Takdir Menantu Terbuang

Takdir Menantu Terbuang
27. Kesepakatan


__ADS_3

Bela pulang ke hotel di mana dia menginap. Rasa kesal dan juga penasaran kenapa Yoga ada di negara yang sama. Juga rasa keheranannya kenapa bisa Yoga ada di hotel mewah dan menaiki mobil limosin mewah.


"Apa dia punya teman yang menyewakan hotel untuknya? Mobil itu?" gumam Bela setelah dia sampai di kamarnya.


Dia merebahkan tubuhnya di ranjang, menatap sekeliling kamar di mana dia menginap. Membayangkan kembali kamar milik Yoga, sangat nyaman dan terlihat mewah. Dalam hatinya, dia ingin kamar yang seperti itu.


Tapi papanya hanya memberinya kamar VIP saja, itu pun mahal katanya. Karena mereka berada di Italia butuh beberapa hari, yang terpenting jalan-jalan dan belanja bisa terlaksana. Dan juga perjanjian kerja sama dengan perusahaan Mark pun berhasil.


Waktu terus berjalan, malam semakin larut. Kota Roma yang sibuk meski malam hari karena banyak sekali kegiatan malam di klub malam atau kasino yang ada di berbagai tempat di kota itu. Bukan hanya kota sejarah dan juga peradaban, tapi di balik semua itu ada kehidupan lain di malam hari.


Seperti saat ini, Yoga kembali ke rumahnya. Di mana para anak buahnya berkumpul untuk di veri tugas baru, ada yang mengawasi Belinda dan Bela selama mereka ada di Italia.


"Jadi, awasi dua perempuan itu. Salah satunya itu adalah istriku, dia belum tahu siapa aku sebenarnya. Jaga semua tempat agar tidak mengenal diriku, apa lagi papanya. Mereka belum saatnya tahu siapa aku." kata Yoga.


"Kapan anda akan membongkar identitas anda tuan Yoga?" tanya Javier yang dulu di tugaskan untuk menghancurkan bisnis Alvin.


"Tunggu dulu setelah dia sudah hancur, aku akan menaklukkan istriku. Baru semuanya bisa di bongkar, karen saat ini Arman sudah berada dalam genggamanku." kata Yoga lagi.


"Jadi, dia sangat senang bisa bekerja sama dengan anda tuan?" tanya Steve yang dia pulang kembali ke Italia.


"Ya, sebentar lagi dia akan menyerahkan anaknya padaku. Demi keserakahannya, dia akan mengorbankan anaknya untuk di umpankan pada kita." kata Yoga lagi.


Semuanya diam, memang tujuan Yoga adalah menghancurkan Arman. Saat ini sebentar lagi dia akan membuat kesepakatan, tetapi membiarkan Arman menikmati kegembiraannya.


Nanti pada saatnya, dia akan muncul dan menghancurkannya dengan tanpa ampun. Dia ingat dengan pesan kakek Gunawan dulu, karena semuanya berawal dari laki-laki tua yang kini sudah tidak ada.


_


Arman sudah berada di kantor perusahaan Mark yang bergerak di bidang barang tambang, tertama bahan untuk pembuatan body mobil dan juga mesinnya. Pasokan bahan mentah aluminium dia terima dari India dan Norwegia. Sedangkan dari Indonesia hanya berskala kecil saja, itu pun tidak banyak yang dia ambil.


Sekarang Arman sedang menawarkan barang mentah tersebut, dia mencari keberuntungan membuat kesepakatan dengan perusahaan Yoga yang di kelola oleh Mark.


Kini, dengan bangganya Arman akan bekerja sama dengan perusahaan besar itu. Dia akan melakukan apa saja untuk mewujudkan keinginan dan obsesinya itu.


"Mari tuan Arman, anda bisa masuk ke dalam ruangan tuan Mark." kata Valerie.


"Terima kasih nona Valerie." ucap Arman.


Dia pun masuk, melangkah dengan pasti menuju kursi yang sudah di siapkan oleh Mark. Mereka akan melakukan zoom dengan sang bos pemilik perusahaan itu.

__ADS_1


Mark tersenyum, dia pun mendekat pada Arman dan duduk di depannya.


"Anda sepertinya yakin dengan pertemuan ini akan menghasilkan kesepakatan tuan Arman." kata Mark.


"Hahah, percaya diri itu perlu tuan Mark. Karena itu adalah modal saya selama menjalankan bisnis apa pun dan selalu berhasil." kata Arman.


Mark tersenyum miring, dia lalu membuka laptopnya dan mengarahkan pada layar di depan agar bisa zoom dengan jelas. Arman memperhatikan apa yang di lakukan oleh Mark itu.


"Tuan Arman, sesuai dengan ucapan saya yang dulum anda menawarkan kerja sama. Produk yang kami inginkan itu dalam parta besar, bukan sekedar penyediaan sepuluh persen atau dua puluh persen dari kebutuhaan kami setiap harinya. Anda mengingat itu kan, tuan Arman." kata Mark.


