Takdir Menantu Terbuang

Takdir Menantu Terbuang
45. Di Hadang


__ADS_3

Bela terpaku dalam mobilnya, dia mengingat apa yang di katakan oleh pembantu mamanya dulu. Katanya mamanya pernah melarikannya dari kejaran anak buah Arman dan berada di rumah vila itu.


Tapi karena Marni mamanya butuh dokumen untuk menyimpan semua bukti tentang dirinya, maka Marni sengaja membuat semuanya. Membuat dokumen dan di kumpulkan jadi satu, dia sadar suatu saat nanti dirinya akan tertangkap juga dan di bunuh.


"Jadi, nyonya itu sudah merasa kalau dirinya akan di bunuh oleh tuan Arman. Makanya membuat banyak foto akta kelahiran di buat di kota dan juga kartu keluarga semuanya di buat di kota agar nantinya untuk bukti kalau sebenarnya nona Bela itu anaknya nyonya Marni dan tuan Alfian." kata ibu Almida.


"Tapi keterangan di berita koran itu mamaku kecelakaan bu? Apakah berita itu benar?" tanya Bela.


"Itu benar, nyonya kecelakaan setelah nyonya mengantarkan nona Bela pada nyonya Belinda dan tuan Arman. Nyonya Marni sengaja menyerahkan nona pada usia dua bulan, agar di asuh sama mereka. Dan setelah itu nyonya meninggal. Rem mobilnya blong dan mobilnya menabrak sebuah pohon besar dan nyonya tertimpa pohon besar itu. Setelah kejadian itu, ibu merasa bersalah kenapa tidak ikut. Tapi nyonya bilang, ibu harus hidup untuk menceritakan semuanya pada nona suatu saat nanti. Makanya ibu mengasingkan diri di tempat ini, karena sejak dulu tempat ini tidak ada yang tahu nona. Hanya tuan Yoga saja." kata ibu Almida.


Bela menarik napas panjang, dia memejamkan matanya. Sangat lelah berpikir, kenapa Arman begitu jahat kedua orang tuanya dan juga kakeknya.


"Apa papaku, maksudku om Arman itu benar anak kakek Gunawan?" tanya Bela pada suaminya.


Yoga menoleh, dia menatap istrinya terlihat sangat lelah.


"Ya, dia anak kandung kakek Gunawan. Tapi dari istri keduanya." jawab Yoga.


"Kenapa om Arman tega membunuh kakek?" tanya Bela.


"Dia serakah, dia ingin memiliki apa yang di miliki papamu dan juga kakek Gunawan. Orang serakah tentu saja akan mencari cara agar bisa mendapatkan apa yang dia inginkan, di tambah istrinya juga serakah dan selalu berfoya-foya." kata Yoga.


"Lalu, aku harus bagaimana?" tanya Bela menoleh pada Yoga.


Yoga menatap istrinya, sangat kentara sekali kalau istrinya itu kelelahan. Dia mendekatkan wajahnya dan mencium bibirnya sekilas.


"Kamu ikut denganku ke Italia, kita bisa hidup di sana dengan tenang dan damai. Dan kamu harus merelakan semua milikmu di kuasai Arman, tujuanku satu menghancurkan bisnisnya dan membuatnya miskin dan jadi gelandangan. Kamu setuju?" tanya Yoga membelai pipi Bela dengan lembut.


Bela menunduk, berat baginya jika harus menghancurkan Arman dan Belinda yang sudah mengasuhnya sejak kecil. Tapi mereka sangat kejam sekali pada kedua orang tuanya.


"Terserah kamu, aku hanya ingin hidup damai dan tenang denganmu." kata Bela.


Yoga mengangkat satu alisnya, lalu tersenyum. Dia mencium kembalo bibir mungil istrinya lalu mengangguknya. Wajah lembutnya terlihat jelas, Bela merasa Yoga sangat berbeda jika dengannya.


Tapi ketika suatu saat dia berubah jadi laki-laki pembunuh. Aaah, bagi Bela dia merasa terlindungi oleh Yoga. Beruntung sekali laki-laki itu tidak dendam padanya.


"Yoga."


"Ya?"


"Terima kasih kamu tidak dendam padaku, mau melindungiku dan juga ..." ucapan Bela tertahan.


"Kenapa?"


"Ah tidak." kata Bela cepat.


Dia merasa malu sendiri membayangkan kalau sebenarnya dia melihat Yoga mencintainya. Pipinya memerah, dia membuang wajahnya ke samping ketika suaminya menatapnya terus tanpa henti.

__ADS_1


_


Jalanan sepi, mobil Yoga membelah jalanan dengan lancar tanpa hambatan macet. Namun begitu, ada beberapa mobil di belakangnya.


Awalnya Yoga tidak menyadarinya, tapi kemudian sang supir di depan memberitahu ada tiga mobil di belakang mobilnya.


"Siapa mereka, apa kamu tahu?" tanya Yoga.


"Belum terdeteksi tuan, tapi sepertinya mereka musuh kita." kata pengawal di depannya.


Yoga membawa mobil limosin yang sengaja di rancang dengan peralatan canggih. Pelindung body mobil agar tidak tembus jika di tembak.


