Takdir Menantu Terbuang

Takdir Menantu Terbuang
35. Yoga Bercerita


__ADS_3

Wajah Yoga kusam, sepulang dari duelnya dengan Nicholas itu. Dia langsung pulang ke mansion, dia melihat istrinya sudah tidur di ranjangnya. Yoga tersenyum, dia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan bercak darah milik Nicholas yang mengenai baju serta tubuhnya.


Setelah selesai, dia segera keluar. Karena rasanya sangat lelah sekali, di tambah dia sangat ingin tidur di samping istrinya. Selesai berganti baju, dia menuju ranjang dan tidur di sebelah Bela.


Di pejamkan matanya, dengan tangan sebagai ganjalan kepalanya. Tapi kemudian ada gerakan dari Bela, Yoga menoleh ke arah istrinya. Dia merubah posisinya menghadap wajah Bela yang tertidur dengan pulas.


Menatapnya lalu mencium bibirnya beberapa kali. Hingga Bela pun terusik dan membuka matanya. Dia melihat suaminya sudah datang. Dengan cepat dia mendorong pundak Yoga lalu menatapnya.


"Hei, kamu bangun?" tanya Yoga menatapnya juga.


"Huh, aku lelah menunggumu." kata Bela ketus.


"Jadi kamu menungguku? Waah, senang sekali istriku ini menungguku pulang." kata Yoga dengan menopang tangan di kepalanya.


"Huh, kamu janji akan pulang dan memberi penjelasan padaku." kata Bela.


"Penjelasan apa sayang?" tanya Yoga dengan senyumnya.


"Jangan pura-pura lupa, Yoga!" ucap Bela masih saja ketus padanya.


"Aku lupa, apa yang kamu tunggu dariku? Apa cumbuanku yang kamu rindukan, hem?" tanya Yoga.


Bela membola, dia malas sekali menanggapi suaminya berkata seperti itu. Tangan Yoga pun kini mulai meraba bagian tubuh Bela, dia tersenyum. Tapi kemudian tangan itu di tepisnya dengan kasar.


"Jangan menyentuhku!"


"Waah, kalau begini aku semakin suka menyentuhmu sayang." kata Yoga masih dengan senyum jahilnua.


"Yoga!"


"Jangan berteriak, nanti pelayan di rumah ini pada bangun." kata Yoga yang kembali meraba tubuh Bela.


Bela kembali menepisnya, dia benar-benar kesal dengan suaminya yang tidak mau menjelaskan apa yang dia inginkan.


"Jangan sentuh!" ucap Bela lagi sambil menepis tangan Yoga.


"Aku semakin ingin menyentuhmu, aku lelah seharian menghadapi orang bodoh. Jadi, aku ingin menenangkan tubuhku sayang. Hanya satu kali permainan." kata Yoga langsung menyerang Bela.


Dia merobek baju istrinya lalu melemparnya sembarangan. Dan terjadilah pergulatan yang sebenarnya tidak di sukai oleh Bela, tapi dia pasrah saja dengan suaminya.


Tentu saja Yoga senang, kini mereka menikmatinya beberapa menit terakhir. Dan sesuai ucapannya, Yoga hanya bermain satu kali dengan Bela. Baru setelah itu dia memeluk istrinya dengan erat.


"Katakan, apa yang ingin kamu tanyakan padaku?" tanya Yoga.


"Tentang map tebal tadi pagi, dari mana kamu mendapatkan semua itu?" tanya Bela menepis tangan suaminya pada area dadanya.


"Itu aku kumpulkan setelah tahu kalau Arman begitu bersemangat ingin menjualmu padaku. Dan setelah aku kembali ke rumah Arman, aku kumpulkan semuanya dan pelayan di rumahmu juga ku suruh mengumpulkan data-datanya. Aku cari ke rumah sakit di mana kakek Gunawan di rawat." kata Yoga.


"Data-dataku, apa benar aku bukan anak papaku Arman?" tanya Bela.

__ADS_1


"Benar, ada salah satu pembantu mamamu dulu. Aku menemukannya setelah bekerja di restoran, dia adalah anaknya. Kebetulan aku kenal dan aku menemui pembantu mamamu itu, dia menyimpan semuanya. Jadi aku minta padanya dengan imbalan tentunya." kata Yoga.


"Pembantu mamaku?"


"Ya, pembantu mama Marni tepatnya. Dia juga punya fotomu sewaktu bayi, dan juga menyimpan foto-foto pernikahan papa dan mamamu." kata Yoga lagi..


"Tapi kenapa di rumah papa tidak ada fotonya?"


"Arman yang membuangnya semua, sejak kamu masih bayi dan di ambil olehnya dan Belinda. Waktu itu kakekmu masih tinggal di Swiss, jadi dia tidak tahu kalau kamu adalah anak Alfian." kata Yoga.


"Kamu tahu banyak tentang keluargaku? Apa kamu seorang intel?" tanya Bela.


"Hahah! Intelku yang bekerja denganku sayang, aku menyuruh dia menyelidiki semuanya. Semua tentangmu dan keluargamu." kata Yoga.


