Takdir Menantu Terbuang

Takdir Menantu Terbuang
47. Sebuah Rencana


__ADS_3

"Bagaimana keadaan tuan Yoga?" tanya salah satu dari dua orang yang tak lain adalah Stave dan Mark.


"Tenang saja tuan Mark, tuan Yoga baik-baik saja. Aku sedang menannganinya." jawab Jeffry.


Mereka sangat khawatir, tapi dia keduanya melihat wajah tenang Jeffry yang menangani Yoga itu jadi ikut tenang. Mark sudah menebak kalau itu sering terjadi pada Yoga, dan sepertinya memang Yoga pingsan karena kekuarang darah.


Dua jam Jeffry mengeluarkan patahan belati di dalam pinggang Yoga. Bela semakin gelisah karena bedah yang di lakukan Jeffry belum juga selesai.


Bela masih saja gelisah karena operasi mendadak itu begitu lama. Dia mondar mandir di sekitar sofa, Mark melihat istri bosnya itu tampak gelisah.


Dia pun mendekati Bela dan berdiri di dekat sofa, masih menatap Bela yang bolak balik gelisah.


"Nona, tenanglah. Anda jangan khawatir, tuan Yoga pasti selamat." kata Mark.


"Bagaimana aku tidak tenang, sudah dua jam lebih operasi itu belum selesai. Apakah dia akan baik-baik saja?" tanya Bela.


"Jeffry itu dokter bedah nona, serahkan sama dia saja. Anda jangan khawatir, tuan Yoga pernah di posisi lebih parah dari itu. Tapi tuan Yoga selamat." kata Mark lagi.


Bela menarik napas panjang, ingin percaya tapi dia masih saja gelisah dengan keadaan suaminya. Dia menatap Mark, sepertinya ada yang ingin di bicarakannya dengannya.


"Apa kamu mau bicara denganku?" tanya Bela.


"Ya nona. Bisa anda duduk?" jawab Mark.


"Mau bicara apa? Apa terlalu mendesak?" tanya Bela.


"Sepertinya, karena ini juga permintaan tuan Yoga." kata Mark lagi.


"Huh, bisa-bisanya dalam keadaan panik begini kamu mau bicara denganku. Tapi kenapa aku mau?"


"Hahah, karena anda sudah terlatih dengan tuan Yoga nona. Saya yakin tuan Yoga tahu sikap anda yang lain." kata Mark.


"Sikap yang lain?"


"Jangan pikirkan itu, yang penting apa yang kita bicarakan nona." ucap Mark.


"Ya baiklah, katakan saja." kata Bela.


Mark pun kini menceritakan masalah Arman tentang pembunuhan kakeknya, juga kedua orang tuanya. Dia menceritakan semua bukti sudah di dapat tinggal nanti apakah Bela akan membalaskannya atau dia justru membiarkan Arman dengan kehancuran bisnisnya.


Bela tampak serius mendengarkan ucapan Mark itu, dia berpikir jika balas dendam dengan menghancurkan bisnisnya memang setuju. Tapi kalau untuk membunuhnya lagi dia tidak setuju.


"Bagaimana nona? Ini semua permintaan tuan Yoga, apakah anda mau membalaskan dendamnya. Karena bagaimana pun nona sudah di asuh oleh Arman, takutnya nona tidak tega jika harus membunuh. Biar tuan Yoga yang bertindak." kata Mark.

__ADS_1


"Jangan, aku hanya ingin dia di penjara. Aku akan buat laporan ke kantor polisi, menurutmu bagaimana?" tanya Bela.


Mark diam, dia sudah menduganya. Benar apa yang di katakan Yoga dengan pikiran Bela.


"Itu terserah anda nona, tapi nanti anak buah kami akan membantu nona untuk mencari saksi untuk menguatkan perbuatan tuan Arman." kata Mark.


"Dan mengenai perusahaannya, bisa juga di buat bangkrut. Agar mama Belinda tidak bisa hidup berfoya-foya terus." kata Bela.


Mark diam, berarti benar apa yang di ucapkan Yoga. Pasti Bela tidak akan tega dengan Arman dan Belinda.


"Sudah selesai nona, tuan Yoga sudah selesai operasi pengambilan patahan pisau itu. Dia sedang istirahat, biarkan saja. Nanti juga sadar." kata Jeffry.


