
Kesepakatan untuk kerja sama dengan perusuhaan Alvin pun sudah di lakukan. Mark mengirim seseorang yaitu tangan kanannya, Nicko untuk melakukan kerja sama dengan Alvin.
"Jadi mr. Mark itu mau begitu saja kerja sama denganmu, Alvin?" tanya pak Sasmita.
"Ya pa, besok utusan dari perusahaannya akan datang. Katanya sudah datang dan tinggal di hotel, tapi katanya ada urusan penting lagi sini. Apa dia juga punya klien lain selain aku ya." kata Alvin.
"Biasanya juga setiap perusahaan akan bekerja sama dengan beberapa perusahaan lainnya." ucap pak Sasmita.
"Hemm, jadi benar perusahaan yang di pegang mr. Mark itu perusahaan besar?" tanya Alvin.
"Apa kamu tidak tahu? Coba kamu cari tahu perusahaan apa yang dia kasih sama kamu kartu namanya." kata pak Sasmita.
Alvin pun membuka laptopnya, dia mencari nama perusahaan Mark di internet. Dan Alvin pun terkejut, dia melihat situs milik perusahaan milik Mark memang terbesar di Italia. Alvin berdecak kagum, dia tersenyum senang.
"Benar pa, perusahaan itu sangat besar. Dan pimpinannya itu adalah Mr. Mark Chris. Entah itu memang dia orangnya atau bukan, tapi di internet itu memang fotonya dia." kata Alvin.
"Tapi papa belum mengerti dengan kedatangan Mr. Mark ke kantormu waktu itu. Dari mana dia tahu kita sedang membutuhkan investor yang mau di ajak kerja sama dengan kita." kata pak Sasmita.
"Sudahlah pa, mungkin itu keberuntunganku. Kita jalani saja kerja sama ini, kita akan dapat untung besar dari kerja sama ini."
"Lalu, kita akan dapat barangnya dari mana agar bahan bakunya itu kita beli dengan harga murah." kata pak Sasmita.
"Nanti kita cari ke tempat pabriknya langsung. Aku akan ajak mereka kerja sama untuk ekpsor bahan mentah itu." kata Alvin.
Keduanya pun kembali diam, dan akhirnya pak Sasmita itu pergi dari kantor Alvin.
Sementara itu, Yoga sedang memikirkan bagaimana nanti menjebak Alvin agar dia jadi rugi besar dalam kerja sama dengan perusahaan yang di pegang Mark.
Kini dia sedang mengadaka rapat dengan anak buahnya di sebuah hotel mewah. Ada Steve, ada Mark juga hadir dalam rapat tertutup dan terbatas itu, tak lupa juga dia membawa utusannya nanti untuk bertemu dengan Alvin.
"Javier, kamu harus meyakinkan Alvin untuk terus menanyakan kerja sama itu. Apa yang dia tawarkan padamu nanti, terima saja. Aku yakin dia akan menerima kerja sama, beri tawaran yang bagus agar dia benar-benar percaya. Baru setelah itu kita cari tahu di mana dia mencari bahan baku, kita borong dengan membelinya. Bahkan tanpa sisa agar dia nanti rugi besar." kata Yoga.
"Baik tuan."
"Kerjakan dengan baik dan rapi rencana ini, jangan sampai kamu bertemu lagi dengan Alvin Mark. Biarkan Javier yang melakukannya. Kamu bisa mengutus yang lain untuk membeli bahan mentah dari orang yang di tunjuk Alvin, atau bahkan di manapun. Kamu kuasai semuanya, beri harga fantastis pada mereka agar mereka semua menyerahkan pada kita dan Alvin tidak bisa membeli bahan bakunya itu untuk kita nantinya." kata Yoga lagi.
Dia benar-benar cerdik mengatur semuanya agar semua berjalan sesuai rencana. Semuanya mengikuti apa yang di katakan Yoga.
"Baik tuan, malam nanti saya akan kembali ke Italia. Dan Javier besok menemui tuan Alvin." kata Mark.
"Oke, untuk sementara ini cukup dulu. Steve akan mencari tahu tentang Alvin dan proyeknya mencari bahan mentah itu." kata Yoga lagi.
__ADS_1
"Iya tuan."
"Setelah datanya akurat, aku beritahu kamu Mark rencana selanjutnya." kata Yoga lagi.
Dia tampak serius dalam rapat kali ini, rencana yang tersusun dalam pikirannya itu akan dia realisasikan sesuai rencananya balas dendam pada mertuanya. Di awali dari Alvin lebih dulu, baru nanti pada Arman dan Belinda. Tentunya dengan tetap menyembunyikan identitas aslinya yang sekarang.
