
Yoga bergerak cepat, dia memantau dari jauh kegiatan apa pun yang di lakukan oleh Alvin. Dia juga menempatkan satu orang di perusahaan Alvin untuk mengawasi semua produksi dan kegiatan di sana.
Sedangkan Alvin sudah bekerja sama dengan beberapa perusahaan tambang yang mengelola bahan mentah pembuatan bodi mesin mobil. Kesepakatan pun di buat, tetapi Yoga sudah membeli dengan harga lebih besar hasil tambang dari pada Alvin.
Alvin pun terkejut ketika perusahaan tambang itu membatalkan kerja samanya dengan perusahaan untuk pengiriman bahan mentah padanya. Dia sangat marah sekali.
"Pa, bagaimana ini. Perusahaan tambang yang sudah aku ajak kerja sama itu membatalkan kerja samanya dengan kita." kata Alvin dengan pikiran kacau.
Dia mondar-mandir di ruang kantornya. Pak Sasmita pun ikut diam, dia memikirkan bagaimana caranya agar dapat hasil tambang bahan mentah itu untuk di kirim ke perusahaan yang di pegang oleh Mark.
"Pa, bagaimana ini. Kenapa perusahaan tambang membatalkan kerja samanya dengan kita?" tanya Alvin penuh kegelisahan.
"Tenanglah Alvin, kita bisa cari lagi perusahaan tambang yang ada di bagian timur. Atau kita beli dari perusahaan tambang ilegal, kita bisa membelinya dengan harga murah. Kalau dia tidak mau, maka kita bisa ancam akan melaporkannya pada petugas BUMN karena dia melakukan tambang secara ilegal." kata Sasmita.
"Tapi masalahnya, sudah beberapa perusahaan aku datangi. Mereka juga dapat tawaran lebih tinggi di banding aku pa, apa kita naikkan saja harga di atas perusahaan asing itu?" tanya Alvin.
"Berapa mereka menjualnya dari perusahaan asing itu?" tanya Sasmita lagi.
"Tujuh kali lipat dari harga yang kita tawarkan, apakah kita bisa menyaingi perusahaan itu?"
"Waah, itu terlalu besar. Modal kita sebagian besar dari investor mr. Mark. Nanti bagaimana keuntungan buat kita?"
Alvin berpikir, benar apa yang di katakan oleh papanya. Jalan satu-satunya dia harus memutar otak mencari perusahaan tambang ilegal seperti saran papanya.
"Baiklah pa, aku akan terbang ke bagian timur untuk mencari tambang bahan mentah itu." kata Alvin.
"Lebih baik begitu, papa akan bantu kamu juga mencari perusahaan itu."
Keduanya diam memikirkan kemana akan mencari bahan mentah secepatnya, karena waktunya sebentar lagi. Satu bulan lagi perusahaan milik Mark akan menagih barang yang dia minta pada Alvin, karena sudah ada modal awal yang di berikan pada Alvin.
Jadi, dia harus segera mengirim barangnya ke Italia. Alvin pun segera mencari dari situs tidak resmi yang terpasang melalui internet ilegal. Di sana ada banyak perusahaan dan perdagangan ilegal. Alvin mencari perusahaan tersebut yang memang tidak bisa sembarang melihatnya.
Tiba-tiba telepon di mejanya berdering, pak Sasmita sudah pergi lebih dulu. Alvin masih sibuk dengan pencarian situs ilegal itu untuk mencari perusahaan tambang, karena di situs itu banyak sekali penjual ilegal dari berbagai macam benda dan barang serta perusahaan besar lainnya yang tidak di deteksi oleh pemerintah.
Tuuut.
Masih berbunyi, Alvin pun mengangkat teleponnya.
"Halo, ada apa Maya?" tanya Alvin.
"Ada sambungan telepon dari Italia pak Alvin."
"Dari Italia? Siapa?" tanya Alvin heran.
"Mr. Mark."
"Mr. Mark? Dia menelepon langsung kesini?"
"Iya pak Alvin, apa anda akan menerimanya?"
Alvin diam, dia sudah mengira kalau itu mr. Mark akan menagih janjinya.
"Pak Alvin?"
"Oke, sambungkan ke line teleponku."
__ADS_1
"Baik pak Alvin."
Tuuut.
Alvin tidak langsung mengangkat sambungan telepon itu, dia diam memikirkan bagaimana bicara dengan Mark mengenai bahan yang belum juga di kirimkannya.
Tuuut.
"Halo, mr. Mark."
"Halo mr. Alvin. Apa kabar anda?"
"Aku baik mr. Mark."
"Saya tidak mau basa basi lagi, kapan anda akan mengirim barangnya pada kami?" tanya Mark di seberang sana.
"Maaf atas keterlambatan saya mr. Mark. Tapi ini belum ada waktunya pengiriman barangnya, jadi jika ada keterlambatan berarti mungkin di bagian pengiriman." kata Alvin beralasan.
"Oh ya? Saya sudah mengecek di bagian pengiriman barang, ternyata belum satupun barang yang anda kirim ke kargo kami." kata Mark.
Alvin kaget, ternyata Mark lebih pintar dari dirinya.
"Begini mr. Mark, memang kami belum mengirimnya. Tapi saya janji dalam waktu dekat akan kami kirim dengan ekspedisi tercepat. Anda jangan khawatir mr. Mark." kata Alvin.
"Hemm, saya sudah memberikan modal pada anda sebelumnya. Tapi barangnya belum di kirim juga, baikalh. Saya tunggu dalam satu minggu, jika barangnya belum juga sampai atau kualitas bahan tidak sesuai dengan kesepakatan. Maka, saya akan meminta ganti rugi." kata Mark.
