Takdir Menantu Terbuang

Takdir Menantu Terbuang
39. Memanas


__ADS_3

"Selamat malam om." sapa seorang laki-laki tiba-tiba berdiri.


Mereka pun menoleh pada laki-laki itu, senyumnya mengembang. Arman pun tersenyum, dia mengajak Alvin, laki-laki yang tadi menyapanya.


"Hai Bela." sapa Alvin.


Bela diam saja, tidak ada mimik wajah senang atau pun gembira. Tatapan datar justru di tujukan Bela pada Alvin, Belinda menarik tangan Bela untuk masuk ke dalam rumah. Mereka membawa Bela dan Alvin duduk di ruang tengah.


"Kalian harus bicara, papa dan mama pikir sejak putusnya kalian itu harus kembali lagi seperti dulu." kata Belinda.


"Ma, aku masih punya suami. Yoga belum menceraikanku, lagi pula aku juga tidak mau selingkuh dengan laki-laki pecundang seperti dia." kata Bela ketus.


"Bela!" teriak Arman.


Alvin yang tadinya diam kini mengepalkan tangannya, dia menatap tajam pada Bela. Jika bukan tujuannya untuk membawa Bela, dia sudah menampar pipi gadis itu. Atau bahkan mengikatnya.


"Om, sudahlah. Biarkan Bela seperti itu, dia hanya kesal saja waktu itu aku pergi tanpa pamit. Jadi, aku maklumi dia meremehkanku." kata Alvin menatap datar pada Bela.


"Tapi Vin, itu sangat kurang ajar sekali. Kamu jangan khawatir, om akan bantu kamu agar Bela mau pacaran lagi sama kamu. Bila perlu om akan paksa dia untuk menceraikan laki-laki itu dan menikah denganmu." kata Arman.


"Papa!" teriak Bela.


Dia marah sekali dengan Arman yang memutuskan sendiri. Dia pun berjalan masuk, ingin pergi ke kamarnya. Bela terhenti, dia terpaku mendengar suara langkah kaki mendekat ke arah di mana semua berkumpul.


Tapi suara langkah kaki berjalan pasti menuju ruangan itu. Seorang laki-laki tinggi tegap, memakai jas dan celana hitam. Dia berhenti tepat di belakang Belinda, menatap dingin satu persatu semua yang hadir.


Terakhir pada perempuan yang sejak tadi gelisah menunggunya. Bela pun menatapnya dan tersenyum, dia tidak lega akhirnya datang juga.


"Selamat malam semuanya." sapa Yoga berdiri tegak tapi santai.


Belinda menoleh, Arman dan Alvin pun menoleh ke arah Yoga. Mereka terkejut dengan hadirnya laki-laki yang selama ini mereka remehkan. Tapi Alvin mendengus kasar, dia menatap tajam pada Yoga dan tatapannya pun tepat bersitatap dengan Yoga.


"Apa kalian menungguku datang?" tanya Yoga masoh dengan wajah dinginnya.

__ADS_1


"Yoga." gumam Bela.


Dia mendekat pada suaminya, tapi di tarik kasar oleh Belinda. Belinda terkejut melihat penampilan Yoga yang berbeda dari biasanya, tampak sekali penampilannya seperti seorang laki-laki maskulin dan gagah.


Belinda menelan ludahnya, dia terpaku dan terpesona dengan suami Bela itu.


"Apa mama kaget dengan penampilanku?" tanya Yoga.


"Heh, dari mana kamu mendapatkan baju mahal seperti itu?" tanya Belinda yang terkejut dia hampir terpesona dengan menantunya.


"Selamat malam Alvin." sapa Yoga pada laki-laki yang sudah dia hancurkan bisnisnya tanpa menyentuh langsung.


"Jangan basa basi! Kenapa kamu datang kemari?!" tanya Alvin, dia masih memerankan jadi laki-laki perebut istri Yoga.


"Aku mau menjemput istriku." jawab Yoga.


"Istrimu? Bahkan om Arman saja tidak merestuimu. Sebaiknya kamu pulang saja sana!" ucap Alvin.


"Oh ya, kamu itu orang asing di rumah ini. Istriku menganggapmu pecundang, kamu pergi tanpa meninggalkan jejak sama sekali, aku beruntung sekali mendapatkan hak dari istriku yang memuaskan. Jadi memang dia di takdirkan untukku." kata Yoga dengan sinis.


Sedangkan Belinda tidak mengerti apa yang di ucapkan oleh Yoga.


"Apa maksudmu?!"


"Aku mendapatkan istriku masih perawan, beruntung sekali aku mendapatkannya. Kamu laki-laki pecundang yang bodoh!" ucap Yoga lagi.


Tangan Alvin mengepal, dia menatap tajam pada Yoga. Sedangkan Arman tidak mengerti dengan ucapan Yoga tersebut. Sejak kapan Bela berhubungan dengan laki-laki itu, bukankah sewaktu di Italia Bela dia serahkan pada seorang mafia dan pengusaha kaya.


Arman terus berpikir, dia menatap tajam pada Yoga. Memahami apa yang sedang di tunjukkan oleh Yoga di depan mereka, dia pun mendekat padanya.


"Kamu ...."


"Kenapa pa? Apa papa mengingat sesuatu?" tanya Yoga tenang.

__ADS_1


"Tidak mungkin!" teriak Arman.


"Mungkin saja, dan Bela itu istriku. Apa papa mau main-main denganku?" tanya Yoga menatap balik pada Arman dengan tajam.


"Sejak kapan kamu berubah seperti ini?!" tanya Arman naik pitam.


"Sejak papa membuangku, papa lupa?" tanya Yoga.


"Yoga!" teriak Belinda.


Dia mendekat pada Yoga dan bersiap menampar menantunya karena kesal telah meledek dan berkata kasar pada suaminya. Tapi tangannya justru menyisir pipi lain, pipi Bela pun memerah.


Dia menghalangi tangan Bela menampar suaminya. Semuanya terkejut, baik Arman, Belinda, Alvin dan juga Yoga sendiri.


Terlebih Yoga melihat cap tangan di pipi istrinya, dia pun menatap tajam pada Belinda. Dia pun hendak membalas menampar Belinda, tapi tangannya di halangi oleh istrinya.


"Sudahlah, jangan membalasnya." kata Bela.


"Dia menamparmu sayang. Aku tidak terima!" ucap Yoga.


"Biarkan saja, aku yang akan memberi mereka pelajaran nanti. Asal kamu membantuku nanti." ucap Bela pelan.


Belinda tidak percaya dengan adegan di depannya itu, apa lagi Alvin dan Arman. Mereka naik pitam, Alvin yang berharap akan mendapatkan Bela. Tapi ternyata gadis itu sekarang lebih dekat dengan musuhnya.


"Adegan apa ini, sebaiknya kamu masuk ke dalam kamarmu Bela!" ucap Belinda dengan nada lantang.


"Aku akan masuk ke dalam kamarku." kata Bela.


Bela pun melangkah pergi, Yoga menatap kepergian istrinya masuk ke dalam kamarnya. Dia ingin menyusul, tapi belum selesai urusannya dengan Arman dan Alvin.


_


_

__ADS_1


*************


__ADS_2