
Setiap hari Yoga pergi bekerja di restoran, di mana restoran itu adalah miliknya. Hanya manajernya saja yang menangani restoran untuk memutupi pemilik aslinya yaitu Yoga.
Restoran yang hampir pailit itu di beli oleh Yoga atas nama Steve anak buahnya yang khusus menjaganya ketika dia berada di Indonesia. Yoga bekerja dengan baik, seperti dulu dia bekerja di restoran.
"Tuan, apakah anda sebaiknya jangan bekerja di restoran. Maksud saya, apa lebih baik jabatan anda di naikkan saja jadi manajer. Biar pekerjaan anda tidak terlalu berat." kata Steve.
"Tidak Steve, aku tetap menjalani hidupku sebagai seorang pelayan restoran seperti dulu. Kamu jangan khawatir, aku baik-baik saja dengan melakukan ini semua." kata Yoga.
Mereka berada di ruang kantor khusus bagian pemilik restoran. Yoga menyuruh Steve merubah semua restoran itu dengan restoran yang menyediakan makanan luar negeri dan mewah, meski tidak besar.
Tapi Yoga sengaja untuk membuat restoran itu jadi mewah, sehingga banyak pengunjung yang datang ke restoran itu para pejabat tinggi dan pengusaha muda.
Seperti kali ini, seorang pengusaha muda yang sangat tampan tapi dia terlihat angkuh. Setiap pelayanan di restoran itu selalu mendapat kritikannya atau juga keluhannya. Meski begitu, Yoga membiarkan pengusaha itu makan dengan segala kesombongan dan keceewetannya masalah makanan di restoran tersebut.
Yoga keluar dari ruangan kepala restoran, para pelayan lain merasa iri dengan Yoga yang terlihat dekat dengan sang kepala restoran. Tapi mereka tidak bisa melakukan apa pun untuk membuat Yoga menjauh dari Steve, sang kepala restoran.
Malam hari, Yoga pulang dalam keadaan sangat lelah. Dia melihat istrinya duduk di kursi, dia pun mendekat dan tersenyum pada istrinya yang sedang bersedekap menatapnya tajam.
"Yoga, aku ingin bicara." kata Bela.
"Bicara apa sayang?" tanya Yoga membuka bajunya dan segera mandi karena tubuhnya merasa penat.
"Kita bercerai saja." kata Bela.
Tangan Yoga terhenti ketika sedang membuka kancing bajunya, dia menatap istrinya lekat. Dia meneruskan kegiatan membuka kacing bajunya lalu menarik napas panjang.
"Yoga."
"Apa kamu sedang bercanda sayang?" tanya Yoga dengan santai.
"Tidak, aku serius. Aku minta cerai darimu!" kata Bela dengan nada meninggi.
"Aku tidak mau." jawab Yoga dengan tenangnya.
__ADS_1
"Hei, kenapa tidak mau? Bukankah kamu tidak bisa memberiku uang banyak, tidak bisa mengangkat derajat keluargaku, bahkan kamu masih saja menjadi seorang pelayan restoran. Aku malu mempunyai suami sepertimu, aku bahkan jijik memiliki suami yang berprofesi sebagai pelayan." kata Bela lagi.
"Hanya itu?" tanya Yoga masih bersikap tenang.
"Aku juga muak sama kamu, berpura-pura polos tapi sebenarnya kamu pecundang!"
"Oke, aku terima penghinaanmu sayang. Tapi aku tidak akan menceraikanmu, kamu akan tetap jadi istriku selamanya." kata Yoga lagi.
"Huh, kamu keras kepala ya. Aku tetap ingin bercerai denganmu, aku benci sama kamu Yoga!" ucap Bela lagi dengan berteriak.
Membuat Belinda yang kebetulan berjalan menuju kamarnya kini masuk dengan berjalan cepat dan menghampiri anaknya itu.
"Bela, kenapa kamu berteriak?" tanya Belinda.
"Dia tidak mau bercerai ma, aku sudah muak sama dia." kata Bela dengan mata menajam pada Yoga dan napas memburu karena kesal.
"Kenapa kamu menolak untuk bercerai? Bukankah semua baik-baik saja ketika kamu hilang selama tiga tahun ini, Bela selalu senang dan dia banyak yang menyukainya." kata Belinda.
