Takdir Menantu Terbuang

Takdir Menantu Terbuang
24. Mas Kawin Sepuluh Ribu


__ADS_3

Yoga pulang ke rumah kontrakannya, kakek Gunawan menyuruhnya datang lagi ke rumahnya lusa untuk membicarakan masalah pernikahan dengan Bela.


Yoga sendiri merasa kakek Gunawan itu cuma bercanda. Karena setiap ucapannya selalu bercanda, jadi dia mengabaikan ucapan kakek Gunawan untuk datang lagi ke rumahnya.


Yoga, laki-laki itu sempat berpikir ingin mencari pekerjaan tetap. Entah sebagai pelayan atau pun sebagai tukang loundry. Yang penting dia harus punya pekerjaan tetap, agar tidak mencari pekerjaan terus. Begitu pikirnya.


"Coba besok aku melamar ke restoran dulu, siapa tahu aku di terima sebagai pelayan." ucap Yoga.


Dia pun mengambil berkas untuk melamar kerja di restoran, mengumpulkan semua persyaratan yang ada. Setelah semuanya lengkap, dia menyimpannya di meja kamarnya. Baru setelah itu di bawa jika sudah siap melamar kerja.


Tok tok tok.


Suara pintu di ketuk, Yoga pun membuka pintu, tampak laki-laki seusianya berdiri menatapnya.


"Ada apa Yud?" tanya Yoga.


"Eh, kamu lagi kerja ngga?" tanya Yudi, tetangga kamarnya.


"Ngga, kenapa?"


"Kebetulan, di restoran samping toko tempatku bekerja sedang membutuhkan pelayan. Katanya di sana sedang mencari pelayan untuk di restoran itu." kata Yudi.


"Waah, benarkah? Aku mau, niatnya juga mau melamar di restoran. Siapa tahu rejeki." kata Yoga.


"Ya sudah, ayo kita restoran itu. Aku antar kamu." kata Yudi.


"Baiklah, tunggu sebentar aku ambil berkas lamaran kerja dulu." kata Yoga.


Dia pun mengambil berkas yang tadi dia siapkan untuk melamar pekerjaan jadi pelayan restoran. Yoga dan Yudi kini pergi ke restoran di mana sedang membutuhkan karyawan untuk jadi pelayan.


_


Setelah di terima bekerja jadi pelayan di restoran, Yoga pun kini sudah punya kesibukan setiap hari. Berangkat pagi jam delapan, pulang malam hari jam sepuluh malam. Empat belas jam dia bekerja, dia sangat senang bekerja jadi pelayan restoran.


Hari yang di janjikan pun tiba, Yoga di suruh datang ke rumah kakek Gunawan. Dia awalnya mengabaikannya, karena baru sehari dia bekerja. Jadi dia tidak datang ke rumah besar milik kakek Gubawan.


Tapi justru kakek Gunawan datang ke restoran di mana Yoga bekerja. Dia kaget dengan kedatangan laki-laki tua ke restoran di mana dia bekerja. Bahkan kakek Gunawan menemui dan meminta izin pada manajer restoran untuk membawa Yoga pulang lebih dulu.


"Kek, aku kan sedang bekerja. Kenapa kakek datang menjemputku?" tanya Yoga bingung.


"Kakek sudah bilang, lusa kamu datang. Tapi malah datang ke restoran ini." kata kakek Gunawan.

__ADS_1


"Ya kan aku kerja kek, kalau pun aku menikah. Pastinya harus punya pekerjaan, masa tidak kerja. Mau makan apa nanti istriku jika aku tidak bekerja?" tanya Yoga sedikit kesal.


"Sudah, jangan rewel. Kakek sudah minta izin sama manajermu, kakek bawa kamu pulang. Kan sudah kakek bilang, cepat datang." ucap kakek Wira.


"Huh, orang kaya selalu saja memaksa."


Kakek Gunawan pun tersenyum, dia lalu membawa Yoga dalam mobil mewahnya. Mereka akan pergi ke rumah kakek Gunawan dan akan segera di nikahkan secepatnya.


Kakek Gunawan sendiri merasa waktunya tidak banyak, dia akan kehilangan semua harta dan perusahaannya untu Arman anaknya yang serakah itu.


Tetapi, untuk cucunya. Tidak bisa begitu saja di buat sebagai barang negosiasi pada pengusaha-pengusaha yang culas dan selalu melancarkan tujuannya dengan menjajikan anaknya Bela.


Mobil pun sampai di depan halaman rumah mewah dan besar itu. Yoga turun, di susul oleh kakek Gunawan. Mereka masuk ke dalam rumah.


Dengan langkah pasti, kakek Gunawan membawa Yoga ke ruang tengah yang sudah berkumpul semua anggota keluarga dan jajaran orang penting lainnya.


Di sana ada Bela, dengan riasan cantik layaknya seorang pengantin. Yoga bingung, kenapa semua tampak berkumpul di ruangan itu. Arman menatap dingin padanya, begitu juga Belinda.


