
"Halo, kamu sudah di kamar?" tanya Yoga dalam sambungan teleponnya.
"Ya tuan, ada apa?"
"Aku tadi di serang oleh dua orang yang menyerang dalam lift. Mereka menyamar san sengaja menungguku di dalam lift, untung sudah aku lumpuhkan." kata Yoga.
"Anda di serang? Di mana tuan? Kenapa tidak ada gerakan yang mencurigakan di hotel ini." kata Jeffry.
"Mungkin mereka sudah tahu, dan punya teman di dalam hotel juga. Cari tahu siapa meraka dan atas suruhan siapa mereka menyerangku di dalam lift." kata Yoga lagi.
"Baik tuan, segera saya laksanakan."
"Hemm, kamu suruh saja anak buahmu. Kamu bisa cari tahu malam ini juga, aku yakin mereka sepertinya bertindak satu-satu. Dan dua orang tadi menyerangku sudah aku lumpuhkan."
"Iya tuan, saya akan mencari tahu mereka secepatnya. Malam ini juga aku akan dapatkan identitas mereka itu."
"Bawakan kotak obat dan perban ke kamarku. Tanganku tergores sama belati mereka."
"Baik tuan."
Klik!
Yoga menutup sambungan teleponnya, tangannya masih mengalirkan darah segar. Tapi sudah dia tutupi dengan lap yang tadi di bawa claening servis untuk menutupi luka goresan belati.
Dia masuk ke dalam kamarnya, melihat istrinya sudah tidur sangat lelap setelah mereka selesai bercinta. Yoga pun masuk ke dalam kamar mandi, melepas ikatan kain lap tadi di tangannya.
Melepas bajunya juga yang terkena percikan darahnya. Di basuhnya lengannya hingga darahnya sudah bersih, hanya rembesan sedikit. Setelah selesai, dia keluar lagi. Berganti baju dan celananya, menunggu Jeffry masuk ke dalam kamarnya.
Tak berapa lama, pintu di ketuk, Yoga pun melangkah mendekat, membuka pintu. Tampak Jeffry begitu cemas melihat tangannya yang masih belum di obati.
"Tuan, bagaimana dengan lukanya?" tanya Jeffry.
"Belum di obati, kamu bawakan obatnya?" tanya Yoga.
"Iya tuan, saya bawa kotak obat. Apakah lukanya terlalu dalam?" tanya Jeffry meneliti lengan yang sobek karena sabetan belati itu.
"Lumayan, tapi tidak sampai mengiris otot lenganku. Kalau tidak, bisa cacat aku begini." kata Yoga.
Mereka duduk di sofa, Jeffry belum menyadari kalau di kamar ada Bela yang masih tidur tanpa busana. Hanya berselimukan coverbed saja. Yoga teringat, dia menatap istrinya yang menggeliat hampir menyibakkan selimut dan menampakkan sebagian tubuhnya.
__ADS_1
Yoga kaget, dia menarik Jeffry agar berbalik.
"Pindah dudukmu!" ucap Yoga cepat.
"Kenapa tuan?" tanya Jeffry menatap Yoga lalu beralih ke arah ranjang.
"Tutup matamu Jefrry!" teriak Yoga dengan kencang dan berjalan cepat menuju ranjang.
Jeffry pun sadar, dia menutup matanya, Yoga segera menuju ranjang dan merapikan selimut yang tadi tersibak dan menampilkan tubuh Bela yang polos. Yoga menatapnya dengan menelan ludahnya, lalu dia segera menutupnya kembali.
Jeffry sendiri merasa deg-degan karena dia melihat sekilas. Tenggorokannya juga tercekat, tapi dia pun menunduk. Merasa bersalah karena melihat sebagian tubuh Bela, jika tidak segera Yoga menutupnya
"Jangan lagi kamu memandang istriku lebih dari lima menit. Kamu akan tahu apa yang aku lakukan!" ucap Yoga dengan dinginnya.
"Iya tuan, saya tidak berani." kata Jeffry.
"Bagus. Sekarang cepat obati lukaku dan segera keluar dari kamarku, aku menyesal kenapa tidak di lobi saja kamu datang mengobatiku." kata Yoga lagi.
Dia tampak kesal sekali kenapa juga dia menyuruh Jeffry datang ke kamarnya. Dia menatap tajam pada anak buahnya yang setia itu, lalu mendengus kasar.
