Takdir Menantu Terbuang

Takdir Menantu Terbuang
26. Tiga Pilihan


__ADS_3

Yoga makan dengan santai, Bela hanya memperhatikan suaminya makan dengan tenang. Dia mendengus kasar, ingin sekali dia bertanya banyak kenapa suaminya ada di negara ini dan sedang makan mewah di depannya.


Yoga melirik istrinya dan melihat piringnya masih sisa banyak. Dia pun berhenti makan, menatap Bela yang diam saja.


"Makanlah sayang, kamu pasti lapar kan." kata Yoga.


"Aku tidak mau!" kata Bela ketus.


"Kenapa tidak mau? Itukan makanan kesukaanmu, lagi pula kamu suka kan makan di restoran mewah begini." kata Yoga.


"Kenapa kamu ada di sini?" tanya Bela.


"Emm, kenapa ya?"


"Jangan banyak basa basi, Yoga!"


"Hei, yang sopan memanggil suami itu. Kamu tidak ada lembut-lembutnya sama aku." kata Yoga lagi.


"Kamu tidak pantas jadi suamiku."


"Lalu, siapa yang pantas jadi suamimu? Alvin? Dia bahkan kabur entah kemana, setelah menipu perusahaan besar yang sekarang mau kerja sama dengan papamu." kata Yoga.


"Tahu apa kamu tentang perusahaan?"


"Aku tahu banyak, dan sebentar lagi papamu akan jadi pengusaha bangkrut selanjutnya." kata Yoga lagi.


"Tidak mungkin!" Bela membantah.


"Terserah kamu saja sayang. Oh ya, apa kamu tahu kalau papamu akan menjualmu?" tanya Yoga.


"Apa?"


"Menjualmu, dia akan menawarkan pada bos yang akan bekerja sama dengan papamu. Itu artinya, kamu akan di lelang." kata Yoga dengan tatapan dingin pada Bela.


"Jangan sembarangan bicara! Aku bukan pel*cur!" ucap Bela dengan geram.


Dia benar-benar marah sekali pada Yoga. Kemudian dia berdiri hendak meninggalkan suaminya. Tapi Yoga menarik tangan Bela, membawanya pergi dari restoran itu dan keluar dari hotel di mana Bela menginap.


Mobil sudah siap di depan pintu hotel, Bela ingin melepas cengkeraman tangan suaminya. Tapi tangan Yoga begitu kuat, dia pun di paksa masuk ke dalam mobil limosin itu.


Pikiran Bela semakin campur aduk, kenapa bisa suaminya itu naik mobil mewah dan berada di tempat itu. Mobil melaju pelan, Yoga duduk di samping Bela. Keduanya saling diam, Yoga melepas jasnya.


Aroma wangi maskulin keluar dari tubuh Yoga, sejenak Bela pun terpesona dengan penampilan Yoga yang berbeda. Lengan kemeja tangan dj gulung setengahnya, duduk dengan posisi yang sangat tepat yang membuat Bela semakin terpaku dan menelan ludahnya.


"Kamu terpesona padaku?" tanya Yoga.

__ADS_1


Bela melengos ke samping, menarik napas panjang. Merutuki matanya yang terpedaya dengan penampilan suaminya yang berbeda.


Tak lama, mobil pun berhenti tepat di depan hotel berbintang lima. Pintu terbuka oleh supir, Yoga menarik tangan Bela untuk segera keluar dengannya.


Bela mengikuti kemauan suaminya, dia menatap sekeliling. Ternyata dirinya berada di hotel berbintang lima, lebih mewah dari tempatnya menginap. Yoga memperhatikan Bela yang sedang takjub akan kemegahan hotel itu, dia tersenyum tipis.


Semua karyawan memberi hormat pada Yoga, dan laki-laki itu hanya melambaikan tangannya saja. Mereka pun langsung mundur dan bekerja kembali.


Bela kembali kebingungan dengan sikap para karyawan hotel itu memberi hormat pada Yoga. Mereka memasuki lift, akan pergi ke kamar yang lebih mewah dan biasa di gunakan oleh Yoga jika menginap di hotel itu.


Sampai di lantai lima belas, mereka pun keluar dari lift. Dan lagi-lagi di sambut oleh karyawan hotel, membuat bingung Bela.


Yoga membawa Bela ke dalam kamar presiden suit, kamar mewah khusus untuk dirinya. Bela pun masuk, dia menatap sekeliling kamar.


"Kamu menyewa kamar mewah ini?" tanya Bela tidak percaya.


"Iya. Kenapa?" Yoga balik bertanya.


"Dari mana uangmu? Bukankah gaji seorang pelayan restoran itu hanya cukup untuk beli make upku saja. Mustahil kamu punya uang banyak." ucap Bela masih tidak percaya.


