
Arman begitu senang ketika dia mendapat telepon dari sekretaris Mark. Bahwa bosnya mau bertemu dengannya, dia tidak menyangka dalam waktu dua hari permintaannya untuk kerja sama sebentar lagi akan tercapai.
Tidak sia-sia dia datang ke Italia dan bertemu Mark. Tidak sia-sia pula dia mencari tahu siapa itu Mark dan perusahaan besar dan ternama di Italia. Dan kini dia akan bertemu dan akan menjalin kesepakatan kerja sama.
"Aku akan jadi orang penting bagi tuan Mark dan aku akan jadi kaya raya. Hahah!" kata Arman dengan bangganya.
Dia kini sudah memasuki kantor besar milik Antonio itu. Dengan langkah percaya diri dia memasuki lift setelah mengatakan pada bagian resepsionis dia telah membuat janji dengan Mark Chris, pemilik perusahaan besar itu.
Arman keluar dari lift setelah lift berhenti di gedung lantai yang dia tuju. Merapikan penampilannya lalu melangkah menuju ruang kantor Mark yang lebih dari sebagian gedung itu.
Dia menuju meja sekretaris Mark, Valerie. Memberitahu kalau dirinya sudah datang.
"Baik tuan Arman, saya akan beritahu tuan Mark." kata Valerie.
Valerie menelepon langsung ke sambungan line ruangan bosnya, Mark. Berbicara dengan bahasa Italia yang tidak di mengerti Arman. Tapi dia percaya apa yang di katakan Valerie pada Mark di dalam kantornya.
"Anda boleh masuk ke dalam, tuan Arman. Mari saya antar." kata Valerie.
"Terima kasih nona Valerie."
Valerie mengantar Arman ke dalam ruangan Mark yang sedang melakukan zoom dengan seseorang di sana. Arman masuk dan berdiri di depan meja, memperhatikan apa yang di katakan zoom dengan seseorang.
Valerie memberitahu Mark dengan bahasa isyarat mengenai kedatangan Arman. Mark mengangguk, dia juga menyuruh Arman duduk di sofa. Valerie pun mengerti, dia menyuruh Arman duduk di sofa menunggu Mark selesai melakukan meeting zoom.
"Oke, thank you mr. Yoga." kata Mark mengakhiri sambungan meeting zoom itu.
Dahi Arman berkerut, dia sekilas mendengarkan Mark menyebut nama Yoga. Apakah nama Yoga lain atau pikirannya saja yang tertuju nama Yoga menantunya yang di anggap sampah itu.
Mark melirik pada Arman, dia tersenyum sinis menutup laptopnya dan berdiri. Melangkah menuju Arman yang duduk di sofa memegangi tasnya.
Laki-laki itu duduk di depan Arman, bersedekap dan menatap Arman dengan datar.
"Apa yang anda inginkan tuan Arman?" tanya Mark.
"Seperti apa yang sudah saya sampaikan waktu itu, saya menawarkan kerja sama dengan anda." kata Arman.
"Anda yakin mau bekerja sama dengan kami?" tanya Mark.
__ADS_1
"Ya, saya yakin. Karena saya mempunyai hal yang menarik." jawab Arman percaya diri.
"Waah, sungguh saya sangat terkejut dan kagum dengan kepercayaan diri anda itu." kata Mark.
"Hahah, anda pasti akan suka tuan Mark." kata Arman lagi.
"Hemm, menarik. Anda begitu percaya diri akan di setujui olehku kerja samanya. Baiklah, saya tidak akan basa basi. Coba presentasekan apa yang anda miliki dan ingin anda ajukan sebagai bentuk kerja samanya." kata Mark.
Arman tersenyum senang, dia pun mengambil laptopnya untuk mempresentasekan apa yang dia miliki dan bentuk kerja sama apa yang dia tawarkan pada Mark.
Mark hanya diam saja, menatap datar pada Arman yang sedang bicara itu. Ada keengganan dalam dirinya mendengar Arman bercerita.
Cukup lama Arman presentase, lalu akhirnya selesai juga. Mark tidak begitu tertarik dengan presentase Arman itu, dia mengambil berkas di depannya. Arman melihat apa yang di lakukan oleh Mark.
"Bagaimana tuan Mark? Apa anda berminat?" tanya Arman.
"Hemm, tidak ada yang menarik. Hal yang anda katakan tadi banyak sekali yang menawarkan pada saya, saya menolaknya. Itu kurang di minati oleh pasar global di industri mesin." kata Mark.