Jeffry hanya tersenyum tipis. Sejak dia mengenal Yoga. Baru kali ini dia melihat bosnya itu posesif pada seorang perempuan, apa lagi itu istrinya. Tapi wajar saja dia posesif, karena memang Bela cantik meski dia ketus.
"Sudah selesai tuan. Apakah ada lagi yang anda butuhkan?" tanya Jeffry.
"Baik tuan."
_
Sementara itu, di tempat lain. Alvin begitu gelisah menunggu kabar dari anak buahnya yang dia suruh untuk menyerang Yoga di hotelnya.
Sebelum kedatangan Yoga di rumah Arman, dia mendapat informasi kalau Yoga juga datang berbarengan dengan Bela. Jadi, dia berpura-pura datang setelah Bela sudah ada di rumah.
Padahal memang hampir setiap hari dia datang ke rumah Arman. Ada saja yang dia bicarakan, mengenai alasan dia bangkrut perusahaannya dan juga kepergiannya ke Jepang.
Tapi dia tidak membicarakan tentang temannya yang menjadi kelompok Yakuza. Kelompok yang di takuti di negara Jepang sana, Alvin kebetulan pergi ke Jepang untuk menghindar dari anak buab Yoga yang selalu mengejarnya.
Maka dia pun lari ke Jepang, sedangkan Chen Xio pergi ke negaranya di Tiongkok. Kabar yang dia tahu Chen Xio juga bergabung dengan gangster di sana.
Alvin berniat mempertemukan kelompok Yakuza dan gangster dengan koneksi dari Chen Xio.
__ADS_1
"Kemana mereka, apa mereka berhasil membunuh laki-laki pecundang itu?" ucapnya.
Beberapa kali dia menelepon, tapi tidak jawab. Bahkan ponselnya mati, dia juga khawatir jika dua anak buahnya yang masuk ke dalam hotel itu di tangkap dan di mintai keterangan.
"Lebih baik mereka terbunuh dari pada dia di tangkap dan memberikan informasi tentangku." ucap Alvin.
Dia mondar mandir terus di ruang kerjanya. Ponselnya berdering, dengan cepat dia mengambil ponsel dan mengangkat sambungan telepon.
"Halo? Apa kamu sudah membereskannya?" tanya Alvin mengira itu dari anak buahnya yang dia suruh menyerang Yoga di hotel.
"Alvin, ini om Arman. Kamu sedang merencanakan apa?" tanya Arman.
"Oh, om Arman. Aku kira anak buahku om, aku menyuruh anak buahku menyerang laki-laki pecundang itu. Tapi belum ada kabarnya sejak tadi." kata Alvin.
"Besok om pengen ketemu denganmu, membicarakan penyerangan pada laki-laki sialan itu." kata Arman.
"Apa yang om rencanakan?" tanya Alvin penasaran.
"Besok saja om bicarakan, tidak bisa menjelaskan panjang lebar di telepon. Om punya rencana sangat bagus sekali, tentunya dengan bantuanmu juga Alvin." kata Arman.
Alvin diam, dia sebenarnya sudah merencanakan menyerang Yoga. Tapi sekarang belum ada kabar, jika pun gagal dia akan merencanakan hal yang lain lagi. Dia akan melibatkan teman satu kelompoknya dengan Yakuza itu.
Jika memang harus ada peperangan dengan Yoga, maka dia akan bersiap dan mempertaruhkan nyawanya untuk mendapatkan Bela dan tanda tangannya di bank Swiss. Untuk memgambil uang yang berjumlah sangat besar itu.
"Bagaimana Alvin? Kamu setuju?" tanya Arman.
"Bisa om, saya juga butuh istirahat saat ini."
"Baiklah, kamu bisa datang ke kantor perusahaanku. Aku juga tidak mau bisnisku hancur karena lak-laki itu." kata Arman.
"Iya om, aku sarankan om harus berhati-hati. Dalam sejekap dia bisa menghancurkan bisnis om, karena dia banyak koneksi di negeri ini dan juga banyak rekan bisnisnya." kata Alvin mengingatkan Arman.
"Ya, om tahu. Berkaca dari kamu, om akan berhati-hati."
"Iya om."
Klik!
_
__ADS_1
_
***********