Tentang CINTA (Embun & Bara)

Tentang CINTA (Embun & Bara)
Meminta jadi pacar pura-pura


__ADS_3

Sesampainya di kontrakan Embun.


"Sini masuk dulu." ajak Embun.


"Oke." Rian setuju.


Embun membuka martabak yang di belinya tadi dan menarunya di piring.


"Nih makan, mau minum ambil aja." ucap Embun.


"Kamu aja, aku benar-benar sudah kenyang." senyum Rian.


"Hehee maaf ya aku emang banyak makan." polos Embun.


"Iya aku suka." ucap Rian.


"Ekhemmm..." Embun merasa malu makan diliatin Rian.


"Emmmh sebenarnya ada yang aku mau omongin sama kamu." seru Embun hati-hati.


"Ada apa?." Rian meneguk minumnya.


"Emmmh mau gak jadi pacarku..."


"Uhuk uhuk...." Rian keselek.


"E eh maksudnya pacar pura-puraku." ujar Embun.


"Untuk apa?." tanya Rian penasaran.


"Jadi gini 2 minggu lagi adik sepupuku nikah di kampung dan aku di suruh pulang sama emak, tapi aku males pulang sendiri nanti di ceramahin karena aku belum nikah-nikah. Gitu...." jelas Embun.


"Emmmh terus aku harus ikut kamu pulang kampung?."


"Iya..."


"Engga mau ah..." goda Rian.


"Rian plis bantu aku sekali ini aja ya. 2 hari doang ko pas pulang kampung aja." pinta Embun memohon.


"Iya aku mau bantu kamu, lagian selama ini kamu sudah sering bantu aku juga masa hal sepele gitu aja aku gak mau." jelas Rian.


"Ah makasih Rian, aku seneng banget kamu mau jadi pacar pura-puraku." Embun memeluk Rian.


"Pacar beneran juga boleh..."


"E-eh maaf maaf..." Embun melepaskan pelukannya.


Rian hanya tersenyum melihat tingkah Embun yang salah tingkah.


"Ini sudah malam, istirahatlah aku mau kembali ke mess." ucap Rian.


"Oke... makasih ya. Kamu hati-hati di jalan." senyum Embun.


Embun mengunci kontrakannya dan berlalu untuk beristirahat. Rian kembali ke mess nya.


"Hemmm aku harap jadi pacar beneran kamu Embun. Tapi kamu pernah bilang kan gak ingin pacaran berarti aku harus halalin kamu dong." Gumam Rian.

__ADS_1


"Sepertinya aku harus segera kembali dan menemui asistenku habis itu menikah dengan Embun. Ya benar..." senyum Rian.


Rian sampai di mess nya dan mendapati Anwar masih bermain ponsel tertawa bersama ponsel.


"Kaya orang gila aja, ketawa sendiri." Rian bergidik melihat kelakuan Anwar.


"Jomblo jangan sirik..." ejek Anwar.


"Eh iya lu tau gak perusahaan SINAR BAHARI?." tanya Rian.


"Belum pernah denger." singkat Anwar.


"Sini pinjem ponsel lu. Aku mau cari di google pasti ada."


"Ini..." Anwar memberikan ponselnya.


Rian mengambil ponsel Anwar dan mencarinya di google.


"Tuh ini ada, tau gak? jauh gak darisini." tanya Rian.


"Oh ini, lumayan jauh sih kalau dari sini. Mau ngapain kesana?." tanya Anwar.


"Emmmh aku ingat kalau temanku kerja disana jadi aku ingin mencarinya dan mau minta kontak keluargaku. aku ingin menghubungi keluargaku di kampung." jelas Rian.


"Tinggal naik bis satu kali trus naik angkot sekali langsung nyampe." jelas Anwar.


"Baiklah besok kan libur aku mau kesana." ucap Rian.


"Bisa sendiri?." tanya Anwar.


"Bisa lah nanti nanya-nanya juga ke orang." senyum Rian.


"Oke kalau mau nganter aku seneng. hehee...." ketawa Rian.


"Tapi imbalannya kasih aku makan siang ya..." pinta Anwar.


"Iya iya aku traktir. Sana minggiran sedikit aku mau tidur." ucap Rian.


Anwar bergeser dan tetap melanjutkan chatting nya bersama Monik.


