
Bela ingin pulang ke hotel di mana Arman dan Belinda menginap dulu. Tapi Yoga memberitahu kalau kedua orang itu sudah pulang lebih dulu setelah esok harinya Bela menemuinya di mansionnya.
Tapi kini Bela ingin pulang ke Indonesia, dia meminta pada suaminya itu. Tapi dia ragu untuk meminta di pulangkan ke Indonesia, kembali ke rumah Arman.
Saat ini Yoga dan Bela sedang sarapan pagi, mereka baru sarapan pagi bersama selama Bela ada di mansionnya. Bela menatap suaminya dengan ragu, meliriknya tapi kemudian menundukkan wajahnya.
Yoga mengerti apa yang di lakukan oleh istrinya itu, ingin mengatakan sesuatu padanya.
"Apa yang ingin kamu katakan?" tanya Yoga melirik sekilas pada Bela.
Dia makan dengan tenang tanpa suara, sehingga membuat Bela jadi canggung dan takut untuk bicara padanya.
"Bela?"
"Oh, emm. Apa aku boleh meminta sesuatu?" tanya Bela ragu.
"Katakan saja." kata Yoga.
"Aku ingin pulang ke Indonesia." kata Bela.
Yoga diam, dia menatap istrinya dengan tajam. Lalu meneruskan kembali makanannya, belum mau menanggapi permintaan Bela. Bela menatap Yoga, dia menghela napas panjang. Makanan di depannya pun sudah tidak berselera untuk di lahap kembali.
"Mau apa kamu pulang? Bukankah di sini tempatmu? Kamu sudah jadi milikku." kata Yoga dingin, dia tahu kalau istrinya itu kecewa dengan ucapannya.
"Aku hanya ingin bertanya pada papaku, apa benar aku bukan anaknya. Lagi pula, aku juga ingin bertemu dengan pembantu mamaku dulu, bukankah kamu mengatakan itu?" kata Bela.
"Nanti aku pikirkan, tapi jangan berpikir kamu akan kabur dariku. Karena di manapun kamu bersembunyi, aku pasti menemukanmu dan membawamu kembali ke mansionku ini." kata Yoga lagi.
"Aku tidak akan kabur, aku sadar kalau diriku telah di jual oleh papaku sama kamu. Aku hanya mau memastikan dengan ucapan dan semua bukti yang kamu berikan saja." kata Bela.
"Oke, aku akan atur kepulanganmu." kata Yoga.
"Waah, benarkah?" tanya Bela dengan mata berbinar.
"Ya, dan kamu akan pulang kembali di mansionku dengan cepat setelah semua apa yang kamu inginkan sudah di dapat. Maka tidak bisa lagi kamu berlama-lama di sana." kata Yoga.
Bela pun mengangguk, dia tersenyum senang. Baru kali ini dia merasa Yoga adalah laki-laki tegas dan juga memiliki hati yang baik. Karena sejak menikah, dia tidak mempedulikan kebaikan Yoga padanya.
Yoga menyudahi sarapan paginya, dia bangkit dari duduknya dan meninggalkan Bela makan. Bela menatap kepergian suaminya, dia pun melanjutkan sarapannya.
Ada banyak yang dia pikirkan tentang semua informasi yang di dapat suaminya. Dia akan mencari tahu pada pembantu yang di sebut Yoga, kalau tidak salah ada alamatnya juga. Jadi dia akan mencari alamat itu dan menanyakannya.
_
__ADS_1
Bela memasangkan dasi pada Yoga, dia tidak biasa memasangkan dasi. Sehingga apa yang di lakukannya itu jadi salah terus, tapi Yoga diam saja. Dia membiarkan Bela mencoba memasangkan dasi berkali-kali, menatapnya datar tanpa berkedip.
Membuat gadis itu jadi grogi di tatap seperti itu oleh suaminya. Dia melirik sekilas, tapi kemudian dia kembali mencoba lagi dan lagi memasang dasi.
"Satu minggu." kata Yoga.
Bela mendongak, dia mengerutkan dahinya bingung dengan ucapan suaminya itu.
"Apanya yang satu minggu?" tanya Bela tersenyum karena dia sudah bisa membuat simpul dasi meski masih kurang rapi.
"Kamu pulang ke Indonesia cukup satu minggu saja. Itu cukup buatmu di sana." kata Yoga.
Bela menatap laki-laki yang kini selalu bersikap dingin padanya. Dia menarik napas panjang, merapikan kembali dasi suaminya.
