
Seperti biasa, Yoga bangun lebih pagi dari istrinya. Tapi kali ini dia tidak menunggui Bela bangun tidur, hingga ketika Bela bangun dia tidak melihat Yoga duduk sambil minum kopi dan menatapnya dengan santainya.
Bela pun mencari ke segala penjuru kamar, ternyata memang tidak ada siapa pun. Bahkan di kamar mandi tidak ada suara seseorang mandi.
"Apa dia sudah berangkat lebih dulu?" ucap Bela.
Tubuhnya masih lemas, dia benar-benar di hajar oleh Yoga dengan penuh gairah. Tanpa memberi kesempatan Bela untuk berhenti, mengingat itu dia kesal sekali pasa suaminya Yoga.
"Hemm, tadi malam dia mengatakan akan memberikan berkas fakta yang sebenarnya. Mana dia, belum memberikannya. Bahkan dia pergi lebih dulu, huh. Dia berarti bohong padaku." ucap Bela.
Dia beringsut untuk turun dari ranjang dan segera mandi. Tapi pintu kamar di ketuk dari luar, dia mengurungkan niatnya dan segera berbaring kembali sambil menutupi tubuhnya hingga leher.
Tampak pintu terbuka, dia melihat dua pelayan membawa sarapannya dan juga satu lagi membawa map tebal. Mereka mendekati Bela yang masih berada di peraduan sambil menutup tubuhnya hingga leher.
"Sarapan anda mau di letakkan di mana nona?" tanya pelayan satu membawa nampan.
"Di balkon saja, setelah mandi aku sarapan di sana." kata Bela.
"Baik nona." kata pelayan itu.
Pelayan itu membawa nampan menuju balkon, dia meletakkannya di meja. Sedangkan satu pelayan membawa map tebal itu masih berdiri di depan Bela.
"Kamu bawa apa?" tanya Bela.
"Ini yang di minta nona, tuan Yoga menyuruh saya untuk memberikannya pada anda nona." kata pelayan itu.
Bela ingin mengambil map tebal itu, tangan satunya menyodorkan pada pelayan itu. Sedangkan tangan satunya menutupi bagian dadanya dengan selimut.
"Kalian boleh pergi, saya mau mandi dulu." kata Bela.
"Baik nona."
Keduanya pun pergi meninggalkan Bela, mereka keluar dari kamar Bela. Sedangkan Bela masih menatap map tebal itu, dia membuka satu persatu. Banyak sekali berkas tulisan, dan ada juga sebuah CD yang bisa di putar pada CD room laptop.
Bela melihat ada laptop di meja, dia akan membukanya nanti. Beberapa dia membaca berkas itu, tapi belum ada hal yang membuatnya percaya kalau Arman bukanlah papanya.
Tapi ada setumpuk foto dalam berkas itu, masih tertutup. Perlu di buka lebih dulu, tapi perut Bela tiba-tiba merasa lapar. Dia pun melipat selimutnya untuk menutupi tubuhnya yang polos lalu beranjak menuju balkon untuk makan sarapannya lebih dulu.
__ADS_1
Ada jus jeruk dan juga roti sandwich, serta potongan buah persik. Bela mengambil buah persik dan memakannya. Ponselnya tiba-tiba berbunyi, dia mengambilnya dan melihat nama Yoga menelepon dengan video call.
"Kenapa dia melakukan video call?" ucap Bela masih mengunyah buah persiknya.
Tapi kemudian dia menjawab sambungan video call Yoga.
"Halo sayang, kamu sudah bangun?" tanya Yoga di seberang sana.
Mata Bela membola, dia malas menjawab pertanyaan suaminya itu. Tangan satunya masih menutupi dadanya dengan selimut.
"Ada apa kamu meneleponku?" tanya Bela dengan malas.
"Kamu belum mandi? Waah, ternyata stempel dariku masih jelas terlihat ya. Ck ck ck, aku suka sekali membuat stempel di tubuhmu. Hahah!" kata Yoga dengan tawa senangnya.
"Kalau tidak ada yang penting, lebih baik aku tutup teleponnya! Buang-buang waktu saja!" ucap Bela ketus.
"Hahah! Baiklah sayang, kamu sepertinya mau aku buat ukiran batik ya di tubuhmu."