"Oh ya? Karena di sangka dia masih sendiri dan seorang janda?"
"Tapi Bela masih istriku, dia tidak bisa menyukai laki-laki lain selain aku." kata Yoga.
"Cuih! Siapa yang menyukaimu? Jika ada kekuatan besar, aku ingin melemparmu ke tengah lautan segitiga bermuda. Biar kamu hilang dan di makan ikan-ikan ganas di sana." kata Bela.
"Tapi sayangnya aku tetap selamat sayang, bahkan kemarin itu aku melewati lautan segitiga bermuda. Dan sekarang, aku kembali dalam keadaan baik-baik saja." kata Yoga lagi.
"Yogaa!!"
"Sudahlah Bela, sebaiknya kita tinggalkan dia seperti itu. Dia pikir kamu tidak bisa berbuat hal yang menyenangkan tanpa persetujuan dia." kata Belinda dengan melirik sinis pada Yoga.
Sedangkan Yoga hanya mencebikkan bibirnya kemudian dia masuk ke dalam kamar mandi, dia tahu kenapa Bela ingin minta cerai darinya. Segala tindakan di luar sana, Yoga tahu. Karena dua orang yang sengaja dia utus untuk mengawasi Bela kemana pun dia pergi.
"Dia pikir aku tidak tahu kalau keinginannya untuk bercerai adalah ingin menikah dengan kekasih sombongnya itu." ucap Yoga dalam guyuran air shower yang menimpa wajahnya.
__ADS_1
Ada rasa puas ketika dia dengan tenang dan santainya menolak keinginan Bela untuk bercerai. Dia ingin tahu banyak tentang mertuanya saat ini, jadi membiarkan dirinya di hina di rumah Belinda dan Arman adalah hal yang biasa saja baginya.
Sedangkan Bela dan Belinda di ruang tengah, mereka duduk dan minum minuman alkohol karena kesal dengan sikap Yoga yang menolak bercerai dengan Bela.
"Bagaimana ini mama, Alvin minta aku segera menceraikan laki-laki sampah itu." kata Bela.
"Huh, mama belum berpikir bagaimana caranya agar kamu bisa bercerai dengan suami keparat itu. Kita minta pendapat papa saja sayang." kata Belinda.
"Ck, papa sekarang jarang di rumah. Memangnya papa sedang mengurusi apa sih ma, sampai jarang pulang ke rumah?" tanya Bela.
"Dia ada bisnis baru sayang, dan itu memang harus di lakukan secara intens dan harus di awasi betul-betul." kata Belinda.
"Bisnis terus yang di pikirkan papa, papa tidak memikirkan aku yang muak dengan laki-laki sialan itu." kata Bela dengan penuh kekesalan.
"Sayang, papamu sedang menjalin kerja sama dengan Alvin. Membuka bisnis baru dan mereka sedang mencari investor yang bisa di ajak kerja sama. Biar perusahaan papamu semakin besar dan pundi-pundi uang kita semakin banyak sayang. Kita bisa berkeliling dunia sayang." kata Belinda.
"Sudahlah, aku ingin bersenang-senang saja ma. Aku mau pergi ke klub malam, malam ini sangat suntuk sekali karena suamiku" kata Bela.
Bela bangkit dari duduknya, dia pun menaiki tangga dan segera bersiap untuk pergi ke klub malam. Dia benar-benar kesal pada Yoga, karena tidak mau bercerai dengannya.
Bela masuk ke dalam kamarnya, tampak Yoga sedang menelepon dan posisinya membelakangi Bela. Bela pun mendekat, tapi kemudian Yoga menutup sambungan teleponnya dan berbalik.
"Hemm, kamu punya ponsel baru?" tanya Bela.
"Ya, ini aku beli dari hasil gajiku kerja di restoran sayang. Apa kamu mau kubelikan ponsel seperti ini juga?" tanya Yoga.
"Heh, aku hanya mau bercerai darimu! Bukan ponsel jelek seperti itu!" kata Bela dengan ketus.
"Kalau itu, aku tetap menolaknya sayang. Sekalipun kamu bersimpuh di kakiku. Aku tetap menolaknya." kata Yoga berjalan menuju ranjangnya untuk tidur karena saat ini dia sangat lelah.
"Yogaa!!"
_
__ADS_1
_
*****************