
Yoga selalu menunggu kabar dari Mark tentang perusahaan Alvin itu. Meski kemarin dia mendapatkan informasi tentang pekerjaan Alvin dan Arman, tapi Yoga masih membutuhkan banyak informasi tentang Alvin.
Dia pernah mendapat info dari salah satu pelayan di tempatnya bekerja. Kalau dia pernah bekerja di perusahaan Alvin, dan pelayan itu pun menceritakan bagaimana Alvin bersikap pada karyawannya.
"Jadi, jika tuan Alvin itu sombong dan selalu bersikap seenaknya saja. Ya, memang karakter dia seperti itu. Terkadang hanya karena masalah sepele, ada karyawan di pecatnya secara sepihak. Pokoknya dia sombonglah, sayang sekali tadi kekasihnya itu membelanya. Wanita itu sedang buta matanya serta tuli telinganya. Lagi pula, Yoga mengakui kalau perempuan cantik itu adalah istrinya. Apa benar dia istrimu, Yoga?" tanya karywan yang tadi menceritakan tentang Alvin.
"Jadi, kamu tahu tentang laki-laki sombong itu?" tanya Yoga tanpa mengindahkan pertanyaan temannya itu.
"Ya, karena saya pernah bekerja di sana, dan saya kesal sekali. Jadi saya keluar sari perusahaan itu. katanya lagi.
Yoga diam saja, dia lalu melanjutkan pekerjaannya melayani tamu yang datang di restoran itu yang tetap saja masih ramai meski setelah kejadian.
Sementara itu, Alvin sedang ada pertemuan dengan Arman dan ayahnya Sasmita. Mereka membicarakan tentang kerja sama mengenai ekspor impor.
"Bagaimana, apakah ada yang mau jadi investor kita di proyek kita nanti?" tanya Arman.
"Belum, kita cari kemana? Soalnya ini tidak sembarangan proyek, tidak bisa main-main. Karena urusannya juga dengan pihak asing." kata Sasmita.
"Apa aku harus ke Jerman untuk mencari investor? Kebetulan minggu ini ada workshop mengenai pengembangan bisnis di sana, sekalian aku datang kesana nanti cari investor asing. Bagaimana?' tanya Alvin.
"Hemm, boleh juga. Tapi kamu harus melobi klien tersebut, Vin. Papa tidak menjamin kan akan berhasil, kan harus melobi dulu dan presentasi sama dia calon investor itu." kata Sasmita.
"Benar sih pa." ucap Alvin.
Ketiganya tampak diam, mereka bingung akan mencari investor siapa. Karena mereka berpikir jika kerja sama dengan investor asing akan banyak pertimbangan.
Di saat mereka sedang berpikir tentang investor asing yang akan ikut kerja sama dengan bisnis mereka, tiba-tiba sekretaris Alvin masuk yang sebelumnya mengetuk pintu terlebih dulu.
"Ada apa Maya?" tanya Alvin.
"Maaf pak Alvin, di luar sepertinya ada tamu untuk anda." kata Maya.
"Tamu? Bukankah aku tidak ada janji dengan siapa pun." kata Alvin heran.
"Ya, dia juga bilang sih. Memang ini pertama kalinya dan memang mendadak begitu, katanya ingin mengajak anda kontrak kerja sama." kata Maya lagi.
"Kontrak kerja sama? Hei, aku belum pernah buat janji dengan siapa pun. Dan belum menghubungi klien mana, kenapa ada orang yang mau kontrak kerja sama?" tanya Alvin masih heran.
"Tapi dia orang asing pak Alvin, katanya dari Italia." kata Maya lagi.
__ADS_1
"Apa?!"
Alvin, Arman dan Sasmita terkejut dengan ucapan Maya itu. Mereka saling pandang, dan ada senyum penuh kesenangan dari wajah Arman dan Sasmita.
"Suruh masuk Maya." kata Sasmita.
"Baik pak." ucap Maya.
Alvin bingung, dia menatap papanya lalu ke arah Arman. Ada senyum kesenangan pada keduanya.
"Apa menurut papa dia adalah investor asing yang kita tunggu itu?" tanya Alvin.
"Ya, kita tidak perlu cari lagi. Sepertinya dia memang sengaja di datangkan oleh Tuhan untuk kita ajak kerja sama." kata Arman.