"Apa tidak bisa satu bulan saja, rasanya aku terlalu lama di sini. Aku janji akan kembali lagi padamu setelah itu." kata Bela.
Kali ini ucapannya tidak ketus lagi, Yoga pun tersenyum miring. Dia menarik pinggang Bela.
"Apa kamu mau bernostalgia dengan pacar gelapmu?" tanya Yoga.
"Tidak, untuk apa? Bukankah dia tidak ada di Indonesia?" kata Bela mengelak.
"Dia ada di rumahmu, dia sering ke rumah Arman dan selalu mencarimu. Dan mungkin dia sudah memberitahu Arman kalau sebenarnya aku yang membelimu." kata Yoga lagi.
"Waah, kamu sepertinya senang sekali laki-laki pecundang itu kembali. Apa kamu mau menjalin hubungan dengannya lagi?" tanya Yoga sinis.
Bela menatap datar pada suaminya, di benaknya tidak ada keinginan kembali pada Alvin. Dia hanya kaget saja kalau laki-laki itu sudah kembali lagi dan berada di rumahnya.
"Siapa yang mau kembali, aku hanya bertanya." kata Bela dengan wajah cemeberut.
"Tapi tanggapanmu itu sepertinya senang." kata Yoga lagi.
"Aku hanya kaget, itu saja."
"Hmm, kamu masih ingat dengan ucapanku tentang pecundang itu?" tanya Yoga.
"Ucapan yang mana?"
"Dia memang mencarimu karena ingin mengambil harta karun kakekmu. Dia tidak ada bedanya dengan Arman, setelah dia mendapatkan harta karun kakekmu dia akan menjualmu. Yang aku tahu itu perjanjian dia dand kelompok Yakuza." kata Yoga.
Lagi-lagi Bela terkejut dengan ucapan Yoga itu, dia ingin tidak percaya. Tapi dia heran, dari mana suaminya itu tahu semua? Apa benar-benar seorang mafia?
Bela masih tampak berpikir, menarik napas panjang karena ragu dan takut jika bertanya itu lagi pada suaminya.
__ADS_1
"Kamu mau tanya sesuatu padaku?"
"Tidak, aku tidak berani bertanya lagi padamu." jawab Bela.
"Katakan saja, apa yang ingin kamu tanyakan."
"Tidak, aku tidak mau."
"Kamu takut?"
"Ya."
"Apa yang kamu pikirkan itu benar, aku ini seorang pembunuh. Seorang pebinsis handal, seorang mafia. Itu fakta diriku setelah Arman membuangku ke tengah laut, maka aku adalah seseorang yang di takuti di benua ini. Kamu sudah tahu sekarang kan? Si, sono un mafioso."
Ucapan Yoga itu benar-benar membuat Bela merinding, dia mencoba melepaskan dirinya dari pelukan Yoga. Dia takut tatapan suaminya seperti malam itu, di liriknya sekilas. Tapi wajah Yoga biasa saja. Bahkan terlihat santai.
"Lalu, apa kamu juga akan membunuh papaku?" tanya Bela dengan perasaan takut.
"Bila perlu, jika dia bertingkah dan membuat kecurangan. Aku akan membunuhnya, karena dia sudah banyak membunuh keluargamu." kata Yoga lagi.
Bela mendongak, fakta apa lagi yang di ucapkan Yoga itu. Dia terkejut dengan apa yang di katakan Yoga.
"Siapa yang dia bunuh?!"
"Papamu."
"Yoga! Jangan sembarangan bicara, sejak kemarin kamu mengatakan papaku seorang pembunuh. Oke, aku melihat papa Arman membunuh kakek di ruang ICU. Tapi kenapa juga papaku membunuh papaku?"
"Siapa papamu?"
"Papaku, ya papa Arman."
"Hahah! Sudah aku bilang, papamu itu Alfiansyah. Bukan Arman. Baiklah, pembicaraan ini sudah cukup. Aku harus pergi kerja, nanti malam bersiap untuk pulang ke Indonesia." kata Yoga.
"Apa?!"
"Cup. Jangan berteriak, nanti siang aku pulang meminta jatahku." kata Yoga mencium bibir istrinya.
Dia pun pergi meninggalkan Bela yang masih diam terpaku. Dia sangat senang kini Bela tidak bicara ketus lagi padanya.
_
_
__ADS_1
**********