Sebenarnya itu adalah perusahaan ayahnya yang di pegang oleh Bang Galuh kakak ipar Rian suaminya kak Alisha kakak pertama Rian. Tapi Alisha tinggal di kalimantan tidak ikut suaminya karena sedang hamil.


"Aku harus minta kontak Asistenku pada Bang Teguh." gumam Rian.


Keesokan harinya,


Jam 9 pagi toko Embun sudah buka dan Embun pun sudah datang ke toko. Rian dan Anwar sudah siap untuk berangkat ke perusahaan Bang Teguh.


"Aku mau izin dulu ya sama Monik lu tunggu disini." ucap Anwar.


"Aku juga mau izin sama Embun jadi kita bareng aja kesananya." senyum Rian.


"Ah lu katanya gak jadian sama Embun terus ngapain pake izin segala." gumam Anwar merasa heran.


"Dimana Monik Embun?." tanya Anwar pada Embun yang sedang menyapu di teras.


"Di dalam masuk saja, lagi beresin ruangan bos." jawab Embun.

__ADS_1


Anwar masuk ke dalam dan Rian menghampiri Embun dan meminta izin.


"Embun aku mau pergi sama Anwar ke tempat kerja temanku mau nyari kontak keluargaku." senyum Rian.


"Iya sana pergilah, dan semoga kamu ketemu ya sama temenmu itu dan dapat kontak keluargamu." senyum Embun.


"Emmmh hati-hati juga ya di jalannya." pesan Embun.


"Iya Embun."


Anwar sudah selesai dan berlalu pergi bersama Rian menuju ke tempat yang mereka tuju.


Sekitar 1 jam perjalanan mereka sampai karena macet dan harus 2 kali naik kendaraan umum.


"Ini tempatnya sudah sampai." ucap Anwar.


Rian sudah tau tempatnya disini karena memang sering kesini juga tapi karena tidak tahu jalan kalau naik umum makanya bertanya pada Anwar.


"Iya aku lihat tulisannya begitu besar." ucap Rian.


"Hahaa iya..." senyum Anwar.


Mereka masuk ke dalam kantor itu.


"Apa temanmu pegawai kantor? hebat juga temanmu itu." seru Anwar.


"Hanya OB."


"Oh...."


"Tunggu saja disini biar aku saja yang bertanya." ucap Rian menyuruh Anwar untuk duduk di ruang tunggu.


Anwar menurut saja dan duduk sambil menyibukkan diri dengan bermain sosmed. Setelah merasa aman dan melihat Anwar sibuk pada ponselnya Rian menanyakan pada receptionis disana.


"Maaf mbak apa pak Galuhnya ada?." tanya Rian.


"Apa masnya sudah ada janji?." tanyanya.


"Bilang saja adiknya ingin bertemu." ucap Rian sambil melirik Anwar yang takut mendengarnya.


Mbak receptionis itu mengernyitkan dahinya dan melihat Rian dari ujung rambut sampai ujung kaki. Rian memang tampan tapi dengan penampilan seperti itu mana mungkin dia seorang adik direktur disana.


"Maaf mas jangan ngaku-ngaku. Silahkan pergi saja Bos sedang sibuk tidak bisa di ganggu." ucapnya mengusir Rian.


"Sebentar saja mbak..." bujuk Rian.


"Maaf mas tidak bisa kalau tidak ada janji." sinis mbaknya.


"Baiklah terima kasih mbak." ucap Rian.


Mbaknya sedang mengangkat telpon dan terduduk sehingga Rian punya kesempatan untuk masuk ke dalam dan kemudian mengendap-ngendap masuk ke dalam kantor dan menuju ruangan Galuh yang pastinya Rian sudah tahu dimana letaknya.


"Bang Galuh pasti punya kontak asistenku." gumam Rian.


Ruangan Galuh pintunya terbuka sedikit dan ternyata Rian mendapati Galuh sedang bercumbu dengan sekretarisnya.


"Bang Galuh.... Menjijikan.... ciih. Berani-beraninya dia mengkhianati kak Alisha." Rian marah.

__ADS_1


Rian berniat menggrebek Galuh tapi Rian berpikir kalau dirinya harus hati-hati pasti orang lain atau keluarganya tidak akan percaya tentang apa yang di bicarakannya karena Galuh begitu sangat baik pada keluarga Rian.


⬇️⬇️


__ADS_2