
Setelah lama Arman mencari tahu siapa kelompok mafia yang telah menghancurkan perusahaan Alvin, kini Arman sudah mengetahui siapa dia.
Dia pun berusaha untuk melobi staf di perusahaan yang sedang di pegang oleh Mark. Yoga dan Mark sudah tahu apa tujuan Arman mencari kelompok mafianya itu dalam rangka apa.
Dia mau bernegosiasi dengan kelompok itu, apa lagi punya perusahaan besar. Dia sangat antusias untuk bertemu dengan Mark Chris, asisten Yoga itu.
Arman berjalan memasuki lobi kantor Mark itu, dari cctv terlihat dia mendekati resepsionis dan bertanya padanya. Mark tampak tersenyum sinis melihat cctv yang ada di laptopnya.
"Jadi dia mencariku?" ucap Mark.
Dia menunggu sambungan telepon dari sekretarisnya, pasti akan tersambung padanya. Beberapa menit dia menunggu. Lalu berbunyi telepon di meja.
Kriiing.
"Ya, Valerie?"
"Ada seseorang dari Indonesia ingin bertemu anda tuan Mark. Apa anda mau menerimanya?" tanya sekretaris Mark itu.
"Siapa dia?"
"Katanya tuan Arman, dia pemilik perusahaan penyediaan bahan mentah body mobil. Apa anda ingin menerimanya?" tanya Valerie lagi.
"Buat janji saja, cari waktu kosong untuk pertemuan itu." kata Mark.
"Baik tuan, tuan Arman baru datang kemari dan ada di reseprionis."
"Ya, aku tahu. Buat saja janjinya."
"Baik tuan."
Klik!
Mark menatap kembali, dia melihat petugas resepsionis itu menerima telepon dari sekretarisnya. Lalu bicara pada Arman, tampak wajah Arman tersenyum senang kalau dia akan di terima bahkan membuat janji akan bertemu dengan Mark.
"Hahah! Kita lihat, apakah dia akan membujukku dengan benar. Pasti tuan Yoga akan senang sekali mendengar berita ini." kata Mark.
Dia lalu mengambil ponselnya. Menghubungi Yoga yang masih berada di Indonesia.
Tuuut.
"Halo Mark, ada kabar apa?" tanya Yoga di seberang sana.
"Anda pasti senang tuan, mertua anda sudah menemukan kantor kita. Dan dia ingin bertemu dengan saya." jawab Mark.
"Oh, begitukah? Kamu cecar dia apa yang dia inginkan. Aku rasa dia ingin bekerja sama, benar-benar laki-laki penjilat. Baiklah, aku tunggu kabar darimu masalah ini. Jika dia membuat kesepakatan di luar perkiraan, kamu ubah strateginya. Buat dia seperti Alvin, dan hancurkan juga perusahaannya." kata Yoga.
"Baik tuan, sesuai perintah anda. Saya akan buat dia terkejut." kata Mark.
__ADS_1
"Oke, aku masih menyelidiki Chen Xio. Dia sepertinya mendapat bantuan dari gangster di negaranya, tapi tidak masalah. Aku masih bisa mengatasi dia, tapi siapkan saja anak buah untuk menyambut gangster yang sudah mulai datang ke negaraku." kata Yoga.
"Baik tuan, saya akan perintahkan dua puluh anak buah datang kesana untuk membantu anda."
"Ya, hanya berjaga-jaga. Karena di sini sudah beberapa orang preman untuk di rekrut jadi anak buahku, mereka di siapkan untuk menyambut mereka yang membantu Chen Xio."
"Oh ya, bagaimana dengan laki-laki itu tuan? Maksud saya, kekasih istri anda. Apa dia sudah jadi seorang gelandangan?"
"Sebentar lagi dia jadi gelandangan, bersamaan dengan Arman. Kamu lakukan saja apa maunya dia, tentunya atur strategi yang bagus dan cerdik."
"Oke tuan. Saya mengerti."
Klik!
Mark menutup sambungan telepon dengan Yoga, dia pun segera melanjutkan pekerjaannya yang sempat terhenti.
_
Arman menunggu bos pemilik perushaan besar yang di kelola oleh Mark. Dia di persilakan duduk di sofa, dia di sambut dengan ramah oleh sekretaris Mark.
"Kapan tuan Mark datang nona Valerie?" tanya Arman membaca nama di dada Valerie.
"Mungkin sebentar lagi tuan Arman, biasanya tuan Mark itu sangat sibuk. Tapi beliau akan menyempatkan bertemu dengan anda, itu suatu kehormatan bagi anda tuan Arman." kata Valerie.
"Oh ya? Sesibuk apa tuan Mark itu?" tanya Arman.
"Karena banyak yang beliau tangani. Jadi semua harus di tanganinya, di kantor itu jarang sekali datang. Beruntunglah anda nanti bisa bertemu dengannya." kata Valerie lagi.
Valerie hanya tersenyum melihat Arman begitu senang akan bertemu dengan bosnya. Dia berpikir, jika tahu pemilik asli perusahaan itu. Tentu akan sangat terkejut sekali laki-laki di depannya itu.
"Saya tinggal dulu tuan Arman." kata Valerie.
"Ya, nona Valerie."
Perempuan tinggi langsing nan cantik itu berdiri. Dia tersenyum pada Arman, melangkah keluar meninggalkannya sendirian dalam ruangan Mark tersebut.