Bela mendengus kasar, sampai saat ini dia masih penasaran kenapa Yoga begitu berbeda dengan yang dulu. Berbeda dari segala hal, dari gaya dan penampilan serta sikapnya sangat berbeda dengan suaminya dulu masih tinggal di rumahnya.


"Yoga, aku ingin tahu banyak sesuatu." kata Bela lagi.


"Katakan saja, aku akan jawab semuanya." jawab Yoga lagi.


Bela menatap suaminya, tajam dan penuh selidik.


"Apa kamu seorang mafia?" tanya Bela.


Yoga diam, dia menatap istrinya. Lalu tawanya pun menggelegar di kamarnya, tiba-tiba wajahnya beribah dingin dan penuh intimidasi. Menatap Bela penuh dengan rasa dendam dan hawa membunuh, membuat Bela takut dan membuang muka ke samping. Dia benar-benar takut, di sembunyikannya wajahnya agar tidak di tatap terus oleh Yoga.


Apa dia salah bertanya?


Bela pun menurut, wajah tegangnya karena dia takut suaminya itu menjadi orang yang berbeda.


"Kamu tahu aku seorang mafia dari mana?" tanya Yoga masih dengan tatapan dingin dan intimidasi.


"Papaku, dia bilang aku akan berkencan dengan seorang mafia." kata Bela bergetar tubuhnya.


"Hahaha! Kamu percaya aku seorang mafia?" tanya Yoga.


"Aku tidak tahu, tapi kamu berbeda dari sebelum datang ke negara ini. Aku ...." kata Bela menggantung.


"Jadi, kamu percaya aku?" tanya Yoga lagi.


Bela menggeleng, dia pun menunduk. Tubuhnya masih bergetar karena takut Yoga marah dan membuat dia di lempar atau di bunuh. Karena sejak menikah dulu, dia selalu saja mengejek dan meremehkan suaminya itu.


"Apa kamu akan membunuhku?" tanya Bela memberanikan diri bertanya lagi.


"Kamu mau aku membunuhmu?" tanya Yoga masih bernada dingin.


"Tidak. Jangan, aku masih ingin hidup." kata Bela.


"Kalau begitu, ikuti apa kataku." kata Yoga lagi.

__ADS_1


"Iya." ucap Bela seperti di cucuk hidungnya, dia menuruti apa yang di katakan suaminya.


Yoga pun menarik tubuh polos Bela, dia mendekapnya erat tubuh kecil itu. Mencium kepalanya beberapa kali, Bela hanya diam saja.


"Kamu hanya perlu menurut padaku, dan katakan kamu mencintaiku." kata Yoga.


"Siapa yang mencintaimu." gumam Bela dengan suara pelan, tapi terdengar di telinga Yoga.


"Kamu akan mencintaiku. Cukup kamu layani aku, pasti akan jatuh cinta padaku. Cup." ucap Yoga lagi mengeratkan lagi pelukannya.


Bela diam saja, malas menanggapi ucapan suaminya. Dia pun kembali berbalik dan menatap Yoga, wajahnya berubah santai lagi. Tidak seperti tadi yang dingin dan jiwa membunuhnya pun keluar. Dia begitu takut sekali beberapa menit yang lalu.


"Yoga, apa kamu benci padaku?" tanya Bela.


"Tidak."


"Aku mau tanya lagi, tapi kamu jawab yang benar." kata Bela.


"Kamu menganggap ucapanku tadi salah?"


"Tidak, bukan begitu." kata Bela kembali takut.


"Dengar ya sayang, aku bisa melakukan apa saja. Bahkan bisa mengganti presiden di negara ini, semuanya takut padaku. Tapi kamu tidak perlu takut padaku, aku akan melindungimu jika kamu ingin aku lindungi. Tapi jika mau lepas dariku, kamu akan aku bebaskan sekarang juga."


"Bukan begitu, aku hanya ingin tahu kenapa papaku. Maksudku, om Arman mau mengasuhku hingga besar. Apa kamu tahu alasannya?" tanya Bela.


"Hemm, itu sangat mudah. Dan sudah aku jelaskan sama kamu, kalau kamu hanya sebagai alat bisnis saja. Kamu ingat dengan pacar gelapmu itu? Kamu di kenalkan olehnya dengan perjanjian bisnis, tapi kamu malah jatuh cinta padanya." kata Yoga.


Dia melepas pelukannya dan merubah posisi jadi terlentang. Bela diam, dia mendengus kasar.


"Siapa yang jatuh cinta sama dia?" ucap Bela.


Yoga menoleh ke arah Bela, dia menatap lama perempuan yang sedang salah tingkah itu. Dia pun tersenyum miring, lalu mendekat dan menarik kembali tubuh Bela.


"Katakan padaku sekali lagi."


"Katakan apa?"


"Bahwa kamu tidak mencintai laki-laki pecundang itu."


"Heh, apa kamu cemburu?"


"Cemburu? Tentu saja, kamu istriku. Kenapa kamu memiliki pacar gelap di belakangku." kata Yoga sinis.


Bela cemberut, dia pun kembali berbalik membelakangi suaminya. Yoga tertawa kecik lalu dia pun memeluk Bela dari belakang dan tidur. Karena dia sangat lelah sekali malam ini.


_


_

__ADS_1


***********


__ADS_2