"Tapi kami memberikan harga lebih minim dan kualitas bagus, tuan Mark." kata Arman mencoba membujuk Mark tertarik dengan apa yang dia tawarkan.
"Saya rasa coba anda tawarkan ke perusahaan yang sedang berkembang. Karena perusahaan saya ini besar dan membutuhkan banyak bahan, yang anda tawarkan itu hanya sepuluh persen dari kebutuhan yang saya butuhkan, bahkan dua puluh persen ada yang menawarkan. Tapi saya tolak, jika anda menawarkan lebih banyak lagi bisa saya pertimbangkan." kata Mark.
"Minimal lima puluh persen anda sediakan, saya akan beri harga lebih tinggi. Kalau tidak dari lima puluh persen itu, saya tolak." kata Mark.
Arman tampak terkejut, rasa percaya diri sebelum bicara dengan Mark itu hadir. Kini dia gusar dan bingung mau kemana lagi dia mencarinya.
"Kalau anda tidak bisa menyediakannya, anda bisa mundur dan pulang saja ke negara anda." kata Mark.
"Begini tuan, saya punya penawaran khusus untuk anda. Maksud saya, bonus lain untuk anda tuan Mark." kata Arman.
"Bonus? Bonus apa?"
"Saya punya seorang putri cantik, dia sangat di gilai banyak laki-laki. Jika anda mau, sebagai bonus. Akan saya berikan dia untuk anda, bagaimana?"
"Apa? Maksud anda putri anda akan di berikan sebagai bonus? Untuk apa?" tanya Mark.
"Ya, itu terserah anda. Anda bisa mengajaknya kencan atau menghibur anda, terserah anda." kata Arman.
__ADS_1
"Hahah! Jadi maksud tuan Arman, putri anda itu akan jadi penghiburku? Sebagai pel*cur?" kata Mark dengan tawa kencang dan merasa lucu.
Arman terdiam, dia geram juga menyebut anaknya sebagai pel*cur. Dia kesal sekali, maksudnya itu sebagai kekasih atau nantinya di nikahi.
"Tuan Arman, putri saya ini perempuan terhormat. Kenapa anda akan jadikan dia sebagai pel*cur?" tanya Arman.
"Karena setiap klien yang menawarkan perempuan pada saya, saya anggap dia akan di jadikan pel*cur di klub malam atau di kasino. Apa anda keberatan?" tanya Mark dengan senyum miring.
"Ya, maksud saya. Putri saya itu perempuan baik-baik, bisa juga di jadikan pegawai atau yang lebih terhormat."
"Waah, anda menyebut perempuan terhormat. Memangnya secantik apa putri anda itu?" tanya Mark.
"Dia cantik tuan, saya bisa berikan fotonya." kata Arman lagi.
"Hemm, saya akan hubungi bos yang lebih berhak dari kerja sama ini. Karena dia yang menentukan di terima atau tidak kerja sama itu." kata Mark lagi.
"Bukankah anda adalah bos dari perusahaan ini?"
"Bukan, bosku yang sedang berada di luar negeri. Tunggu sebentar." kata Mark.
Dia mengambil ponselnya, menghubungi Yoga. Membicarakan tentang tawaran Arman padanya. Dia bicara dengan bahasa Italia seperti biasanya, Arman hanya memperhatikan saja. Setelah selesai, dia pun bicara lagi dengan Arman.
"Kata bosku, anda boleh membawa putri anda ke Italia. Dan bosku ini akan melihatnya langsung, jika bosku cocok. Maka, kerja sama akan di terima." kata Mark.
"Waah, benarkah?"
"Ya."
"Kalau begitu, nanti saya bawa putri saya ke Italia tuan Mark. Semoga saja bos anda menyukainya." kata Arman dengan bersemangat.
"Tapi ingat tuan Arman, jika bos saya menyukainya saja. Tapi jika bos saya ini tidak suka, maka semuanya batal." kata Mark lagi.
"Ya tuan, saya akan bawa ke Italia dan mengenalkan putri saya pada anda dan bos anda itu." kata Arman dengan senang hati.
Setelah bicara cukup lama, akhirnya Arman pun pamit untuk pergi. Dia akan pulang ke Indonesia dan kembali lagi setelah satu minggu kemudian, tentu saja akan membawa Bela dan istrinya ke Italia.
_
__ADS_1
_
*******************