Takdir Menantu Terbuang

Takdir Menantu Terbuang
31. Fakta Baru 2


__ADS_3

Sepeninggal Yoga, Bela sudah membersihkan diri. Dia memakai handuk kimono dengan handuk kecil di rambutnya, dia melihat banyak sekali di tubuhnya beberapa tanda merah karena ulah suaminya.


"Ck, kenapa dia begitu ganas sampai semua badanku remuk dan apa ini? Banyak sekali tanda merah, uuuhgg! Sialan dia, benar-benar membuatku kesakitan." ucap Bela.


Dia duduk di balkon, di sampingnya sarapan tersedia dengan menggugah selera Bela.


Di tatapnya ke depan, pemandangan kota yang sangat indah di pagi hari. Tapi lebih menyejukkan matanya adalah di bawah banyak taman yang indah dan juga ada kolam renang.


"Waah, benar-benar mewah sekali mansion ini. Tapi, apakah benar ini semua miliknya?" ucap Bela masih heran dengan semuanya.


Dia menyantap sarapan paginya, tak lama dia melihat pintu terbuka. Beberapa pelayan masuk membawakan banyak sekali baju dan juga kotak berisi perlengkapan make up.


Bela bangkit dari duduknya, dia melangkah menuju ruang ganti baju. Kebetulan dia belum memakai baju, hanya kimono handuk saja yang dia pakai.


"Apa semua ini?" tanya Bela.


"Ini baju-baju anda nona, tuan menyuruh menaruhnya di sini." jawab pelayan sambil membungkuk.


"Benarkah? Dia membelikanku semua ini?" tanya Bela tidak percaya.


"Iya nona, ini semua tuan yang membelikannya. Selama nona ada di sini. Nona bisa memakainya, semua sudah tersedia dan alat make up juga sudah ada dengan lengkap." kata pelayan itu lagi.


"Waah, ini alat make up mahal. Kenapa dia membeli alat make up mahal, dari mana uangnya? Apa dia benar sangat kaya?" tanya Bela lagi.


"Tuan sangat kaya nona, kekayaannya tidak terbatas."


"Apa?!" Bela berteriak kaget.


"Iya. Nona bisa menikmati semuanya yang tuan berikan." kata pelayan itu lagi.


"Ck ck ck, jadi dia benar-benar kaya? Dari mana semua kekayaannya itu?"


"Saya kurang tahu nona, maaf kami permisi keluar."


"Ah ya, baiklah. Aku akan mencoba semua pakaian yang kalian bawa." kata Bela lagi.


Ketiga pelayan itu menunduk memberi hormat, lalu meninggalkan Bela yang sudah tidak sabar ingin melihat baju-baju mewah dan mahal. Baju buatan desainer terkenal di dunia juga ada di lemari baju itu.


Dia menelusuri lemari dalam ruangan ganti tersebut. Dia sangat takjub, mengambil baju berwarna putih transparan dan mencoba memakainya.


Dia sangat senang sekali, ternyata apa yang dia inginkan semuanya sudah tersedia di kamar itu untuknya.


"Waah, seleranya boleh juga dia. Semuanya bagus-bagus dan mewah, sangat elegan. Apakah semuanya untukku?" ucap Bela mencoba baju lainnya.


"Aah, tadi pelayan itu bilang kalau baju-baju ini untukku. Baiklah, aku mau memakai yang mana ya. Semuanya bagus-bagus." ucap Bela.


Akhirnya setelah mencoba beberapa baju, dia memilih baju dres pendek selutut yang elegan. Setelah selesai, dia memakai make up tipis saja. Meski hanya make up natural, penampilan Bela tetap cantik dan manis.

__ADS_1


_


Malam ini, kembali Yoga bercinta lagi dengan Bela. Kali ini Bela tidak berontak, dia diam saja. Meski kesal karena suaminya itu meminta beberapa kali. Dan ini yang terakhir, mereka mencapai puncaknya.


Bela pun beringsut menjauh dari Yoga, masih merasa malu karena dia sendiri tidak memberontak. Yoga senang kini Bela tidak menolaknya, dia mendekati Bela dan memeluknya dari belakang. Bela mencoba untuk melepasnya, tapi Yoga menahannya.


"Apa kamu mau mendengar fakta sesungguhnya tentang dirimu?" tanya Yoga.


"Kenapa diriku? Aku tidak berbuat macam-macam." kata Bela ketus.


"Hmm, kamu masih ketus saja padaku. Apa kamu kurang suka dengan semua yang kuberikan tadi siang?" tanya Yoga.


"Apa itu?"


"Semua kebutuhanmu, baju, make up, sepatu dan tas. Aah ya, aku belum membelikanmu perhiasan." kata Yoga lagi.


Bela diam, dia tidak bergerak ketika Yoga menciumnya.


"Kamu mau bicara fakta apa tentangku?" tanya Bela penasaran.


"Kamu masih ingat kakek Gunawan?" tanya Yoga.


"Ya, lalu kenapa?" tanya Bela malas menanggapi.


"Kamu tahu kakek Gunawan itu meninggal karena apa?" tanya Yoga lagi.