"Aku punya uang banyak sayang, semuanya jika kamu mau. Aku akan berikan, tapi harus menuruti permintaanku." kata Yoga.


Dia melepas baju kemejanya, menanggalkannya dan melemparkan begitu saja. Terlihat tubuh kekar dan sixpack, nampak seksi di mata Bela. Dia menelan ludah, tidak percaya dengan penampilan berbeda dari suaminya.


Yoga melirik istrinya, dia masuk ke dalam ruang ganti. Menggantinya dengan kaos putih tipis dan celana pendek, dia keluar lagi dan menuju ranjangnya.


Itu semua memang impiannya, tapi masih tidak percaya dengan laki-laki di depannya yang menunjukkan semuanya.


"Jangan berdiri terus, ayo kita tidur sayang. Kita sudah lama tidak tidur bersama, bahkan kamu belum melayaniku selama jadi suamimu." kata Yoga.


"Heh, apa kita suami istri yang normal? Kamu hanya laki-laki yang di temukan oleh kakekku dan aku tidak dalam keberuntungan saat itu karena di paksa menikah dengan laki-laki sepertimu!" ucap Bela dengan ketus.


Yoga diam, dia menatap dingin istrinya itu. Langkahnya pelan mendekat pada Bela, terus melangkah. Membuat Bela terkejut, dia pun mundur beberapa langkah.


Tangannya menahan langkah suaminya, tapi Yoga terus memepetkan tubuh Bela sampai ke dinding. Wajahnya mendekat, napasnya berembut pada wajah Bela. Tatapan Yoga menembus mata Bela hingga membuat perempuan itu semakin gugup.


"Lepaskan aku!" ucap Bela.


"Aku punya pilihan untukmu sayang. Kamu boleh memilih dari tiga pilihan yang aku ajukan padamu." kata Yoga.


Wajahnya terus menelusuri wajah Bela. Semakin lama semakin dekat, tangan Bela menahan wajah Yoga agar tidak menciumnya.


"Lepaskan aku sialan!" ucap Bela lagi dengan berteriak.


"Huh! Melepaskanmu?"

__ADS_1


"Lepaskan dan bawa ke tempat hotelku menginap." ucap Bela lagi.


Yoga pun memundurkan wajahnya, dia menipiskan bibirnya lalu berjalan meninggalkan istrinya yang kesal padanya.


"Aku akan melepaskanmu, tapi kamu akan memilih dari pilihan yang aku ajukan. Tidak bisa di tolak." kata Yoga lagi.


"Berani sekali kamu memberiku pilihan, tidak bisa!"


"Kalau tidak mau, kamu tidak bisa pergi."


"Yoga!"


"Terima saja sayang. Atau kamu mau memohon padaku?"


"Aku tidak mau!"


"Pilihannya adalah, kamu melayaniku sebagai suamimu. Karena selama menikah, kamu tidak pernah melayaniku. Aku yang selalu melayanimu, kita akan berbuat adil. Yang kedua, kamu harus mencintaiku. Belajar mencintaiku, kamu akan bahagia denganku." kata Yoga, dia meminum segelas anggur di gelas yang sudah di tuangkan.


"Aku lebih memilih yang ketiga!" ucap Bela cepat.


"Oh ya? Kamu tahu apa itu pilihan ketiga?" tanya Yoga.


"Jelas kamu akan melepaskanku." kata Bela.


"Hemm, tepat sekali. Tapi kamu yakin akan pilihan ketiga itu?" tanya Yoga.


"Aku yakin, dan kamu pasti akan melepaskanku."


"Memang, tapi jika kamu kembali ke hotel dengan papamu. Kamu akan di jual olehnya, dan kamu akan di jadikan pel*cur. Kamu mau itu?" tanya Yoga.


"Tidak mungkin papaku melakukan itu!"


"Kita lihat nanti. Tapi aku sudah menawarkan dua pilihan yang menyenangkan, tapi kamu tidak mau. Baiklah, sampai jumpa lagi sayang. Beri aku salam perpisahan." kata Yoga.


Dia pun mendekati Bela, menarik pinggangnya dan menciumnya dengan paksa tapi pelan. Bela terkejut, dia berusaha melepas ciuman Yoga itu, tapi laki-laki itu terus memperdalam ciumannya. Setelah merasa cukup, Yoga pun melepasnya.


Dia tersenyum, tangannya mengusap bibir Bela. Bela pun mendengus kasar, dia berjalan menuju pintu kamar. Dia membukanya dan tampak di depan ada laki-laki yang siap mengantarnya pulang ke hotel di mana dia menginap dengan kedua orang tuanya.


"Mari saya antar pulang ke hotel nona." ucap laki-laki itu.


Bela heran dengan laki-laki itu, tapi kemudian dia mengikuti langkah kemana laki-laki itu berjalan.


_


_

__ADS_1


*******************


__ADS_2