Tentang CINTA (Embun & Bara)

Tentang CINTA (Embun & Bara)
Prolog


__ADS_3

El Dikta Sambara lelaki berusia 26 tahun anak seorang pemilik perusahaan tambang batu bara yang melarikan diri dari keluarganya karena merasa kalau hidupnya membosankan dan hanya tentang uang, tidak ada hal yang berarti dari hidupnya.


Bara ingin mencari jati dirinya, hidup yang sesungguhnya tanpa kepalsuan. Tetapi Bara menggunakan identitas asisten pribadinya Rian Sanjaya. Sekarang panggil Bara menjadi Rian.


"Kau jaga ya keluargaku, aku pergi dulu dan berikan surat ini pada ayahku." ucap Bara pada Rian.


"Baiklah tuan. Kau jaga diri baik-baik disana, kalau ada apa-apa hubungi saja aku. Aku siap membantumu dan menjemputmu jika ingin kembali." ucap Rian penuh haru.


"Oke, aku pergi dulu." Bara pergi dan menaiki pesawat menuju Jakarta dari tempat asalnya Pontianak kalimantan barat.


Rian melambaikan tangannya dan melihat kepergian Bara.


Waktu sudah hampir malam Bara sampai di Jakarta, Bara tidak punya tujuan yang pasti akan kemana sebenarnya dia pergi. Bara sampai di tengah kota dan bingung juga harus kemana dengan hanya membawa uang seadanya tanpa kredit card, tanpa ATM dan tanpa uang cash yang banyak. Tidak seperti biasanya bergelimangan uang dan sering juga menghambur-hamburkannya.


"Aku dimana ya?. sepertinya aku belum pernah ke tempat ini." gumam Bara merasa bingung.


Seorang yang baru di tengah kota menjadi sasaran empuk bagi pencopet jalanan.


"Woy jambret woy balikin tasku." Bara berlari mengejar jambret yang menjambret tasnya.


Terlihat jambret itu masuk ke gang yang cukup sempit di belakan ruko-ruko yang berjajar.


"Sialan, aku bener-bener sial hari ini. Bagaimana mungkin aku menghubungi Rian ponselku ada di dalam tas. Dompetku juga di tas. Ah sial..." Bara prustasi.


"E-eh mbak tunggu lihat penjambret gak lari kesana?." tanya Bara pada seorang perempuan sepertinya baru pulang bekerja.


"Gak liat mas. Emangnya kenapa?." tanyanya.


"Saya habis kejambretan mbak. Tas saya di ambil, uang saya, ponsel dan dompet saya di dalam tas semuanya." Jelas Bara.


"Kesana gang buntu. Gak mungkin kalau mereka lari kesana." ucapnya.


"Mbak tolongin saya mbak." mohon Bara.


"Tapi mas..."


"Mbak enggak kasian padaku, aku perantau belum tahu tentang tempat ini." mohon Bara.


"Ya sudah, ayo ikut ke kontrakanku. Kita ngobrol disana." ajaknya.


Sesampainya di kontrakan perempuan itu,


"Duduk saja disana biar aku ambilkan dulu minum untuk masnya." ucapnya dan masuk ke dalam kontrakan sepetak yang di tinggalinya.


Dia membawa seteko air putih dan gelas. Tanpa di tawari Bara langsung minum karena merasa sangat haus setelah mengejar penjambret tadi.


"Hahh.... Makasih mbak minumnya." senyum Bara.

__ADS_1


"Haus mas?." herannya.


"Kenalin aku nama saya Embun, mas namanya siapa?." tanya Embun.


"Emm nama saya El-- Eh nama saya Rian mbak. Rian sanjaya." Bara hampir keceplosan menyebutkan nama aslinya.


"Ooh Rian. Kenapa sih sampe bisa kejambret gitu?. Emang asalnya darimana dan tujuannya mau kemana?." tanya Embun.


"Emmh tadi lagi nyari alamat sodara saya di daerah depan sana tapi saya malah di jambret. Saya dari kalimantan mbak." jelas Bara. Sekarang sebut saja Rian.


"Jauh juga ternyata."


"Memang saudaranya di daerah mana biar aku antar." ucap Embun.


"Saya tidak tahu karena alamatnya ada di tas saya dan ponsel saya juga ada di tas jadi gak bisa nelpon juga." Rian berbohong padahal dia sendiri tidak punya tujuan.


"Kalau gitu bakalan susah dong nyarinya." ucap Embun.