"Tidak pada kenyataannya, aku tahu siapa yang membunuh kakek Gubawan." kata Yoga.


Bela berbalik, dia menatap suaminya. Apakah Yoga mengetahui banyak tentang kakeknya itu?


"Katakan, siapa yang membunuh kakekku?" tanya Bela.


"Waah, kamu butuh informasi juga dariku ya. Tapi sayang, informasi itu ada imbalannya." kata Yoga dengan senyum miring.


"Ck, katakan saja. Awas saja kamu bohong padaku!" ucap Bela kesal.


"Aku ini laki-laki polos dan lugu sejak menikah denganmu. Kakekmu mengajariku sesuatu yang tidak aku mengerti, tapi karena waktu itu aku masih enggan menanggapinya. Jadi aku abaikan, tapi setelah aku di buang oleh mertua laknatku. Aku jadi tahu, seberapa jahatnya papamu itu. Aah, bukan papamu jelasnya." kata Yoga.


"Jangan bercanda kamu! Dia papaku!" ucap Bela marah.


"Kita bernegosiasi, aku akan ceritakan semuanya tentang papamu dan kakekmu. Aku minta kamu melayaniku lagi beberapa kali." kata Yoga tersenyum smirik.


"Yoga!"


"Jangan berteriak sayang. Ayo kita mulai lagi percintaan kita, setelah itu aku ceritakan semuanya. Setuju?"


"Aku tidak mau! Aku capek!" teriak Bela memukuli dada Yoga.

__ADS_1


Tapi laki-laki itu tidak peduli, dia kembali mencumbu Bela dengan penuh gairah. Bela adalah tujuan Yoga sekarang, saat ini hanya perempuan itu satu-satunya yang akan dia lindungi. Karena beberapa informasi, ternyata Alvin juga sedang mencari Bela dan akan dia bawa lari dan mencoba mencari tahu tentang harta karun milik kakek Gunawan.


Arman sendiri belum mengetahuinya kalau Bela adalah satu-satunya kunci di mana harta karun milik kakek Gunawan. Entah dari mana Alvin mengetahui kalau Belalah kunci dari penemuan harta karun milik kakek Gunawan.


Lama Yoga dan Bela melakukan percintaan, dan akhirnya Yoga sudah merasakan kepuasan dari istrinya itu. Dia memeluk dari belakang Bela dan mencium pelipisnya berkali-kali.


Bela kesal sekali pada Yoga, namun begitu dia tidak bisa bergerak karena tubuhnya lemas sekali setelah bercinta beberapa kali dengan Yoga.


"Kakekmu adalah seorang yang kaya raya, Bela. Dia mempunyai harta karun yang tersembunyi, tepatnya dia menyimpan uang miliaran dolar di bank Swiss. Awalnya aku acuh saja ketika kakek Gunawan memaksaku untuk tidak pergi dari rumah Arman. Aku hanya menurut tidak menceraikanmu atau pergi dari rumah itu.


Tapi setelah aku berpikir dan mencari tahu, ternyata fakta itu benar. Dan kamu tahu, Arman belum mengetahui kalau kamu adalah satu-satunya pewaris kakek Gubawan. Bukan Arman. Arman hanya mengambil sebagian harta kakek Gunawan saja, tapi entah kenapa laki-laki mantan pacar gelapmu itu tahu kalau kamu memiliki kunci harta karun itu. Jadi, dia sedang mengincarmu saat ini." kata Yoga.


Bela tertegun, dia tidak percaya dengan ucapan Yoga itu. Tidak masuk di akal, kenapa semuanya Yoga yang mengetahuinya?


"Katanya kamu mengetahui siapa yang membunuh kakekku?" tanya Bela.


"Ya, aku tahu dengan mataku sendiri." jawab Bela.


"Siapa?" tanya Bela.


"Arman."


"Bohong!"


"Aah, seharusnya aku jawab saja aku yang membunuh kakekmu. Pasti kamu percaya dan marah padaku." kata Yoga mengubah posisinya jadi terlentang.


"Kamu jangan bohong, papaku tidak mungkin membunuh kakekku!" ucap Bela.


"Ya, nanti kamu tanyakan saja pada Arman. Dan lagi, Arman itu bukan papamu. Dia adalah om kamu, dan papa aslimu itu sudah meninggal sebelum kamu lahir." kata Yoga lagi.


"Kamu jangan bicara ngaco Yoga! Apa kamu mau aku membenci papaku?!"


"Besok aku berikan berkas fakta itu ya, sekarang ayo kita tidur. Aku mengantuk, besok aku akan berperang melawan mafia dari Perancis." kata Yoga.


"Yoga, jelaskan padaku!"


"Apa yang mesti aku jelaskan? Kamu tidak percaya dengan ucapanku tadi, makanya besok aku berikan berkas fakta tentang kakek Gunawan dan juga Arman. Sudah, sekarang sudah malam. Kita tidur sayang." kata Yoga lagi.


"Aku tidak mau!"


"Kalau begitu, ayo kita bercinta lagi."


"Yogaaa! Aku tidak mauu!"


_


_

__ADS_1


**************


__ADS_2