Wajah-wajah penuh kemarahan menatap Yoga, tapi mereka tidak bisa berbuat dan berkata apa pun. Semua seolah di bungkam dengan laki-laki tua yang saat ini jadi komando pada acara sakral nan sederhana itu.


"Baiklah, karena calon pengantin pria ini sudah datang. Jangan pedulikan penampilannya ya, ayo pak penghulu. Nikahkan cucuku dengan dia." kata kakek Gunawan.


"Huh, mestinya aku menikah dengan mengadakan pesta meriah. Kenapa menikah dengan cara seperti ini?" ucap Bela penuh kekesalan.


"Menyebalkan sekali, kenapa papa tidak punya perusahaan sendiri sih? Kan bisa bebas menentukan pilihan jodohku sesuai keinginanku." kata Bela masih tidak terima dengan semuanya itu.


Penghulu itu pun segera menyiapkan pernikahan sederhana yang di lakukan oleh kakek Gunawan pada cucunya. Meski dia merasa aneh kenapa orang sekaya pak Gunawan harus menikahkan cucunya dengan cara sederhana. Bahkan terkesan terburu-buru dan mendadak.


Semuanya sudah duduk, Yoga yang kebingungan dengan pernikahan mendadak itu jadi tambah bingung. Dia menatap satu persatu orang-orang yang ada di ruangan itu.


Satu penghulu dan satu dari kantor KUA, dua orang sepertinya dari badan hukum dan notaris. Serta entah siapa lagi selain Arman dan Belinda. Yoga tidak tahu.


"Baiklah, ayo kita mulai saja acara pernikahannya. Karena saya ada keperluan lain. Maka kita mulai saja acara pernikahannya." kata pak penghulu itu.


Mereka bersiap, kakek Gunawan sebagai saksi Yoga dan salah satu di antara mereka yang jadi saksi Bela selain Arman sebagai wali dari Bela.


"Saya nikahkan san saya kawinkan Bela Salsabila binti bapak Arman dengan Yoga Pradana dengan uang tunai sebesar sepuluh ribu rupiah di bayar tunai!"


"Apa?!"


"Diam!"

__ADS_1


"Tapi, kenapa mas kawin sepuluh ribu rupiah?!" tanya Bela maaih syok.


"Lanjutkan saja, jangan pedulikan protes dari cucuku." kata kakek Gubawan.


"Kakak?!"


"Lanjutkan pak penghulu, di ulangi saja. Yoga, bersiap kamu menjawabnya." kata kakek Gunawan.


Penghulu pun mengulangi ucapan ijab kabulnya, Yoga pun bersiap untuk menyambut ucapan penghulu tersebut.


"Saya terima nikah dan kawinnya Bela Salsabila binti Arman dengan mas kawin tersebut di bayar tunai!" ucap Yoga dengan tegas.


Bagaimana, sah?!"


"Sah! Sah! Sah!"


Teriakan kencang dari kakek Gunawan menandakan pernikahan itu sah. Kini tinggal penanda tanganan pada petugas KUA yang akan di catatkan di kantoe tersebut. Agar pernikahan itu sah secara agama dan negara.


Meski kesal sekali, Bela pun akhirnya menanda tangani surat pernikahan itu. Dia benar-benar marah sekali pada kakeknya, tapi begitu dia tidak bisa mengelak lagi.


Karena semalam, kakek Gunawan mengultimatum semuanya angkat kaki dari rumah itu jika acara pernikahan itu di gagalkan.


Yoga kini sudah sah menjadi suami Bela, Belinda menatap tajam pada menantu barunya itu. Dia terus saja mengumpat dalam hati pada laki-laki itu.


Sedangkan Arman, pembawaannya tenang kali ini. Tapi tidak ada yang tahu isi hatinya saat ini, bahkan Belinda sendiri merasa heran dengan suaminya itu. Kenapa dia begitu pasrah saja dengan rencana mertuanya itu.


"Huh, papa kenapa diam saja. Apa papa punya rencana lain?" tanya Belinda.


"Tenanglah ma, saat ini memang papa sedang menyerah pada ayah. Tapi setelah pernikahan ini, papa punya rencana lain yang cukup mengejutkan bagi ayah. Dan tentu saja membuat dia akan syok dengan rencana papa ini. Mama tenang saja, ikuti permainan laki-laki tua bangka itu." kata Arman.


"Ya baiklah pa. Tapi mama kasihan sama Bela, dia yang jadi sengsara dengan suami sampahnya itu." kata Belinda.


"Biarkan saja, dia tidak berguna bagi papa. Saat ini kegunaan anakmu adalah menuruti perintah ayah." kata Arman.


Belinda diam, dia menatap Bela yang masih kesal dengan semua ini. Belinda lebih memilih membela suaminya, karena dia tidak mau sengsara lagi seperti dirinya dulu sebelum menikah.


"Malang sekali nasibmu, Bela."


_


_

__ADS_1


*******************


__ADS_2