Yoga menyiapkan senjata apinya, Bela kaget dia menatap suaminya yang kini wajahnya tampak serius.


"Ada apa?" tanya Bela.


"Ada musuh di belakang, sepertinya akan ada penyerangan kali ini pada kita sayang." kata Yoga.


"Jadi, bagaimana ini?" tanya Bela ketakutan.


"Kamu tenang saja, ini sangat mudah sayang. Mereka hanya kelompok kecil yang mencari maut padaku." kata Yoga lagi.


Bela menoleh ke arah belakang, dia takut jika mobil Yoga itu akan di tembaki. Yoga menarik tubuh Bela agar menunduk dan kepalanya di sembunyikan. Senjata apinya sudah siap jika mobil itu menembakkannya.


"Hubungi Jeffry dan Stave, suruh mereka mengirim bantuan kesini!" perintah Yoga pada pengawalnya.


Dia hanya membawa dua pengawal dan satu supir handal. Mereka juga bersiap untuk melawan para pengejarnya itu.


Yoga melihat istrinya ketakutan sekali, dia memegang tangan Bela untuk memberi kekuatan agar jangan takut. Bela pun menatap suaminya, dia melihat Yoga tersenyum padanya. Dan dia pun merasa tenang, meski tubuhnya sedikit bergetar.


"Jangan takut, semua akan baik-baik saja." kata Yoga menenangkan istrinya.


Dor! Dor!


Dua tembakan di arahkan ke mobil Yoga, supir itu membelokkan mobilnya untuk menghindar dari tembakan yang semakin bertubi.


Dalam benak Yoga, dia ingin merencanakan sesuatu untuk istrinya.


"Bela, bangunlah." kata Yoga.


Bela banguj dari menunduknya, dia melihat suaminya memegang senjatanya. Dia pun bergidik, tapi Yoga menarik tangannya untuk memegang senjatanya.


"Coba kamu perhatikan, ini senjata api yang bisa membunuh siapa saja. Kamu juga bisa menggunakannya, Bela." kata Yoga.


"Buat apa?" tanya Bela tidak mengerti.


"Ini untuk perlawanan, kamu bisa menggunakannya. Cobalah, hanya memegangnya kuat lalu menarik pelatuknya ini. Maka peluru akan melesat, tinggal bagaimana kamu mengarahkan sasaran dengan akurat." kata Yoga memegangi tangan Bela untuk memegang pistolnya.

__ADS_1


"Aku tidak mau!"


"Kamu harus mau, kamu harus bisa memegang senjata agar bisa melindungi dirimu sendiri." kata Yoga.


"Apa kamu tidak mau melindungiku lagi?" tanya Bela menatap tajam pada suaminya.


"Aku akan selalu melindungimu, tapi ada saatnya aku lengah. Makanya kamu harus bersiap untuk menjaga diri sendiri."


"Tapo kamu punya anak buah, mereka tidak bisa menjagaku?" tanya Bela lagi.


"Dengar sayang, memang aku banyak anak buah dan pengawal. Tetapi, musuh kami banyak. Mereka ada yang bekerja sama dan ada juga yang bertindak sendiri. Kamu mengerti? Alvin dan Arman sedang mengincarmu, kamu harus bisa menjaga diri. Setidaknya jika aku tidak ada di dekatmu." kata Yoga memberi penjelasan.


Bela diam, dia masih menatap bingung pada suaminya. Yoga tersenyum miring, lalu mengecup bibir istrinya.


"Sini, aku ajarkan secara kilat bagaimana cara menembak dengan cepat." kata Yoga.


Bela ragu, tapi dia pun akhirnya mau juga. Benar apa yang di katakan suaminya, Yoga bisa saja lengah atau bahkan terdesak. Karena sekuat apa pun dia punya kelompok, ada saatnya musuhnya akan lebih cerdik darinya.


Yoga memperlihatkan bagaimana cara menggunakan senjata, mobil itu terus jalan dengan menghindar dari serangan tembakan beberapa kali agar keadaan seimbang.


Pengawal yang di bawa Yoga pun membalas tembakannya. Tapi kedua suami istri itu tetap santai belajar dan mengajar bagaimana cara menembak.


"Sekarang kamu praktekan pada mereka." kata Yoga.


"Aku belum bisa, Yoga." kata Bela.


"Kamu bisa, biar aku arahkan tangan kamu."


Yoga menarik tangan Bela mengarahkan keluar jendela kaca dan menarik pelatuknya dengan tangan Bela sendiri. Yoga yang memberi perintah beberapa kali, dia mengarahkan pada roda mobil dan tepat sasaran


Mobil itu oleng kepinggir jalan. Bela kaget, dia terlihat senang. Layaknya mendapatkan tangkapan ikan yang dia pancing di laut.


"Waaah, aku bisa Yoga!" teriak Bela senang.


"Nah, sekarang kamu lakukan terus. Arahkan senjatamu ke mobil di ke samping itu. Aku akan menyerang mobil di belakang." kata Yoga.


"Tapi, kalau meleset bagaimana?"


"Nanti di bantu oleh pengawal. Sekarang cepat lakukan!"


Dor! Dor! Dor!


Dor! Dor! Dor!


_


_

__ADS_1


***********


__ADS_2