_
Yoga sudah siap untuk berangkat ke retoran, dia turun dari tangga. Melihat dua mertuanya dan juga Bela sedang duduk di meja makan untuk sarapan pagi.
Dengan langkah santai dan tenang dia berjalan menghampiri ketiga orang yang selalu meremehkannya dan menghinanya.
"Selamat pagi papa, mama dan Bela sayang." kata Yoga dengan santainya.
"Cuih, aku muak dengan ucapanmu itu!" kata Bela melengos ke arah lain.
"Siapa menyuruhmu duduk dengan kami?" tanya Belinda dengan tatapan tajam pada Yoga.
"Lho, biasanya kan kita sarapan bareng ma." kata Yoga.
"Siapa bilang? Kamu jangan terlalu percaya diri kami ini akan menerimamu, meski kamu memberi uang pada anakku." kata Belinda.
"Ma, bulan depan kita akan liburan ke Eropa." kata Arman.
"Benarkah?"
"Ya, setelah kontrak dengan perusahaan di Italia sudah deal. Maka akan datang pundi-pundi masuk ke dalam rekening papa, ma." kata Arman.
"Waah, asyik kalau begitu. Memang kerja sama papa itu apa sama pengusaha dari Italia itu?" tanya Belinda.
"Sebenarnya itu Alvin yang dapat investor dari Italia itu. Karena ini kerja sama kita bertiga, jadi nanti papa dan papanya Alvin akan dapat bagian meski itu sepuluh persen." jawab Arman.
"Uang itu akan di gunakan untuk liburan keliling Eropa?" tanya Belinda dengan mata berbinar.
"Ya, kalau proyek kerja sama itu bagus dan bisa berlanjut. Papa akan dapat bagian lagi, dan dapatnya itu miliaran." kata Arman.
"Aku ikutkan pa liburan keliling Eropa?"tanya Bela.
"Tentu saja sayang, dan pastinya pacarmu akan di ajak juga." kata Belinda melirik Yoga.
"Tidak boleh." ucap Yoga dengan tegas.
__ADS_1
"Hei, kamu jangan melarang anakku ikut liburan. Memangnya kamu bisa mengajak liburan keliling Eropa? Gajimu saja habis untuk perawatan Bela." kata Belinda.
"Pokoknya Bela tidak boleh ikut. Lagi pula, apa papa tidak curiga dengan pengusaha dari Italia itu? Bukankah proyek yang di rintis dengan patungan biaya, percaya begitu saja." kata Yoga.
"Heh, mengerti apa kamu tentang perusahaan hah?!" ucap Belinda dengan kesal karena Yoga melarang anaknya ikut nanti.
"Aku sedikit tahu tentang perusahaan sedikit, jika kerja sama gagal dan tidak memenuhi salah satu syarat atau proyeknya gagal. Maka perusahaan papa akan rugi besar."
Armam diam, dia menatap datar pada Yoga. Apa yang di katakan oleh menantunya itu ada benarnya, tapi dia merasa yakin dengan Alvin itu.
"Sebaiknya kamu bekerja sana dengan baik, Yoga. Menjadi pelayan di restoran itu adalah kebanggaanmu, jangan ikut campur masalah perusahaan." kata Arman.
"Aku hanya memberitahu papa, kalau tidak mau ya sudah." kata Yoga mengambil roti dan melapisinya dengan selai.
Bela menatapnya tajam, dia masih kesal dengan ucapan Yoga yang melarangnya ikut liburan keliling Eropa.
Belinda dan Arman pergi dari hadapan Yoga, di susul oleh Bela yang marah pada Yoga juga. Yoga hanya mengedikkan bahunya saja melihat semua orang kesal padanya.
"Padahal sudah di beritahu, tapi mereka ngeyel. Ya sudah, kupastikan perusahaan Alvin hancur dalam sekejap mata." ucap Yoga mengunyah roti panggang yang tersedia di meja makan.
Yoga mengambil ponselnya dan menghubungi anak buahnya, Javier.
Tuuut.
"Halo tuan Yoga, ada apa anda menelepon saya pagi ini?" tanya Javier.
"Javier, kamu harus secepatnya untuk membuat Alvin bingung dengan kerja samanya. Suruh Steve untuk mencari tahu juga apa yang di cari Alvin."
"Baik tuan."
"Aku tunggu kabar darimu secepatnya."
"Iya tuan."
Klik!
_
_
*****************
__ADS_1