
Enam tahun silam, seorang Yoga adalah laki-laki polos, sederhana dan baik hati serta suka membantu siapa pun yang menolongnya. Dia adalah laki-laki yang hidup sebatang kara dab hidup mengontrak di kontrakan kecil.
Dia juga bekerja sebagai pekerja serabutan, di mana ada peluang pekerjaan. Maka dia akan melamar sebagai pekerja lepas, dan gajinya tidak terlalu besar. Hidupnya sangat sederhana dan tidak berpikiran apa pun untuk meningkatkan hidupnya menjadi layak.
Yang penting, dia bisa mendapat pekerjaan dan dapat uang untuk kebutuhan bayar kontrakan dan makannya sehari-hari. Itu saja yang dia kejar, tidak berpikir akan menikah dengan perempuan mana pun. Karena dia sadar dengan keadaan dirinya yang tidak semua orang menerimanya.
Suatu hari, Yoga sedang berjalan menuju rumah kontrakannya setelah dia membeli makanan. Dia berjalan dengan tenang, tiba-tiba dia melihat seorang kakek yang sedang duduk.
Awalnya Yoga acuh saja, tapi kakek itu sepertinya melihatnya. Dia pun di panggil oleh seorang kakek tersebut.
"Hei, nak." sapanya.
Yoga menoleh, dia berhenti dan menatapnya. Kakek itu tersenyum dan tangannya di lambaikan pada Yoga.
"Sini." katanya lagi.
Yoga pun mendekat, dia berjalan ke arah kakek tersebut. Dia melihat kakek itu tampak memegangi dadanya, tapi senyumnya terus mengembang.
"Ada apa kek?" tanya Yoga setelah ada di hadapannya.
"Bisa kamu antarkan aku pulang ke rumah?" tanya kakek itu.
"Apa kakek tidak bisa jalan sendiri?" tanya Yoga heran.
"Tidak, makanya kakek minta antarkan kakek pulang ke rumah. Tidak jauh rumah kakek dari sini." kata kakek itu.
"Di mana itu?" tanya Yoga memastikan.
"Di seberang jalan sana, tidak kelihatan dari sini. Tapi jika jalan, pasti sampai." kata kakek itu lagi.
"Ya, baiklah." kata Yoga.
Dia pun menunggu kakek itu berdiri, tapi kakek itu tidak berdiri juga. Yoga mengerutkan dahinya, heran.
"Ayo kek."
"Kakek tidak bisa jalan, bisakah kamu gendong kakek?"
"Apa?!"
"Iya, gendong kakek dan jalan kesana. Pulang ke rumah."
"Tapi, apa tidak bisa naik mobil saja?"
"Tidak, kakek tidak mau naik mobil."
"Huh, merepotkan sekali. Minta bantuan tapi tidak mau yang mudah." kata Yoga kesal.
"Ayolah nak, kakek akan berikan kamu sesuatu." kata kakek itu mengiming-imingi Yoga.
"Kek, membantu itu tidak perlu meminta balasan. Membantu ya bantu saja, kakek juga kenapa harus memberikan sesuatu padaku karena menolong kakek?"
"Hahah! Kamu itu sangat lugu dan polos sekali, ya baiklah. Kakek tidak akan memberikan sesuatu, kakek akan melakukan sesuatu. Auo cepat bantu kakek gendong dan bawa kakek pulang ke ujung jalan sana." kata kakek itu menunjuk sebuah rumah besar dan mewah.
__ADS_1
"Itu rumah kakek?" tanya Yoga.
"Ya, kenapa?" tanya kakek itu.
"Mustahil kakek rumahnya di sana, tapi kakek tidak punya mobil ataupun pembantu yang membantu kakek pulang ke rumah." kata Yoga.
"Karena kakek jalan sendiri."
"Tapi kenapa minta di gendong?"
"Kakek capek jalan sendiri, kaki kakek sakit kalau jalan lagi." kata kakek itu lagi.
"Ya ampun, seharusnya jangan pergi kalau sakit."
"Kamu terlalu banyak protes, cepat antarkan kakek pulang!"
"Eh, dia lebih galak dariku."
Yoga pun akhirnya menurut, dia bersiap menggendong kakek itu. Dan membawanya pulang ke rumah yang di tunjuk tadi.
_
Sesampainya di rumah besar dan mewah itu, Yoga di persilakan duduk. Dia takjub dengan rumah besar itu, kakek tadi pun menyuruhnya untuk menunggunya sebeentar.
"Sebentar, kamu duduk dulu. Kakek akan panggilkan anak dan cucu kakek." kata kakek itu.
Yoga hanya mengangguk saja, dia duduk di sofa yang terlihat mewah itu. Memeganginya dengan tangannya, tapi kemudian dia duduk bersandar menunggu kakek itu datang lagi.
Tak lama, kakek tadi datang dengan di ikuti di belajangnya seorang laki-laki, perempuan dan satu seorang gadis cantik. Mereka heran dengan adanya Yoga yang perpenampilan biasa saja sedang duduk di ruang tamu.
"Dia calon menantumu." jawab kakek itu.
"Apa?!"
Suara teriakan dua perempuan di belakang kakek itu berbarengan. Saka halnya Yoga, tapi dia heran kenapa kakek yang tadi dia tolong menyebutnya calon menantu.
"Duduk kalian semua." kata kakek itu.
Semuanya duduk dengan malas, tapi gadis itu justru kesal sekali dengan ucapan kakeknya.
