"Apa benar ibu adalah pembantu mamaku sewaktu masih hidup?" tanya Bela.


"Perlu ibu tunjukkan album foto nyonya Marni dan tuan Alfian?" tanya perempuan itu bernama Almida.


"Iya bu, saya mau lihat semuanya. Apa pun yang ibu punya, saya ingin lihat dan ingin tahu. Aku ingin memastikan semuanya kalau memang papa Arman dan mama Belinda bukanlah kedua orang tua kandungku " kata Bela dengan bersemangat.


"Tunggu sebentar nona, saya ambilkan." kata ibu Almida.


Bela mengangguk cepat, ibu Almida pun masuk ke dalam kamarnya mengambil apa yang selama ini dia jaga dan rahasiakan dari siapa pun untuk menjaga semua bukti-bukti itu. Yang kelak nantinya anaknya akan mencarinya suatu saat nanti.


Kini saatnya Bela mencarinya, jadi ibu Almida pun akan memberikan semuanya. Agar dia tidak punya beban lagi menjaga sebuah rahasia penting itu yang memang di amanatkan oleh suami istri yang sengaja di bunuh oleh Arman.


Ibu Almida pun keluar lagi dengan membawa kotak besar. Kotak itu terkunci, sejak dia memberitahu pada Yoga dulu tentang siapa kedua orang tua Bela sebenarnya dan siapa yang membunuhnya.


"Ini nona, masih tersimpan rapi. Hanya dulu pernah tuan Yoga datang menyalin dan meminta sebagian dokumen penting, katanya untuk bukti-bukti menunjukkan pada anak tuan Alfian dan nyonya Marni." kata ibu Almida.


Bela menatap kotak itu, dia kemudian menerima kotak beserta kuncinya. Tangannya sedikit gemetar, tapi kemudian dia membukanya juga. Dan terbukalah kotak yang sudah banyak debunya itu.


Dia mengambil beberapa dokumen dan juga dua album foto. Bela mengambil album foto usang sampulnya, beberapa ada foto-foto pasangan pengantin dan juga perempuan yang sedang hamil.


Album kedua ternyata berbeda isinya, beberapa ada perempuan hamil, dan satu foto sepasang suami istri. Dan di beberapa lembar ada foto-foto bayi yang baru lahir, hanya ada sepuluh lembar foto bayi.


Di sana tertulis nama lengkap bayi tersebut, dengan tanggal lahirnya juga. Namanya memang Bela, tapi bukan Bela Salsabila.


"Arabela Salsabila Alfiansyah?"


_

__ADS_1


_


************


__ADS_2