Bela bangkit dari duduknya dan mendekat pada suaminya yang masih berbaring memejamkan matanya. Dia menatap sedih wajah Yoga, memegang tangannya dan menciumnya.


Mark, Stave dan Jeffry menatap Bela. Lalu ketiganya pun keluar dari kamar hotel itu, berunding tentang siapa yang sudah berani masuk ke dalam hotel dan berusaha membunuh Yoga.


"Jadi, apa yang harus kita lakukan? Haruskah kita bergerak sendiri?" tanya Stave.


"Kalau masalah Arman, biarkan saja nona Bela menyelesaikannya sendiri. Sisanya tuan Yoga, dia bilang begitu padaku. Kita harus mengurus Alvin dan Kazao serta kelompoknya." kata Mark.


"Oh ya, masalah perusahaan Arman bagaimana?" tanya Stave.


"Aku yang urus, sebentar lagi akan ada demo dari suplayernya. Aku juga akan menekannya, perusahaan Alvin yang dulu di akuisisi bisa di manfaatkan untuk membeli bahan baku yang di janjikan Arman pada perusahaan Italia. Biarkan perusahaan itu yang bergerak dan menghubungi para penambang itu langsung." kata Mark.


"Kamu pantau kesehatan tuan Yoga, dan Stave bantu nona Bela untuk mengurus Belinda dan Arman. Dia akan memperkarakan masalah pembunuhan kakeknya, ternyata memang benar. Pasti nona Bela tidak akan mungkin membunuh orang tua itu meski dia tahu kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan yang di sengaja." kata Mark.


"Baiklah, lalu masalah Alvin dan Kazao itu?"


"Setelah tuan Yoga sadar. Akan berencana ke Jepang aku dan tuan Yoga untuk menyelesaikan semuanya. Kalian di sini saja, temani nona Bela." kata Mark.


"Baik tuan."


"Oh ya, Jeffry. Seperti yang dulu perusahaan Alvin, hancurkan juga bisnis Arman. Tapi mungkin ini agak lama, karena dia sudah tahu dari Alvin. Jadi, kamu harus lebih cepat mencari peluang untuk menghancurkannya." kata Mark.


"Iya tuan."


Kini ketiganya pun masuk kembali ke dalam kamar hotel. Mereka melihat Yoga ternyata sudah sadar, sedang bicara dengan istrinya.


Yoga melihat ketiganya masuk dan mendekat padanya. Berdiri di sisi kanan kiri.


"Tuan sudah sadar?" tanya Jeffry.


"Ya, terima kasih Jeffry. Kamu selalu menyelamatkanku." kata Yoga lemah.

__ADS_1


"Tidak masalah tuan, kami selalu akan melindungi anda." kata Jeffry.


"Mark, kamu sudah sampaikan semuanya?" tanya Yoga.


"Sudah tuan, tadi saya sudah jelaskan pada mereka." jawab Mark.


"Tunggu aku bicara dengan istriku, jika sudah selesai. Kalian boleh bertindak." kata Yoga lagi.


"Ya tuan."


Bela menatap suaminya, lalu menatap Mark. Memicingkan matanya, heran rencana apa yang akan di lakukan suaminya itu.


"Apa yang kalian rencanakan?" tanya Bela penasaran.


"Seperti apa yang tadi saya sampaikan nona, anda sudah tahu." kata Mark.


"Masalah papaku?"


"Ya nona, nanti di bantu dengan Stave. Anda akan selalu di kawal kemana-mana nona." kata Mark.


"Lalu, bagaimana dengan suamiku?" tanya Bela lagi.


"Tuan Yoga akan saya bawa ke Italia untuk penyembuhan nona, apa anda akan baik-baik saja jika tuan saya bawa ke Italia?" tanya Mark.


"Pergi ke Italia? Kenapa bukan di sini saja?"


"Karena di sana peralatan dokter sangat canggih nona."


Bela diam, dia menatap suaminya. Rasanya berat jika harus berpisah dengan Yoga, meski pun dia baru merasakan nyaman dalam beberapa minggu ini.


"Kalian boleh pergi lagi, aku akan bicara dengan istriku." kata Yoga.


"Baik tuan."


Mereka pun keluar dari kamar hotel Yoga dan Bela. Kedua suami istri itu diam, Yoga berusaha duduk. Bela membantunya duduk dengan pelan.


"Aku mau bicara serius denganmu sayang."


_


_


***********

__ADS_1


__ADS_2