Takdir Menantu Terbuang

Takdir Menantu Terbuang
06. Menggantikan Antonio


__ADS_3

Yoga berkeliling sekitar wilayah Eropa, karena di sana bisnis Antonio. Selama beberapa bulan dia ikut dan memperhatikan apa yang di lakukan oleh Antonio, dia belajar banyak bagaimana berbisnis dan juga mengatur para anak buah yang nantinya akan dia pekerjakan setelah dia kembali nanti di Indonesia.


Seperti janji Antonio, Yoga di beri asisten yaitu Mark Chris. Dia berusia tiga puluh empat tahun, keponakan Gilbert, asisten Antonio. Mark Chris sangat setia pada Antonio, ketika dia di tunjuk oleh Antonio sebagai asisten Yoga. Dia menerima dengan penuh kesiapan.


Jadi, sekarang Yoga sudah punya asisten baru. Meski dirinya juga masih belajar untuk menggantikan Antonio kelak setelah dia pensiun.


"Mark, kamu bantu Yoga untuk melakukan bisnisku di Eropa. Kamu jadi asisten dia dan bantu dia sesuai kemampuan dan kekuatanmu." kata Antonio pada Mark.


"Baik tuan." ucap Mark.


"Yoga, kamu bisa perintahkan Mark untuk membantumu. Dia sigap dan bisa menguasai apa pun dalam segala bidang, jadi kamu bisa meminta bantuannya." kata Antonio lagi.


"Ya tuan Antonio."


"Baiklah, minggu depan aku akan menyerahkan semua bisnisku padamu. Kamu bisa melakukan apa pun, karena aku sudah tahu semua kemampuanmu selama belajar dalam segala hal. Itu sangat bagus sekali, aku percaya padamu Yoga." kata Antonio.


"Anda akan menyerahkan semuanya pada saya?"


"Ya, kamu bisa kan mengelolanya? Aku ingin pensiun." kata Antonio.


"Tapi tuan, saya ini siapa? Sehingga bisa percaya begitu saja menyerahkan semua bisnis anda pada saya." kata Yoga masih tidak percaya.


"Kamu anak angkatku, Yoga. Kamu lupa?" kata Antonio tersenyum tenang.


"Tapi, apakah bisa mencari yang lainnya. Saya merasa tidak berhak tuan Antonio."


"Yoga! Aku sudah percaya sama kamu, kamu tidak akan berhianat padaku. Makanya semuanya aku serahkan padamu, jadi jangan ragu dan menolaknya. Tidak ada yang membantahku sekali pun salah melakukan hal tidak berguna." kata Antonio dengan geram karena Yoga masih saja membantahnya.


"Baik tuan, maafkan saya. Saya bersedia dengan apa yang anda inginkan." kata Yoga.


"Bagus, jangan lagi mengelak atau membantahku Yoga. Itu akan merugikanmu." kata Antonio dengan tatapan tajam pada Yoga.


Mark sendiri bingung kenapa Antonio percaya dengan laki-laki yang baru di kenalnya. Namun begitu, dia tidak ambil pusing dengan semuanya, yang dia lakukan adalah mematuhi perintah Yoga mulai sekarang ini.

__ADS_1


_


Satu minggu menjadi pimpinan mafia yang mempunyai bisnis banyak, Yoga kini menunjukkan kemampuannya dalam hap memimpin anak buah. Siapa sangka dalam tiga hari, dia sudah memerintahkan anak buahnya untuk mengawal pengiriman senjata api pada pembeli dari timur tengah itu.


Sebelumnya tidak pernah ada pengawalan, tapi kali ini Yoga menyuruhnya untuk mengawalnya. Karena kemungkinan ada oknum anak buah yang sengaja membelot dan menjualnya sendiri.


Benar saja, ketika di perbatasan negara konflik, satu mobil boks berisi senjata yang di kirim ke negara timur tengah. Dua orang yang membawa senjata itu membelokkan mobilnya ke arah lain. Tentu saja semua di pantau oleh Yoga, dan dia mengerahkan anak buahnya untuk menangkapnya.


"Hentikan dia!" ucap pimpinan yang mengawal mobil pembawa senjata api.