Arman senang Valerie pergi, dia pun berdiri dan berjalan-jalan mengitari ruangan besar itu. Dia sangat penasaran dengan semua interior dan juga perabot di kantor Mark itu.
Meski tidak banyak, perabot itu di tata dengan baik dan penuh estetik. Arman takjub dengan suasana kantor Mark itu. Dia tidak sadar dalam ruangan itu ada kamera cctv yang menyorot ke segala penjuru.
Di luar sana, Mark sebenarnya sudah datang di gendung kantornya. Dia melihat layar cctv yang menyambungkan ruangan kantornya, memperhatikan tingkah Arman dalam ruangannya tanpa pengawasan sekretarisnya.
"Hemm, dia berani juga membuka beberapa berkas dan dokumen di lemari kantor. Apa yang dia cari?" ucap Mark melihat dari cctv di ruang pengendali gedung.
Dia masih mempeehatikan Arman, tapi kemudian dia memerintahkan Valerie untuk masuk ke ruangannya. Dia takut Arman akan menemukan dokumen milik Yoga, belum saatnya Arman tahu siapa Yoga itu.
Mark pun keluar dari ruang pengendali cctv itu. Berjalan cepat menuju lift. Dia harus cepat-cepat menemui Arman dan menanyakan maskud kedatangannya ke kantornya.
__ADS_1
Dia masuk ke dalam lift khusus agar lebih cepat dan memang tidak sembarang karyawan menggunakan lift tersebut, sesampainya di lantai di mana ruang kantornya berada. Mark berjalan cepat, dia mengatur napasnya agar tidak terlihat ingin bertemu dengan Arman.
Ceklek!
Dia masuk ke dalam ruangannya, di sana terlihat Arman duduk di sofa. Di temani Valerie yang dia suruh untuk menjaga tangan Arman mrngambil berkas dan data Yoga.
Arman bangkit dari duduknya, dia melihat wajah Mark yang datar menatapnya juga. Arman tersenyum, dia menghampiri Mark dan menyodorkan tangannya. Laki-laki dingin itu pun diam, seperti menyelidiki siapa Arman.
"Maaf tuan Mark, beliau ini tuan Arman yang dua hari lalu membuat janji bertemu dengan anda." kata Valerie pada Mark.
"Ooh, anda ingin bertemu dengan saya? Ada apa?" tanya Mark.
"Maaf tuan Mark, saya lancang datang ke kantor anda. Tapi, apakah anda tidak mengenali saya sebelumnya?" tanya Arman.
"Setiap hari saya banyak bertemu orang dari berbagai kota dan wilayah. Bahkan negara lain, jadi tidak ada untungnya saya mengingat anda tuan ..."
"Arman, tuan Mark. Tidak masalah anda tidak mengenali saya lagi, tapi saya tahu anda dan pernah bertemu dengan anda sewaktu bekerja sama dengan perusahaan di Indonesia. Kebetulan saya ada di kantor klien saya itu ketika anda datang kesana." kata Arman.
"Hemm, aku tidak mengingatnya. Bahkan kemarin tiga kali saya bertemu dengan klien berasal dari negara anda tuan Arman." kata Mark lagi.
"Hahah, ya ya. Anda sangat sibuk, maaf kalau saya mengganggu anda. Dan saya sangat beruntung bisa bertemu dengan anda, tuan Mark. Orang tersibuk di Italia." kata Arman lagi.
"Aku tidak punya banyak waktu, jika ada yang penting. Katakan saja pada saya sekarang juga tuan Arman." kata Mark memotong kalimat basa basi Arman.
"Oh ya, sebenarnya saya ingin mengajak kerja sama dengan anda tuan Mark. Dengan perusahaan anda yang besar ini, dan tentu saja saya dan anda akan mendatangkan keuntungan dari kerja sama itu nantinya." kata Arman.
"Oh ya? Apa perusahaan anda mampu untuk memberi keuntungan pada perusahaanku?" tanya Mark.
"Pasti tuan Mark, karena jika kerja sama itu jadi. Maka, akan saya beri keuntungan lebih tuan."
"Keuntungan lebih? Apa itu?"
"Hahah, saya tidak bisa menjawabnya sekarang tuan Mark. Karena jika kerja sama itu jadi, maka keuntungan kedua akan saya beritahu langsung." kata Arman.
"Heh, sesungguhnya saya tidak tertarik dengan keuntungan apa pun dan sebesar apa pun dari anda tuan Arman. Tapi karena saya penasaran bentuk keuntungan kedua itu, maka saya akan pikirkan. Nanti saya menghubungi anda melalui sekretaris saya." kata Mark seakan tidak butuh dengan tawaran Arman itu.
"Itu artinya anda menolaknya?"
"Tidak, saya akan pikirkan dulu. Baru setelah itu kita bicarakan semuanya." kata Mark.
Dia berjalan menuju kursi kerjanya, mengambil berkas di mejanya dan membukanya. Arman menarik napas kasar, dia kesal juga di abaikan oleh Mark. Tapi kemudian dia mendekat pada Mark di mejanya.
"Baiklah tuan Mark, saya akan tunggu telepon anda. Dan anda boleh menghubungi saya ke nomor itu." kata Arman meletakkan kartu nama di meja kerja Mark.
Dia pun berpamitan kemudian keluar dari ruang kantor Mark. Mark tersenyum sinis, di letakkannya kartu nama itu di laci meja kerjanya.
_
__ADS_1
_
********************