"Emmm untuk malam ini saya nginep aja ya di kontrakan mbak Embun. Plisss." mohon Rian.


"Bisa-bisa aku di usir sama bapak kontrakan kalau bawa pria menginap. Tidak tidak..." tolak Embun.


"Mbak tega pada saya..." Rian masih memohon.


"hahh ya sudah, tapi tidurnya di luar saja ya di kursi ini nanti aku kasih selimut jangan di dalam." jelas Embun.


Embun masuk ke dalam dn membereskan teko juga gelas bekas Rian kemudian kembali keluar dengan membawakan Rian selimut dan juga sebuah bantal.


"Ini mas," Embun menyodorkan bantal dan selimut.


"Makasih mbak."


"Eh iya ini satu lagi lupa." Embun memberikan Rian lotion anti nyamuk karena di luar pasti banyak nyamuk.


"Pakai itu biar gak terlalu di ciumi nyamuk." senyum Embun dan berlalu masuk ke dalam kontrakan lalu mengunci pintunya.


"Ya ampun dia benar-benar mengunci aku di luar." ketus Rian.


"Nyamuknya gede-gede lagi."


"Ya ampun, ternyata gak seperti yang aku bayangkan aku benar-benar sengsara begini." Rian menutupi wajahnya dengan selimut.


Lara Embun Kemalasari orang yang menolong Rian adalah seorang gadis kampung yang merantau ke kota, Embun biasa di panggil, bekerja menjadi penjaga toko di salah satu toko roti dan kue di pinggir jalan depan di salah satu Ruko yang berjajar.


"Hem aku pikir tidak akan masalah kalau aku menolong orang itu dan membiarkannya tidur di teras kontrakanku." gumam Embun.


"Kasian sekali dia kalau tidak di tolong." ucap Embun dan berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri setelah seharian bekerja.

__ADS_1


Embun memulai kerja jam 9 pagi dan selesai jam 8 malam. Melelahkan memang tapi Embun selalu semangat dan menjalankan harinya penuh harapan dan demi menyambung hidup.


Setelah selesai mandi Embun mengintip Rian dari balik jendela dan sepertinya Rian sudah tertidur terlihat seluruh badannya tertutupi selimut.


"Ternyata masih ada, aku ingin tidur cape sekali." gumam Embun membaringkan tubuhnya di atas kasur yang tergelar di atas lantai tanpa ranjang.


Embun tinggal di sebuah kontrakan milik haji Ahmad hanya ada satu ruangan dan kamar mandi kecil di pojok.


Juga dapur kecil yang hanya cukup menyimpan kompor gas satu tungku. Tapi Embun tidak pernah mengeluh dan menjalani semuanya dengan ikhlas.


Keesokan harinya...


"Neng... neng Embun." teriak pak haji.


"Iya pak ada apa?." Embun membukakan pintunya.


"Neng siapa dia? kenapa tidur di bangku teras neng." tanya pak haji.


"Apasih ribut-ribut." Rian terbangun.


"Oh ini pak, ini sodara saya dari kampung namanya Rian. Semalam baru dateng dari kampung karena semalem pak haji takut udah tidur jadi aku suruh tidur di luar gak berani bawa masuk ke dalem takut di grebek." Jelas Embun terpaksa harus berbohong.


"Oh begitu neng."


"Iya pak maaf ya, ini sodara saya mau cari kerja di kota." senyum Embun.


"Mana KTP nya?." tanya pak haji pada Rian.


"Engga ada pak."


"Semalam dia kejambretan di depan sana pak. tas sama semua isinya hilang." jelas Embun.


"Ya sudah kalau gitu, nanti bawa sama neng Embun ke kantor polisi dan urus semua kehilangannya biar ada KTP sementara." saran pak haji.


"Iya pak nanti kesana." senyum Embun.


"Suruh ke dalam saja, kasian di luar. saya permisi ya neng." pak haji pergi.


Pak haji sudah pergi dan Embun menyuruh Rian masuk. tetangga kontrakan sudah tidak ada, mungkin sudah pergi berangkat kerja.


"Ayo masuk ke dalam." ajak Embun.


"Dari semalam kek ajak aku ke dalam, aku kedinginan tahu." Rian masuk dan terduduk di karpet.


Rian memperhatikan setiap sudut kontrakan Embun dan merasa kalau dapur di rumahnya saja lebih luas daripada kontrakan Embun.


⬇️⬇️

__ADS_1


__ADS_2