
Hari gajian Embun tiba,
Seperti biasa Embun dan teman-temannya menerima gaji setiap tanggal 28 akhir bulan.
"Terima kasih koh." ucap Embun.
"Seperti biasa kita tutup lebih awal jam 7. Selamat istirahat buat kalian semua." ucap ko Chandra.
Mereka punya acara rutin kalau habis gajian pergi ke mall walau cuman makan saja yang penting ada waktu untuk jalan bersama.
"Kamu mau ngajak si Rian?." tanya Monik.
"Emmh ajak aja lah kasihan, lagian kan kamu ngajak Anwar juga." jawab Embun.
"Udahlah jadian aja." goda Trian.
"Suuut jangan ngomongin itu, aku gak ingin nanti Rian denger dan di sangka aku ngarep lagi sama dia." elak Embun.
"Iih Embun lumayan buat temen jalan." tambah Trian.
"Kamu sudah telpon Anwar? bilang juga suruh ajak Rian." ucap Embun.
"Udah ko dari tadi juga. Gak tau ngapain dulu."
Mereka bertiga menunggu pasangan masing-masing untuk pergi. Siska tidak pernah ikut acara mereka lebih memilih pulang bersama ko Chandra atau kencan bersama Gilang pacarnya.
Fahri sudah datang dengan membawa mobil, bukan mobil miliknya tetapi mobil orang lain yang sedang di perbaiki di bengkelnya. Fahri punya bengkel di sebrang toko roti.
"Ayo." ajak Fahri.
"Nanti bang nunggu dulu yang lain." ucap Trian pada Fahri panggilan sayangnya abang.
"Tuh mereka sudah datang." ucap Embun.
"Kalian kemana aja sih lama banget." ketus Monik.
"Tadi tuh pacarmu malah lama boker." ucap Rian.
"Ah lu Rian jujur bener." ucap Anwar.
"Ayo kita berangkat triple date." senyum Trian.
Embun dan Rian hanya saling tatap karena mereka merasa kalau mereka bukan pasangan kekasih.
Semua orang masuk ke dalam mobil, Embun dan Rian duduk di kursi paling belakang. Anwar dan Monik di tengah.
"Monik bisa gak sih gak usah uwu-uwuan gituh. Aku risih lihatnya." ucap Embun.
"Disamping kamu juga ada tinggal uwu-uwuan aja sama dia. Hahaa...." Anwar ketawa puas.
"Ekhemm...." goda Rian pada Embun.
"Apasih...." Embun melotot.
__ADS_1
"Jangan melotot begitu serem. Kasih senyuman kek, malah mlototin." seru Rian.
"Eh Rian kita belum kenalan waktu itu. Kenalin aku Fahri calon suaminya Trian." ucap Fahri.
"Salam kenal juga, oh kalian udah mau nikah?." tanya Rian.
"Iya, mungkin beberapa bulan lagi." jawab Fahri.
"Tuh kamu juga cepetan lamar Monik, pacaran tuh jangan lama-lama." Embun punya cara untuk membalas Monik.
"Kita santai aja ya sayang..." Jawab Anwar.
"Aku seneng lihat pertemanan kalian, senang susah selalu bersama." ucap Rian.
"Iya karena kita satu frekuensi Rian jadi kita selalu bersama. Apalagi kalau udah bokbrok ya kan uuuh sefrekuensi banget." seru Trian.
"Tapi siapa itu yang judes?. Sepertinya tidak pernah ikut gabung kalian." tanya Rian.
"Dia Siska, Emang dia mah gitu gak asik." timpal Monik.
"Jangan gitu ah, udah jangan ngomongin orang." ucap Embun.
"Aku senang jadi bagian dari kalian Embun," ucap Rian.
"Emang sebelumnya teman-temanmu bagaimana?." tanya Embun.
Sekarang mereka sudah ngobrol masing-masing.
"Aku tidak punya teman. Ya maksudku temanku pada merantau jauh-jauh jadi di kampung emang gak punya temen. Gitu...." Hampir saja Rian keceplosan kalau dirinya tidak punya teman dan tidak pernah main karena hanya pokus pada belajar dan bisnis.
"Malam ini aku traktir kamu ya, simpan saja uangmu untuk besok." ucap Embun pada Rian.
"Kita gak di traktir sekalian Embun?." goda Anwar.
"Hahh enak di kalian gak enak di aku. kalian juga gajian bayar aja sendiri." ucap Embun.