"Hei, kenapa di hentikan?!" tanya laki-laki berwajah brewok itu dengan marah.


"Kamu mau bawa kemana senjata yang akan di kirim kw timur tengah hah?!"


"Ini urusan saya! Jangan menghalangiku!" ucapnya.


Sang pemimpin anak buah menatap tajam pada laki-laki brewok tersebut. Dia pun menelepon ketua baru mereka, Yoga. Karena Yoga meminta untuk mengawal sendiri pengiriman senjata api pada pembeli di timur tengah itu.


"Halo tuan, dugaan anda benar. Senjatanya mau di bawa kabur dan di jual sendiri." kata pemimpin pengawal mobil senjata api itu.


Klik!


Lima anak buah yang tadi menghadang mobil boks itu pun merapat agar mobil itu tidak bisa lari. Laki-laki brewok itu pun geram, dia masuk ke dalam mobil. Berniat akan memaksa melaju dan berlari.


Dia mengambil pistolnya dan menodongkannya pada anak buah yang tadi menghalangi mobilnya.


Dor! Dor! Dor!


Secepat mungkin mobil itu melaju kencang. Tapi dari arah lain dia pun di cegat dengan kencang pula lalu di tabrakkan dengan keras.


Buum!


Mobil boks berisi senjata api itu pun oleng, mobil jip warna hitam itu terus membenturkannya hingga mobil boks itu berhenti karena menabrak batu besar di sampingnya.

__ADS_1


Laki-laki brewok dan supirnya pun ikut terjatuh. Satu laki-laki turun dari mobil jip hitam itu, memakai kacamata hitam dan menodongkan senjatanya pada laki-laki brewok itu. Tatapannya tajam di balik kacamata hitamnya mampu menembus jantung laki-laki brewok tersebut, hingga dia pun ketakutan.


"Heh, jadi kamu yang selama ini menggelapkan senjata yang sengaja di kirim ke timur tengah?" tanyanya dengan nada dingin penuh intimidasi.


"Siapa kamu?!"


"Aku, Yoga. Anak angkat dari tuan Antonio, jangan harap kamu bisa lolos dariku." kata Yoga dengan lantangnya.


Dor! Dor! Dor!


Dia menembakkan senjatanya ke arah body mobil boks itu. Dua mobil datang untuk mengamankan senjata yang akan di bawa kabur oleh laki-laki brewok tersebut.


"Bawa dia ke markas di ujung pulau." kata Yoga.


"Baik tuan!"


Yoga pun masuk kembali ke dalam mobil jipnya, dia benar-benar geram setelah Antonio mengatakan banyak sekali anak buahnya yang membawa kabur senjata api dan di jual sendiri pada para gerilyawan di negara konflik.


Senjata api yang di jual Antonio sebenarnya di kirim ke pemerintah setempat, tapi justru di selundupkan sebagian oleh anak buahnya sendiri yang tidak dia awasi sebelumnya.


Yoga pun kembali ke Italia malam harinya, dia juga kini mengunjungi kasino milik Antonio yang bermasalah. Di sana selalu saja ada keributan, Antonio sengaja tidak menindak para pelaku kerusuhan di kasinonya.


Dia mengira nanti akan di selesaikan oleh Yoga, dan terbukti sekarang Yoga juga akan menyelesaikannya dan menindak para perusuh di kasino tengah kota.


"Tuan, apa anda yakin akan rencana itu untuk terjun langsung menganangi mereka?" tanya Mark, asisten Yoga.


"Tentu saja Mark, aku ingin membuktikan kemampuanku sendiri. Bahwa aku bisa mengatasi mereka semua secara langsung, aku juga ingin menguji diriku sendiri. Kamu jangan cemas dengan diriku, Mark." kata Yoga.


Yoga sekarang lebih tegas dan tindakannya tidak lagi lambat atau rasa belas kasih kini dia singkirkan lebih dulu. Suatu saat dia akan bertindak di belakang layar saja. Tapi kali ini, dia yang akan melakukannya sendiri menghadapi para musuh Antonio.


_


_

__ADS_1


****************


__ADS_2