"Yoga!"
"Ya, dan apa itu. Tidak ada yang mencurigakan."
"Bacalah dengan teliti sayang, lagi pula ada rekaman dan juga foto-foto lengkap. Kamu buka semuanya ya, nanti malam aku pulang." kata Yoga.
"Huh, aku tidak menunggumu pulang!"
"Kamu akan butuh penjelasanku, baiklah. Aku harus kerja lagi, tunggu aku pulang malam ini. Hahah!"
Klik!
Bela langsung menutup sambungan video call dengan Yoga, dia kesal sekali dengan laki-laki itu. Mengambil buah persik lagi dan menyuapinya, Bela pun segera pergi ke kamar mandi untuk mandi lebih dulu. Sebelum membuka map tebal yang ada di atas kasurnya.
_
Bela membuka-buka map tebal. Ada beberapa berkas yang dia ambil lalu di baca, beberapa salinan laporan dari rumah sakit. Di mana kakeknya pak Gunawan di rawat, ada riwayat tentang penyakit dan juga kematiannya juga.
Beberapa resep obat yang di berikan di sana sangat lengkap sekali di tulis. Bela sampai takjub, semua laporan itu ada di sana. Sampai nama dokter yang menanganinya juga para perawatnya.
__ADS_1
Tetapi, di sana tidak di temukan kejanggalan apa pun. Tapi kemudian, Bala mengambil sebuah plastik hitam. Dia membuka pengikatnya lalu mengambil beberapa foto. Ada foto yang buram karena memang itu sudah sangat lama sekali, tetapi ada juga yang jelas.
Foto-foto hasil tangkapan kamera cctv itu terlihat jelas dari berbagai posisi. Tampak di sana laki-laki yang Bela kenal tengah berjalan. Berbagai foto saling tersambung hingga sampai di kamar rumah sakit.
Terlihat laki-laki itu duduk di depan ruang ICU, dia menoleh ke kanan dan ke kiri. Bela menggelengkan kepalanya, dia kurang yakin. Akhirnya dia pun membuka laptop dan mengambil CD dan di masukkan dalam CD room laptop itu.
Di cari file dalam CD, dan tampak laki-laki berjalan menuju ruang ICU sesuai foto yang tadi dia lihat.
"Apakah papa sampai tega melakukan itu?" gumam Bela.
Dia terus memperhatikan apa yang di lakukan oleh laki-laki dalam rekaman video. Setelah tampak sepi dan petugas jaga di ruang ICU itu keluar, laki-laki tadi masuk dan menghampiri seorang laki-laki tua.
Dia menatap laki-laki tua, entah dari raut wajahnya tidak jelas terlihat karena memakai topi. Tapi kemudian laki-laki melangkah menarik selang infus dan juga selang oksigen.
Bela kaget, benar sekali ternyata laki-laki bertopi itu memang Arman. Papanya yang selama ini dia anggap, ternyata benar adanya kalau dialah pembunuh kakeknya.
Bela menutup mulutnya yang menganga, dia tidak percaya dengan apa yang di lakukan Arman pada kakeknya itu.
"Jadi benar kakek di bunuh oleh papa?" ucap Bela dengan air mata mengalir.
Dia tidak meneruskan melihat video rekaman itu, tapi dia kembali penasaran. Dia pun memutar lagi, setelah suara mesin detak jantung sudah bergaris merah. Lama Arman menunggu di sana, beberapa menit selang-selang tadi di pasang kembali. Arman pun keluar, dia pergi begitu saja dengan tenang.
Sedangkan dia tampak melihat ada laki-laki masuk ke dalam kamar ICU itu. Dan itu adalah Yoga, suaminya.
"Jadi, dia benar melihat papa menarik selang oksigen itu?" ucap Bela lagi.
Dia menangis, kecewa dengan apa yang telah dia lihat itu. Tangannya menyentuh berkas, di mana ada keterangan tentang surat lahir Bela dengan nama yang berbeda ketika di akta lahir Bela.
Dia membaca surat lahir dari bidan waktu itu, nama Bela Salsabila dengan nama kedua orang tuanya juga berbeda.
"Marni Andriani dan Alfiansyah?"
_
_
************
__ADS_1