Mereka malah saling ledek, tapi tidak merasa sakit hati karena mereka sudah saling tahu satu sama lain.
Makanan pun datang dan mereka makan bersama. Setelah selesai mereka jalan masing-masing bersama pasangannya. Embun berniat untuk membelikan baju untuk Rian sesuai janjinya waktu itu.
Embun masuk ke salah satu toko baju disana. Dan memilih beberapa kaos juga celana panjang.
"Ini untukmu semuanya, cobalah ya walaupun barang diskonan sih." senyum Embun.
"Jangan Embun gak usah, uangnya kamu simpan saja." tolak Rian.
"Aku sudah janji padamu akan membelikan baju, ini ambilah dan coba semuanya. Aku sedih lo kalau kamu gak mau nerima pemberianku." ancam Embun.
"Oke Embun oke aku coba semuanya tapi kamu jangan cemberut gitu dong." pinta Rian.
"Oke.... sana cobalah habis itu kita bayar dan bertemu lagi dengan yang lain." senyum Embun. Begitu cepat raut wajahnya berubah dari cemberut ke senyum.
Embun menyerahkan belanjaan yang sudah di bayarnya pada Rian. "Ini, gak apa-apa ya aku belikan diskonan juga yang penting baru." senyum Embun.
__ADS_1
Rian merasa apa yang embun lakukan selama ini padanya sangat tulus dari hatinya.
"Kita main ini yu, pasti seru..." ajak Embun bermain di timezone.
"Inikan buat anak kecil." seru Rian.
"Aaah kau tidak asik, ayo kita main." Embun menarik tangan Rian.
Embun lebih dulu mengisi saldo kartunya dan kemudian mulai bermain. Embun sangat asik bermain dan Rian hanya memperhatikannya.
"Sepertinya seru, aku juga mau dong." Rian mencoba bermain lempar bola basket.
Rian merasakan hal berbeda dan begitu menyenangkan bermain seperti ini tidak pernah di lakukan sebelumnya.
"Kamu kalah Embun aku yang menang." teriak Rian.
"Mengasikan kan?." seru Embun.
"Iya Embun ini asik sekali aku senang bisa bermain seperti ini." senyum Rian merekah.
Mereka asik bermain dan mencoba semua permainan disana. Mereka bermain sampai puas sampai yang lain sudah menunggu mereka untuk lanjut karokean.
"Ayo kita pergi, sepertinya yang lain sudah menunggu." ucap Rian.
"Tunggu sebentar aku ingin menukarkan kuponnya dulu." Embun berlalu untuk menukarkan kupon.
Embun medapatkan 2 barang pulpen yang bisa di beri nama Embun memberikan satunya untuk Rian dengan nama Embun, Embun sendiri mengambil satu dengan nama Rian.
"Ini untukmu dan satu lagi untukku." senyum Embun.
"Emmmh bagus juga, makasih Embun." senyum Rian kemudian merangkul Embun.
"Cieee sekarang udah rangkul-rangkulan aja." goda Monik.
Semua orang ikut cie cie-in. Rian kaget dan melepaskan rangkulannya mereka terlihat malu dan pipinya memerah.
"Ayo kita akhiri dengan karokean. Aku yang bayarin." Ucap Fahri.
"Ayo... Ayo... aku akan semangat kalau di bayarin gini." ucap Anwar.
"Kamu jangan nunjukin seneng gitu dong." Monik menjitak Anwar.
"Awas ya Monik...." Anwar mengejar monik yang lari sampai ke tempat karoke. sedangkan Fahri tidak melepaskan rangkulannya dari Trian.
Di belakang Fahri dan Trian ada Embun juga Rian yang merasa canggung jalan bareng bersama pasangan-pasangan. Mereka saling menatap kemudian tertawa bersama merasa konyol ada diantara pasangan bucin.
"Aku pikir isi kepala kita sama?." ucap Embun.
"Ya sepertinya begitu...." senyum Rian.
Mereka melepaskan semua lelah mereka dengan bernyanyi bersama tanpa perduli suaranya jelek atau bagus yang penting nyanyi saja.
Waktu sudah menunjukan pukul 10 malam mereka pulang berbarengan dengan mall tutup. Mereka merasa senang dan berlalu pulang. Dan Rian mengantarkan Embun ke kontrakannya.
__ADS_1
⬇️⬇️