"Ya baiklah, meskipun akhirnya aku gagal pergi keluar negeri dengan Bela." kata Alvin.
"Hei, tunggulah dulu untuk jalan-jalan keluar negeri. Kita selesaikan ini dulu, dan harus mencapai kesepakatan dengan kita." kata Arman lagi.
Mereka pun diam, kemudian pintu terbuka. Tampak masuk Maya lalu di belakangnya ada seorang laki-laki berpakaian jas rapi. Dia berperawakan tinggi karena memang postur tubuh orang Eropa itu tinggi.
Dia menyalami Alvin dan juga Arman serta Sasmita. Laki-laki bule itu memperkenalkan diri dengan bahasa Inggris, dan mengenalkan dia dari mana asalnya.
"Waah, anda datang ke tempat yang tepat mr. Mark. Kami memang sedang mencari investor dari luar negeri. Apa anda mau bekerja sama dengan kami?" tanya Alvin.
"Kami?"
"Ya, kami. Karena proyek itu di kerjakan oleh kita bertiga, hanya saja kami masih butuh investor luar negeri." kata Arman.
"Hemm, perusahaan kami siap untuk jadi investor anda tuan Alvin." kata Mark.
"Oh ya?!"
"Ya, apa anda meragukan ucapan saya?" tanya Mark.
"Oh, tidak sama sekali mr. Mark. Kami menerimanya dengan senang hati." kata Alvin tampak senang.
"Baiklah, kita bisa mengadakan pertemuan selanjutnya. Tapi untuk pertemuan selanjutnya itu, bukan saya yang akan menemui anda mr. Alvin. Nanti bawahan saya yang lain, karena perusahaan saya itu sangat besar. Bagi kami, kerja sama dengan perusahaan berkembang itu bisa membantu perusahaan mereka. Seperti halnya perusahaan mr. Alvin ini, saya sangat senang sekali." kata Mark.
"Hahah, anda baik sekali mr. Mark. Tapi meskipun hanya kita baru bertemu dengan anda, tapi kami percaya dengan anda." kata Sasmita.
__ADS_1
"Ya, dan saya akan memberi jaminan pada anda mr. Alvin. Kalau saya sangat serius untuk kerja sama dengan anda." kata Mark.
Dia mengambil berkas dalam tas kerjanya, semuanya lengkap dengan nama perusahaan yang dia berikan sebagai jaminan kalau salah satu perusahaan yang dia pegang akan bekerja sama dengan Alvin.
"Nah, itu jaminannya mr. Alvin. Anda bisa cek semuanya tentang perusahaan kami di Italia, perusahaan itu sangat besar di sana. Komitmen kami hanya kerja sama dengan baik dan bisa saling percaya, itu saja." kata Mark.
Alvin membuka berkas yang di berikan oleh Mark padanya. Dia membaca dan meneliti semua isi berkas tersebut. Di sana juga ada dokumentasi yang memperlihatkan sebuah bangunan perusahaan megah di Italia.
Arman dan Sasmita melihat juga berkas-berkas itu. Mereka takjub dengan isinya, lalu menatap Mark yang masih terdiam dengan senyuman ramah mengembang.
"Apa anda benar akan menanamkan saham pada perusahaan kamu mr. Mark?" tanya Arman.
"Ya, dan jika anda setuju. Pertemuan akan berlanjut dengan utusan dari saya yang lain."
"Kenapa bukan anda lagi?"
"Anda tahu saya sibuk sekali, jadi saya punya asisten untuk membantu pekerjaan saya."
"Ooh, jadi anda punya banyak anak buah ya? Apa mungkin mereka akan merasa senang dengan kerja sama ini?"
"Hahah, tentu saja senang, saya juga akan memberitahu bos saya tentang masalah hadiah begitu."
"Hemm, apa anda juga punya bos lain?"
"Ya, saya datang kesini itu bos saya tahu."
"Ya ya mr. Mark."
"Kalau begitu, saya permisi mr. Alvin dan juga mr. Arman serta mr. Sasmita." ucap Mark.
Mereka bersalaman sebelum Mark keluar dari ruangan Alvin itu.
"Yes! Kita berhasil pa." kata Alvin ketika Mark sudah keluar dari ruangannya itu.
"Ya."
_
_
__ADS_1
***************