
Memilik sang pewaris bagi kerajaan bisnisnya, Yoga gencar sekali untuk memiliki anak dari Bela. Setiap malam bahkan dia selalu meminta jatahnya di samping memang keinginannya untuk kesenangan dan rasa cinta pada Bela, dia juga menginginkan Bela hamil anaknya.
Terkadang Bela kesal sekali, ketika sedang tidur nyenyak dia harus bangun karena terusik dengan tingkah Yoga yang selalu meminta padanya. Namun begitu, dia tidak pernah menolaknya.
Seperti malam ini, selesai melakukan percintaan. Mereka mengobrol di balkon hanya dengan memakai bathrop saja, duduk menatap langit gelap dari jendela balkon.
"Kamu mengganggu tidurku, aku ingin istirahat Yoga." kata Bela.
Yoga memeluk istrinya di pangkuannya. Mencium beberapa kali di pipi dan lehernya.
"Aku menginginkan pewaris sayang, sebelum kamu di nyatakan hamil. Aku akan meminta jatahku lebih banyak lagi." kata Yoga.
"Memangnya kamu tidak bosan setiap hari melakukannya?" tanya Bela.
"Tidak. Bahkan itu sangat menyenangkan, membuang rasa penatku setelah seharian bekerja. Kenapa? Apa kamu sendiri yang bosan?" Yoga balik bertanya.
"Tidak. Hanya saja kamu tidak tahu waktu, aku juga butuh istirahat dan tidur. Kenapa kamu selalu membangunkan aku untuk melayanimu." kata Bela lagi.
"Aku sudah bilang, aku ingin pewaris yang kamu lahirkan untukku. Selama dokter belum menyatakan kamu hamil, aku akan melakukannya setiap malam. Bila perlu setiap waktu." kata Yoga dengan entengnya.
"Yoga! Kamu itu keterlaluan!" ucap Bela kesal.
"Jangan marah, aku memang seperti itu. Kamu harus memahaminya." kata Yoga.
"Tapi dulu kamu tidak seperti sekarang ini, kenapa kamu jadi lebih posesif dan pemaksa?"
__ADS_1
"Hahah! Aku di didik oleh ayah angkatku agar jadi laki-laki yang tangguh dan tak terkalahkan. Dan jadi laki-laki yang sangat menyayangi istrinya." kata Yoga lagi, hidungnya mengendus di bagian leher Bela.
"Terserah kamulah, aku mau tidur." kata Bela.
"Hei, bagaimana dengan pewarisku?" tanya Yoga.
"Lagi on the way, aku mau tidur!"
Bela beranjak bangun dari dekapan suaminya. Dia benar-benar mengantuk, dia juga mengingatkan suaminya agar tidak mengganggunya malam ini. Cukup satu kali dia melakulannya, dan mau tidak mau Yoga pun mengalah. Meski dia ingin sekali mengobrol masalah pewarisnya nanti.
"Aku akan mendapatkan pewarisku secepatnya, bila perlu dokter harus mengusahakannya secepatnya." kata Yoga.
Dia pun menyusul istrinya untuk tidur, tidak di pungkiri dia juga sangat lelah setelah bolak balik Italia-Jerman untuk membuka bisnis baru di negara beridirnya sejarah tembok Berlin itu.
_
"Dia juga bisa memeriksa kandungan sayang, jangan remehkan dokter pribadiku." kata Yoga.
"Aku bukan meremehkan dokter pribadimu, kalau periksa di dokter kandungan di rumah sakit. Aku akan tahu apakah benar aku hamil, karena nanti di sana di periksa dengan alat juga. Aku ingin lihat secara langsung." kata Bela.
Perdebatan kecil itu akhirnya di menangkan oleh Bela, Yoga diam saja. Agak kesal juga sarannya memanggil dokter pribadinya di tolak istrinya, tapi membenarkan apa yang di katakan Bela. Jika periksa di rumah sakit ada alat khusus untuk memeriksa kandungan.
"Baiklah, terserah kamu. Lagi pula kamu memang hamil anakku, dari alat tes kehamilan juga sudah terlihat dua garis." kata Yoga.
"Makanya, ngga perlu doktermu itu. Aku perlu dokter kandungan yang memeriksa langsung dengan alatnya." kata Bela.
__ADS_1
Dia sudah selesai berdandan, ada tidak rela di hati Yoga. Tapi kali ini dia membebaskan istrinya melakukan apa saja. Jiwa pemaksanya sedikit luluh dengan kabar bahwa istrinya hamil.
"Kamu mau mengantarkan aku ke dokter kandungan?" tanya Bela.
"Tentu saja, aku ingin tahu anakku itu sehat atau tidak." kata Yoga.
"Aku sehat, tentu saja anakku juga sehat. Kamu selalu menjagaku dan menahanku di kamar, aku tentu sehat." kata Bela menyindir suaminya.
Yoga menatap datar istrinya, dia pun mendekat lalu menarik pinggang Bela. Menatap tajam padanya, membuat Bela sedikit takut telah menyinggung suaminya.
"Karena kamu berharga, jadi kamu harus aku jaga dengan baik. Kamu milikku, tidak boleh ada yang menyukaimu selain aku." kata Yoga.
Bela membola matanya, lalu dia berusaha melepas pelukan suaminya yang kuat itu. Yoga hanya tersenyum miring, dia mencium pipi istrinya lalu melepas pelukannya.
"Ayo aku antar ke rumah sakit sesuai keinginanmu sayang." kata Yoga.
Bela tersenyum, lalu dia mengangguk. Mereka pun keluar dari kamarnya, di luar sudah menunggu anak buah Yoga yang akan mengawal suami istri itu.
Awalnya Bela risih juga, tapi karena sekarang dia tahu kalau suaminya itu adalah seorang mafia dan banyak musuhnya. Jadi dia lebih berhati-hati dan membiarkan pengawal mengikutinya.
Bahkan Yoga menyiapkan dua pengawal perempuan untuk istrinya jika dia ingin pergi jalan-jalan tanpa dirinya.
_
_
__ADS_1
*********