"Hahah, tentu saja mr. Mark. Saya akan usahakan itu, anda jangan khawatir.
"Baiklah, saya tunggu mr. Alvin."
Alvin meletakkan gagang teleponnya kembali, dia memijat pelipisnya karena bingung harus bagaimana. Dalam minggu ini harus di kirim barangnya.
_
Satu minggu sudah terlewat, Alvin masih bingung untuk mencari kemana lagi bahan mentah yang di minta oleh Mark itu. Kemarin Mark juga menghubungi lagi agar dalam dua hari belum juga ada kepastian, maka kerja sama mereka pun batal. Mark meminta ganti rugi dari Alvin.
Tok tok tok.
Suara pintu di ketuk dari luar, Alvin mendongak. Tampak pintu terbuka, Maya yang masuk ke dalam ruangannya.
"Ada apa Maya?" tanya Alvin tampak kurang bergairah.
"Ada tamu untuk anda pak Alvin." jawab Maya.
"Tamu siapa? Apa mr. Mark?"
"Bukan, dia dari Tiongkok."
"Dari Tiongkok? Siapa? Aku tidak pernah mengajal kerja sama dengan pengusaha Tiongkok." ucap Alvin heran dan tampak berpikir.
"Apa dia boleh masuk?"
"Ya sudah, suruh masuk saja."
"Baik pak Alvin."
__ADS_1
Maya pun kembali keluar, dia menyuruh orang yang datang ke kantor Alvin. Tak lama masuk laki-laki bertubuh tidak terlalu tinggi dan agak tua, bermata sipit tapi kulitnya terlihat menghitam.
Dia masuk dan langsung duduk di hadapan Alvin. Alvin sendiri tidak tahu siapa dia, dia mengingat tak satu pun ingatannya akan orang di hadapannya itu. Lagi pula, laki-laki itu sepertinya terlalu berani masuk ke dalam kantornya tanpa seizin dirinya atau membuat janji.
"Anda siapa tuan?" tanya Alvin penasaran sekaligus heran.
"Hemm, saya orang yang akan membantumu menyelesaikan segala masalahmu." kata laki-laki bermata sipit itu.
"Kamu tahu masalahku? Dari mana anda tahu saya dan tentang masalah saya." kata Alvin tersenyum sinis.
"Perkenalkan, nama saya Chen Xio dari Tiongkok. Mafia kelas kakap di negaraku sendiri, ingin menawarkan kerja sama dengan anda tuan Alvin." kata Chen Xio.
"Oh ya? Anda seorang mafia?" tanya Alvin tidak percaya.
"Ya, kalau kamu tidak percaya. Kamu bisa tanyakan pada Yoga, sainganmu." kata Chen Xio.
"Waah, masalah apa lagi ini. Kenapa anda menyebut nama Yoga. Yoga yang mana? Apa dia seorang mafia juga dari negara ini?"
"Ya, dia juga seorang mafia. Dan sedang berusaha menghancurkan perusahaanmu." kata Chen Xio.
"Tapi, Yoga yang mana? Aku tidak tahu, yang aku tahu Yoga itu adalah suami sampah dari pacarku, Bela." kata Alvin.
Chen Xio tertawa keras, dia menatap remeh pada Alvin. Laki-laki itu heran kenapa laki-laki sipit bernama Chen Xio itu tertawa ketika menyebut Yoga sebagai suami sampah kekasihnya.
"Kamu mau tahu cerita kebenarannya tuan Alvin?" tanya Chen Xio.
"Kebenaran apa?" tanya Alvin semakin tidak mengerti.
"Kebenaran seorang mafia Yoga, suami sampah dari kekasihmu itu." kata Chen Xio menatap tajam pada Alvin.
Alvin terpaku, dia juga menatap Chen Xio tidak percaya akan ucapan laki-laki itu. Tapi dia penasaran dengan Yoga, laki-laki yang membuatnya kesal karena tidak mau menceraikan Bela kekasihnya itu.
"Bagaimana tuan Alvin? Apa anda mau bekerja sama denganku?" tanyq Chen Xio.
"Kerja sama apa?" tanya Alvin.
"Menghancurkan Yoga, bisnisnya juga dan melenyapkannya. Kita bisa lakukan secara perlahan dulu." kata Chen Xio.
"Kenapa anda ingin bekerja sama dengan saya tuan Chen? Apa anda punya dendam pada Yoga?"
"Hahah! Saya mengajak tuan Alvin karena kita mempunyai tujuan yang sama. Ingin membalas dendam pada laki-laki itu. Bagaimana? Bukankah lebih baik punya sekutu dari pada .elawab sendirian?" kata Chen Xio.
Alvin tampak berpikir, meski dia awalnya menganggap remeh Yoga. Tapi sepertinya dia harus menerima tawaran Chen Xio untuk melawan Yoga.
"Baiklaha tuan Chen, saya bersedia bekerja sama dengan anda." kata Alvin dengan pasti.
"Bagus, itu yang saya suka. Meski kita baru mengenal, tapi sepertinya untuk kerja sama melawan musuh yang sama itu sangat tepat." kata Chen Xio.
Alvin tersenyum senang, dia setuju dengan ucapan Chen Xio. Dia akan memanfaatkan kerja sama itu untuk melawan Yoga, sekaligus membantunya dalam penyediaan bahan mentah untuk pengiriman ke Italia.
_
_
*******************
__ADS_1