"Ya tuan Mark, tapi dulu anda bilang untuk mempertimbangkan semuanya. Saya bisa menyediakan barang paling besar dua puluh persen dari persediaan barang yang ada, karena itu juga sudah maksimal." kata Arman.


"Begitu ya? Padahal perusahaan kami membutuhkan lebih banyak lagi, bahkan ada beberapa negara menawarkan di atas nilanya dari anda tuan Arman. Tapi kami menolaknya, yang kami butuhkan adalah berskala besar di atas enam puluh persen. Tapi karena saya sudah berdiskusi dengan bos saya, maka tawaran anda di pertimbangkan dengan syarat dan ketentuan yang di ajukan oleh bos saya." kata Mark.


"Iya tuan, silakan saja. Syarat apa yang akan anda ajukan pada saya, saya akan memenuhinya." kata Arman.


"Baiklah, saya akan hubungkan anda dengan bos saya melalui zoom. Kita rapat secara online." kata Mark.


Mark pun membuka laptop dan segera menyalakan zoom yang di hubungkan pada layar tv LED di tembok. Dalam layar itu tampak laki-laki dengan penampilan jas lengkap warna hitam. Berkacamata hitam dan memakai topi koboi.


Tak tampak wajahnya dengan jelas, dia duduk dari samping debgan kursi yang berputarnya. Arman tampak memicingkan matanya, dia seperti mengingat seseorang. Tapi entah siapa, Mark tampak melihat dengan datar pada Arman.


"Tuan Arman, anda bisa bernegosiasi dengan bos saya itu." kata Mark.


"Ya, apa anda meragukan kalau dia adalah bos saya?" tanya Mark.


"Bukan begitu tuan, tapi kelihatan dari postur tubuhnya bukan orang Italia."


"Memang, tuan saya itu berasal dari negara yang jauh."


"Ooh, begitu."


"Ya, silakan anda membuat kesepatakan dengan tuan saya. Jika tuan saya menyetujuinya, maka perjanjian di setujui." kata Mark.


"Baiklah."


Arman pun menyiapkan berkas yang dia bawa dari kantornya. Dia pun kembali mempresentasekan apa yang dia miliki dan juga meyakinkan Yoga dalam meeting tersebut. Dia berharap agar Yoga mau menyetujui kesepakatan itu. Setelah selesai, kini tinggal menunggu keputusan Yoga.


"Bagaimana tuan, apakah pengajuan saya di terima?" tanya Arman.

__ADS_1


"Itu terlalu sedikit. Saya tidak bisa mencari pasokan yang lain, yang saya butuhkan dalam jumlah besar. Apa anda mau mencarikan, setidaknya tujuh puluh persen kebutuhan perusahaan saya. Apa anda bisa memenuhinya?"


"Tapi, bukankah tuan Mark dulu pernah mempertimbangkan dengan pengajuan saya tuan?"


"Oh ya? Mark?"


"Maaf tuan, waktu itu tuan Arman menawarkan sesuatu. Dia menawarkan bonus, tuan." kata Mark.


"Bonus? Bonus apa?" tanya Yoga.


Arman diam, dia melirik pada Mark. Dan Mark memberi isyarat mengatakan bonus yang pernah dia tawarkan padanya.


"Begini tuan, saya mempunyai putri cantik. Saya jamin dia sangat baik dan bisa membuat anda terpuaskan. Anda bisa menjadikannya sebagai pendamping anda atau teman kencan anda." kata Arman.


Yoga diam, dia mengepalkan kedua tangannya di depan wajahnya. Menempelkan di hidungnya, melirik sekilas pada Arman lalu menatap ke depan. Arman berharap bos yang di dalam layar itu menyetujui usulannya itu.


"Kamu menjual putrimu pada saya?" tanya Yoga.


"Tidak menjualnya tuan, hanya sebagai teman kencan. Itu lebih baik." kata Arman lagi.


"Hahah! Berarti kamu tidak keberatan jika putrimu kujadikan pel*cur?" tanya Yoga lagi.


"Tidak tuan, bukan itu maksud saya."


"Sama saja, kamu menjual putrimu padaku dan aku bebas menjadikan apa pun putrimu olehku." kata Yoga lagi.


Arman diam, dia berpikir untuk menawar harga yang lebih tinggi pada Yoga.


"Jika begitu, anda bisa melakukan apa saja. Tapi putri saya itu sudah di jamin yang paling baik, jika setuju saya mau menawarkan harga lebih tinggi pada anda." kata Arman penuh kepercayaan diri.


"Hahah!"


Suara tawa Yoga menggegar di ruangannya, hingga sampai pada telinga Arman. Dia yakin bos dari Mark itu setuju. Mark sendiri hanya tersenyum sinis dengan Arman yang begitu tega menawarkan putrinya pada laki-laki dalam layar itu yang tak lain adalah Yoga.


"Apa anda setuju tuan?"


"Bawalah putrimu menemuiku."


_

__ADS_1


_


******************


__ADS_2