"Bela, cepat duduk." kata kakeknya.
"Kakek ini kenapa sih?" tanya Bela kesal.
Ya, mereka adalah keluarga Arman, Belinda istrinya dan juga Bela cucu dari kakek yang tadi di gendong oleh Yoga.
"Diamlah kalian semua, kalau tidak mendengarkan ucapan aku maka tidak ada satupun yang akan mendapatkan dariku sepeserpun!" kata kakek itu yang bernama Gunawan.
"Ck, terserah ayah saja." kata Arman.
"Itu lebih baik, jangan banyak membantah." kata kakek Gunawan.
Yoga yang sejak tadi diam saja itu melihat kakek Gunawan yang dia tolong sedikit kaget karena kakek tadi itu bicara lantang dan kakinya juga terlihat biasa saja.
__ADS_1
"Begini, ayah membawa dia kesini. Namanya Yoga Pradana, dia yang akan menikahi Bela. Kalian harus setuju dengan keputusan ayah ini, jika tidak maka semua warisan kakek akan kakek sumbangkan pada yayasan yatim piatu. Jadi, tidak ada yang mendapat warisan ayah sepeserpun." kata pak Gunawan.
"Kek, kenapa Bela yang jadi tumbal?" tanya Bela dengan marah.
"Siapa yang jadi tumbal? Kamu akan menikah dengannya, bukan jadi tumbal. Memangnya kakek punya pesugihan harus menumbalkan cucu kakek sendiri." kata kakek Gunawan.
Bela mendengus kasar, kakinya di hentakan tanda dia benar-benar marah dengan ucapan kakeknya. Belinda yang sejak tadi diam menahan rasa kesalnya pun akhirnya ikut bicara.
"Ayah, apa ayah tega menikahkan cucu ayah itu dengan laki-laki yang tidak di kenal. Bahkan dari keluarga mana dia berasal. Aku tidak mau menjadi besan dari keluarga miskin!" ucap Belinda.
"Kalau kamu tidak mau berbesan dengan keluarga miskin, minta cerai saja pada suamimu itu." kata kakek Gunawan dengan santainya.
"Ayah! Kenapa ayah jadi egois seperti itu?!" tanya Arman geram sekali dengan ayahnya.
"Ya sudah, kamu menurut atau semua perusahaan dan juga rumah ini ayah berikan pada yayasan anak yatim?" tanya kakek Gunawan.
"Heh, peduli setan dengan ucapan ayah itu. Apa mau ayah sekarang?" tanya Arman geram sekali.
"Bagus, sekarang semua harus menyetujui kalau Bela harus menikah dengan Yoga!"
"Kakek! Aku tidak mau!" teriak Bela menolak keputusan kakeknya.
"Kalau tidak mau, pergi dari rumah ini!" ucap kakek Gunawan.
Bela menatap tajam pada kakeknya, tangannya mengepal. Belinda pun sama, tapi dia berusaha untuk tenang dan mencoba membujuk anaknya.
"Bela sayang, kamu harus menuruti kata kakekmu sayang. Jangan membantah." kata Belinda.
"Ma, apa mama juga mau menyuruhku untuk menikah dengan laki-laki kampungan itu?" tanya Bela kini kesal pada mamanya.
"Bela, turuti apa kata kakekmu!" ucap Arman dengan tegas.
Bela mendengus kasar, dia bangkit dari duduknya lalu pergi meninggalkan ruang tamu itu. Belinda menyusul anaknya Bela menaiki tangga, sedangkan Arman juga kesal. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.
"Sebaiknya kamu bujuk terus anakmu untuk mau menikah dengan Yoga. Kalau tidak, kamu yang akan rugi dan sengsara nantinya." kata kakek Gunawan.
Dia pun berdiri. Menarik tangan Yoga dan membawanya keluar dari ruang tamu itu. Yoga masih bingung dengan kejadian tadi, tiba-tiba drama keluarga terjadi di hadapannya. Bukan sinetron, tapi memang ada di depan matanya.
"Kek, apa kakek seorang aktor?" tanya Yoga.
"Ya, begitulah. Sekarang, kamu siapkan untuk menikah dengan cucuku. Minggu depan semuanya sudah selesai, dan kamu akan tinggal di rumah ini. Menjadi menantu Arman dan Belinda, dan ingat. Apa pun yang mereka lakukan, jangan tinggalkan rumah ini." kata kakek Gunawan.
"Kek, aku tidak mengerti semua ini. Bagaimana bisa menikah secepat itu, cucumu saja tidak menyukaiku. Bagaimana bisa menikah?"
"Jangan pikirkan cucuku, suatu saat dia akan menerimamu. Dia belum tahu saja kamu seperti apa nantinya." kata kakek Gunawan.
"Apa kakek punya ilmu penerawang masa depan?" tanya Yoga.
"Hahah! Kamu mau mengatakan kalau kakek ini adalah seorang supranatural? Tadi kamu bilang kakek adalah seorang aktor. Ya, terserah apa katamu, Yoga. Yang jelas, kamu jangan pergi dari rumah ini setelah menikah nanti. Jaga cucuku ya." kata kakek Gunawan lagi.
Meski Yoga tidak mengerti apa rencana kakek Gunawan. Dia juga bingung dan heran, kenapa bisa laki-laki tua itu begitu percaya dengannya yang baru beberapa jam bertemu.
_
__ADS_1
_
*******************